Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 171


__ADS_3

“Saya kumpulin kalian disini sekarang untuk meminta tolong..”


Ucapan Rayan membuat Fina, bibi dan semua pekerja dirumah itu termasuk Roky saling menatap. Rayan memang tiba tiba memanggil mereka untuk menghadapnya diruang kerjanya.


“Lusa kita akan kembali kerumah yang lama. Jadi tolong kalian bantu Istri saya dan Ibu Sari untuk membereskan barang barangnya.” Lanjut Rayan menatap satu persatu para pekerjanya.


“Baik tuan..” Jawab bibi mewakili mereka semua.


“Oke, hanya itu saja yang mau saya bicarakan. Kalian boleh istirahat.”


“Baik tuan, kami permisi.” Ujar bibi yang lagi lagi mewakili semua teman seperjuangan-nya.


Rayan menganggukkan kepalanya. Setelah bibi dan yang lain-nya keluar dari ruang kerjanya Rayan meraih hp nya. Rayan bermaksud untuk menghubungi Sechil namun kemudian terdiam dan tampak berpikir.


“Apa besok saja aku ajak Alana kesana?” Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.


Rayan terus diam dan berpikir hingga akhirnya deringan hp di yang dipegangnya membuatnya tersadar dari segala pemikiran-nya tentang Sechil dan Ramon.


Rayan mengeryit ketika mendapati nama Robin dilayar benda pipih mahalnya karna setiap Robin menghubunginya sudah bisa dipastikan sesuatu pasti sedang terjadi.


“Mommy.. Ada apa lagi?” Rayan menghela napas merasa sedikit frustasi jika sudah menyangkut tentang mommy nya Caterine yang belum juga mau menerima keadaan dan menyadari kesalahan-nya.


Rayan segera mengangkat telpon dari Robin ingin tau apa yang terjadi dengan mommy nya sekarang.


“Ada apa Robin?” Tanya Rayan pelan.


“Nyonya Caterine tuan. Nyonya Caterine beberapa kali mencoba untuk kabur. Dan sekarang nyonya Caterine melukai dirinya sendiri dengan membenturkan kepalanya ke tembok.”


Rayan memejamkan kedua matanya. Entah apa lagi yang di inginkan oleh Caterine. Jika hanya ingin hartanya saja Rayan tidak mempermasalahkan. Toh harta masih bisa Rayan cari. Tapi Caterine tidak hanya ingin hartanya melainkan perpisahan-nya dengan Alana juga Sechil dan Ramon. Rayan tidak bisa diam saja jika sudah seperti itu. Rayan tidak ingin kehilangan kebahagiaan-nya.


“Oke.. kamu pastikan agar mommy tidak kabur dan baik baik saja. Saya tidak bisa kesana sekarang Robin. Tolong jaga mommy.” Ujar Rayan pelan.

__ADS_1


“Baik tuan.” Balas Robin.


Rayan kemudian menyudahi telepon-nya. Pria itu menyenderkan punggungnya disandaran kursi kebesaran-nya. Entah bagaimana lagi caranya Rayan menghadapi Caterine. Rayan sudah berusaha bersikap baik dengan tetap memperhatikan dan menghormati Caterine. Namun sepertinya semua itu tidak juga membuat Caterine luluh dan tetap menginginkan kehancuran hubungan-nya dengan Alana.


“Tuhan... Apa lagi yang harus aku lakukan..” Lirih Rayan frustasi.


Rayan memejamkan kedua matanya. Sempat terbesit dipikiran-nya untuk menyerahkan semua hartanya pada Caterine. Namun kemudian Rayan berpikir lagi jika semua hartanya dia berikan pada Caterine itu artinya Rayan mengingkari janji pada mendiang daddy-nya Richard. Hal itu juga akan mempermudah Caterine untuk melukai Alana.


Dari ambang pintu Alana melihatnya. Alana juga mendengar apa yang Rayan katakan lewat sambungan telepon pada Robin tadi.


“Mommy.. Lagi lagi mommy membuat hati Rayan hancur..” Gumam Alana menatap sedih pada Rayan yang tidak menyadari kehadiran-nya.


Alana menghela napas. Tidak ingin mengganggu Rayan, Alana memilih untuk berlalu. Bukan bermaksud tidak perduli, Alana hanya memberikan waktu untuk Rayan sendiri dan memikirkan semuanya dengan tenang. Alana yakin Rayan bisa berpikir dengan jernih.


Alana melangkah pelan menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai 2 dimana kamarnya berada. Meski pikiran-nya terus tertuju pada Rayan sekarang tapi Alana mencoba untuk tetap tenang. Alana akan berpura pura tidak tau saja karna tidak mau Rayan merasa malu dengan tingkah keterlaluan Caterine.


Ketika tersisa satu lagi anak tangga untuk sampai dilantai 2 tiba tiba sebuah pelukan lembut dari belakang mengejutkan-nya. Alana diam, tanpa menoleh pun Alana tau siapa yang memeluknya.


“Apa kamu tadi mencariku sayang?” Bisik Rayan mesra.


“Tolong jangan besar kepala Rayan, Aku hanya haus.” Kilah Alana.


Rayan tertawa pelan. Pria itu melepaskan pelukan-nya kemudian membopong tubuh sintal Alana dan membawanya menuju kamar mereka.


“Ya, haus akan kasih sayangku bukan?” Tanya Rayan masih dengan tawanya.


Alana mendelik namun kemudian ikut tertawa. Alana menganggap mungkin apa yang Rayan lakukan adalah cara agar Rayan tidak terlalu terganggu dengan pikiran-nya yang terus tertuju pada Caterine sekarang.


Rayan membaringkan tubuh Alana pelan diatas tempat tidur. Rayan juga ikut naik dan berbaring miring disamping Alana menatap dalam Alana yang juga sedang menatapnya.


“Alana..” Panggil Rayan pelan.

__ADS_1


“Hem...” Senyum Alana manyaut.


“I love you..” Bisik Rayan.


“I love you to..” Balas Alana dengan senyuman dibibirnya.


Rayan tertawa lagi. Rayan merasa benar benar seperti orang gila sekarang. Hubungan-nya dengan Alana terasa begitu sangat indah. Tapi Rayan merasa heran dengan Caterine yang tidak pernah bisa melihat keindahan itu. Caterine bahkan selalu berusaha menghancurkan-nya.


Gerakan diperut Alana membuat Rayan terkejut. Kedua matanya melebar menatap Alana yang juga terkejut saat merasakan sesuatu yang bergerak cukup kencang diperutnya.


Rayan bangkit dari berbaringnya dan menatap perut buncit Alana tidak percaya. Gerakan itu memang sudah tidak asing lagi untuk Rayan, namun gerakan kali ini sangat kuat seperti kaki menendang yang langsung mengenai perut rata Rayan.


“Sepertinya kita harus melakukan USG sayang..” Ujar Rayan membuat Alana ikut bangkit dari berbaringnya.


“Aku ingin tau siapa yang berada didalam sini. Kenapa sepertinya dia sedang mengajakku untuk bermain bola. Tendangan-nya sangat kuat.” Lanjut Rayan sambil mengusap lembut perut besar Alana membuat Alana langsung tertawa.


Usia kehamilan-nya hampir mendekati bulan ke 7. Waktu yang memang terasa sangat singkat menurut Alana.


“Aku juga penasaran. Dia sangat aktif jika bergerak. Kamu tau Rayan, rasanya sedikit geli dikulit perutku saat dia bergerak.” Cerita Alana.


“Oh ya?” Tanya Rayan terkejut. Rayan mengubah posisinya menjadi tengkurap dengan posisi kepala yang tepat menghadap pada perut Alana.


“Hey, kamu yang didalam sana.. Jangan membuat aku semakin penasaran. Usiamu disana masih sangat muda. Jangan menantangku untuk bermain bola. Kamu akan menangis nanti kalau aku banyak mencetak gol.”


Alana tidak bisa untuk tidak tertawa mendengar apa yang Rayan katakan. Rayan benar benar sangat lucu menurutnya karna mengajak janin yang bahkan belum genap berusia 7 bulan berbicara tentang bola.


“Bagaimana kalau ternyata dia sukanya main boneka?” Tanya Alana terus tertawa.


Rayan mendongak menatap Alana.


“Aku akan tetap mengajarinya main bola bahkan bela diri supaya dia tangguh dan hebat seperti kamu.” Jawab Rayan dengan entengnya.

__ADS_1


Tawa Alana semakin lebar. Meski memang Alana juga menyetujui apa yang Rayan katakan. Siapapun yang akan lahir dari rahimnya entah itu bergender laki laki ataupun perempuan, dia harus tangguh dan hebat dalam segala hal.


Sedang Rayan, pria itu benar benar tidak mau pusing memikirkan Caterine. Rayan tau Caterine sudah dewasa bahkan tua untuk mengerti mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Yang bisa Rayan lakukan hanya memastikan bahwa Caterine baik baik saja juga aman dalam pengawasan Robin.


__ADS_2