
“Dimana Rayan?! Dimana?!”
Caterine menatap penuh rasa benci pada Robin yang hanya diam diluar selnya. Wanita itu memang terus saja berteriak histeris menanyakan Rayan yang memang belum kunjung datang sejak Robin memberi kabar tentang apa yang dilakukan Caterine.
“hey apa kamu tuli hah?! Saya tanya dimana anak saya Raya !! telpon dia sekarang juga !!”
Begitulah Caterine yang terus berteriak mencaci Robin dan terus menanyakan tentang Rayan. Robin sendiri tidak tau kenapa sampai sekarang Rayan belum juga datang. Padahal biasanya Rayan akan langsung datang jika mendengar sesuatu yang terjadi pada Caterine.
“Robin brengsek !! Dimana Rayan !!”
Robin hanya bisa menghela napas. Pada dasarnya Robin sangat tidak suka dengan umpatan dan hinaan yang Caterine lontarkan. Tapi Robin juga tidak mungkin membentak Caterine. Rayan pasti akan sangat murka jika tau.
Robin menatap sekitar. Diruangan kedap suara yang menjadi sel pribadi Caterine hanya ada mereka berdua. Hal itu membuat suara teriakan Caterine tidak terdengar keluar ruangan meski memang membuat Robin merasa sangat pengang karna suara teriakan Caterine memantul dan seperti menampar daun telingan-nya.
“Saya sudah memberitahu tuan tentang kondisi anda nyonya. Harap anda tidak terus berteriak dan memaki saya. Mungkin tuan sedang sibuk dan tidak bisa kesini.” Robin memberanikan diri berkata dengan tegas pada Caterine. Robin tidak perduli jika nanti Caterine mengadu pada Rayan. Toh Caterine tidak ada bukti apapun untuk mengadukan-nya pada Rayan. Dan juga diruangan kedap suara itu tidak ada penyadap yang bisa membuat Rayan tau segala apa yang dikatakan Robin pada Caterine. Robin berpikir mungkin memberi ketegasan pada Caterine memang tindakan yang harus dilakukan.
“Jangan coba coba membohongi saya kamu Robin !! Saya tau kamu juga sekongkol dengan Alana untuk menjatuhkan saya !!” Dibrankar tempatnya terbaring dan terikat Caterine terus saja berteriak bahkan kali ini menyeret nama Alana.
Robin yang mendengar itu merasa sangat bosan juga jengah. Caterine selalu saja menyalahkan orang lain. Enggan mendengar ocehan penuh makian Caterine, Robin pun duduk dikursinya, meraih hp yang berada disaku celana jins hitamnya kemudian memasang headset dan mendengarkan musik dengan volume suara cukup keras. Robin malas jika harus mendengar makian Caterine padanya dan lebih memilih untuk mengabaikan-nya.
“Robin !! brengsek kamu !! Dasar budak tidak tau diri !!” Caterine dengan sekuat tenaga berusaha untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Caterine selalu bertekad apapun caranya dirinya harus bisa keluar dari sel itu dan terus melakukan apa yang memang dari awal sudah dia rencanakan.
__ADS_1
------
“Kamu siapa? Ah kamu Michelle ya.. Kamu istriku.. Tapi sayang sekali aku tidak mencintai kamu.. Aku hanya mencintai Alana. Kamu mengalah saja ya.. Aku enggak mau sama kamu..”
Michelle menghela napas menghadapi tingkah aneh Dion. Tubuh pria itu sangat kurus dengan wajah pucat serta rambut panjang yang berantakan. Tidak hanya itu saja, jambang dan kumis Dion bahkan sudah nampak panjang membuat Dion benar benar seperti orang gila yang sesungguhnya.
“Tapi Michelle, aku sekarang miskin.. Perusahaanku kebakaran. Uangku, brangkasku, bahkan semuanya sekarang tidak ada.. Alana pasti tidak mau lagi denganku..” Dion tiba tiba menangis. Seperti itu setiap hari yang Dion katakan pada siapapun yang menemuinya. Bahkan pada sesama pasien gila dirumah sakit jiwa tempatnya dirawat.
“Dion seperti ini setiap hari Michelle, apa kamu tidak sedikitpun merasa kasihan? Atau apa karna kami sudah tidak punya apa apa lagi makanya kamu berniat menggugat cerai Dion?” Agatha berkata dengan kedua mata berkaca kaca. Kondisi Dion membuatnya tidak berdaya. Semua yang dia miliki sudah dia jual demi bisa mengobati Dion yang gila.
“Coba kamu pikir baik baik Michelle. Gunakan hati nurani kamu sebagai seorang istri yang baik. Kamu lihat Dion. Dia sekarang sedang seperti ini dan kamu mau meninggalkan-nya. Apa kamu tega Michelle?”
Michelle hanya diam saja. Apapun yang terjadi entah Dion gila bahkan mati sekalipun Michelle tetap akan menggugat cerai Dion. Bukan tanpa alasan Michelle melakukan itu. Dion sudah sangat keterlaluan menyakitinya bahkan sampai memanfaatkan kebaikan kedua orang tuanya.
“Michelle mamah..”
“Mah..”Sela Michelle menatap Agatha yang tidak berhenti berbicara.
“Apa yang Dion lakukan dulu itu mempunyai alasan. Dion tidak melakukan-nya dengan tulus.” Ujar Michelle.
Agatha menelan ludahnya.
__ADS_1
“Tapi...”
“Mamah juga seorang wanita, sama seperti saya. Mamah sangat menyayangi Dion bukan? sama seperti saya yang sangat ingin melindungi anak dalam kandungan saya. Saya sangat menyayanginya mah meskipun dia belum lahir kedunia ini. Tolong mamah mengerti. Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak saya.”
Agatha menggelengkan kepalanya.
“Michelle tidak ada seorang anak pun yang ingin kedua orang tuanya berpisah. Anak dalam kandungan kamu dia akan sangat membutuhkan Dion sebagai ayahnya.”
Michelle tersenyum.
“Dengan keadaan Dion yang seperti sekarang mah?” Tanya Michelle pelan.
Agatha terdiam. Hidupnya dan Dion akan semakin susah jika sampai Michelle benar benar menggugat cerai Dion. Agatha sudah tidak punya apa apa. Semua yang dia miliki sudah dia jual untuk pengobatan Dion. Dan Agatha berpikir hanya Michelle yang bisa membantunya.
“Mah.. Didunia ini tidak ada yang namanya mantan anak. Saya akan tetap menceraikan Dion tapi saya tidak akan menutupi siapa Dion sebenarnya pada anak saya kelak. Mamah tidak perlu khawatir. Saya bisa menjaga anak saya sendiri. Saya akan memberinya pengertian supaya dia paham.” Ujar Michelle yang membuat Agatha tidak bisa membalas.
Agatha kemudian menatap Dion yang masih menangis seperti anak kecil. Agatha meraih dan memeluk putra semata wayangnya itu dengan air mata yang jatuh menetes dan membasahi kedua pipinya.
“Bagaimana ini mah.. Alana pasti tidak akan mau sama Dion.. Dion harus bagaimana? Huhuhu..” Celoteh Dion sambil menangis dalam pelukan Agatha.
Michelle yang melihat itu hanya bisa menggeleng. Dion sudah mendapat karma atas keserakahan dan perlakuan buruknya sebagai seorang suami. Hal itu membuat Michelle semakin percaya bahwa setiap perbuatan apapun yang manusia lakukan tuhan pasti sudah menyiapkan balasan-nya. Entah itu perbuatan baik atau buruk.
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi mah..” Michelle bangkit dari duduknya dikursi. Michelle tidak lagi perduli apapun yang terjadi pada Dion. Yang terpenting adalah dirinya harus secepatnya menyelesaikan hubungan mereka. Dan setelah itu Michelle akan membawa anaknya pergi menjauh dari Dion dan Agatha.