
Selama pengerjaan pembangunan lift Sechil terus merecoki Luky. Gadis itu bahkan beberapa kali membuat para pekerja terluka sehingga pembangunan itu sedikit terhambat. Beruntung Luky bukan pria yang bisa kasar pada lawan jenisnya sehingga Luky lebih memilih untuk cuek saja. Luky memang beberapa kali menegaskan Sechil tapi tidak sampai berbuat kelewatan karna Luky sendiri tau seburuk buruknya sikap Sechil dia tetap harus menghormati terlebih Rayan juga diam diam sangat menyayangi adik satu satunya itu.
“Bagaimana?”
Luky memejamkan sesaat kedua matanya ketika Rayan bertanya lewat sambungan telpon. Luky sedikit frustasi sebenarnya menghadapi kenakalan adik dari tuan-nya itu.
“Maaf tuan, mungkin pembangunan-nya akan sedikit memakan waktu.” Jawab Luky.
“Apa karna mommy? atau Sechil?”
Luky menelan ludahnya. Rayan bisa langsung menebak dengan tepat. Mungkin karna Rayan sendiri sudah tau bagaimana sikap mommy dan adiknya itu.
“Nona Sechil tuan, dia beberapa kali melukai para pekerja.” Luky akhirnya memilih untuk berterus terang.
Rayan berdecak sebal. Sechil memang sangat sulit untuk dikasih pemahaman.
“Katakan padanya saya akan mengusirnya jika dia tetap tidak patuh.” Tegas Rayan.
Luky sangat terkejut mendengarnya. Sepertinya kesabaran Rayan akan Sechil sudah mulai terbatasi.
“Baik tuan.”
Setelah Luky menjawab, Rayan segera mengakhiri telponya. Pria itu mendesah frustasi. Sechil tidak akan berhenti berulah jika Rayan tidak menuruti kemauan-nya. Sedang Rayan sendiri sudah tau apa yang diinginkan oleh adiknya itu.
“Kenapa?”
Suara Alana membuat Rayan menoleh. Pria itu menatap Alana yang tampak begitu cantik dengan pakaian-nya yang memang cukup terbuka. Alana memakai dress dengan panjang diatas lutut serta belahan dada yang rendah. Bahunya yang begitu putih dan bersih serta leher jenjangnya membuat Rayan mulai tergoda.
Rayan menggelengkan kepalanya kemudian menepuk pahanya menyuruh agar Alana duduk dipangkuanya.
Alana menurut. Wanita itu melangkah mendekat pada Rayan yang sedang duduk dikursi yang berada diteras depan villanya. Alana mendudukan dirinya dipaha Rayan dengan kedua tangan yang mengalung di leher Rayan.
“Apa ada masalah?” Tanyanya.
Rayan menundukan kepalanya mencium leher Alana membuat wanita itu mendongakan kepalanya.
“Kamu sengaja menggodaku?”
Alana mengeryit kemudian mendorong dada bidang Rayan. Alana menatap Rayan yang menatapnya dengan tatapan yang Alana sendiri tidak bisa mengartikan.
“Kapan kita pulang?”
Pertanyaan Alana membuat Rayan langsung mengeluarkan ekspresi datarnya.
__ADS_1
“Kenapa? Tidak suka hanya berdua denganku disini?”
Alana mengerjapkan kedua matanya. Sikap Rayan mulai kembali lagi. Gampang terpancing emosi.
“Kamu mulai lagi.” Merasa kesal Alana pun bangkit dari duduknya dipaha Rayan kemudian berlalu masuk kedalam villa meninggalkan Rayan yang menghela napas frustasi.
Alana merasa kesal karna Rayan bahkan salah memahami pertanyaan-nya. Alana bertanya kapan pulang bukan karna tidak betah berdua dengan Rayan divilla itu. Alana hanya tidak mau jika Rayan terlalu lama mengabaikan tanggung jawabnya diperusahaan. Itu tentu akan sangat memberatkan Rayan diakhirnya.
“Dasar tidak peka. Bisanya cuma marah marah.” Alana bergumam penuh rasa kesal.
Sesaat Alana terdiam hingga tatapanya tertuju pada hp miliknya yang berada diatas meja didepanya diruang tengah. Alana kemudian meraih benda pipih itu. Rasanya sudah lama sekali Alana tidak menyentuhnya.
Alana mencari kontak ibunya bermaksud untuk menghubungi wanita itu. Alana sangat merindukan-nya sekarang.
“Halo... ibu..”
“Alana.. Ya tuhan akhirnya aku mendengar suara kamu. Kamu dimana Alana?”
Kedua mata Alana terbelalak mendengarnya. Bukan ibunya yang mengangkat telpon darinya tapi Dion. Yah, Alana masih sangat mengenali suara mantan kekasih brengseknya itu.
“Dion. Apa yang kamu lakukan? Dimana ibuku?!” Alana mulai terbakar emosi. Dion berani mengangkat telpon darinya itu berarti hp milik ibunya sedang berada ditangan Dion.
“Ah ya Alana, aku sedang mengunjungi calon mertuaku. Dia sedang didapur membuatkan minuman untukku.”
“Berikan hp-nya pada ibuku Dion. Kamu lancang !!”
“Ow ow.. sabar sayangku. Tunggu sebentar akan aku berikan hp-nya pada ibu. Tapi ngomong ngomong kamu dimana sekarang? Kamu baik baik saja kan?”
Tangan Alana mengepal. Rasanya Alana ingin melempar apa saja yang ada didekatnya sekarang.
“Berikan hp-nya pada ibuku Dion.” Alana berkata dengan nada penuh penekanan.
“Oke oke.. Jangan marah..”
Tidak lama terdengar kemarahan Sari yang bisa dengan jelas Alana dengar. Sari bahkan mengumpat dan menyumpahi Dion yang sudah begitu lancang berani mengangkat telpon dihp-nya.
“Ibu... Ibu tidak apa apa kan?” Alana bertanya dengan penuh rasa khawatir. Alana bahkan tanpa sadar meneteskan air matanya saking khawatirnya pada Sari.
“Ibu nggak papa sayang. Maaf ibu tadi sedang didapur. Ibu tidak tau Dion datang.”
Alana menahan napas sejenak dengan kedua mata terpejam. Alana sudah menduganya. Dion pasti berbohong.
“Kamu tidak perlu khawatir nak. Dion sudah pergi.” Kata Sari lagi.
__ADS_1
Alana menggelengkan kepalanya. Dion adalah pria yang bisa menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Alana hapal betul bagaimana sikap Dion yang memang penuh dengan ambisi itu.
“Nggak bu.. Aku nggak bisa tenang. Aku akan segera pulang dan memberi dia pelajaran.” Alana tidak bisa lagi menahan emosinya. Dion sudah membuatnya juga ibunya resah.
“Nak.. Jangan khawatir. Kamu fokus saja dengan bulan madumu. Ibu disini tidak sendiri, ada mbak juga pak satpam.”
“Tapi bu..”
“Dion sengaja melakukan itu agar kamu terpancing Alana. Jangan ladeni dia..” Sela Sari.
Alana terdiam. Dion memang sepertinya sengaja memancing emosinya. Dion bahkan pernah menghinanya dua kali didepan Rayan.
“Nak.. Masa lalu hanya akan menghancurkan kebahagiaan kamu jika diladeni..”
Alana menghela napas pelan. Apa yang ibunya katakan memang benar. Jika Alana tetap meladeni Dion bukan tidak mungkin Rayan akan salah mengartikan maksudnya. Hal itu tentu saja akan menjadi pemicu masalah didalam rumah tangganya dan Rayan.
“Baiklah bu... Tapi bu tolong ibu bilang sama pak satpam agar tidak mengizinkan dia keluar masuk begitu saja kerumah ibu..”
“Ya nak.. Ibu akan mengatakanya nanti. Sekarang kamu tenang ya.. Ibu tidak apa apa.”
Alana menganggukan kepalanya. Alana harus bisa percaya pada ibunya. Ibunya bukan wanita yang lemah yang bisa ditindas dan dipengaruhi dengan mudah.
“Ya sudah kalau begitu bu..”
“Ya sayang..”
Alana memutuskan sambungan telponya setelah itu. Alana terdiam dan berpikir. Entah apa yang sebenarnya diinginkan oleh Dion sekarang. Pria itu sudah menghianatinya tapi sekarang kembali mengganggunya.
“Apa mau dia sebenarnya?” Alana bergumam penuh rasa kesal bercampur penasaran.
Alana menyenderkan punggungnya disandaran sofa yang dia duduki. Kedua matanya terpejam. Pikiranya terus tertuju pada Dion yang entah kenapa seolah ingin terus mengusiknya. Dion sudah membuatnya sakit juga kecewa tapi sekarang seperti berusaha mendekatinya lagi.
“Apa perlu aku memberikan dia pelajaran supaya jera?”
Alana membuka kembali kedua matanya mendengar suara berat Rayan. Tatapanya langsung terarah pada Rayan yang sudah berdiri tidak jauh dari sofa yang Alana duduki.
“Rayan kamu..”
“Aku sudah mendengar semuanya.” Sela Rayan sembari mendekat pada Alana.
Alana hanya diam saja. Tatapan Rayan tampak berbeda. Pria itu seperti sedang menginginkan sesuatu darinya.
Ketika sampai didepan sofa, Rayan langsung membungkukkan tubuhnya. Pria itu menatap wajah Alana yang begitu dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
“Tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu milikku.” Bisiknya kemudian meraih bibir Alana yang hanya pasrah dan mengimbangi apa yang Rayan lakukan padanya.