
“Jadi kamu siang ini ikutkan?” Tanya Sechil pada Ramon yang sedang asik menikmati nasi goreng buatan-nya.
Ramon menatap Sechil yang juga menatapnya. Sebenarnya Ramon ingin sekali ikut serta menjenguk Caterine namun Ramon juga takut Caterine akan histeris. Itu akan sangat berakibat fatal dan tentu saja menghambat penyembuhan Caterine.
Ramon menghela napas. Jika dirinya tidak ikut, Sechil pasti akan sangat kecewa.
“Ck, kok malah bengong sih..”
“Eemmm.. Apa nggak papa aku ikut?”
Kali ini Sechil yang diam. Sechil hampir saja melupakan bagaimana tidak sukanya Caterine pada Ramon bahkan Alana.
“Aku khawatir mommy histeris melihat aku Sechil..” Tambah Ramon.
Sechil mengangguk mengerti. Sechil juga sebenarnya mulai ragu, tapi Sechil juga ingin Ramon ikut menjenguk mommy nya.
Melihat kediaman istrinya, Ramon tersenyum. Ramon melepas sendok yang dipegangnya kemudian meraih tangan Sechil.
“Hey... Kok jadi malah kamu yang bengong sih..”
Sechil tersadar dari semua pemikiran-nya tentang Caterine dan Ramon kemudian tersenyum manis pada suaminya. Ketika Sechil hendak mengatakan sesuatu, tiba tiba hp Ramon berdering membuat Sechil urung membuka mulutnya.
“Kak Rayan..” Ujar Ramon memberitahu pada Sechil siapa yang menelepon-nya.
Sechil mengerucutkan bibirnya. Rayan pasti mau menanyakan tentang rencana mereka untuk menjenguk Caterine siang ini.
“Aku angkat dulu ya sayang.. Sebentar.”
Ramon meraih hp miliknya kemudian segera mengangkat telepon dari Rayan.
“Halo kak...” Sapa Ramon mengangkat telepon.
“Ah ya.. Halo. Ramon, kamu dimana? sudah berangkat kuliah?”
Ramon melirik Sechil yang menatapnya mendengar pertanyaan Rayan dari seberang telepon. Kali ini pemikiran-nya sama seperti Sechil. Rayan pasti akan menanyakan tentang rencana mereka.
“Eemm.. Saya masih dirumah kak. Ini lagi sarapan sama Sechil.” Jawab Ramon apa adanya.
“Baguslah kalau begitu. Kakak minta tolong sampaikan pada Sechil hari ini tidak jadi menjenguk mommy..”
Ramon mengeryit.
“Memangnya kenapa nggak jadi kak?” Tanya Ramon penasaran.
“Alana melahirkan. Dan aku tidak bisa meninggalkan-nya begitu saja.”
__ADS_1
Kedua mata Ramon melebar membuat Sechil yang melihatnya semakin merasa penasaran. Sechil menoel noel pelan tangan besar Ramon membuat Ramon menatapnya.
“Sampaikan begitu saja ya sama Sechil. Sudah dulu.”
“Kak kak tunggu kak..” Cegah Ramon sebelum Rayan mematikan telepon.
“Kenapa mon?”
“Eemm.. Kakak tolong kirimin alamat rumah sakitnya sekarang yah..” Pinta Ramon hati hati.
“Oh oke..”
Setelah Rayan membalas, sambungan telepon disudahi begitu saja. Ramon tau Rayan pasti sedang sangat sibuk sekarang.
“Ada apa sih? Kenapa kamu minta alamat rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit? Kak Alana nggak papakan?”
Ramon diserbu oleh serentet pertanyaan tidak sabaran Sechil. Pria itu tersenyum dan menggelengkan pelan kepalanya.
“Kak Rayan bilang hari ini tidak jadi menjenguk mommy.. Dan yang dirumah sakit itu kak Alana..” Jawab Ramon dengan sangat lembut.
“Apa?” Kedua mata Sechil membulat sempurna mendengar ucapan terakhir Ramon tentang Alana.
“Kak Alana kenapa? Kenapa dia dirumah sakit? Ya Tuhan..”
“Ramon kamu...” Sechil menatap Ramon kesal menganggap suaminya itu tidak tau keadaan. Ya, Sechil berpikir sesuatu yang buruk terjadi pada Alana sekarang sehingga Alana harus dilarikan kerumah sakit.
“Aku belum selesai jelasin sayang..” Kata Ramon gemas.
Air mata Sechil menetes membasahi pipinya. Namun dengan cepat Sechil mengusapnya.
“Jadi kak Alana dirumah sakit itu karna kak Alana baru saja melahirkan sayang..” Tambah Ramon membuat Sechil langsung menoleh menatapnya.
“Apa? Kak Alana melahirkan? Bagaimana mungkin? Usia kandungan-nya sama aku aja jaraknya lumayan jauh kok. Aku aja belum ngelahirin, masa kakak sudah.”
Ramon tertawa melihat keterkejutan istri tercintanya. Dengan gemas Ramon mencubit pipi chuby Sechil yang membuatnya tidak tahan itu.
“Ya, tapi kan kak Rayan tidak mungkin bohong tentang kak Alana. Apa lagi sampai membatalkan rencana menjenguk mommy..”
Sechil diam tampak berpikir. Tidak mungkin Rayan hanya mengerjainya dengan alasan Alana melahirkan. Sechil tau benar bagaimana kakak tampan-nya itu.
“Udah... Mending sekarang kita siap siap kerumah sakit. Kita jenguk kak Alana dan keponakan baru kita.”
Sechil menghela napas kemudian menganggukan kepalanya.
“Kamu abisin dulu sarapan-nya. Aku panasin motor dulu.” Ujar Ramon mencium kening Sechil singkat kemudian berlalu keluar untuk mengeluarkan sepeda motor metiknya.
__ADS_1
Sechil perlahan tersenyum. Mendengar Alana sudah melahirkan, Sechil merasa ikut lega. Dan sekarang tinggal dirinya yang harus sabar menunggu kelahiran buah hatinya.
“Sayang, kakak kamu udah lahir duluan loh.. Padahal usianya tuaan kamu. Kamu juga cepat keluar yah.. Mamah udah nggak sabar banget pengen gendong dan peluk kamu..” Gumam Sechil tersenyum sambil menatap dan mengusap lembut perut besarnya.
Sementara diluar rumah, Ramon sedang memanaskan dan mengelap motor metiknya saat tiba tiba mobil mamah Bastian berhenti ditepi jalan. Wanita itu keluar dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya. Entah kenapa wanita itu bisa begitu sangat menyayangi Sechil juga Ramon seperti menyayangi Bastian, putra tunggal satu satunya.
Mamah Bastian melangkah mendekat pada Ramon yang memang belum menyadari kehadiran-nya.
“Yang mau jadi papah, rajin sekali pagi pagi udah ngelap motor.”
Mendengar suara lembut yang tidak asing di indra pendengaran-nya itu, Ramon langsung menoleh. Sesaat Ramon terdiam menatap mamah Bastian yang pagi pagi sudah berada didepan-nya.
“Heh, kok malah bengong sih?”
Ramon langsung tersadar saat mamah Bastian mengibaskan tangan didepan-nya. Ramon tertawa pelan dan segera menyalimi mamah Bastian sopan.
“Maaf mah..” Katanya merasa tidak enak hati.
“Sudah enggak papa. Oh iya nak, mana Sechil? Kalian sudah sarapan?”
“Saya sudah sarapan mah, baru saja selesai. Sechil ada didalam. Mamah aliya masuk saja.” Senyum Ramon menjawab.
“Ya sudah kalau begitu, mamah masuk ya..”
“Ya mah..”
Ramon menghela napas pelan menatap punggung mamah Bastian yang masuk kedalam rumah kontrakan-nya. Entah rencana apa yang sedang Tuhan rancang untuknya dan Sechil sehingga begitu banyak orang baik disekelilingnya. Mulai dari Bastian sampai mamahnya yang bahkan dengan begitu murah hati menganggapnya dan Sechil seperti anaknya sendiri.
“Hy Ramon..!”
Ramon tersentak mendengar suara cempreng Luna yang entah muncul dari arah mana. Kedua mata Ramon terbelalak mendapati Luna yang sudah tersenyum lebar didepan-nya dengan membopong parsel buah ditangan-nya.
“Ya Tuhan.. Luna, kamu membuatku terkejut.” Ujar Ramon sambil mengusap usap dada bidangnya sendiri.
“Hahaha.. Maaf maaf.. Aku masuk kedalam boleh ya?”
Ramon mengeryit mendengarnya. Luna belum tau tentang hubungan-nya dan Sechil sekarang.
Ketika Luna hendak berlalu masuk kedalam rumah kontrakan-nya, Ramon langsung mencegahnya dengan mencekal lengan-nya.
“Eh eh tunggu tunggu. Kamu mau ngapain masuk? Nggak enak dong dilihat tetangga sini.” Kata Ramon berusaha mencari alasan.
Luna berdecak mendengarnya. Luna menatap kesal pada Ramon kemudian melepaskan cekalan tangan Ramon dari lengan-nya.
“Kamu dan Sechil memang hutang banyak penjelasan padaku. Dan aku akan menuntut itu nanti.” Ujar Sechil kemudian berlalu meninggalkan Ramon dan masuk kedalam rumah Ramon dan Sechil.
__ADS_1