Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 189


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, dalam semalam Roky dan body guard lain-nya bisa menemukan dua pelaku pembunuhan Claudia. Dan pagi itu juga Rayan langsung menyerahkan dua pelaku itu beserta bukti video yang mungkin memang sengaja direkam oleh Claudia sebelum dinodai dan dibunuh.


“Tidak, ini pasti hanya video editan kan? Ini bukan Claudia yang merekam. Ini pasti tipu daya kamu agar terbebas dari hukuman kan?”


Rayan dan semua yang berada dikantor polisi tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh mamah Claudia. Padahal bukti tentang pembunuhan Claudia sudah jelas terlihat bukan Ramon pelakunya. Disamping itu Roky juga sudah membawa dua preman yang berada didalam video tersebut.


“Mah sabar.. Jaga bicara kamu..”


“Tapi pah.. Semua ini pasti bohong. Mamah tau Claudia sangat menyukai Ramon pah.. Dan dia, dia adalah wanita yang juga menyukai Ramon. Itu sudah bisa menjadi alasan kuat mereka membunuh Claudia. Mungkin mereka merasa terganggu dengan keadaan Claudia.”


Sechil menggelengkan kepalanya. Orang tua Claudia terus bersikukuh menyalahkan-nya dan Ramon yang jelas jelas tidak bersalah.


“Kamu, lebih baik kamu mengaku. Saya tidak perduli siapa kamu. Kamu dan Ramon bersalah dan harus tetap dihukum.” Kata mamah Claudia menunjuk kasar pada Sechil yang dirangkul oleh Rayan.


Bastian yang juga turut hadir disana mengepalkan kedua tangan-nya. Bastian merasa sangat geram dengan tuduhan orang tua Claudia terutama mamah Claudia pada Sechil dan Ramon.


“Cukup nyonya.” Tegas Bastian membuat kedua orang tua Claudia langsung beralih menatapnya.


“Apa? Kamu mau membela wanita ini juga? Atau kamu juga berkomplot dengan mereka berdua hah?!”


“Saya bilang cukup.” Tekan Bastian menatap tajam wanita yang jauh lebih tua darinya itu.


Mamah Claudia diam menatap penuh kebencian pada Bastian yang dia anggap mengikut campuri urusan-nya dengan Sechil dan Rayan.


“Pelaku yang sebenarnya juga bukti yang benar sudah kami serahkan pada polisi. Kenapa anda tetap menyalahkan Ramon dan Sechil? saya curiga pelaku sebenarnya adalah anda sendiri nyonya.”


Kedua mata mamah Claudia membulat mendengar apa yang Bastian katakan. Tatapan penuh kebencian-nya mendadak berubah seperti tatapan ketakutan dengan air mata yang mulai menggenangi kedua kelopak matanya.


“Jaga mulut kamu !! Saya sangat menyayangi anak saya. Meskipun dia memang bukan darah daging saya sendiri tapi saya sangat mencintainya seperti anak saya sendiri.”

__ADS_1


Bastian tersenyum licik kemudian melipat kedua tanganya didepan dada dengan angkuh.


“Apa anda sedang mulai menguak tabir nyonya?” Tanya Bastian membuat mamah Claudia kembali marah dan hampir menubruknya jika saja suaminya tidak langsung menahan-nya.


“Mah sabar mah.. Papah percaya sama mamah..”


Sedangkan Sechil dan Rayan, mereka berdua hanya diam saja. Tidak penting bagi mereka meladeni ocehan orang tua Claudia. Mereka berdua mencoba untuk berpikir positif bahwa mungkin mamah Claudia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Claudia telah tiada.


“Sechil.”


Suara berat Ramon berhasil mengalihkan perhatian Sechil. Sechil menoleh dan tersenyum haru menatap Ramon yang melangkah mendekat padanya dengan seorang polisi yang mengawalnya dari belakang.


Ramon langsung memeluk Sechil yang berdiri didepan Rayan. Pria itu memeluk Sechil sangat erat dengan menghujami pundak Sechil ciuman.


Rayan yang melihat itu hanya diam dengan senyuman dibibirnya. Rayan merasa bersyukur karna kasus itu tidak berlarut larut dan Ramon bisa dibebaskan karna memang terbukti tidak bersalah.


“Kami sudah mengecek keaslian video itu dan memang betul, video itu bukan editan. Dan dengan adanya bukti dan pelaku yang sudah tertangkap, tuan Ramon kami bebaskan.” Ujar polisi.


“Ya tuan. Sekali lagi kami berterimakasih karna tuan sudah membantu kami menangkap pelaku pembunuhan yang sebenarnya.”


Rayan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


“Sama sama pak. Kalau begitu kami permisi.”


“Ya tuan, silahkan.”


Saat Rayan, Sechil, Bastian juga Roky berlalu mamah Claudia histeris dan terus saja menyalahkan Ramon dan Sechil. Wanita itu sama sekali tidak memandang tempat yang sedang dia pijak dan tetap berkata dengan segala tuduhan tidak mendasarnya pada Sechil dan Ramon.


“Bastian, makasih banget ya kamu sudah sangat membantu aku dan kakak. Aku nggak tau harus bagaimana membalas kebaikan kamu.” Ujar Sechil pada Bastian ketika mereka berada diparkiran.

__ADS_1


Bastian tersenyum mendengar apa yang Sechil katakan.


“Cukup pastikan anak saya sehat saja nona. Lagi pula saya membantu juga karna saya juga percaya Ramon tidak mungkin berbuat sekeji itu.”


Ramon tersenyum. Ramon benar benar sangat merasa bersyukur karna banyak orang yang percaya dan mau membantunya.


“Itu pasti. Anak kita akan sehat dan tumbuh dengan bahagia.” Ujar Ramon.


“Ya, saya percaya itu.”


Rayan yang berada diantara mereka memilih untuk diam. Rayan sebenarnya merasa sangat kagum dengan hubungan baik yang mereka jalani sekarang. Ramon bisa menerima meskipun tau anak dalam kandungan istrinya adalah anak Bastian. Sedangkan Bastian, dia pria yang baik yang tidak lari dari tanggung jawabnya. Meskipun sudah memiliki pasangan bahkan sudah bertunangan Bastian tetap mau menanggung semua kebutuhan Sechil dan janin dalam kandungan-nya.


Bastian tiba tiba mendekat pada Sechil dan berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengan Sechil. Hal itu membuat Sechil juga Ramon diam. Sedangkan Rayan, pria itu memilih menjadi penonton saja.


“Nona, sebelumnya saya minta maaf. Boleh tidak saya memegang perut nona?”


Pertanyaan Bastian membuat Sechil terkejut. Sechil tidak menduga Bastian akan bertanya seperti itu.


Sechil menoleh menatap Ramon seperti minta persetujuan. Dan dengan segala kerendahan hatinya Ramon tersenyum. Ramon menganggukkan kepalanya pelan. Ramon yakin dan percaya Bastian tidak bermaksud kurang ajar. Bastian hanya ingin merasakan keberadaan anaknya dalam kandungan Sechil.


Meskipun sudah mendapat persetujuan dari Ramon namun Sechil masih tampak berpikir. Sechil mendongak menatap Bastian yang terlihat sangat berharap.


“Saya hanya ingin ikut merasakan gerakan-nya saja nona.” Ujar Bastian lagi.


Sechil menghela napas. Bastian sudah sangat baik dengan menanggung semua kebutuhan janin yang dikandungnya yang memang adalah anaknya sendiri. Meskipun merasa sedikit berat hati karna itu artinya Bastian akan menyentuhnya, namun Sechil tetap mengangguk.


“Anggap saja sebagai ucapan terimakasih atas perbuatan-nya Sechil.” Batin Sechil bergumam.


Bastian tersenyum melihat Sechil menganggukan kepalanya. Perlahan tangan kanan-nya terangkat dan bergerak pelan mendekat pada perut Sechil. Ketika tangan-nya hampir mendarat diperut Sechil tangan Bastian berhenti. Mendadak Bastian merasakan sesuatu yang tidak pernah Bastian rasakan sebelumnya. Bastian menoleh pada Ramon yang tersenyum dan menganggukan kepalanya seperti berkata “Dia anak kamu juga”.

__ADS_1


Bastian mendaratkan tanganya dengan lembut diperut Sechil kemudian mengusapnya dengan sangat hati hati. Saat itu juga ada gerakan yang cukup kuat yang langsung menyambut sentuhan tangan Bastian.


“Ya tuhan.. Anakku..” Batin Bastian merasa sangat terharu.


__ADS_2