Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 100


__ADS_3

“Ramon menolak hadiahnya.”


Alana yang sedang menyisir rambut panjangnya langsung berhenti. Wanita itu mengeryit menatap Rayan yang duduk ditepi ranjang lewat kaca yang berada didepan-nya.


“Ramon bilang hadiahnya terlalu berlebihan. Ramon bahkan sedikit merasa keberatan dengan niatan kita untuk pindah dan keluar dari rumah ini.” Terang Rayan yang mengerti tatapan mengeryit istrinya.


Alana menelan ludahnya. Alana juga sebenarnya merasa sedikit keberatan. Tapi Alana enggan bersuara. Alana cuma berusaha menghargai apa yang menjadi keputusan Rayan.


“Jujur aku mulai bimbang. Tapi aku juga nggak tenang jika kamu terus dekat dengan mommy..”


Alana tersenyum. Semua yang Rayan lakukan termasuk keniatan-nya untuk mengajak pindah adalah demi kebaikan-nya. Demi keselamatan janin yang sedang dikandungnya, calon anak mereka.


Alana bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekat pada Rayan dan duduk tepat disamping Rayan.


“Aku pikir kamu nggak perlu terlalu berpikir panjang. Jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkan aku.”


Rayan mengeryit menatap tidak mengerti pada Alana. Rayan berpikir Alana sangat sombong karna merasa bisa menghandle sendiri Caterine.


“Jangan besar kepala Alana. Mommy tidak sebodoh yang kamu pikir. Kamu tidak selamanya bisa menghadapi mommy sendiri. Kamu tidak tau bagaimana mommy yang sebenarnya.”


Alana tertawa pelan. Rayan salah mengartikan ucapan-nya.


“Oke oke.. Aku memang belum benar benar mengerti bagaimana mommy kamu. Tapi Rayan, aku rasa meninggalkan mommy disini sendiri bukan jalan keluar yang baik. Kita masih bisa memikirkan cara lain.”


Rayan menghela napas. Berkali kali Rayan menaruh harapan pada Caterine. Dari kecil sampai dirinya dewasa seperti sekarang. Tapi berkali kali pula Rayan merasa kecewa dan sakit hati. Caterine memang ibunya, tapi Caterine juga orang yang sejak dulu menggores luka dihati juga pikiran-nya.


“Aku sudah tidak bisa lagi memikirkan cara lain. Hati aku sudah terlanjur sakit Alana. Tolong mengerti itu.” Lirih Rayan dengan suara sedikit bergetar mengingat bagaimana perlakuan buruk Caterine padanya sejak dulu.


Alana mengangguk pelan. Mendapat perlakuan buruk dari ibu kandung sendiri memang sangat tidak bisa diterima oleh hati. Alana memang tidak pernah merasakan-nya. Tapi Alana paham bagaimana rasanya menjadi Rayan. Alana mengerti.


“Aku mengerti. Aku ikuti semua keputusan kamu.” Senyum Alana menyentuh punggung tangan Rayan dan memijatnya pelan.

__ADS_1


Rayan tersenyum.


“Apa kamu terpaksa? Kamu tidak nyaman dengan kemauanku?” Tanya Rayan menatap Alana yang juga sedang menatapnya.


Alana menggelengkan kepalanya pelan.


“Aku mengikuti kamu karna memang kamu pemimpinku. Aku mencintai kamu.” Jawab Alana membuat Rayan tertawa mendengarnya.


“Terimakasih..” Ujarnya tulus.


“Sama sama..” Balas Alana.


Rayan merentangkan kedua tangan-nya membuat Alana mengerti. Rayan ingin memeluknya.


Alana masuk kedalam pelukan hangat Rayan. Kedua matanya terpejam mulai menikmati rasa nyaman-nya. Alana yakin semuanya akan baik baik saja. Hubungan rumah tangganya dengan Rayan akan terus terjalin indah dan janin dalam kandungan-nya akan selalu sehat dan baik baik saja hingga saatnya lahir ke dunia nanti.


“Semuanya akan baik baik saja Rayan. Aku akan selalu berada disamping kamu, menemani kamu hingga rambut kita memutih dan kulit kita mengeriput nanti.”


“Sudah malam. Kita tidur yah..” Bisik Rayan yang mendapat anggukan setuju dari Alana.


Mereka berdua naik keatas tempat tidur kemudian berbaring dengan posisi saling berhadapan.


“Selamat malam..” Senyum Rayan menatap Alana lembut.


Alana tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan. Setelah itu, Alana memejamkan kedua matanya. Sedang Rayan, pria itu mengusap usap lembut pinggang Alana menghantarkan wanita yang sangat dicintainya itu menyelami mimpi indahnya.


Rayan menghela napas. Rayan tidak tau mengapa perasaan-nya bisa terpaut begitu dalam pada Alana. Sosok yang dulu hanya Rayan anggap sebagai pengganti Sakura. Sosok yang juga pernah Rayan sakiti tanpa sengaja. Bagaimana tidak menyakiti? Rayan membuat Alana menangis bahkan menyentuhnya dengan egois tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Alana yang belum memiliki rasa padanya.


Perlahan seulas senyum terukir dibibir Rayan. Alana adalah sosok hebat menurutnya. Sosok yang bisa menumbuhkan rasa cinta dihatinya dengan apa adanya.


“Selamanya kamu milikku Alana.”

__ADS_1


 --------


Pukul 4 pagi Ramon sudah bangun. Pria itu dengan begitu telaten membereskan baju baju Sechil yang berantakan disofa, digantungan baju bahkan sampai dilantai. Meski beberapa kali menggeleng karna kondisi kamarnya yang seperti kapal pecah namun Ramon tetap membereskan-nya. Selesai memunguti semua baju baju kotor milik Sechil, Ramon segera memasukkan-nya kedalam keranjang baju kotor.


“Kamu ngapain?”


Ramon menoleh saat mendengar suara Sechil. Pria itu tersenyum menatap Sechil yang mulai bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk diatas ranjang.


“Baju baju kotor kamu berantakan, aku beresin biar kamarnya bersih.” Jawab Ramon.


Sechil diam. Entah didikan bagaimana yang Ramon terima sejak kecil sehingga Ramon bisa begitu sangat telaten dalam segala hal.


“Maaf, aku merepotkan kamu.” Lirih Sechil.


“Tidak papa. Lain kali yang rapi ya, biar anak kita cantik kaya kamu.” Senyum Ramon membuat kedua pipi Sechil langsung bersemu merah.


“Apaan sih?” Sechil melengos merasa malu karna ucapan Ramon.


“Ya sudah mending sekarang kamu mandi. Udah pagi..”


Tanpa membalas ucapan Ramon, Sechil turun dari ranjangnya kemudian melangkah cepat menuju kamar mandi dengan kepala terus tertunduk. Sechil tidak mau Ramon melihat rona merah dikedua pipi chuby nya.


Didalam kamar mandi Sechil tertawa merasa sangat bahagia. Namun sedetik kemudian tawa itu langsung sirna. Sechil tidak seharusnya merasa tersipu mendengar Ramon menyinggung tentang janin yang sedang dikandungnya. Apa lagi Ramon mengatakan bahwa janin itu adalah anak mereka. Sesuatu yang sudah jelas tidak nyata karna Sechil sendiri bahkan tidak tau siapa ayah dari janin yang sedang dikandungnya. Yang jelas pria itu pasti bukan Ramon.


“Bodoh.” Umpat Sechil pada dirinya sendiri. Sechil menyesal karna tadi tersipu malu bahkan sampai merasa sangat bahagia. Sechil merasa dirinya tidak waras tadi karna merasa bahagia dengan ucapan yang dilontarkan Ramon.


Sechil menunduk menatap perutnya yang mulai terlihat. Beberapa hari kedepan kandungan-nya akan menginjak usia ke 4 bulan.


“Mamah tidak tau harus bagaimana.. Tapi mamah akan sangat menyayangi kamu nak..” Lirih Sechil dengan suara bergetar.


Sechil memejamkan sesaat kedua matanya. Tangan-nya menyentuh dan mengusap lembut perutnya mencoba merasakan kehadiran calon anaknya.

__ADS_1


“Mungkin suatu saat nanti hidup kita tidak akan mudah sayang. Tapi mamah janji, mamah akan selalu ada untuk kamu..” Sechil meneteskan air matanya merasa pilu. Kehadiran janin yang saat ini sedang tumbuh dirahimnya berhasil mengaduk aduk perasaan-nya. Antara sedih namun juga bahagia. Merasa pilu namun juga terharu karna tuhan mempercayakan amanah besar padanya. Yaitu Sechil akan segera menjadi ibu diusianya yang masih sangat muda.


__ADS_2