
Kediaman Michelle dan Dion.
Ditaman belakang rumahnya Michelle sedang duduk sambil menikmati sepiring buah yang disediakan oleh asisten rumah tangganya. Michelle merasa semuanya seperti mimpi. Menikah kemudian hidup bersama dengan Dion benar benar sesuatu yang tidak pernah sekalipun Michelle pikirkan dulu. Tapi sekarang semua itu terjadi. Dion menjadi suaminya tapi Dion sudah berubah total. Dion menjadi orang asing bagi Michelle.
“Ternyata kamu disini nak.”
Michelle mengeryit ketika mendengar suara mamahnya. Wanita yang sedang berbadan dua itu kemudian menoleh. Keterkejutan terlihat jelas diwajahnya begitu sang mamah mendekat kearahnya.
“Mamah..”
Cindy mengeryit melihat ekspresi wajah putrinya.
“Nak? Kamu kenapa?” Tanyanya bingung.
Michelle tertegun. Mungkin keterkejutan-nya terlalu berlebihan. Tapi bukan tanpa alasan Michelle ber-ekspresi seperti itu. Dion, sedang tidak dirumah lagi. Pria itu sudah 2 hari ini tidak pulang. Dan Michelle sama sekali tidak tau dimana sekarang Dion berada. Michelle juga tidak perduli. Toh, Dion hanya akan menyakitinya jika dirumah. Michelle malah merasa lebih aman dan lebih leluasa tanpa Dion dirumahnya.
“Aku... Aku nggak papa kok mah. Cuma.. kok mamah datang nggak kasih tau aku dulu..” Michelle tersenyum manis. Michelle selalu menutupi apa yang dirasanya pada kedua orang tuanya. Bukan takut mereka marah pada Dion tapi takut Dion berbuat macam macam yang tentu tidak Michelle inginkan.
Cindy tersenyum. Dengan lembut disentuhnya lengan terbuka Michelle. Putrinya terlihat mulai berisi akhir akhir ini.
“Mamah sengaja kesini karna kangen sama kamu sayang. Oh iya, mamah bawain sesuatu buat kamu.”
Michelle tersenyum. Michelle kembali mendudukan dirinya dikursi yang tadi dia duduki. Michelle menatap mamahnya yang sibuk membuka isi dari paperbag yang dibawanya.
“Apa itu?” Tanya Michelle penasaran.
“Kita lihat apa isinya.” Senyum Cindy menatap Michelle sebentar.
Michelle mengangguk semangat. Meski Dion tidak pernah perduli lagi padanya tapi Michelle tetap harus bahagia. Ada kedua orang tuanya yang sangat menyayanginya juga janin dalam kandunganya yang tentu sangat membutuhkan perhatian darinya kelak.
“Lihat..” Cindy memperlihatkan dress cantik warna orange dengan ukuran jumbo pada Michelle. Wanita itu tersenyum berharap putri tunggalnya suka dengan dress yang dibelikan-nya.
Michelle tertawa. Cindy selalu tau seleranya.
“Ini sangat bagus mah..” Pujinya.
__ADS_1
Cindy tersenyum lebar. Wanita itu kemudian meraih tangan Michelle menuntunya agar kembali berdiri dari duduknya.
“Mamah pengin liat kamu coba dress ini sayang. Ini keluaran terbaru dan pastinya limited edition.” Katanya.
Michelle tertawa pelan. Michelle kemudian menganggukan kepalanya, namun saat hendak melangkah Michelle melihat Dion yang sedang melangkah kearahnya. Pria itu menatapnya dengan tatapan lembut yang Michelle sudah tau artinya. Apa lagi selain berakting didepan Cindy.
“Dion.. Kamu baru pulang?” Tanya Cindy saat Dion menyaliminya.
“Ya mah.. Kebetulan hari ini aku lagi nggak sibuk jadi aku sempatkan buat makan siang dirumah. Supaya istriku yang cantik ini tidak kesepian.”
Michelle melengos saat Dion meliriknya. Dion sangat pandai bersandiwara. Dion pria bermuka dua.
“Mamah senang kalau kamu selalu meluangkan waktu untuk Michelle Dion. Terimakasih sudah menjaga putri kesayangan mamah.” Cindy membelai lembut rambut panjang tergerai Michelle. Cindy merasa sangat berterimakasih pada Dion karna menganggap Dion sangat menjaga Michelle.
“Mamah nggak perlu merasa sungkan. Menjaga dan melindungi Michelle adalah tugasku sekarang.” Lagi, Dion berkata sembari melirik Michelle yang terus saja membuang muka enggan menatapnya.
Michelle merasa sangat muak. Ingin sekali rasanya Michelle berteriak dan memberitahu yang sebenarnya pada kedua orang tuanya. Dion hanya berakting saja.
“Michelle.. Kamu sudah..”
“Ya sayang..” Angguk Cindy.
Diam diam rahang Dion mengeras menatap punggung Michelle yang menjauh darinya. Michelle berani menyela apa yang ingin Dion katakan didepan Cindy yang tentu saja bisa memicu kecurigaan Cindy.
“Oh ya Dion, bagaimana perusahaan kamu sekarang?”
Dion menoleh dan tersenyum manis pada Cindy. Berkat suntikan dana dari kedua orang tua Michelle kini perusahaan-nya sudah kembali stabil.
“Semuanya sudah kembali seperti sedia kala mah. Dion sangat berterimakasih pada mamah dan papah karna tanpa kalian berdua mungkin Dion akan sangat kesulitan.”
Cindy tertawa pelan.
“Jangan sungkan nak. Apapun yang terbaik untuk kamu dan Michelle mamah sama papah akan selalu membantu.”
Dion tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Cindy dan suaminya memang sangat baik padanya dari dulu. Keduanya juga sangat mempercayakan Michelle padanya.
__ADS_1
Dari balik tembok Michelle mengepalkan kedua tangan-nya. Dion benar benar sudah sangat kelewatan. Dion memanfaatkan kebaikan kedua orang tua Michelle demi kepentingan-nya sendiri. Dion bersandiwara seperti menantu yang baik didepan keduanya. Sementara dibelakang kedua orang tua Michelle Dion begitu semena mena dan berbuat seenaknya sendiri.
“Awas kamu Dion.” Gumam Michelle penuh dendam.
Tidak ingin membuat Dion curiga, Michelle segera mencoba dress yang dibelikan oleh mamahnya. Michelle merasa sangat senang karna dress itu begitu pas melekat ditubuh sintalnya.
“Kamu semakin terlihat cantik dengan dress itu sayang.”
Michelle hanya diam saja saat Dion memujinya. Pujian itu tentu saja hanya akting saja. Dion tidak pernah lagi mau bersikap manis padanya setelah menikah. Pria itu begitu arogan dan egois. Dion selalu berbuat menurut kehendaknya tanpa sedikitpun memperdulikan perasaan Michelle.
“Dion benar, kamu semakin terlihat cantik sayang..” Cindy mendekat pada Michelle. Wanita itu mengusap kedua bahu putrinya penuh kelembutan. Michelle adalah satu satunya putri kesayanganya. Putri yang sangat lama Cindy nantikan bersama suaminya dulu.
“Makasih ya mah.. Michelle suka banget sama dressnya.” Michelle tersenyum menatap Cindy yang berdiri disampingnya. Sebisa mungkin Michelle mencoba mengabaikan keberadaan Dion. Michelle tidak ingin melakukan sandiwara seperti Dion dengan berpura pura harmonis didepan orang tuanya.
“Sama sama sayang.”
Dion merasa semakin kesal. Michelle dengan sengaja mengabaikan-nya didepan Cindy.
“Permisi nyonya, tuan. Makan siangnya sudah siap.” Seorang asisten rumah tangga muncul dan memberitahu bahwa makan siang yang disiapkanya sudah tertata dimeja makan.
“Ah kebetulan sekali, rasanya sudah lama kita tidak makan siang bersama mah.. Sayang sekali nggak ada papah disini..”
Cindy tersenyum mendengar ucapan Dion. Wanita itu sama sekali tidak merasa curiga dengan gelagat diam Michelle. Pemikiran-nya terlalu positif pada Dion.
“Mamah nggak bisa lama lama disini..”
“Ayolah mah.. Hanya makan siang tidak akan membuang waktu mamah sia sia. Apa lagi kita jarang banget sekarang bisa makan siang bersama kaya gini. Kasian Michelle dong mah.. Aku, mamah sama papah selalu saja sibuk. Kita jarang ada waktu bersama buat Michelle..” Sela Dion pelan.
Cindy menghela napas pelan dengan menganggukan kepalanya. Cindy juga suaminya memang selalu sibuk dari dulu. Mereka jarang ada waktu luang untuk Michelle.
“Kamu benar Dion..”
Dion tersenyum dengan anggukan kepalanya. Tanpa Cindy sadari Dion menyeringai jahat karna berhasil mengelabui Cindy dengan sikap pura pura bijaknya.
Sementara Michelle, Michelle menatap Dion dengan rahang mengeras. Dion benar benar sangat munafik.
__ADS_1
“Ayo sayangku..” Ajaknya dengan tatapan penuh kemenangan pada Michelle.