Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 196


__ADS_3

Hari demi hari kebahagiaan Rayan dan Alana juga Ramon dan Sechil semakin terasa. Ditambah dengan keadaan Caterine yang memang semakin hari semakin terlihat membaik walaupun masih sering histeris jika melihat Ramon ataupun Alana secara langsung. Tapi itu tidak membuat Rayan pusing karna Rayan yakin jika memang sudah waktunya Caterine pasti akan sembuh dan menjadi orang yang baik.


“Nggak terasa ya, usia kandungan kamu sudah genap 8 bulan sekarang. Itu artinya sebentar lagi aku akan bertemu dengan anakku.” Kata Rayan saat menemani Alana jalan jalan keliling kompleks tanpa menggunakan alas kaki.


Alana tersenyum. Waktu memang terasa sangat singkat dan begitu cepat berlalu.


“Mungkin ini udah saatnya aku siapin kamar buat anak kita.” Sambung Rayan membuat Alana menoleh dan langsung berhenti melangkah disampingnya.


“Kenapa? Ada yang salah sama ucapan aku?” Tanya Rayan membalas tatapan Alana padanya.


“Bisa tidak kamu itu nggak usah berlebihan?”


Rayan mengeryit.


“Berlebihan?” Tanya Rayan mengulang apa yang Alana tanyakan padanya.


Alana menghela napas.


“Kamu sadar nggak sih? Hampir setiap hari kamu beli ini itu dan membuat orang rumah kebingungan. Sekarang kamu bilang mau siapin kamar? Ayolah... Kalaupun anak ini lahir nanti dia akan tidur bareng sama kita berdua. Nggak mungkin langsung tidur sendiri.”


Rayan tersenyum dan menganggukan kepala mendengarnya. Rayan meraih tangan Alana menggandengnya lembut.


“Ikut aku..” Ajaknya menuntun Alana menuju taman yang berada ditengah kompleks perumahan elit itu.


Rayan mengajak Alana untuk duduk dikursi panjang bercat putih yang berada ditengah tengah bunga warna warni yang sedang bermekaran pagi itu. Bunga bunga yang memang selalu dirawat dengan baik oleh petugas ditaman tersebut.


“Jadi begini istriku.. Mungkin kamu menganggap apa yang aku lakukan ini berlebihan. Tapi percayalah, aku melakukan ini karna aku sangat bahagia dengan hadirnya dia dalam kandungan kamu yang sebentar lagi akan hadir didunia ini mewarnai hari hari kita. Ini pertama kalinya dalam hidup aku, aku akan menjadi orang tua begitu juga dengan kamu..”


Alana hanya diam saja mendengar apa yang Rayan katakan. Pemikiran-nya tidak sampai kesitu. Alana bahkan menganggap Rayan terlalu menghamburkan uang untuk sesuatu yang belum tentu akan dibutuhkan semuanya nanti.

__ADS_1


“Sayang...”


Rayan meraih bahu Alana menyenderkan kepala Alana dengan pelan didadanya.


“Aku yakin kamu juga merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Karna ini juga pertama kalinya kamu akan memiliki anak dan itu denganku.”


Alana tetap diam mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir tipis suaminya.


“Aku juga sangat bangga karna menjadi laki laki pertama dalam hidup kamu sayang. Laki laki yang berhasil memiliki kamu seutuhnya.”


Alana mulai tersenyum. Rayan mungkin bukan pria pertama yang dia cintai. Tapi Rayan adalah pria pertama yang menyentuhnya. Rayan juga pria pertama yang mengambil ciuman pertamanya meskipun dengan cara yang tidak Alana sukai dulu. Dan Alana berharap Rayan benar benar menjadi pria terakhir dalam hidupnya.


“Sekarang kamu sudah tau bukan alasan aku membeli semua barang barang itu. Aku harap kamu tidak keberatan dengan keniatanku selanjutnya. Membuat kamar untuk anak kita.”


Alana tertawa kemudian membenarkan posisi duduknya.


“Oke oke.. Aku tidak akan melarang ataupun protes. Lakukan semuanya sesuka hatimu tuan.” Ujar Alana sambil tertawa.


Rayan kemudian mengajak Alana untuk pulang. Karna hari sudah semakin siang dan Rayan harus bekerja seperti biasanya.


Sesampainya dirumah, Rayan langsung membersihkan dirinya. Rayan tidak ingin sampai terlambat datang keperusahaan-nya karna itu akan menjadi contoh yang tidak baik untuk semua karyawan-nya.


Sebelum berangkat Rayan menyempatkan untuk sarapan bersama dengan Alana juga Sari. Tidak banyak yang mereka obrolkan dimeja makan pagi ini karna Rayan yang harus segera berangkat untuk bekerja.


“Aku berangkat yah.. Kamu abisin sarapan-nya. Jangan lupa minum vitamin dan susunya.” Ujar Rayan kemudian mencium kening Alana.


Rayan juga tidak lupa berpamitan pada Sari sebelum benar benar berlalu dari meja makan.


“Bu...” Panggil Alana menatap Sari yang berada diseberangnya.

__ADS_1


“Ya nak.. Kenapa?” Saut Sari berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya.


Alana diam sesaat. Entah kenapa tiba tiba Alana ingin mendengar cerita tentang kehidupan Rayan sebelum mengenal dan kemudian menikah dengan-nya.


“Ini tentang Rayan.. Bisa tidak ibu ceritakan tentang Rayan dulu.”


Sari mengeryit mendengar apa yang Alana katakan. Selama menikah dengan Rayan ini kali pertama Alana meminta Sari untuk menceritakan tentang Rayan.


“Aku tiba tiba ingin tau bagaimana dia dulu bu.. Ibu mau kan ceritain semuanya?”


Sari menghela napas kemudian tersenyum. Wanita itu menganggukan kepalanya mengiyakan permintaan putri kesayangan-nya.


“Sebelum ibu bercerita, ada baiknya kita habiskan dulu sarapan ini.” Katanya.


“Baiklah..” Alana mengangguk setuju. Keduanya kemudian segera menghabiskan sarapan-nya.


Setelah menghabiskan sarapan-nya Sari mengajak Alana ketaman yang ada dibelakang rumah. Sari mulai menceritakan bagaimana Rayan dulu. Dari Rayan kecil yang ditinggal oleh Caterine sampai Rayan tumbuh dewasa tanpa sosok Richard disampingnya. Sari juga menceritakan bagaimana kerasnya Rayan dulu. Rayan yang suka menghukum para pelayan jika membuat sedikit saja kesalahan. Dan Sari adalah pelayan yang sering Rayan hukum dulu karna sering pergi diam diam untuk pulang menemui Alana.


Tidak hanya ingin mendengar cerita tentang Rayan, Alana juga meminta untuk Sari menceritakan tentang Sakura secara detail begitu juga dengan Sandi, papah Sakura.


“Jadi tuan Sandi dan Rayan dulu sangat dekat bahkan sebelum Rayan menjalin hubungan dengan Sakura bu?”


“Ya nak. Tuan Sandi adalah teman dari tuan Richard, mendiang Daddy nya Rayan. Tuan Richard banyak membantu tuan Sandi semasa hidupnya dulu sehingga setelah tuan Richard meninggal tuan Sandi merasa sangat berhutang budi. Tuan Sandi pernah menjadi pemimpin diperusahaan tuan Richard saat Rayan belum bisa menangani semuanya sendiri. Dan setelah Rayan menyelesaikan pendidikan-nya Rayan turun tangan sendiri sampai akhirnya perusahaan itu semakin maju dan mempunyai banyak cabang dalam waktu singkat.”


Alana menggeleng takjub. Alana tidak pernah tau suaminya sehebat itu. Yang Alana tau semua yang Rayan miliki sekarang adalah peninggalan dari mendiang daddy nya saja.


“Dulu bisnis keluarga ini tidak sebesar seperti sekarang nak. Tapi berkat kecerdasan dan ketelatenan Rayan semuanya berkembang dan maju dengan sangat pesat.” Lanjut Sari.


“Apa Rayan sepintar itu?” Tanya Alana masih tidak percaya dengan penjelasan Sari.

__ADS_1


“Ya. Bahkan mungkin jauh lebih pintar dari yang kita pikirkan nak. Kamu adalah wanita beruntung. Banyak wanita diluar sana yang menginginkan berada diposisi kamu sekarang ini. Untuk itu kamu harus selalu bersyukur pada tuhan. Kamu mempunyai suami yang setia dan sangat menyayangi keluarga. Tidak semua wanita bisa merasakan apa yang kamu rasakan putriku..” Senyum Sari menjawab dengan tangan membelai lembut pipi chuby Alana.


__ADS_2