
Rayan tersenyum menatap kebersamaan Alana dan Sechil ditaman. Seperti biasanya, pria itu selalu memantau Alana dari hp maupun laptopnya. Rayan benar benar tidak bisa jika tidak melihat Alana sebentar saja. Jika saja tanggung jawabnya tidak besar diperusahaan, Rayan ingin banyak menghabiskan waktunya dirumah.
Suara deringan hp yang ada disamping laptop miliknya membuat Rayan berdecak. Kesal sekali rasanya jika ada yang mengganggunya saat Rayan sedang memantau Alana dikediaman-nya.
“Robin..” Rayan mengeryit begitu mendapati nama Roky tertera dilayar menyala hp-nya. Penasaran kenapa tiba tiba body guardnya itu menelpon Rayan segera mengangkatnya.
“Ada apa Robin?” Tanya Rayan begitu mengangkat telpon tersebut. Kedua matanya terus menatap layar laptopnya dimana video Alana dan Sechil duduk bersama dikursi taman belakang rumah masih berlangsung.
“Tuan, didepan ada laki laki yang saat itu bertemu dengan nyonya Caterine dan nona Sechil.”
Kedua mata Rayan membulat mendengar itu. Dion berada disekitar rumahnya.
“Kamu awasi dia terus. Jangan sampai lengah.” Kata Rayan tegas.
“Baik tuan.”
Setelah Roky menjawab, Rayan langsung menutup telpon-nya. Rayan kemudian beralih dari CCTV taman ke CCTV yang ada digerbang rumahnya. Benar saja, Dion berada tidak jauh dari gerbang dan tampak sesekali menatap kearah rumahnya. Dion terlihat sedang menghubungi seseorang beberapa saat sebelum memasukan kembali hp-nya kedalam saku celana hitamnya.
Rayan terus mengamati gerak gerik Dion sebelum kemudian Dion masuk kembali masuk kedalam mobilnya dan berlalu tanpa melakukan apapun.
Merasa gerah dengan tingkah Dion, Rayan pun segera menghubungi Luky dan meminta asisten kepercayaan-nya itu untuk segera menghadap padanya.
Tidak menunggu lama, Luky masuk kedalam ruangan Rayan yang memang sedang menunggunya.
“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya Luky berdiri didepan meja kerja Rayan.
“Ya.. Saya mau kamu cari tau segala sesuatu tentang Dion.” Perintah Rayan dengan gaya santainya.
Luky mengangguk pelan. Luky memang selalu mengawasi Dion karna permintaan Rayan. Dan sekarang Rayan meminta untuk dirinya mencari tau segala sesuatu tentang Dion. Itu bukan hal sulit bagi seorang Luky yang juga punya banyak orang orang sigap dibawahnya.
“Ada lagi tuan?” Tanya Luky kemudian.
“Untuk saat ini hanya itu saja. Kalau sudah dapat informasinya, segera beri tahu saya.”
“Baik tuan, kalau begitu saya permisi.”
“Ya, silahkan.”
Luky melangkah keluar dari ruangan kerja Rayan. Pria itu menghela napas, pekerjaan selalu membuatnya tidak bisa untuk sedetik saja bersantai. Bahkan dihari liburnya Luky masih harus menerima telpon dari orang orang yang Luky tugaskan untuk membantunya menjalankan perintah dari atasan-nya yaitu Rayan.
-------
__ADS_1
Sore ini Rayan pulang lebih awal dari biasanya. Pria itu merasa sangat merindukan Alana.
“Tuan, selamat sore..” Sapa seorang pelayan yang saat itu sedang mengelap meja kaca diruang tamu.
“Ya, sore. Dimana Alana?”
“Nyonya ada didapur bersama bibi tuan.”
Rayan mengangguk pelan kemudian segera melangkah menuju dapur dimana sekarang Alana berada.
Namun belum sampai diarea dapur, Caterine sudah lebih dulu mencegatnya. Wanita itu memanggil kemudian menghampiri Rayan dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.
“Kamu baru pulang sayang?” Tanya Caterine penuh dengan kelembutan.
Rayan mengeryit. Tidak biasanya Caterine berbicara begitu lembut dan penuh perhatian padanya. Bahkan jika sedang ada yang di inginkan Caterine tidak pernah bersikap manis. Caterine akan langsung meminta tanpa basa basi terlebih dulu.
“Ada apa mom?” Tanya Rayan pelan.
Caterine dengan senyuman yang terus menghiasi bibir merah berlipstiknya meraih tangan Rayan.
“Ini tentang Sechil. Ada yang ingin mommy bicarakan.” Jawabnya.
“Kebetulan, aku juga ada yang perlu dibicarakan sama mommy.”
Caterine terlihat bingung sesaat namun akhirnya tersenyum kembali.
“Oke, kita bicara diruang kerja kamu saja.”
Rayan mengangguk setuju. Dengan Caterine yang melingkarkan tangan dilengan-nya Rayan berjalan beriringan bersama Caterine menuju lift.
Ketika sampai diruangan Rayan, Caterine langsung mengutarakan maksudnya.
“Sechil hamil tanpa suami Rayan. Lalu bagaimana nanti kedepan-nya?”
Rayan menghela napas pelan.
“Mommy tidak perlu khawatir soal itu. Aku yang akan menanggung semuanya selama laki laki itu belum ditemukan.”
Caterine diam sesaat.
“Mungkin akan sangat sulit mencari siapa ayah dari anak yang dikandung Sechil Rayan. Kamu lebih tau bukan bagaimana Sechil selama disini ketimbang Mommy?”
__ADS_1
Rayan menyipitkan kedua matanya mendengar ucapan Caterine. Rasanya seperti Caterine sedang menjelek jelekan putrinya sendiri.
“Maksud mommy sepertinya itu sangat tidak mungkin.” Kata Caterine kemudian.
“Tidak ada yang tidak mungkin mom. Sekarang biarkan aku yang berbicara.”
Caterine menahan sesaat napasnya kemudian menghembuskan-nya perlahan. Wanita itu tau semuanya tidak semudah membalikan telapak tangan. Membuat Rayan percaya padanya akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
“Aku berencana membelikan mommy rumah.”
Kedua mata Caterine membulat sempurna mendengarnya. Wanita itu terkejut dengan apa yang Rayan katakan.
“Apa maksud kamu Rayan? Kamu mengusir mommy dari rumah ini?”
Rayan memejamkan kedua matanya sebentar kemudian membukanya kembali.
“Rayan.. Mommy ini mommy kandung kamu. Mommy yang melahirkan kamu. Mommy yang mengandung kamu selama lebih dari 9 bulan. Kamu tega ngusir mommy?” Caterine sangat tidak menyangka. Kesal dia rasakan tapi sebisa mungkin Caterine menutupi kekesalan-nya dan mengekspresikan-nya dengan penuh kepiluan didepan Rayan.
“Bukan begitu maksud aku mom.. Aku nggak ngusir mommy. Aku hanya berniat memberikan tempat tinggal baru buat mommy.. Tempat tinggal yang bisa membuat mommy merasa nyaman.” Jelas Rayan.
Caterine menghapus air mata yang membasahi pipinya. Tentu saja air mata kebohongan atas kesedihan palsunya.
“Kalau semua ini karna sikap mommy sama Alana, mommy minta maaf Rayan. Mommy mungkin salah. Tapi mommy mohon jangan usir mommy dan Sechil dari sini. Mommy dan Sechil hanya ingin selalu berada didekat kamu.. Kami berdua merasa aman berada disekitar kamu..” Tangis Caterine sambil menundukan kepalanya.
Rayan diam. Rayan tau tangisan Caterine bukan tangisan sebenarnya. Tangisan itu hanya senjata saja agar Rayan luluh padanya.
“Keputusan aku sudah bulat mom. Ini demi kenyamanan bersama. Baik untuk mommy juga untuk Alana.”
Caterine mengangkat kepalanya. Wanita itu menggeleng tidak percaya dengan ketegasan Rayan yang sama sekali tidak luluh dengan senjata air matanya.
Tidak mau tersingkir dari kediaman mewah itu, Caterine menubruk kedua kaki Rayan. Wanita itu menangis terisak memohon pada Rayan agar tidak memindahkan-nya dari rumah itu kerumah yang akan Rayan beli nanti.
“Tolong pake hati nurani kamu Rayan. Ini mommy, bukan orang lain. Mommy tidak mau keluar dari rumah ini.. Mommy nggak mau jauh dari kamu Rayan.. Mommy mohon..”
Rayan mendesis pelan.
“Asal mommy bersikap baik pada Alana, aku bisa memikirkan-nya lagi.”
Caterine mengangguk cepat.
“Iya.. Mommy akan merubah sikap mommy Rayan. Mommy tidak akan lagi menghina ataupun merendahkan Alana. Mommy janji..”
__ADS_1