Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 188


__ADS_3

Bastian terus mengawal Alana dan Sechil menyusuri taman. Meskipun Alana sempat memarahinya karna menyuruhnya untuk berpencar agar pencarian bukti cepat ditemukan, namun Bastian terus bersikeras untuk terus menjaga keduanya. Apa lagi setelah mendengar apa yang baru saja menimpa Claudia. Itu membuat Bastian tidak mau mengambil resiko dua wanita hamil celaka hanya karna pencarian bukti.


“Sebenarnya ada apa ini? Kenapa malam malam begini anda berdua keluar hanya untuk mencari bukti nona, nyonya.”


Alana dan Sechil tidak menyaut. Mereka berdua tetap berjalan dengan bergandengan tangan didepan Bastian tanpa sedikitpun berniat menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bastian.


Merasa diacuhkan Bastian pun berdecak. Bastian berhenti melangkah kemudian duduk di bawah pohon besar tempat Claudia ditemukan. Bastian merasa sedikit bodoh karna terus mengikuti Alana dan Sechil yang hanya memutari pohon besar itu.


“Untung saja kalian sudah ku anggap teman. Kalau tidak malas sekali rasanya aku harus ikut mutarin nih pohon.”


Ketika Bastian mendaratkan tubuhnya dirumput yang sedikit basah itu dahinya mengeryit. Bastian merasa menduduki sesuatu. Bastian kembali berdiri dan membalikan tubuhnya.


“Ini handphone siapa?” Gumam Bastian begitu mendapati hp yang Bastian tau harganya tidak murah itu.


Bastian segera meraihnya dan membersihkan-nya dari tanah basah dibawah pohon besar tersebut.


Bastian membolak balikan hp tersebut seperti sedang mengecek keaslian-nya. Setelah merasa yakin bahwa barang itu memang asli, Bastian mencoba menghidupkan-nya namun tidak bisa.


“Nanti saja aku cash dirumah nona Sechil.” Gumam Bastian kemudian memasukan hp tersebut kedalam saku celana jinsnya.


“Bagaimana ini kak, tidak ada bukti apa apa yang kita temukan.”


Bastian menoleh mendengar suara bergetar Sechil. Bastian kemudian berpikir tentang hp yang baru saja ditemukan-nya. Bastian kembali mengeluarkan hp menatapnya sebentar kemudian bergegas mendekat pada Alana dan Sechil.


“Nona, saya menemukan handphone. Siapa tau ini bisa menunjukan sesuatu.” Kata Bastian sambil menyodorkan hp temuan-nya pada Sechil dan Alana.


Alana dan Sechil saling menatap sesaat kemudian kembali menatap pada Bastian.


“Saya sudah cek, masih bisa nyala kok. Tapi harus di cash dulu, baterainya lowbet.” Tambah Bastian.


Sechil menerima hp tersebut meskipun tidak yakin benda pipih itu bisa memberikan petunjuk tentang siapa sebenarnya pelaku yang membunuh Claudia.


“Nona, nyonya, maaf tapi sebaiknya kita segera kembali kerumah nona Sechil. Ini sudah malam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan anda berdua.”


Alana menghela napas kemudian menganggukan kepalanya setuju. Alana juga khawatir Rayan akan mencarinya dan Sechil karna tidak menemukan-nya rumah Sechil dan Ramon.


“Mari nona, nyonya..” Bastian mempersilahkan kedua wanita hamil besar itu untuk melangkah lebih dulu. Bastian yakin jika ada orang yang tidak kenal melihatnya, mereka pasti akan menganggap kedua wanita hamil itu adalah istrinya atau mungkin majikan-nya.


Sesampainya dikontrakan, Sechil segera menyuguhkan minuman untuk Alana juga Bastian. Sechil juga tidak lupa mengecash hp yang yang ditemukan oleh Bastian ditaman tadi.


“Saya bawakan kamu baju. Kemarin saya menemani orang tua saya keliling mall dan orang tua saya membelikan-nya untuk kamu.” Kata Bastian pada Sechil yang baru mendudukan dirinya disamping Alana.


“Terimakasih atas pemberian-nya. Tapi aku rasa tidak perlu sampai seperti itu Bastian. Aku tidak mau membuat Cleo semakin salah paham.” Balas Sechil tersenyum.

__ADS_1


Bastian hanya menghela napas menanggapinya. Tentang Cleo, sejak Bastian memutuskan untuk bertanggung jawab pada anak yang sedang dikandung oleh Sechil memang sedikit over protektif. Cleo bahkan hampir setiap saat menghubunginya menanyakan dimana Bastian jika sedang tidak bersama.


“Emm.. Sechil lebih baik sekarang kamu cash hp yang tadi ditemukan Bastian. Siapa tau memang ada petunjuk dari hp itu.” Kata Alana memecahkan rasa canggung antara Sechil dan Bastian.


“Aku sudah cash kak.” Jawab Sechil.


“Bagus kalau begitu.”


Bastian yang memang tidak tau harus berkata apa sekarang memutuskan untuk diam. Bastian sudah mendengar tentang apa yang terjadi pada Ramon. Bastian juga sudah berniat akan membantu mencari bukti itu.


Tidak lama kemudian Rayan kembali. Dan kedatangan Rayan langsung disambut oleh Bastian langsung berdiri dari duduknya.


“Tuan..” Sapa Bastian tersenyum.


“Kamu sejak kapan disini?” Tanya Rayan langsung.


“Sudah dari tadi tuan.” Jawab Bastian.


“Bastian datang setelah kamu pergi. Dia juga tadi menemani aku dan Sechil mencari bukti ditaman tempat Claudia ditemukan.” Jelas Alana mendekat pada Rayan.


Rayan menganggukan kepalanya.


“Terimakasih sudah membantu Bastian.” Kata Rayan menatap Bastian.


“Saya hanya tidak bisa membiarkan dua ibu hamil ini keluar malam malam tuan.” Senyum Bastian yang diangguki Rayan dengan senyuman dibibir tipisnya.


Rayan mengalihkan perhatian-nya pada Sechil. Rayan kembali mengukir senyuman dibibirnya. Rayan mendekat pada Sechil yang menatapnya dengan tatapan lesu.


“Kamu tidak perlu khawatir. Ramon baik baik saja disana. Dan kakak akan berusaha untuk membebaskan Ramon.”


“Kenapa Ramon tidak pulang sama kakak? Aku yakin Ramon nggak salah kak. Ramon bukan pelakunya, Aku yakin itu..”


Suara Sechil mulai bergetar dengan kedua mata berkaca kaca mendongak menatap Rayan yang berdiri disamping kursi yang didudukinya.


“Ya.. Kakak percaya itu. Tapi kita memerlukan bukti bahwa memang bukan Ramon pelakunya. Polisi juga tidak akan terus menahan Ramon kalau kita bisa memberikan bukti.” Jelas Rayan dengan lemah lembut dan penuh perhatian pada Sechil.


Alana dan Bastian hanya diam saja. Mereka berdua tau bagaimana perasaan Sechil sekarang.


“Kamu harus sabar. Kakak akan berusaha untuk mencari bukti itu. Ramon akan bebas dek..”


Sechil menganggukan kepalanya kemudian memeluk perut Rayan. Sechil percaya pada Rayan yang pasti tidak akan membiarkan dirinya dan Ramon kesusahan.


“Sechil hp itu mungkin sudah sedikit terisi baterainya. Bagaimana kalau kita cek sekarang?”

__ADS_1


“Hp?” Rayan menoleh pada Alana yang berdiri tidak jauh darinya.


“Bastian menemukan hp disekitar lokasi tempat Claudia ditemukan.” Jelas Alana.


Rayan menyipitkan kedua matanya. Rayan berpikir mungkin hp itu bisa saja milik pelaku atau mungkin milik Claudia.


“Kakak mau lihat hp nya. Ambil sekarang.” Perintah Rayan pada Sechil.


Sechil menganggukan kepalanya kemudian melepaskan pelukan-nya pada perut rata Rayan. Sechil bangkit dari duduknya untuk mengambil hp temuan Bastian yang sedang di isi baterainya. Sechil memberikan hp tersebut pada Rayan yang langsung menghidupkan benda pipih tak bertuan itu.


“Apa ini Claudia?” Tanya Rayan menunjukan wallpaper hp terebut pada Sechil.


Sechil menganggukan kepalanya.


“Iya kak. Itu photo Claudia, teman sekampus aku dan Ramon.” Jawabnya.


“Berarti hp ini milik Claudia?” Tanya Alana menatap Sechil.


Sechil terdiam sesaat namun akhirnya bersuara.


“Mungkin kak.” Jawabnya.


Sedangkan Rayan, pria itu segera membuka hp itu. Rayan mengecek mulai dari isi chatting yang mungkin mencurigakan sampai akhirnya Rayan menemuka video aneh digaleri.


Rayan membuka video itu dimana terlihat dua preman penuh tato tertawa tawa dan berjalan sempoyongan menghampiri si pembuat video yang terus berteriak meminta tolong sambil menangis terisak.


“Kak, itu suara Claudia kak..” Ujar Sechil yang memang hapal bagaimana suara Claudia bebarengan dengan habisnya durasi video tersebut.


“Itu, itu tadi suara Claudia kak..” Sechil kembali berkata memberitahu Alana dan Rayan tentang suara dari Video itu.


“Oke, kamu tenang Sechil. Ini bisa kita jadikan bukti untuk membebaskan Ramon. Tapi kita juga harus cari siapa dua preman penuh tato itu segera.” Rayan tetap berusaha tenang setelah mendapat bukti itu.


“Eemm.. Tuan, maaf boleh saya melihat videonya?” Bastian meminta izin pada Rayan untuk melihat video tesebut dan Rayan langsung memberikan hp milik Claudia pada Bastian.


“Saya akan bantu cari kedua orang ini.” Kata Bastian.


“Terimakasih Bastian.” Ujar Sechil tersenyum haru. Sechil merasa lega karna banyak yang mau membantunya.


Sedangkan Rayan, pria itu segera menghubungi Roky dan body guard lain-nya untuk segera mencari dua pelaku pembunuhan Claudia yang sesungguhnya.


“Sekarang lebih baik kamu ikut kakak pulang kerumah Sechil. Besok kakak akan kembali kekantor polisi untuk menyerahkan bukti ini dan menjemput Ramon.”


“Kak tapi...”

__ADS_1


“Sechil tolong dengerin kakak, kakak nggak mau kamu disini sendirian.” Sela Rayan lembut.


Sechil terdiam kemudian menganggukkan kepalanya. Sechil setuju untuk ikut serta dengan Rayan dan Alana pulang ke kediaman Rayan.


__ADS_2