
Malamnya Alana tidak bisa memejamkan kedua matanya sampai tengah malam. Alana membolak balikan tubuhnya kekanan dan kekiri mencoba mencari posisi yang nyaman namun kedua matanya tetap saja tidak bisa terpejam.
Alana menghela napas kasar kemudian bangkit terduduk dari berbaringnya. Alana menoleh kesampingnya tempat biasanya Rayan berbaring. Pria itu entah kenapa terus diam sejak pulang setelah melihat kediaman Dion. Alana bahkan merasa Rayan seperti sedang mendiamkanya. Padahal siang tadi mereka baru saja berciuman dengan sangat mesra di dalam mobil. Rayan bahkan mengatakan akan sangat mencintainya.
“Kenapa dia belum kunjung tidur? Apakah pekerjaanya begitu banyak?” Alana bertanya tanya sendiri. Rayan masih betah di ruang kerjanya sampai malam larut. Benar benar penggila kerja pikir Alana.
Penasaran sedang apa Rayan sekarang, Alana pun turun dari ranjang kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Dengan langkah pelan Alana menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai 2 dimana ruang kerja Rayan berada.
Sesampainya di depan pintu ruang kerja Rayan, Alana langsung masuk. Keningnya mengeryit begitu mendapati Rayan tidak ada disana.
“Kok nggak ada?” Gumam Alana.
Alana melangkah masuk ke dalam ruang kerja Rayan. Tidak ada siapa siapa disana. Alana mendekat ke meja kerja Rayan dan tidak lagi melihat bingkai photo Sakura disana. Rayan benar benar menyingkirkanya.
Alana melirik hp Rayan yang tergeletak di samping laptopnya. Pria itu entah berada dimana sekarang.
“Apa mungkin di ruang baca?” Lagi, Alana bertanya tanya sendiri.
Alana melangkah keluar dari ruang kerja Rayan kemudian melangkah menuju ruang baca. Dan begitu Alana masuk, ternyata Rayan memang ada disana. Pria itu sedang duduk di sofa tunggal dengan membaca buku tebal di tanganya.
“Rayan..” Panggil Alana sambil mendekat.
Rayan hanya melirik sekilas pada Alana kemudian kembali fokus menatap buku tebal yang di pegangnya.
“Kenapa betah sekali disini? Apa kamu tidak mengantuk?”
Hening.
Rayan hanya menghela napas tanpa berniat menjawab pertanyaan Alana. Rayan masih merasa kesal karna menganggap Alana masih memiliki rasa pada Dion.
“Em.. Aku menunggu kamu dari tadi.” Kata Alana lagi.
Rayan masih tidak menyaut. Tatapanya terus tertuju pada buku tebal yang sedang dibacanya.
“Rayan.” Panggil Alana mencoba menarik perhatian Rayan. Tapi sayang, Rayan sama sekali tidak meliriknya.
Alana kemudian duduk di pinggiran sofa tunggal yang di duduki Rayan. Alana melongokan kepalanya ingin tau apa yang sedang Rayan baca. Alana berdecak, buku sastra kuno dengan bahasa yang sama sekali tidak Alana mengerti.
“Sepertinya buku itu sangat menarik.”
Rayan tetap diam. Pria itu enggan menoleh untuk menatap Alana yang terus mencoba mencari perhatianya.
__ADS_1
Alana menyipitkan kedua matanya menatap tidak suka pada Rayan yang terus mengabaikanya. Entah dimana menariknya buku itu sampai Rayan tidak menghiraukanya.
Merasa kesal Alana pun merebut buku itu. Alana segera bangkit dan menyembunyikan buku itu di punggungnya saat Rayan menoleh padanya.
“Kembalikan buku itu.” Kata Rayan dengan nada memerintah.
“Aku tidak mau.” Geleng Alana menolak perintah Rayan.
“Alana.”
“Buku ini membuat kamu mengabaikan aku. Aku akan bakar buku ini.” Tegas Alana.
Rayan mengeryit. Sikap Alana membuatnya sedikit kesal kali ini.
“Kamu kenapa sih diemin aku? Tadi siang kamu cium aku, kamu juga bilang akan sangat mencintai aku. Tapi coba lihat sekarang, kamu bahkan terus mengabaikan aku.”
Rayan bangkit berdiri dari duduknya. Tatapanya terus tertuju pada Alana yang pelan pelan melangkah mundur.
“Alana, kembalikan buku itu.”
“Enggak mau !” Tegas Alana dengan sangat keras kepala.
Rayan memejamkan sesaat kedua matanya. Pria itu berusaha menahan kekesalanya. Rayan tidak ingin membuat Alana kembali menganggapnya pria kejam.
“Kamu.. Kamu mau apa?” Tanya Alana mulai panik. Wajah Rayan sangat datar membuat Alana tidak bisa menebak apa yang ingin Rayan lakukan padanya. Tapi Alana merasa Rayan pasti akan melakukan sesuatu padanya.
“Rayan stop! jangan mendekat lagi.”
Rayan tidak mendengarkan apa yang Alana katakan. Pria itu terus mendekat tanpa mau mendengarkan Alana yang terus mundur menghindar darinya.
Alana berhenti saat punggungnya menabrak tembok. Alana sudah tidak bisa lagi menghindar. Alana sudah tersudutkan.
“Rayan..”
“Bukunya..” Rayan mengangkat satu tanganya ke udara menengadah meminta buku tebal tersebut dari Alana.
Alana menelan ludahnya. Dengan mengumpulkan sisa keberanianya Alana mengangkat dagunya berani. Alana mendongak menatap Rayan yang berdiri menjulang tinggi di depanya.
“Apa pentingnya buku ini? Apa lebih penting dari aku?”
Rayan mendesis pelan. Alana benar benar sangat keras kepala.
__ADS_1
“Apa aku berbuat kesalahan? katakan saja terus terang. Tidak usah diam dan mengabaikanku seperti ini.”
Entah kenapa tiba tiba kedua mata Alana terasa panas. Dadanya terasa sesak karna Rayan terus mengabaikanya.
“Kalau aku salah harusnya kamu tegur aku. Kamu ingetin aku. Bukan malah diemin aku begini.”
Suara Alana tiba tiba bergetar dan detik berikutnya air mata menetes di kedua pipinya. Alana menangis karna Rayan mengabaikanya.
Melihat Alana menangis Rayan hanya bisa menghela napas. Pria tampan itu kemudian meraih tubuh Alana dan memeluknya dengan lembut. Rayan mengusap lembut lengan dan punggung Alana yang mulai terisak dalam pelukanya.
“Sstt.. Sudah jangan menangis. Aku tidak mendiamkan kamu kok..” Rayan merasa bersalah sekarang. Alana menangis karnanya.
Alana menjatuhkan buku tebal yang diambilnya dari Rayan. Tanganya memukul dada bidang Rayan yang menjadi sandaranya sekarang.
“Kamu jahat tau nggak. Aku benci sama kamu. Huhu..” Alana semakin keras menangis. Entah kenapa didiamkan oleh Rayan membuat Alana merasa sakit.
“Maaf..” Lirih Rayan sambil mengecup singkat puncak kepala Alana.
Rayan tidak bermaksud membuat Alana menangis. Rayan hanya merasa kesal karna beranggapan Alana masih mempunyai rasa pada Dion. Simpelnya Rayan merasa cemburu karna Alana masih mengurusi Dion yang notabene nya sudah menjadi mantan kekasih Alana.
Rayan mengangkat tubuh Alana yang masih terus menangis menuju sofa tunggal yang tadi di dudukinya. Pria itu mendudukan dirinya disana sehingga Alana berada di pangkuanya sekarang.
“Sudah yah.. Aku minta maaf.. Aku salah..”
Bukanya berhenti menangis, Alana malah semakin terisak mendengar pengakuan Rayan. Wanita dengan dress tidur maroon selutut itu melingkarkan tanganya erat di bahu tegap Rayan.
Cukup lama Alana menangis hingga akhirnya diam. Suasana hening menyelimuti mereka berdua. Alana sesekali masih terisak menyenderkan kepalanya di dada bidang Rayan.
“Tentang perasaan kamu sama Dion, apakah sudah benar benar hilang?”
Alana mengeryit. Segera Alana melepaskan tautan tanganya di bahu tegap Rayan. Alana menegakkan tubuhnya menatap Rayan yang juga sedang menatapnya.
“Kamu diemin aku karna Dion?” Tanya Alana.
Rayan menghela napas pelan kemudian menganggukan kepalanya pelan.
“Aku tidak suka kamu mengingat ingat Dion.” Katanya.
“Kamu cemburu?”
Rayan diam sesaat kemudian kembali menganggukan kepalanya.
__ADS_1
“Ya, aku cemburu.” Jawabnya jujur.