
Sepulang dari menemui Luna, Caterine terus saja mondar mandir merasa tidak tenang. Wanita itu merasa harus tau apa yang sedang direncanakan kedua anaknya dibelakangnya. Caterine yakin, Rayan dan Sechil pasti sedang memiliki rencana yang memang sengaja disembunyikan dari Caterine.
“Kenapa mereka tidak mau terus terang padaku? Kenapa mereka selalu bertindak seenaknya? Sebenarnya dianggap apa aku ini?” Caterine menggerutu merasa sangat kesal dengan apa yang dilakukan Rayan dan Sechil dibelakangnya. Caterine juga merasa keduanya sama sekali tidak menghormati dan menganggapnya sebagai orang tuanya.
“Kalau begini terus terusan aku bisa gila.”
Caterine mendudukan dirinya ditepi ranjang. Wanita itu tidak menyadari sedikitpun kesalahan yang sudah diperbuatnya. Caterine terus merasa dirinya paling benar.
“Aku harus bisa menguasai semuanya sebelum Alana melahirkan anaknya.. Bahkan bila perlu Alana tidak perlu membuat bayi itu lahir dari dunia ini..” Gumamnya tersenyum licik.
Suara motor Ramon berhasil mengalihkan perhatian Caterine. Wanita itu segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah cepat menuju balkon kamarnya. Caterine tersenyum sinis ketika mendapati Sechil yang menyambut hangat kepulangan Ramon.
“Sebentar lagi kamu akan kembali memihak pada mommy Sechil. Kamu akan meninggalkan Ramon yang memang tidak berguna itu.”
-------
“Kamu sudah makan?” Tanya Sechil pada Ramon yang sedang melepas helm-nya.
Ramon tersenyum tipis kemudian menganggukan kepalanya.
“Sudah.” Jawabnya singkat.
Ramon melirik perut buncit Sechil. Ucapan Rayan yang mengatakan sedang berusaha mencari siapa ayah kandung janin dalam kandungan Sechil berhasil membuat Ramon merasa hatinya tercubit. Namun Ramon tidak bisa berbuat apa apa. Ramon pasrah. Karna Ramon sadar dirinya bukanlah apa apa diantara Rayan dan keluarganya.
“Ramon, kamu kenapa?” Tanya Sechil bingung melihat kediaman Ramon.
“Eh, enggak. Aku nggak papa. Ya udah aku bersih bersih dulu ya.. ini aku ada beliin kamu cilok tadi.” Senyum Ramon kemudian menyerahkan bingkisan yang dibawanya pada Sechil.
“Aku mandi dulu ya..”
“Oke..” Angguk Sechil tersenyum.
Setelah Ramon berlalu Sechil menghela napas. Sechil berharap tidak akan ada masalah antara hubungan-nya dan Ramon meskipun nanti sudah ditemukan siapa ayah kandung janin yang sedang dikandungnya. Dan jika memang benar orang yang malam itu menanam benih padanya adalah Bastian, Sechil tidak akan banyak menuntut. Sechil hanya ingin Bastian mengakuinya saja. Sedang hubungan-nya dengan Ramon, Sechil berharap tidak akan ada yang berubah. Ramon tetap menjadi suaminya yang baik dan bijak dalam menyikapi segala hal.
“Sekarang aku sadar Ramon.. Aku nggak akan bisa bertahan tanpa kamu..”
__ADS_1
Sekitar 20 menit menunggu namun Ramon belum juga turun menghampirinya diruang keluarga. Sechil juga sudah menghabiskan cilok yang dibelikan oleh Ramon untuknya.
Penasaran karna Ramon tidak kunjung datang padanya, Sechil pun bangkit dari duduknya. Sechil melangkah menuju lift menuju lantai 2 dimana kamarnya berada. Dan begitu membuka pintu kamarnya, Sechil menemukan Ramon yang sedang duduk disofa dan diam merenung.
“Ramon..” Panggil Sechil yang berhasil mengalihkan perhatian Ramon.
Ramon tersenyum kemudian menepuk pelan tempat didepan-nya menyuruh agar Sechil duduk disampingnya.
Sechil menurut. Sechil melangkah pelan menghampiri Ramon kemudian duduk disamping pria itu.
“Aku tungguin kamu dibawah tadi tapi kamu nggak turun turun.” Kata Sechil pelan.
“Sechil, boleh aku peluk kamu?”
Sechil mengeryit mendengar pertanyaan itu. Tanpa berpikir Sechil pun menganggukan kepalanya membuat Ramon langsung memeluknya dengan sangat lembut.
“Jika suatu saat kamu merasa bosan atau jenuh padaku katakan saja ya..”
Sechil langsung melepaskan diri dari pelukan Ramon mendengarnya. Sechil menatap Ramon yang tersenyum manis padanya dengan pandangan tidak mengerti.
Ramon menghela napas kemudian meraih tangan Sechil dan menggenggamnya dengan kedua tangan.
“Kamu harus tau Sechil, aku selalu mencintai kamu.” Ramon mengangkat tangan Sechil kemudian mencium punggung tangan Sechil dengan kedua mata terpejam.
Sechil hanya diam saja. Ramon selalu mengatakan mencintainya namun Ramon juga selalu mengatakan hal yang seolah olah memberi kode agar Sechil meninggalkan-nya.
Setelah mencium punggung tangan Sechil, Ramon kemudian mengusap lembut perut buncit Sechil.
“Apapun yang terjadi nanti kamu tetap anak papah.. Walaupun papah memang tidak bisa menjadi papah yang bisa memberikan kamu segalanya.” Ujar Ramon.
Sechil menelan ludahnya. Sechil menepis tangan Ramon dengan kasar membuat Ramon kembali menatapnya.
“Jangan lagi mengatakan cinta padaku Ramon jika kamu saja enggan bersamaku.” Tekan Sechil membuat Ramon kembali mengukir senyuman dibibirnya.
Ramon menghela napas dan mencubit gemas pipi chuby Sechil.
__ADS_1
“Mencintai bagiku tidak harus menuntut untuk selalu bersama. Aku akan pastikan kamu bahagia saat kamu sudah tidak lagi membutuhkan aku nanti.” Katanya.
Sechil merasakan dadanya mulai sesak. Ucapan Ramon benar benar menusuk hatinya.
“Bagaimana kalau sampai aku menutup mataku aku tetap membutuhkan kamu?” Tanya Sechil dengan kedua mata berkaca kaca.
Ramon terdiam. Rayan sudah menceritakan siapa pria yang sedang diselidiki. Dan mengingat bagaimana Sechil bercerita setelah memeluk Bastian malam itu Ramon juga memiliki prasangka yang sama. Bastian adalah ayah biologis dari janin yang dikandung Sechil sekarang.
“Sechil itu tidak mungkin. Aku tidak memiliki apa apa.” Lirih Ramon menatap Sechil lembut.
Sechil menggelengkan kepalanya. Wanita itu kemudian berhambur memeluk tubuh kekar Ramon. Sechil menangis tidak berani membayangkan Ramon yang akan meninggalkan-nya suatu hari nanti.
“Aku akan selalu butuh kamu Ramon.” Lirihnya.
Ramon memejamkan kedua matanya. Dengan lembut Ramon membalas pelukan Sechil. Ramon juga mencium bahu bergetar Sechil yang begitu erat memeluknya.
Ucapan Rayan kembali terngiang ditelinga Ramon. Rayan adalah keluarga kaya raya. Apapun yang Rayan dan keluarganya inginkan semuanya bisa terwujud dengan mudah. Tentu saja karna mereka memiliki banyak uang. Sedangkan Ramon, gajinya sebulan saja belum tentu mampu untuk membelikan baju bermerk untuk Sechil.
“Bagaimana jika memang benar Bastian adalah ayah kandung dari anak kita? Apa kamu akan menikah dengan Bastian Sechil?”
Sechil menggelengkan kuat kepalanya. Kedua tanganya semakin erat melingkari leher Ramon.
“Aku hanya mau sama kamu Ramon. Aku tidak akan mau menikah dengan Bastian atau siapapun itu.” Jawabnya yang disertai isak tangis.
Ramon tertawa pelan.
“Jangan bodoh, Bastian itu orang kaya. Dia bisa membuat kamu juga anak kita bahagia.”
Sechil berlahan mengendurkan pelukan-nya pada Ramon. Perlahan Sechil melepaskan Ramon dan menunduk semakin terisak pilu.
“Aku dan kakak tidak bermaksud menuntut pertanggung jawaban dari ayah anak ini Ramon. Kami hanya ingin yang terbaik untuk anak ini. Agar dia diakui oleh ayah kandungnya tanpa harus aku bersama dengan ayahnya. Aku hanya ingin sama kamu. Dan kakak juga mengerti itu.”
Ramon menelan ludahnya. Rayan juga sudah menjelaskan semuanya. Hanya saja Ramon merasa sedikit takut jika akhirnya Bastian benar benar berniat bertanggung jawab dan mengajak Sechil menikah. Ramon tidak punya apa apa untuk mempertahankan Sechil tetap disisinya.
“Ramon..” Sechil mengangkat kepalanya menatap Ramon dengan tangisnya.
__ADS_1
“Ayo kita percepat rencana perpindahan kita Ramon. Kita hidup berdua dengan cara kita sendiri.”