
Paginya ketika Rayan dan Alana hendak menuju rumah sakit, tiba tiba Sari datang dengan menumpangi taxi online. Wanita tua itu mendekat pada Alana dan Rayan yang langsung menyambutnya dengan hangat.
“Apa kalian mau kerumah sakit?”
Pertanyaan Sari membuat Rayan mengeryit. Pria itu kemudian menoleh menatap Alana seolah bertanya apakah Alana yang memberitahu Sari tentang Caterine.
“Ya.. Aku memberitahu ibu..” Senyum Alana.
Rayan mengangguk pelan. Jika boleh jujur, sebenarnya Rayan tidak ingin orang luar tau tentang apa yang Caterine lakukan. Karna menurut Rayan itu merupakan hal yang cukup memalukan. Mencoba mengakhiri hidup adalah jalan pintas bagi orang orang yang berpikiran pendek yang pasti akan dianggap konyol oleh siapapun yang mengetahuinya.
“Boleh ibu ikut? Ibu ingin menjenguk besan ibu..”
Rayan terdiam. Caterine selalu bersikap tidak baik pada Sari dulu. Rayan merasa tidak enak hati jika Sari ikut menjenguk kerumah sakit dan setibanya disana Sari justru mendapat perlakuan tidak baik dari Caterine nanti.
“Sebelumnya saya minta maaf bu.. Bukanya saya melarang ibu untuk ikut. Ibu pasti tau bagaimana dan seperti apa mommy saya.. Saya takut ibu nanti akan merasa tidak nyaman disana..” Ujar Rayan merasa sangat tidak enak sebenarnya berkata seperti itu.
Sari tersenyum simpul mendengarnya. Wanita itu kemudian menghela napas dan menatap Rayan geli.
“Kamu kaya sama siapa saja Rayan. Ibu sudah tau bagaimana mommy kamu. Dan ibu bisa maklum juga mengerti.”
Rayan menoleh pada Alana. Anggukan serta senyuman dibibir Alana membuat Rayan mau tidak mau akhirnya setuju. Sari memang sudah mengenal lama Caterine. Caterine memang tidak pernah bersikap baik pada para pelayan dulu termasuk Sari dan bibi yang notabenenya adalah pelayan paling tua diantara pelayan yang lain-nya.
“Baiklah. Mari bu..” Senyum Rayan membukakan pintu mobil untuk Sari.
“Terimakasih Rayan..” Angguk Sari kemudian masuk kedalam mobil Rayan tepatnya dikursi bagian belakang.
Alana ikut masuk kedalam mobil Rayan. Alana memposisikan dirinya dikursi samping kemudi yang akan ditempati oleh Rayan. Alana berharap semoga tidak akan ada keributan dirumah sakit nanti.
“Kita berangkat sekarang.” Ujar Rayan yang baru masuk kedalam mobil dan langsung memasang sabuk pengaman ditubuhnya.
__ADS_1
Alana mengangguk pelan dan Rayan segera melajukan mobilnya berlalu dari kediaman mewahnya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit suasana dalam mobil Rayan hening. Alana dan Sari sama sekali tidak membicarakan apapun begitu juga dengan Rayan yang memilih fokus mengemudikan mobilnya. Rayan benar benar khawatir dengan sikap Caterine pada Sari nanti. Alana pasti tidak akan membiarkan siapapun menghina ibunya. Dan itu pasti akan membuat keributan disana.
Dalam waktu singkat ketiganya sampai dirumah sakit. Rayan segera mengajak Alana dan Sari menuju ruang rawat Caterine. Disana mereka mendapati Caterine yang sedang disuapi oleh Sechil dengan Ramon yang berada dibelakang Sechil.
Rayan terdiam sesaat. Rayan sedikit penasaran kenapa Ramon bisa berada didalam kamar rawat Caterine. Padahal biasanya Caterine sangat menolak keberadaan Ramon disekitarnya.
“Rayan...” Suara lirih Caterine membuat Rayan tersenyum tipis. Rayan kemudian melangkah masuk dengan menggandeng tangan Alana. Sedangkan Sari, wanita itu melangkah disamping Alana yang dituntun oleh Rayan.
“Sari.. Kamu juga ikut kesini?”
Alana mengeryit. Wajah Caterine tampak sangat sumringah meskipun melihatnya dan Sari. Benar benar tidak seperti biasanya menurut Alana.
“Ya nyonya, bagaimana keadaan nyonya sekarang?” Tanya Sari tersenyum begitu sampai disamping brankar Caterine.
“Caterine, panggil saja saya Caterine. Kita besan sekarang.” Senyum Caterine yang berhasil membuat Rayan dan Alana bertanya tanya dengan perubahan tiba tibanya.
“Tapi nyonya..”
“Alana istri Rayan Sari. Alana sudah menjadi anakku juga, begitu juga dengan Rayan yang menjadi anak kamu.” Sela Caterine.
Sari menganggukkan kepalanya setuju.
“Baiklah, Caterine. Bagaimana keadaan kamu sekarang?”
Caterine tersenyum menatap pada Sechil dan Rayan sebelum akhirnya menatap kembali pada Sari.
“Seperti yang kamu lihat sekarang. Saya baik baik saja sekarang. Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menjadi orang baik Sari.” Jawab Caterine.
__ADS_1
Rayan benar benar tidak mengerti. Caterine menjadi baik setelah mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi Rayan tidak bisa begitu saja percaya sepenuhnya. Rayan merasa aneh juga merasa ada keniatan lain dibalik perubahan baik Caterine kali ini.
Caterine kemudian menatap pada Alana. Caterine mengangkat tangan-nya melambai pada Alana memberi kode agar Alana mendekat padanya.
“Kemarilah, putriku..”
Alana mengeryit. Caterine memanggilnya dengan sebutan yang sangat manis. Alana menatap tangan Caterine yang terangkat kearahnya. Tidak mungkin jika tiba tiba Caterine berubah begitu saja. Kebencian Caterine padanya seperti sudah mendarah daging. Berubah hanya karna gagal mati saat mengakhiri hidupnya rasanya sangat aneh juga mencurigakan.
Namun karna tidak mau disangka menolak panggilan dari Caterine akhirnya Alana pun mendekat. Dan begitu Alana berada tepat disamping brankarnya, Caterine langsung meraih tangan Alana dan menggenggamnya erat.
“Maaf... Mommy minta maaf.. Mommy banyak salah sama kamu nak.. Mommy sudah jahat sama kamu..”
Alana terkejut dengan apa yang Caterine lakukan. Entah apa maksud dari permintaan maaf Caterine sekarang Alana tidak bisa menebaknya. Namun Alana akan terus waspada. Alana tidak akan percaya begitu saja dengan permintaan maaf Caterine.
“Kamu maukan maafin mommy?” Tanya Caterine menatap Alana penuh harap dengan kedua mata berkaca kaca.
Alana menelan ludahnya. Alana menatap pada Rayan yang hanya diam saja. Rayan sama sekali tidak mengangguk apa lagi tersenyum. Alana yakin Rayan pasti juga merasakan hal yang sama seperti yang sedang Alana rasakan.
“Mommy sudah menyadari semuanya Alana. Mommy mohon maafkan mommy. Kasih mommy kesempatan untuk menjadi mertua yang baik untuk kamu..”
Alana menghela napas. Jika dirinya tidak menerima permintaan maaf Caterine, Sechil pasti akan salah paham. Apa lagi melihat tatapan Sechil yang terlihat begitu sangat bahagia. Mungkin Sechil menganggap apa yang Caterine lakukan dengan meminta maaf itu adalah tulus benar benar dari hati terdalamnya.
Alana memejamkan kedua matanya kemudian mengangguk. Mungkin lebih baik jika Alana mengikuti permainan Caterine sekarang supaya dirinya juga tidak terlihat buruk didepan Sechil dan Ramon juga ibunya. Untuk Rayan, Alana yakin pria itu sudah tau semua tentang dirinya.
“Terimakasih Alana.. Mommy sangat beruntung memiliki kamu sebagai menantu mommy.. Kamu wanita dan istri yang baik.” Senyum Caterine merasa sangat terharu.
Alana tersenyum tipis.
“Mommy terlalu berlebihan memuji saya.”
__ADS_1
Rayan yang melihat itu merasa semakin bingung. Caterine terlihat sangat tulus meminta maaf pada Alana. Tapi Rayan tidak bisa percaya begitu saja karna sebelumnya Caterine juga pernah menangis bahkan hampir bersujud padanya dan berjanji akan berubah bersikap baik pada Alana yang ternyata hanyalah bualan belaka.