
Dion pulang dengan perasaan marah. Pria itu terus saja melimpahkan segala kesalahan itu pada Michelle dan terus menambah laju kecepatan mobil yang dikendarainya.
Ketika sampai dirumah, Dion langsung mencari keberadaan Michelle. Pria itu melangkah cepat menaiki anak tangga dengan seruan keras memanggil manggil Michelle yang berada didalam kamar karna malam memang sudah larut.
“Jangan teriak teriak Dion, ini bukan dihutan.” Michelle yang merasa kesal langsung menyerang begitu Dion masuk kedalam kamar mereka.
“Diam kamu !!” Bentak Dion membuat Michelle terkejut. Michelle tidak tau apa yang terjadi hingga Dion tiba tiba pulang dengan keadaan marah seperti itu.
“Ini semua gara gara kamu. Mamahku menangis dan marah padaku. Semuanya gara gara kamu Michelle !!” Dion menambahkan dengan nada tinggi dan sorot mata tajam pada Michelle yang duduk ditepi ranjang.
Michelle menggelengkan kepalanya. Michelle tidak mengatakan apapun pada Agatha juga kedua orang tuanya. Michelle masih menutupi semua yang Dion lakukan padanya.
“Aku.. Aku tidak...”
“Diam aku bilang !! Aku muak sama kamu !!” Sela Dion terus saja bersuara dengan nada tinggi.
Michelle semakin bingung. Entah dimana letak kesalahan-nya sekarang sehingga Dion bisa begitu marah padanya.
“Ada apa ini sebenarnya? Kenapa dia marah marah tidak jelas seperti ini?” Dalam hati Michelle terus bertanya tanya. Tatapan-nya terus terarah pada Dion yang masih berdiri didepan pintu.
Dion kemudian melangkah mendekat pada Michelle yang berdiri didepan ranjang. Setelah berada didepan Michelle, Dion mencengkram erat kedua bahu Michelle membuat Michelle meringis merasakan nyeri diarea bahunya.
“Dion..”
“Dengar baik baik Michelle, kamu itu tidak ada apa apanya dibanding dengan Alana. Dan sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah mencintai kamu !!” Sela Dion dengan kedua mata tajamnya.
Michelle menelan ludahnya. Dibanding bandingkan dengan Alana bahkan meski Dion mengatakan tidak akan pernah bisa mencintainya Michelle tidak sama sekali merasa sakit hati. Michelle bertahan bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk menguak siapa Dion sebenarnya pada kedua orang tuanya.
“Kamu hanya wanita yang tidak punya harga diri Michelle. Kamu wanita gampangan.” Dion kembali mencecar Michelle dengan perkataan tidak pantasnya.
Sementara Michelle yang mulai tidak tahan dengan cengkraman tangan Dion dibahunya mendorong keras dada bidang Dion membuat Dion mundur kebelakang bahkan hampir terjatuh kelantai.
“Cukup Dion.. Cukup.. Aku tidak pernah lagi mengharap cinta dari kamu. Aku juga tidak perduli meskipun aku tidak sebaik Alana.” Dada Michelle naik turun dengan kedua tangan mengepal merasa sangat kesal pada Dion yang begitu seenaknya dan tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaan orang orang disekitarnya.
__ADS_1
“Bagus.. Bagus kalau begitu. Aku ceraikan kamu sekarang juga Michelle. Aku talak kamu !!” Tatapan Dion terus saja tajam pada Michelle yang terlihat sangat terkejut dengan apa yang Dion ucapkan.
“Kalau begitu sekarang kamu boleh pergi Dion. Kamu pergi dari rumah ini.” Michelle berkata pelan. Semuanya memang harus segera diakhiri. Sandiwara Dion tidak boleh terlalu lama disembunyikan.
“Aku? Pergi dari sini?” Dion tertawa mendengar Michelle mengusirnya. Pria itu kemudian memutar tubuhnya menatap seluruh sudut kamarnya dan Michelle.
“Aku tidak akan pergi dari rumah ini Michelle. Aku juga punya hak dirumah ini. Kamu saja yang pergi. Kekayaan kedua orang tua kamu tidak akan berkurang bukan jika hanya rumah ini menjadi hakku seluruhnya?”
Michelle menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan perubahan total sikap Dion. Dion benar benar seperti orang asing yang bahkan tidak pernah Michelle kenal.
“Kamu gila Dion..” Lirih Michelle menatap punggung Dion tidak percaya.
“Ya Michelle, aku memang gila. Aku gila karna paksaan dari kedua orang tua kamu. Kedua orang tua kamu menuntutku untuk menikahi kamu dan itu sangat memberatkanku.”
Michelle diam. Yang Dion katakan memang benar. Kedua orang tuanya menuntut Dion untuk menikahinya. Tapi sedikitpun Michelle tidak pernah menyangka Dion akan begitu sangat berubah. Michelle pikir Dion akan tetap bersikap manis dan penuh perhatian padanya. Tapi sekarang Dion bahkan sangat egois juga jahat.
“Karna pernikahan ini hubunganku dan Alana hancur Michelle. Itu artinya kalian juga harus hancur seperti hubunganku dan Alana.”
Michelle menggeleng pelan. Dion kembali mengancamnya.
Dion melangkah keluar dari kamarnya dan Michelle setelah berkata meninggalkan Michelle yang tidak tau harus bagaimana. Hubungan baiknya dan Dion yang terjalin sejak kecil dulu kini sudah benar benar berakhir. Dion sudah seperti musuh bagi Michelle yang selalu mengancam dan membuat hidup Michelle tidak tenang.
“Ya tuhan...” Lirih Michelle terduduk lemas ditepi ranjang. Michelle tidak tau harus bagaimana memberitahu kedua orang tuanya yang sudah begitu sangat percaya pada Dion. Apa lagi Dion juga mengancamnya akan melakukan sesuatu pada keduanya.
Michelle memejamkan kedua matanya. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Michelle tidak tau harus meminta bantuan pada siapa.
“Apa ini adalah balasan atas semua yang aku lakukan dibelakang Alana dulu.. Ya tuhan.. Ampuni hamba..”
-------
Paginya.
Dikediaman Rayan pagi ini Alana berniat membalas perbuatan Sechil padanya. Alana bahkan rela terjun kedapur memasak bersama para pelayan demi bisa membalas apa yang Sechil lakukan padanya. Dan itu tentu saja Alana lakukan sejak pagi pagi sekali. Alana harus bangun sebelum Sechil juga Mommy Rayan bangun dan melihat apa yang dilakukan-nya.
__ADS_1
Ketika sarapan sudah tersaji dimeja makan, Alana menyuruh salah satu pelayan untuk memanggil keduanya. Sementara dirinya membuatkan susu khusus untuk Sechil. Alana juga mengolesi kursi yang biasa menjadj tempat duduk Sechil dengan lem.
“Aku benar benar pintar..” Gumam Alana sambil menutup botol lem yang dipegangnya memuji dirinya sendiri.
“Alana..”
Suara berat Rayan membuat Alana terkejut. Alana langsung menjatuhkan lem tersebut dan menginjak dengan pelan agar Rayan tidak melihatnya.
Alana tersenyum menutupi keterkejutan-nya yang tentu bisa dibaca oleh Rayan. Pria itu memang tidak gampang dibodohi.
“Apa jadi kita kerumah ibu pagi ini?” Tanya Rayan menatap Alana.
“Tentu saja. Aku sudah sangat merindukan-nya. Tapi sebelum itu kita sarapan dulu ya.. Aku sudah memasak yang enak enak untuk kamu.” Alana bergelayut di lengan Rayan kemudian menarik kursi dan menuntun Rayan agar duduk dikursinya.
“Kamu harus coba resep baru yang aku buat. Ini pasti akan sangat enak.” Katanya sambil menyendok nasi untuk Rayan.
Rayan tertawa pelan. Kedua matanya melirik sekilas pada botol kecil lem yang sempat dijatuhkan dan disembunyikan Alana tadi darinya. Rayan tau Alana pasti memiliki maksud tertentu.
Tidak lama Sechil dan Caterine datang. Mereka menyapa Rayan dengan ramah namun seolah menganggap Alana tidak ada kemudian duduk dikursinya masing masing.
Alana yang melihat itu tertawa diam diam. Alana tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Sechil jika meminum susu rasa garam buatanya dengan bagian belakang tubuhnya yang terus menempel pada kursi.
Semuanya tampak aman dan tidak terjadi apa apa hingga akhirnya Rayan dan Alana menyudahi sarapan mereka kemudian keluar bersama dari dalam rumah. Mereka tidak ingin kesiangan saat sampai dirumah Sari.
“Apa ada sesuatu yang aku tidak tau?”
Alana yang sedang memasang seat belt ditubuhnya langsung menoleh pada Rayan yang menatapnya. Pria itu duduk dikursi kemudi dengan tubuh sedikit miring menghadap padanya.
“Eem.. Hanya satu kejutan kecil untuk Sechil ” Jawab Alana tersenyum.
“Apa?”
“KYAAAAAAAA!! ALANAAAAAA!!!!”
__ADS_1
Pertanyaan Rayan langsung terjawab dengan teriakan Sechil dari dalam rumah. Pria itu terdiam sesaat kemudian menggeleng dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya.
“Kamu lumayan nakal sayang.” Katanya.