Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Sudah Bosan Hidup


__ADS_3

"Ahh, pinggangku."


Viona berseru pelan sambil memegangi pinggangnya yang terasa ingin patah. Rasanya dia ingin sekali mengutuk Kevin yang sudah menyiksanya habis-habisan semalam, mereka melakukannya hingga tiga ronde.


"Kevin Zhang, apa kau sudah bosan hidup?" kuman Viona menggerutu.


Sambil memegangi Miss-nya yang terasa perih, Viona melenggang menuju kamar mandi. Sekujur tubuhnya terasa ledak semua akibat keringat sisa percintaannya dengan Kevin semalam.


Bukannya menolak meskipun agak sedikit tersiksa, tetapi Viona menikmatinya. Dia tidak bisa menyangkal , jika yang ia lakukan bersama Kevin semalam sangatlah nikmat.


Guyuran air shower menyejukkan tubuh Viona, menikmati setiap tetes air yang mengalir dari lubang-lubang kecil hingga sampai pada permukaan kulit tubuhnya yang terbuka. Memberikan sensasi dingin namun terasa sejuk. Bahkan rasa pegal pada badanya perlahan menghilang.


Setelah dirasa cukup, Viona mengambil handuknya dan melenggang keluar. Bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mandi, pintu kamar juga terbuka dan sosok Kevin yang baru selesai berolah raga memasuki ruangan.


"Ge, kau dari mana?" tanya Viona setibanya Kevin di depannya.


"Tidak dari mana-mana, hanya berolahraga ringan di halaman belakang. Kau selesai mandi?" tanya Kevin dan di balas anggukan oleh Viona. "Segera ganti baju, setelah ini aku ajak kau keluar. Pagi ini aku meminta pelayan supaya tidak menyiapkan sarapan , aku ingin mengajakmu sarapan di luar."


Viona mengangguk. "Baiklah." Kevin menepuk kepala Viona dan pergi begitu saja. Kevin hendak mandi untuk membersihkan badannya yang penuh keringat


.


.


Lima belas menit kemudian Kevin keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk yang melingkari pinggulnya, dan bertellanjang dada.


"Ge, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu." Ucap Viona sambil menunjuk keatas tempat tidur.


Kevin mengikuti arah tunjuk Viona. Sudah ada kemeja putih lengkap dengan celana panjang dan long vest berwarna gelap yang senada dengan celananya. Tanpa mengatakan apapun, Kevin memakai pakaian yang telah di siapkan oleh Viona.

__ADS_1


Melihat Kevin telah siap. Viona bangkit dari meja riasnya lalu menghampiri sang suami tercinta. "Ge, kau sangat tampan." Ucap Viona sambil menggerakkan jari-jari lentiknya diatas bibir Kiss Able Kevin.


Kevin menggenggam tangan Viona. "Jangan memancingku jika tidak ingin menyesal." Ucap Kevin dengan nada rendah namun terdengar berbahaya.


Pupil mata Viona pun membulat sempurna. Buru-buru dia menarik tangannya yang digenggam oleh Kevin lalu menjauh darinya. Viona tidak akan membiarkan Kevin menghajarnya lagi diatas tempat tidur seperti semalam. Sudah cukup tiga ronde.


"Aku sudah selesai, ayo berangkat." Viona menyambar tasnya dan melenggang pergi, meninggalkan Kevin begitu saja.


Lelaki itu mendengus dan menatap Viona dengan geli. Kevin tertawa sendiri melihat tingkah menggemaskan Viona ketika sedang panik. Mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja rias lalu menyusul Viona yang pergi lebih dulu.


.


.


Mobil Kevin melaju di pusat kota dengan kecepatan sedang. Penampakan kota Seoul semakin maju dari tahun ke tahun, gedung-gedung ramah lingkungan mulai diterapkan. Tekhnologi serba modern mengusai pembangunan. Taman-taman Kota masih dijaga dengan baik. Banyak gedung pencakar langit, dan kepadatan penduduk tidak bisa dipungkiri selama dua insan manusia tekun menambah keturunan mereka.


Mata Hazel Viona mengedar, ia memandang suasana luar dan Hazel-nya terfokus saat melihat layar raksasa kota yang terpajang di tengah gedung bertingkat, menampilkan sosok pria yang sangat dikenalnya. Viona menegak dari sandaran, matanya memastikan apa yang tengah ia lihat itu benar atau salah.


Kevin memutar lehernya, membalas tatapan Viona. Dengan mantap dia mengangguk. "Ya, aku ingin memiliki kehidupan yang lebih tenang. Menjalani hidup dengan tenang bersamamu adalah impianku, itulah kenapa aku memutuskan untuk meninggalkan dunia lamaku dan membuka lembaran baru." Tutur Kevin.


"Lalu apa yang akan kau lakukan jika musuh lamamu tiba-tiba muncul dan mencoba mengacau hidup kita? Kau akan diam saja atau menghentikannya?" tanya Viona.


"Tentu saja menghentikannya. Aku akan tenang selama tidak ada yang mengusik hidup kita. Namun jika ada yang berani mengganggu dan mengusik ketenangan ku, tidak menutup kemungkinan jika iblis dalam diriku akan kembali bangkit dan menjadi lebih mengerikan dari sebelumnya." ujarnya.


Viona tersenyum mendengar jawaban Kevin. Dia sudah menduganya, lagipula tidak mungkin Kevin benar-benar meninggalkan kehidupan lamanya, sementara peristiwa di masa depan tidak bisa di prediksikan


Tidak ada obrolan lagi diantara Kevin dan Viona. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan.


xxx

__ADS_1


"Beginilah cara orang-orang dari perusahaan besar seperti Lu Corp memperlakukan tamunya?!"


Seorang laki-laki melayangkan protesnya setelah mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan dari Hwan. Hwan tidak mungkin melakukan sikap yang menyinggung perasaan orang itu jika dia tidak membawanya terlebih dulu.


"Bukan aku yang memulainya terlebih dulu, tapi kamu. Jika kedatanganmu hanya untuk mengacau di sini, sebaiknya kau pergi saja. Karena perusahaan ini tidak menerima orang sepertimu!!" Hwan menimpali ucapan orang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah saudara tirinya.


"Oh, sudah merasa hebat kamu? Memangnya posisi Apa yang kau pegang di sini sampai-sampai berani melawanku, Hwan?!"


"Biar aku saja yang menjawabnya!!" sahut Frans. Setelah cukup lama diam dan hanya menjadi pendengar, akhirnya dia mulai angkat bicara.


Pria itu pun menoleh dan menatap rasa dengan datar. "Memangnya kau siapa? Orang lain sepertimu tidak diperlukan di sini, jadi sebaiknya jangan ikut campur jika kau tidak ingin menyesal!!"


"Baiklah, biar aku perkenalkan diriku. Aku Frans, asisten pribadi dari CEO di perusahaan ini." Frans mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri pada Donny, nama saudara tiri Hwan.


"Oh, ternyata kau hanya asisten pribadi rupanya? Kalau begitu cepat panggil atasanmu biar aku memberitahunya jika di sini ada karyawan yang tidak tahu sopan santun dan memperlakukan tamu dengan baik. Supaya dia dipecat dengan secara tidak hormat!!"


"Kau tidak perlu jauh-jauh mencarinya, orang itu sudah ada di hadapanmu. Hwan Ge, dia adalah CEO di sini." Ucap Frans.


Meskipun hanya sekilas, keterkejutan terlihat jelas dari sepasang mata hitam milik Donny setelah mendengar apa yang dikatakan oleh.


Hwan adalah CEO? Apa dia tidak salah dengar? Rasanya Donny tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Bagaimana bisa dia tiba-tiba menjadi CEO dalam waktu yang sangat singkat, kurang dari 1 tahun. Rasanya itu sangat mustahil.


"Sebenarnya omong kosong apa yang kau katakan? Bagaimana mungkin pria bodoh sepertinya adalah CEO di sini? Jika ingin berbohong kira-kira, kau pikir aku akan percaya?!"


Frans mengangkat bahunya. "Terserah, mau percaya atau tidak itu bukan urusanku. Jika kau tidak ingin di usir secara tidak hormat dari sini, silahkan pergi atau aku panggilkan security?!" Frans memberikan ancamannya pada Donny, jangan sampai Frans hilang kesabaran dan menghajarnya habis-habisan.


Mendengar ancaman Frans membuat Donny sedikit ketakutan. Dia tidak ingin di permalukan dengan di usir dari perusahaan secara tidak sopan. akhirnya Donny pun memilih pergi dari pada malu sendiri. Frans tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya pada Donny. Satu masalah telah selesai, namun masalah berikutnya pasti datang lagi.


Melihat cara Hwan menghadapinya, membuat Frans semakin ingin menjadi asisten pribadinya. Dia berbeda dari Kevin, karena Hwan membutuhkan perlindungan.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2