
Ketika sampai dipelabuhan, Rayan segera mengajak Alana untuk mendekati kapal. Rayan terlihat sangat buru buru karna tidak ingin mommy-nya dapat mengendus keberadaanya sekarang. Rayan bahkan tidak lupa menugaskan Luky untuk terus memantau pergerakan keduanya agar tidak mengganggu honeymoon Rayan dan Alana nanti.
“Tuan..” Luky mengangguk hormat saat melihat kedatangan Alana dan Rayan. Pria bersetelan serba hitam itu sudah berada disana tidak jauh dari kapal mewah yang akan menjadi kendaraan Rayan dan Alana menuju pulau.
“Apa Luky akan ikut dengan kita?” Alana bertanya dengan raut wajah sendu. Wanita itu benar benar hanya ingin menikmati waktu berdua saja dengan Rayan.
“Jangan konyol. Kita mau honeymoon bukan libur cuti kerja.” Jawab Rayan.
Alana meringis. Merasa senang dengan jawaban Rayan, Alana pun bergelayut dilengan kekar Rayan.
“Luky awasi mereka berdua. Jangan sampai mereka tau apa lagi sampai menyusulku dan Alana.”
“Baik tuan.”
Luky kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jasnya. Sebuah hp yang kemudian diberikan pada Rayan.
“Terimakasih.”
“Sama sama tuan.” Angguk Luky.
Rayan kemudian mengajak Alana menaiki kapal. Rayan berharap dengan menonaktifkan hp-nya mommy juga adiknya tidak akan bisa menghubunginya. Rayan memang sengaja meminta dibelikan hp dan nomor baru pada Luky agar hanya Luky saja yang bisa menghubunginya.
Rayan memejamkan kedua matanya saat kapal mewah itu mulai melaju menjauh dari pelabuhan. Semuanya baru akan dimulai. Kisahnya dan Alana mungkin tidak akan selalu indah. Tapi apapun yang terjadi Rayan sudah berjanji pada dirinya sendiri. Alana akan menjadi satu satunya wanita yang akan selalu berada disampingnya.
Rayan menghela napas. Mommy dan adiknya mungkin akan banyak membuat masalah, Rayan harus bisa mengajari Alana agar tidak terlihat lemah dan mudah tertindas oleh mereka berdua.
Rayan membuka matanya kembali. Senyumnya mengembang ketika mendapati Alana yang sedang menikmati pemandangan indah laut biru. Rayan mendekat pada Alana. Pria itu berdiri disamping Alana yang terpesona dengan apa yang dilihatnya.
“Alana..”
“Hem...” Saut Alana kemudian menoleh.
Rayan tersenyum kemudian menyentuh pipinya sendiri menggunakan jari telunjuknya.
“Berikan satu hadiah untukku.” Katanya.
Alana mengeryit bingung. Namun detik berikutnya Alana langsung bisa memahami maksud Rayan. Ya, Rayan meminta ciuman dipipinya.
“Kalau aku tidak mau bagaimana?”
Senyuman dibibir Rayan memudar. Tatapanya berubah serius pada Alana yang malah seperti sengaja meledeknya.
__ADS_1
“Aku akan menenggelamkanmu sekarang juga kelautan.” Ancamnya.
Bukanya merasa takut Alana malah tertawa. Rayan sangat kekanak kanakan menurutnya. Hanya karna permintaan cium dipipinya tidak dituruti Rayan mengancam akan menenggelamkanya.
“Kamu tidak takut?” Tanya Rayan menatap Alana yang terus saja tertawa.
“Kenapa harus takut? Kamu..” Alana menyentuh dada bidang Rayan dengan jari telunjuknya.
“Suamiku.. Aku yakin kamu juga mencintaiku dan akan terus menjagaku. Aku percaya itu Rayan..” Lanjutnya.
Rayan tertegun. Alana yang keras kepala yang selalu meragukan juga menentangnya mempercayakan keselamatan diri padanya. Itu benar benar sesuatu yang harus sangat Rayan pertanggung jawabkan sekarang. Alana mempercayainya.
“Perlu kamu tau Rayan, aku bukan orang yang bisa mudah percaya pada orang yang baru masuk dalam kehidupanku. Tapi sama kamu aku yakin aku bisa menitipkan kepercayaan ini..”
Alana berkata dengan tatapan serius tepat pada kedua bola mata coklat bening milik Rayan. Dan tatapan itu berhasil masuk kedalam relung hati Rayan yang paling dalam.
Perlahan seulas senyum kembali terukir dibibir Rayan. Tangan besar pria itu menangkup mesra pinggang ramping Alana.
“Bagaimana denganmu sendiri? Apa kamu sudah mencintaiku?” Rayan balik bertanya berharap jawaban Alana kali ini dapat membuatnya puas.
Alana tersenyum perlahan.
“Tentu saja, Aku mencintaimu Rayan.” Jawabnya.
Alana yang mendapat ciuman tiba tiba itu sesaat terkejut. Namun kemudian Alana mulai menikmati dan membalas dengan mengimbangi ciuman Rayan.
“Tetaplah disisiku Alana.” Bisik Rayan menjeda sejenak ciumanya kemudian kembali meraih bibir Alana setelah Alana mengangguk mengiyakan bisikan-nya.
Perjalanan menuju pulau kecil yang akan menjadi tempat mereka honeymoon tidaklah sebentar. Larut malam mereka baru sampai disana. Beruntung para pelayan yang bertugas mengurus villa milik Rayan begitu siaga sehingga saat Rayan dan Alana datang mereka masih terjaga.
“Rayan, kenapa banyak pelayan disini?”
Rayan tersenyum. Di villa yang baru dia beli itu Rayan memang mengerjakan beberapa pelayan agar kebersihan di villa itu tetap terjaga.
“Memangnya kenapa?” Tanya Rayan mengangkat sebelah alisnya.
Alana menghela napas. Pandanganya menyapu keseluruh sudut kamar yang akan mereka tempati. Kamar dengan dinding kaca besar yang menyuguhkan pemandangan indah birunya laut serta alam hijau yang memanjakan mata disiang hari.
“Aku pikir kita hanya akan berdua disini.” Jawab Alana sendu.
Rayan tersenyum simpul kemudian melangkah mendekat pada Alana setelah sebelumnya menutup pintu kamar mereka. Rayan memeluk mesra tubuh Alana dari belakang. Dengan kedua mata terpejam Rayan mengecup bahu terbuka Alana.
__ADS_1
“Aku akan meliburkan mereka jika memang itu yang kamu inginkan.”
Mendengar itu Alana langsung membalikan tubuhnya.
“Benarkah?”
Rayan menganggukan kepalanya. Kecupan singkat Rayan daratkan dikening Alana. Berada seharian dikapal membuat Rayan sedikit merasa mengantuk.
“Sudah malam, lebih baik kita istirahat.”
“Lalu bagaimana dengan para pelayan itu?” Tanya Alana tidak sabar.
“Villa ini akan kosong begitu kamu bangun besok pagi Alana. Kita bisa lebih leluasa melakukanya besok.”
Pipi Alana langsung merona. Bukan itu sebenarnya yang ada dipikiran Alana. Alana hanya menginginkan berdua bersama Rayan agar bisa menjalani peran istri yang sesungguhnya. Seperti memasak dan melayani Rayan sendiri.
“Kita bisa melakukanya disini, diruang tengah, ruang keluarga, ruang tamu, bahkan dibalkon atau diteras. Kita...”
“Cukup Rayan, jangan diteruskan.” Alana menyela dengan tangan menutup mulut Rayan agar pria itu berhenti berbicara. Alana benar benar malu membayangkanya. Bagaimana mungkin mereka melakukan hal intim seperti itu disembarang tempat.
“Kita tidur sekarang.” Kata Alana kemudian menjauh dari Rayan.
Rayan tertawa geli. Alana bertingkah sangat menggemaskan membuat Rayan tidak tahan ingin melahapnya.
“Aku rasa kita harus mandi dulu.”
Rayan menyusul Alana yang sudah lebih dulu membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Pria itu mendekat pada Alana yang menutup tubuhnya dengan selimut tebal warna putih disana.
“Alana..”
“Aku sudah ngantuk Rayan. Besok saja mandinya.” Saut Alana dengan cepat dan terus bersembunyi dibalik selimut.
Rayan mengeryit. Tidak biasanya Alana bertingkah seperti itu. Rayan kemudian berpikir apakah ucapanya tadi membuat Alana berubah pikiran dan menganggapnya pria mesum.
“Kamu saja sana mandi.”
Rayan menghela napas. Bukanya mandi, pria itu malah naik keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya disamping Alana.
“Besok sajalah.” Katanya kemudian memeluk tubuh Alana yang bersembunyi dibalik selimut.
Dibalik selimut Alana tersenyum. Rayan masih mau dekat denganya padahal Alana menolak untuk mandi sebelum tidur. Rayan bahkan memeluknya tanpa memaksa Alana harus membuka selimut yang Alana gunakan untuk menghindar karna rasa malunya.
__ADS_1
“Rayan, I LOVE YOU.”