
Rayan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maximal. Beruntung malam itu lalu lintas tidak begitu padat bahkan bisa dikatakan sangat lenggang sehingga Rayan bisa lebih leluasa tanpa khawatir menabrak atau menyerempet kendaraan lain-nya.
Dalam waktu singkat Rayan sampai dirumah sakit tempat Sechil berada. Rayan langsung menuju dimana Sechil berada karna sebelumnya Bastian sudah memberitahu ruang rawat Sechil.
Rayan membuka pintu ruang rawat Sechil dengan sedikit keras membuat Ramon yang memang terus berada disamping Sechil. Ramon hanya diam mendapati Rayan yang berdiri mematung diambang pintu ruangan tersebut.
Pelan pelan Rayan melangkah mendekat pada brankar Sechil. Rayan menatap wajah pucat Sechil yang begitu tenang memejamkan kedua matanya.
“Kenapa bisa seperti ini?” Tanya Rayan dengan tatapan terus tertuju pada wajah pucat Sechil.
Ramon menelan ludahnya. Pertanyaan itu tidak bisa Ramon jawab karna Ramon juga tidak tau sebab Sechil sampai tidak bisa melahirkan dengan normal. Yang Ramon tau Sechil selalu ceria dan bahagia meski seminggu belakangan Sechil tampak terlihat murung.
“Apa kata dokter, Ramon?”
Pelan pelan Ramon mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap Rayan yang pasti akan menyalahkan-nya dengan keadaan Sechil sekarang.
“Sechil tidak bisa melahirkan secara normal karna ada sedikit masalah pada kandungan-nya. Dan dokter mengatakan kondisi Sechil sedikit lemah setelah operasi selesai dilakukan.”
Rayan menghela napas mendengarnya. Rayan tau bahkan menyaksikan sendiri bagaimana seorang wanita berjuang melahirkan bayi.
“Saya juga tidak tau kenapa kak.”
Rayan tersenyum tipis. Rayan yakin Ramon sudah menjaga Sechil dengan baik. Mungkin apa yang dialami Sechil sekarang memang sudah rencana Tuhan.
“Semuanya akan baik baik saja. Sechil pasti akan kembali membuka kedua matanya untuk melihat jagoan-nya.” Rayan mengusap lembut pipi Sechil. Rayan yakin adiknya memang akan baik baik saja.
Ramon menelan ludahnya. Rayan begitu tenang dan sama sekali tidak menyalahkan-nya.
Suara gesekan roda box bayi dengan lantai membuat Ramon juga Rayan menoleh. Mereka berdua tersenyum melihat Bastian dan perawat yang mendorong box bayi dimana putra Sechil berada. Bayi mungil itu tidak tertidur namun begitu tenang meski terus bergerak gerak.
Perawat itu menempatkan box bayi itu tepat disamping brankar Sechil. Setelah itu perawat itupun pamit permisi pada Rayan, Ramon, juga Bastian.
Tatapan tiga pria tampan itu kini mengarah pada bayi mungil yang tampak begitu asik dengan dunianya sendiri.
“Jadi, apa saya boleh menggendongnya?” Tanya Rayan menatap bergantian pada Bastian dan Ramon.
__ADS_1
Ramon dan Bastian tersenyum. Mereka berdua saja sama sekali belum menyentuhnya dan Rayan sudah mengajukan diri dengan begitu percaya dirinya.
“Oke, sepertinya memang saya tidak perlu mendapat izin dari kalian.” Ujar Rayan kemudian langsung meraih tubuh mungil bayi Sechil kedalam gendongan-nya.
Rayan mencium dengan lembut kening bayi tampan itu. Dari parasnya, bayi itu memang sangat mirip dengan Bastian. Dan Rayan yakin memang Bastian lah ayah biologis bayi itu.
Ramon tersenyum geli. Genggaman tangan-nya pada tangan Sechil semakin erat. Ramon kembali menatap wajah pucat dan tenang Sechil.
“Lihat sayang, sepertinya memang kak Rayan itu sedikit egois.” Bisik Ramon pada Sechil yang memang tidak akan menyautinya.
Suasana sedih diruangan Sechil berada seketika langsung menjadi hangat berkat kehadiran putra pertama Sechil. Rayan, Ramon juga Bastian yakin seyakin yakin-nya Sechil akan segera membuka kedua matanya untuk mendekap dan menyusui putra pertamanya.
“Apa kalian bertiga sudah menyiapkan nama untuk sitampan ini?” Tanya Rayan sambil menaruh kembali keponakan-nya yang sudah tertidur pulas itu di box bayi.
Ramon dan Bastian saling menatap kemudian tersenyum.
“Sebenarnya saya sudah menyiapkan nama. Tapi sepertinya akan lebih baik jika kita bicarakan ini setelah Sechil membuka kedua matanya saja.” Ujar Bastian.
“Begitu lebih bagus.” Setuju Rayan menganggukan kepalanya.
Rayan tersenyum mendengarnya. Rayan paham dan mengerti dengan alasan Ramon.
“Kabar mereka berdua sangat baik.” Senyum Rayan menjawab.
Tidak lama kemudian mamah Bastian datang. Wanita itu sempat marah pada Bastian karna Bastian tidak memberitahunya sejak awal sebelum Sechil dioperasi. Mamah Bastian juga menangis melihat Sechil yang berbaring tidak berdaya dibrankarnya.
-------
Cleo menatap langit gelap tanpa bintang malam ini. Dengan pelan Cleo menghela napas. Memikirkan permasalahan hubungan-nya dengan Bastian membuat hatinya berdenyut ngilu. Sechil bukan wanita pertama yang mengaku dihamili oleh Bastian karna memang kehidupan malam Bastian cukup bebas. Tapi ini adalah kali pertama Bastian langsung percaya dan begitu sangat perhatian pada Sechil sampai sering mengesampingkan Cleo yang sejak dulu selalu Bastian prioritaskan.
Cleo memejamkan kedua matanya kemudian menundukkan kepala. Ketika Cleo membuka kedua matanya, Cleo pun mengangkat tangan kirinya menatap cincin tunangan-nya dan Bastian yang melingkar dengan begitu sangat pas dijari manisnya.
Cleo tersenyum miris. Bastian selalu menyakitinya sejak tau Sechil hamil anaknya. Meskipun memang tidak menyakiti secara terang terangan. Bastian sering berbohong sebagai alasan saat mengunjungi Sechil. Lebih menyakitkan lagi mamah Bastian yang ikut perhatian pada Sechil membuat Cleo merasa tidak punya dukungan untuk terus mempertahankan hubungan-nya dan Bastian.
“Cleo...”
__ADS_1
Cleo mengeryit ketika mendengar suara Bastian. Perlahan Cleo membalikan tubuhnya dan terkejut begitu mendapati Bastian ada diambang pintu penghubung balkon-nya. Cleo menyipitkan kedua matanya, Bastian masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Aku sudah berkali kali mengetuk pintu. Tapi nggak ada jawaban, makanya aku masuk.” Ujar Bastian.
Cleo melengos. Cleo benar benar sedang tidak ingin bertemu dengan Bastian yang memang selalu membuatnya kecewa dan sakit hati belakangan ini.
“Mau apa kesini?” Tanya Cleo enggan menatap Bastian.
Bastian tersenyum kemudian melangkah pelan mendekat pada Cleo yang berdiri dibalkon kamarnya. Bahkan saat Bastian sudah ada didepan-nya Cleo tetap enggan menatapnya.
Bastian menghela napas kemudian meraih kedua tangan Cleo. Senyuman manis terus Bastian ukir untuk Cleo yang berada didepan-nya.
“Kita nikah yuk?” Ajak Bastian membuat Cleo langsung menatapnya.
“Jangan gila Bastian.”
Bastian tertawa melihat ekspresi kesal kekasihnya. Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Cleo. Bastian merasa lega sekarang. Putranya telah lahir dan sudah terbukti bahwa memang bayi itu adalah anaknya.
“Aku serius. Aku pikir tidak baik mengulur ngulur waktu lagi untuk kita menikah.” Ujar Bastian.
Cleo menghela napas dan melepaskan genggaman tangan Bastian.
“Bukan-nya kamu yang mengulur ngulur waktu karna sibuk memperhatikan Sechil?” Sechil membalikan tubuhnya memunggungi Bastian yang malah tersenyum mendengar apa yang dikatakan-nya.
Bastian memeluk Cleo dari belakang dan menempelkan dagunya dibahu terbuka Cleo.
“Baiklah.. Aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”
Cleo diam diam tersenyum. Cleo bahagia mendengar ajakan menikah Bastian padanya. Cleo tidak bisa munafik, meskipun Bastian terus membuatnya kecewa tapi Cleo sangat mencintai pria itu.
“Eemm.. Sayang..”
“Bastian stop. Kita belum menikah.”
Bastian tertawa dan menghentikan gerakan tangan-nya. Bastian dan Cleo memang sudah biasa melakukan aktivitas diatas ranjang. Namun semenjak bertunangan keduanya mulai lebih membatasi diri.
__ADS_1
“Hahaha maaf aku tidak bisa menahan-nya tadi sayang..” Tawa Bastian.