Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 68


__ADS_3

Selama beberapa hari setelah Rayan mencabut fasilitasnya, Sechil terus saja menyalahkan dan menyudutkan Alana. Namun bukan Alana namanya jika hanya diam saja. Alana terus melawan dan tidak mau dikalahkan oleh Sechil. Alana tidak perduli meski semua yang ada dirumah itu menilainya kekanak kanakan karna tidak mau mengalah dari Sechil. Bagi Alana harga dirinya adalah segalanya. Siapapun tidak boleh menginjak injak harga dirinya termasuk Sechil dan Caterine, mommy dari suaminya sendiri.


“Sechil dan Mommy semakin hari semakin keterlaluan sama kamu Alana, aku minta maaf.”


Alana melepaskan pelukan Rayan kemudian mendongak. Alana tidak pernah sekalipun menyalahkan Rayan dengan sikap kurang ajar Sechil padanya juga sikap tidak tau diri Caterine. Alana tau Rayan tidak pernah membenarkan apapun yang keduanya lakukan. Rayan selalu berada dipihaknya.


“Ada yang lebih penting dari itu Rayan.” Ujar Alana membuat Rayan mengeryit.


“Apa itu?”


Alana bangkit dari berbaringnya yang diikuti Rayan. Wanita itu kemudian turun dari ranjang dan membuka laci nakasnya mengeluarkan satu dus tespek yang pernah Rayan belikan untuknya.


Rayan menatap bingung pada Alana yang malah menunjukan satu dus tespek yang disimpan-nya.


“Bulan ini aku telat hampir 2 minggu. Tapi aku belum mengeceknya.” Kata Alana.


“Apa?” Kedua mata Rayan melebar. Telat datang bulan hampir 2 minggu dan tidak mengeceknya benar benar membuat Rayan terkejut juga khawatir.


“Alana, kamu tau itu sangat berbahaya bukan?” Tanya Rayan pelan. Rayan tidak mau sedikit saja menyinggung Alana yang sudah berbesar hati menerima keadaan didalam rumahnya dengan kehadiran mommy juga adiknya.


“Rayan, aku hanya tidak mau kecewa. Tapi malam ini aku akan mengeceknya. Aku yakin aku pasti hamil.”


Rayan menelan ludah. Jika memang benar istrinya itu hamil Sechil juga mommy-nya tidak boleh tau. Itu akan sangat berbahaya untuk Alana.


Alana melangkah menuju kamar mandi setelah itu. Wanita itu tidak merasa khawatir sama sekali dengan keberadaan Sechil dan Caterine. Alana yakin bisa menghadapi keduanya dalam keadaan apapun. Bahkan jika dirinya benar benar hamil sekalipun.


“Alana tunggu.”


Alana berhenti begitu sampai didepan pintu kamar mandi. Wanita itu membalikan tubuhnya kembali menatap Rayan yang sedang turun dari ranjang kemudian melangkah menghampirinya.


“Kenapa lagi?” Tanya Alana dengan helaan napas.


“Bagaimana mungkin kamu bisa begitu yakin kalau kamu hamil?”


Alana menyipitkan kedua matanya menatap Rayan.


“Kamu tidak ingin aku hamil?” Alana balik bertanya.

__ADS_1


Rayan menggelengkan kepalanya.


“Bukan, bukan begitu Alana.. Aku hanya takut nanti kamu kecewa lagi.”


“Kali ini aku yakin aku hamil. Aku selalu mual dipagi hari. Dan aku juga merasa ada yang berubah pada diriku sendiri.”


Rayan menatap Alana dari atas sampai bawah. Sedikit berubah memang benar. Ada bagian tubuh Alana yang membuat Rayan merasa sedikit pangling bahkan saat menyentuhnya.


“Aku cek dulu.”


Alana kemudian masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Rayan yang hanya diam saja.


Selama hampir 10 menit Alana berada didalam kamar mandi dan Rayan terus menunggu didepan pintu. Pria terlihat sedikit gelisah menunggu Alana yang tidak juga keluar dari dalam kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka memunculkan Alana yang begitu sumringah. Alana langsung menubruk tubuh Rayan membuat Rayan sedikit mundur kebelakang. Alana memeluk erat tubuh kekar Rayan yang sedang bertanya tanya dengan hasil dari pengecekan Alana dengan alat tes kehamilan itu.


“Bagaimana Alana?” Tanya Rayan masih belum membalas pelukan Alana.


Sedang Alana, wanita itu terus saja tersenyum dalam pelukan Rayan. Alana merasa sangat bahagia setelah melihat hasil dari pengetesan-nya.


Alana melepaskan pelukan-nya kemudian mendongak menatap Rayan yang begitu sangat tinggi jika sejajar dengan-nya.


Rayan sangat terkejut mendengarnya. Alana hamil, hamil anaknya. Itu artinya sebentar lagi Rayan akan menjadi seorang ayah.


“Kamu serius?”


Alana menganggukan kepala sembari menunjukan stik tespek dimana terdapat 2 garis merah yang berarti positif itu.


Rayan meraih stik tersebut dari tangan Alana menatapnya dengan seksama. Hubungan-nya dan Alana memang sudah membaik cukup lama. Rasa cinta juga sudah tumbuh bahkan berkembang begitu subur dihati keduanya.


“Apa aku akan benar benar menjadi seorang ayah?” Lirih Rayan dengan kedua mata berkaca kaca. Meski awalnya Rayan merasa belum siap tapi tidak untuk sekarang. Sekarang Rayan merasa sangat terharu juga bahagia. Alana sedang mengandung anaknya, buah cintanya.


Rayan beralih menatap Alana yang diam namun dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Rayan meraih kedua pipi Alana menangkupnya dengan sangat lembut kemudian menciumi seluruh bagian wajah cantik Alana.


“Jaga dia baik baik sayang..” Bisik Rayan tepat didepan bibir Alana.


“Itu pasti.” Jawab Alana kenudian kembali berhambur memeluk tubuh kekar Rayan.

__ADS_1


Setelah mengetahui Alana hamil, esoknya Rayan langsung mengajak Alana kerumah sakit. Rayan mengantar Alana memeriksakan kandungan-nya untuk yang pertama kalinya.


“Usia kandungan nyonya Alana baru 4 minggu. Di usia yang masih sangat muda juga sangat rentan ini nyonya harus benar benar menjaga fisik dan kondisi tubuh. Mungkin mual di pagi hari akan sering anda rasakan nyonya. Tapi itu tidak akan berlangsung lama.” Jelas dokter.


Rayan yang duduk berdampingan dengan Alana mengangguk pelan. Siap tidak siap sekarang dirinya harus selalu siaga, menjaga dan memastikan istri dan calon anaknya baik baik saja akan menjadi tugas utamanya sebagai seorang suami juga calon ayah yang baik.


“Kurangi aktivitas yang membuat tubuh anda lemah nyonya. Saya akan tuliskan resep obat juga vitamin yang harus anda konsumsi.” Tambah dokter cantik berkaca mata itu.


Setelah mendapat resep obat juga vitamin yang harus ditebusnya di apotek, Rayan segera menebusnya. Sedang Alana, wanita itu duduk anteng dikursi tunggu sembari terus mengusap usap pelan perut ratanya.


“Alana..”


Suara Michelle berhasil mengalihkan perhatian Alana. Tidak jauh dari tempatnya duduk Michelle berdiri dengan perut yang sudah mulai terlihat sedikit membuncit.


“Kamu..” Alana tersenyum tipis. Michelle pernah menjadi teman baiknya meski pada akhirnya Michelle berhianat dengan Dion.


“Boleh aku duduk?” Tanya Michelle pelan.


“Tentu saja. Ini tempat duduk umum. Siapapun boleh duduk disini termasuk kamu.”


Michelle tertawa pelan mendengarnya kemudian mendudukkan dirinya tepat disamping Alana.


“Kamu apa kabar Alana?” Tanya Michelle pelan. Wanita dengan dress coklat susu itu tersenyum manis membayangkan pertemanan kentalnya dengan Alana dulu. Michelle bahkan berharap Alana masih mau menjadi teman-nya lagi saat ini dan seterusnya. Meskipun memang Michelle merasa malu sendiri dengan harapan-nya itu.


“Aku baik, sangat baik.” Jawab Alana menatap sekilas pada Michelle.


“Syukurlah..” Gumam Michelle tersenyum.


Michelle menghela napas. Michelle merindukan saat saat dulu dirinya dan Alana begitu akrab. Semua hal bisa mereka bicarakan berjam jam bahkan sampai lupa pada jam pelajaran saat dikampus.


“Bagaimana hubungan kamu dengan Dion?”


Pertanyaan Alana membuat Michelle tersenyum kecut. Buah dari penghianatan-nya pada Alana sedang dia panen. Tapi menceritakan semua pada Alana hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Ditambah lagi Michelle merasa tidak pantas berkeluh kesah pada Alana yang sudah dia hianati.


“Dion, dia suami yang sangat baik.” Bohong Michelle dengan segala luka dan kecewa yang dirasakan-nya.


Alana menganggukan kepalanya pelan. Alana tidak percaya dengan apa yang Michelle jawab. Karna Alana sendiri tau bagaimana Dion sekarang.

__ADS_1


Selang beberapa menit Rayan datang. Alana langsung bangkit dan pamit pada Michelle yang diam diam menangis melihat Alana yang begitu sangat dicintai dan diperhatikan oleh Rayan.


__ADS_2