Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 38


__ADS_3

BRAKK !!


Michelle terkejut mendengar suara pintu kamar yang dibanting dengan sangat keras oleh Dion. Jantungnya langsung berdetak begitu cepat akibat keterkejutan hebatnya. Kepalanya yang semula mulai membaik kini kembali terasa berdenyut nyeri.


“Dion..” Lirih Michelle tidak percaya.


Dion, pria itu menatapnya sangat beringas penuh amarah. Michelle sudah bisa menebak sebelumnya. Tapi Michelle tetap saja terkejut. Mungkin memang karna kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik baik saja.


Dion melangkah menghampiri Michelle yang berbaring diatas ranjang dengan kedua tangan mengepal erat.


“Apa maksudmu mengadukanku pada mamah hah?!” Bentak Dion membuat Michelle mendesis dengan kedua mata tertutup.


Michelle menelan ludahnya membasahi kerongkonganya yang terasa perih karna kering. Dion benar benar membencinya sekarang.


“Aku tidak mengadu apa apa..” Michelle berkata dengan kedua mata terus tertutup. Michelle tidak berbohong. Michelle tidak mengadu apapun pada Agatha. Karna Agatha bahkan tidak mau mendengarkan-nya dan terus menyela apa yang Michelle ingin katakan.


“Jangan berbohong kamu Michelle.”


Napas Michelle mulai memburu. Dadanya bergemuruh. Kepalanya semakin berdenyut nyeri karna tekanan dari Dion.


“Segitu bencinya kamu sama aku Dion?” Lirih Michelle bertanya. Suaranya bergetar menandakan rasa sakit yang amat sangat. Tapi sayangnya Dion sudah terlanjur buta. Buta karna cinta salahnya pada Alana.


“Kamu mengenalku dari kecil. Kamu tau aku selalu tulus berada disamping kamu. Aku tidak pernah pamrih.”


Dion melengos. Semua yang Michelle katakan memang benar. Tapi entah kenapa Dion merasa sangat muak. Dion marah karna Michelle yang menjadi istrinya, bukan Alana.


“Tapi kenapa sekarang kamu berubah Dion? Kenapa?”


Dion menghela napas merasa sangat kesal. Agatha marah padanya. Agatha bahkan mengancam akan mencoretnya dari hak waris. Dan itu karna Michelle.


“Dion.. Aku hamil. Hamil anak kamu.. Aku...”


“Aku tidak pernah menginginkan anak itu Michelle. Kamu tau yang aku mau kan?” Sela Dion dengan tidak berperasaan.


Air mata Michelle menetes mendengarnya.


“Alana?”


Dion tersenyum sinis. Dion mengira dirinya akan bahagia dengan menikah dan memilih Michelle. Tapi nyatanya, Dion menyesal sekarang.


“Kamu sadar tidak Dion? Alana sudah menikah dengan tuan Rayan. Alana bahkan sudah hamil. Kamu pikir kamu pantas mengharapkan Alana kembali?”

__ADS_1


“Diam kamu Michelle !!” Potong Dion menatap Michelle tajam.


“Kamu tidak berhak mengatakan apapun tentangku dan perasaanku pada Alana !”


Michelle tertawa. Dion benar benar dibutakan oleh cintanya yang salah.


“Dengar baik baik Michelle, aku akan mencari cara untuk mengakhiri pernikahan ini. Apapun caranya.”


Dion berlalu setelah berkata. Pria itu bahkan menendang keras pintu kamarnya membuat Michelle memejamkan matanya lagi.


Michelle menghela napas. Saat pernikahan mereka berlangsung Dion masih bersikap manis padanya. Tapi saat bulan madu Dion mulai bertingkah. Dion mulai memikirkan Alana yang jelas jelas sudah dia hianati bahkan dia sakiti.


Michelle menelan ludahnya susah payah. Tanganya menyentuh perutnya yang masih rata. Didalam kandunganya ada janin tidak berdosa yang harus tumbuh dengan sehat tanpa kurang apapun. Michelle akan sangat berdosa jika tidak bisa menjaganya dengan baik.


“Aku harus kuat, demi anak ini..” Gumam Michelle penuh tekad.


Michelle menatap setiap sudut kamarnya. Hampir 2 bulan mereka menikah tapi Dion tidak pernah menyentuhnya. Dion begitu dingin dan suka marah marah. Dion benar benar berubah derastis. Sosoknya yang hangat dan penuh kasih sayang sirna begitu saja begitu mereka memiliki status baru yaitu pasangan suami istri.


Tidak mau berlarut larut dengan kesedihan, Michelle pun menyibak selimut tebal yang menutupi kedua kakinya. Michelle kemudian turun dari ranjang dan melangkah menuju kaca besar yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya.


“Oke Michelle.. Kamu bisa.. Kamu bisa menghadapi semua ini.. Apapun yang terjadi kamu dan Dion harus tetap bersama.. Untuk anak ini..”


Michelle berusaha untuk tersenyum menghibur dan menguatkan dirinya sendiri. Michelle berpikir mungkin apa yang dialaminya sekarang adalah karma baginya. Karma karena Michelle diam diam menusuk Alana dari belakang.


“Mamah..” Gumamnya saat mendapati nama kontak mamahnya terpampang jelas dilayar hp-nya.


Michelle menghela napas pelan. Kedua orang tuanya akan sangat marah jika mengetahui keadaan tidak baiknya sekarang.


Dengan ragu Michelle mengangkat telpon tersebut. Kedua orang tuanya sedang berada diluar kota dalam perjalanan bisnis.


“Halo mah..”


“Michelle, mmah sama papah sudah berada diperjalanan menuju pulang.”


“Mamah dibandara?” Tanya Michelle pelan.


“Tidak sayang. Mamah sama papah bahkan sudah dekat jalan kompleks rumah kamu.”


“Apa?”


------

__ADS_1


“Memangnya kita harus pergi kesana?” Tanya Alana menatap Rayan yang sedang fokus dengan laptopnya.


“Tentu saja. Bukanya kamu ingin cepat hamil?”


Alana berdecak. Alana memang ingin segera hamil. Tapi jika untuk hamil saja harus pergi keluar negeri untuk honeymoon Alana sedikit merasa keberatan. Alana tidak suka naik pesawat.


“Memangnya kalau melakukanya dirumah terus tidak bisa cepat hamil?”


Rayan menghela napas merasa sedikit kesal pada Alana. Aneh sebenarnya. Padahal setiap wanita pasti akan sangat senang jika diajak honeymoon keluar negeri. Tapi Alana, wanita itu terus saja mencari cari alasan juga pertanyaan konyol yang membuat Rayan merasa jengah.


“Aku nggak suka naik pesawat.” Alana pelan pelan mulai jujur.


Rayan menoleh menatap Alana yang duduk disampingnya. Posisi keduaya sejajar dengan menyenderkan punggung di pangkal ranjang besar mereka.


“Kenapa?” Tanya Rayan penasaran.


Alana menggeleng pelan. Dulu saat masih duduk dibangku sekolah dasar Alana pernah pergi kesurabaya bersama ibunya. Alana merasa sangat mual dan pusing saat berada didalam pesawat. Dan sejak saat itu Alana selalu menghindari kendaraan udara itu.


“Bisa tidak kita honeymoon-nya keluar kota saja?” Alana bertanya dengan tatapan penuh harap. Alana benar benar tidak sanggup jika harus naik pesawat. Apa lagi keluar negeri membutuhkan perjalanan udara yang tidak sebentar.


Rayan menatap aneh pada Alana.


“Kamu..”


“Please Rayan... Memangnya kamu mau aku pingsan pas dipesawat? Terus nanti misalnya pas pulang aku udah hamil terus mabuk didalam pesawat kan bahaya.” Sela Alana dengan kosa kata yang sangat cepat saat mengucapkanya.


Rayan menghela napas. Istrinya sangat ajaib. Alana wanita yang langka dan lain dari yang lain.


“Terus kamu maunya gimana?” Tanya Rayan merasa sedikit malas.


Alana tampak berpikir. Wanita itu tidak ingin apapun sekarang sebenarnya. Alana hanya ingin cepat hamil. Alana ingin Rayan benar benar membuktikan ucapanya saat itu. Yaitu sangat mencintainya.


“Kamu beneran ingin tau?” Alana tersenyum menatap Rayan yang mulai curiga dengan apa yang sedang dipikirkan istrinya.


“Jangan aneh aneh. Aku nggak suka.” Jawab Rayan ketus.


Alana mengerucutkan bibirnya. Wanita itu menghela napas merasa sebal.


“Ya sudahlah. Nggak aku kasih tau.”


Rayan mulai merasa jengah tapi tidak bisa marah. Entah kenapa Rayan sendiri tidak tahu. Tapi yang pasti Rayan selalu merasa seperti orang bodoh jika berhadapan dengan Alana yang memang sangat banyak tingkah.

__ADS_1


“Iyaa.. Aku pengin tau..” Rayan berusaha memelankan dan melembutkan suaranya agar Alana tidak merajuk.


“Aku ngantuk.”


__ADS_2