Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 185


__ADS_3

Selesai memeriksakan keadaan Caterine, Rayan dan Sechil mengajak Caterine untuk jalan jalan diluar sebentar. Tidak ada gelagat aneh apapun yang ditunjukan Caterine. Wanita itu bersikap seperti biasanya, elegan dan angkuh. Namun ketika Sechil tidak sengaja menyebut nama suaminya Ramon tiba tiba Caterine marah dan bertanya dimana Ramon. Caterine bahkan mengatakan akan menghabisi Ramon jika dia ada didepan-nya sekarang.


“Mom.. Ramon itu orang baik..” Rayan berkata dengan sangat pelan dan lembut. Rayan tau bagaimana keadaan mommy nya sekarang dan berusaha untuk maklum. Meski saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian dikeramaian itu karna tingkah Caterine yang mulai tidak wajar. Caterine histeris hingga mengundang tatapan para pengunjung mall kearahnya.


Caterine menggelengkan kepalanya merasa tidak setuju dengan apa yang Rayan katakan bahwa Ramon adalah orang baik.


“Dia jahat Rayan. Buktinya dia misahin Sechil sama mommy. Ramon itu sama saja dengan Alana.”


Sechil yang mendengarnya hanya bisa menghela napas. Bagaimana mungkin dirinya dan Rayan mendekati Caterine sedang Caterine saja selalu berasumsi yang tidak baik pada Ramon maupun Alana, orang yang mereka cintai.


“Lihat, bukankah itu tuan Rayan yang kaya raya itu?”


“Ya... Nyonya Caterine sepertinya sudah tidak waras karena dipenjara. Tidak punya malu sama sekali.” Timpal salah satu dari ibu ibu yang sedang bergerombol menatap mereka bertiga.


Rayan dan Sechil mendengarnya. Tapi mereka berdua tidak mungkin membela diri sekarang. Citranya akan semakin buruk dimata masyarakat jika meladeni ocehan ocehan tersebut.


“Kasihan tuan Rayan. Punya ibu kok gila harta.”


Caterine yang sedang dibicarakan sama sekali tidak perduli dengan ocehan itu. Caterine terus berceloteh menyalahkan Ramon dan Alana tanpa sedikitpun ingat dengan kesalahan-nya sendiri.


Tidak mau semakin mempermalukan dirinya sendiri, Rayan pun mengajak Caterine untuk segera kembali ketahanan. Sebenarnya Rayan tidak tega meninggalkan Caterine disana dengan keadaan yang seperti sekarang. Tapi membawa Caterine pulang juga lebih tidak mungkin lagi. Caterine bisa saja berbuat sesuatu yang tidak di inginkan pada Alana nantinya.


“Jangan tinggalkan mommy disini lagi Rayan, Sechil.. Mommy mohon. Robin jahat. Dia pukulin mommy. Dia bahkan mau bunuh mommy..”


Robin mendelik mendengar itu. Robin sedikitpun tidak pernah menyentuh Caterine apa lagi memukulnya.


“Dasar nenek gila.” Umpat Robin dalam hati.


Rayan dan Sechil hanya diam saja dan terus menuntun Caterine masuk kedalam tahanan-nya. Saat Caterine memberontak dan hendak melarikan diri Robin dengan sigap menghadang. Saking kesalnya Robin bahkan sedikit mengeratkan cekalan-nya pada lengan Caterine.


“Robin, saya titip mommy sama kamu sementara saya memikirkan tempat yang pas untuk mommy..” Ujar Rayan pada Rayan.


“Baik tuan.” Angguk Robin menjawab.


Rayan mengajak Sechil yang sedari tadi hanya diam memikirkan kondisi Caterine untuk keluar. Alana dan Ramon sudah menunggu diluar.


“Kita pulang sekarang yah.. Kamu jangan terlalu memikirkan mommy.. Dia akan baik baik saja. Percaya sama kakak..” Kata Rayan pada Sechil.

__ADS_1


Ramon dan Alana hanya diam saja. Mereka bisa merasakan apa yang Rayan dan Sechil rasakan sekarang.


“Ya kak. Kakak hati hati yah..” Senyum Sechil berusaha untuk tegar.


Rayan menganggukan kepalanya kemudian beralih menatap pada Alana yang berdiri berdampingan dengan Ramon didepan mobil. Rayan mengukir senyuman manis dibibir tipisnya untuk Alana kemudian menganggukan pelan kepalanya memberi kode pada istri tercintanya itu agar mendekat padanya.


Alana yang mengerti dengan kode dari Rayan segera mendekat dengan langkah pelan. Alana masuk kedalam mobil begitu Rayan membukakan pintu untuknya.


“Ramon, Sechil kakak duluan.”


Ramon dan Sechil menganggukan kepalanya kompak menjawab Rayan. Keduanya tersenyum menatap mobil Rayan yang mulai berlalu dari halaman luas tempat para napi ditahan itu.


Sepanjang perjalanan menuju pulang Rayan terus saja diam. Rayan bahkan sepertinya lupa bahwa saat itu sudah waktunya untuk makan siang hingga suara kemerucuk dari perut Alana menyadarkan-nya.


Rayan menoleh dan mendapati Alana yang tertawa meringis menatapnya.


“Aku lapar..” Katanya.


Rayan tersenyum geli. Karna terlalu fokus memikirkan Caterine, Rayan hampir saja melupakan Alana yang berada disampingnya.


“Maaf.. Aku terlalu fokus dengan mommy sayang. Kita cari makan siang yah.. Kamu pengin makan apa?”


Rayan menggelengkan kepalanya. Istri juga adiknya benar benar kompak sekarang. Keduanya sama sama sedang sangat menyukai makanan pedas.


Rayan menghentikan mobilnya didepan sebuah restoran yang cukup mewah siang itu. Rayan juga membukakan pintu dan menuntun Alana saat turun dari mobil. Hal itu membuat semua pasang mata yang melihatnya merasa iri dengan cara lembut Rayan memperlakukan Alana.


“Jangan terlalu berlebihan Rayan. Ini ditempat umum.” Ujar Alana saat mereka hendak masuk kedalam restoran tersebut.


“Biarkan mereka semua tau bahkan dunia sekalipun. Aku tidak perduli.” Balas Rayan tersenyum.


Alana hanya menggeleng saja. Wanita itu menurut saat Rayan menggandengnya melewati para pengunjung lain direstoran itu.


------


“Kamu mau makan apa?” Tanya Ramon menoleh sekilas pada Sechil yang terus diam dengan tatapan lurus kedepan.


Sechil melirik Ramon yang sedang fokus dengan kemudinya kemudian tersenyum.

__ADS_1


“Kita makan dirumah saja ya.. Aku sudah beresin sayur semalam, tinggal ditumis saja.” Jawab Sechil pelan.


Ramon menganggukan kepalanya.


“Ya sudah kalau begitu. Aku beli lauknya saja. Kamu mau ayam atau ikan?”


“Terserah kamu saja.” Senyum Sechil menjawab lagi.


Ramon ikut tersenyum. Ramon tidak tau apa yang dokter Klara katakan pada Rayan dan Sechil. Ingin bertanya tapi Ramon takut pertanyaan-nya akan membuat istrinya semakin terlihat murung.


Tidak lama Ramon dan Sechil sampai dan Ramon segera menepikan mobilnya. Namun begitu keduanya turun tiba tiba ada mobil polisi yang berhenti tepat didepan mobilnya.


“Ada apa?” Gumam Sechil bingung.


3 Orang polisi turun dari mobil itu kemudian mendekat pada Ramon yang juga bertanya tanya dengan kedatangan para polisi tersebut.


“Selamat siang tuan.” Sapa dari salah satu polisi itu dengan tegas pada Ramon.


“Ya, siang pak..” Balas Ramon tersenyum ramah.


Sechil yang penasaran langsung mendekat pada Ramon dan berdiri tepat disampingnya.


“Benar anda yang bernama Ramon?” Tanya polisi itu pada Ramon.


“Maaf, ini ada apa ya pak?” Sechil bertanya dengan jantung yang mulai berdetak sangat cepat. Perasaan-nya mulai tidak menentu karna kedatangan para polisi itu.


“Begini tuan, nona. Tidak jauh ditaman sana ditemukan mayat seorang wanita dengan identitas bernama Claudia. Menurut para saksi yang melihat, semalam nona Claudia terlihat berboncengan dengan anda tuan.” Jelas polisi itu.


Kedua mata Sechil langsung membulat sempurna. Sechil menggeleng tidak menyangka dengan apa yang terjadi sekarang.


“Pak tapi suami saya tidak bersalah..”


“Silahkan jelaskan nanti di kepolisian. Mari tuan.”


Kedua polisi yang berdiri disamping kanan dan kiri polisi tua itu langsung dengan sigap memegangi kedua tangan Ramon yang tetap berusaha untuk tenang. Ramon merasa tidak bersalah dan tidak harus merasa takut.


Sedangkan Sechil, dia menangis histeris melihat Ramon yang dibawa oleh polisi.

__ADS_1


Ketika hendak dimasukan kedalam mobil, Ramon meminta izin pada polisi itu untuk menenangkan Sechil sejenak. Ramon meyakinkan polisi tersebut bahwa dirinya tidak akan kabur dan akhir polisi itu luluh meski Ramon terus dikawal dari samping kanan dan kirinya.


“Aku akan segera pulang sayang. Kamu harus tenang. Semuanya akan baik baik saja.” Senyum Ramon menangkup kedua pipi basah Sechil yang terus menangis sebelum akhirnya dibawa oleh 3 polisi itu.


__ADS_2