
Sesampainya dirumah, Rayan langsung meminta agar Alana menggunakan tespek yang mereka beli. Dan Alana tentu saja langsung menurutinya.
”Bagaimana?” Tanya Rayan begitu Alana keluar dari dalam kamar mandi. Ya, pria itu memang terlihat sangat tidak sabaran.
Alana merengut menatap Rayan. Wanita itu mengeluarkan tespek yang masih begitu rapi dengan kemasan-nya.
“Loh kenapa nggak dibuka?” Rayan mengeryit bingung. Alana tidak membuka dan mengeluarkan stik pengetes kehamilan itu dari kemasan-nya.
“Atau.. Kamu juga tidak bisa membukanya?” Kedua mata Rayan menyipit menganggap jurus manja Alana akan dikeluarkan lagi.
Alana menggelengkan kepalanya. Tatapan-nya terlihat sangat menyedihkan pada Rayan yang mulai menerka nerka akan rencana apa yang sedang dirancang oleh otak istrinya itu.
“Rayan aku...” Jeda sejenak. Alana kemudian menundukan kepalanya menghela napas sedih.
“Aku mens.” Lanjutnya lirih.
Rayan menahan napasnya sejenak kemudian menghembuskanya skartis. Ada sesuatu yang terasa lapang didadanya. Alana mendapat tamu bulanan-nya itu artinya Alana belum hamil.
“Syukurlah..” Batin Rayan lega.
Rayan merasa bebas dari ancaman sekarang. Rayan bukan tidak mau Alana hamil anaknya. Rayan hanya belum siap jika harus menghadapi tingkah Alana yang pasti akan sangat ajaib. Bahkan bukan tidak mungkin Alana juga akan menyuruh Rayan menggunakan kostum monster mengerikan seperti Beast jika benar benar hamil. Apa lagi Alana mengatakan sangat mengagumi sosok tinggi besar itu.
”Aku...” Alana mulai terbata bata. Kepalanya terus menunduk didepan Rayan yang hanya diam saja.
“Aku pikir aku.. Padahal sudah telat begitu lama..”
Rayan tersenyum simpul. Alana pasti akan hamil, tapi tidak untuk sekarang.
“Sudahlah, tidak apa.. Mungkin tuhan belum mengizinkan.” Rayan mencoba meredakan kekecewaan Alana.
Alana dengan cepat mengangkat kepalanya mendongak menatap Rayan.
“Tapi Michelle hamil. Dan aku sudah mengatakan aku juga sedang hamil.”
Senyuman dibibir Rayan seketika sirna.
“Apa maksudmu Alana?” Tanya-nya menatap Alana dengan kedua mata menyipit penuh curiga.
Alana tidak menjawab. Alana ingin menunjukan pada Michelle bahwa dirinya juga layak mendapatkan cinta yang tulus dari seorang pria. Terlebih jika itu suaminya.
Alana melangkah pelan melewati Rayan yang masih menunggu jawaban atas pertanyaan penuh rasa curiganya. Saat ini sedang terbesit di benak Rayan menganggap bahwa Alana hanya sedang berusaha memanfaatkan-nya untuk di tunjukan pada Michelle dan Dion yang pernah menorehkan luka pada hati Alana. Menunjukan bahwa Alana bisa tanpa mereka bukan karna memang ingin benar benar tulus berada disisi Rayan.
“Alana..” Panggil Rayan penuh penekanan.
__ADS_1
Alana terus diam. Dengan pelan Alana mendudukan dirinya ditepi ranjang. Setelah ini Alana pasti akan sangat malu karna ketahuan berbohong. Michelle, dia pasti akan menertawakanya. Begitu juga dengan Dion.
“Aku pikir kalau aku cepat hamil semuanya akan menjadi lebih baik Rayan.” Katanya memulai dengan suara lirih namun juga sedikit bergetar.
Rayan mengangkat sebelah alisnya.
“Kamu masih berniat memanfaatkan aku untuk balas dendam pada mereka?”
Alana menoleh menatap Rayan yang masih berdiri ditempatnya didepan pintu kamar mandi. Dengan pelan Alana menggelengkan kepalanya.
“Bukankah kalau aku hamil kamu akan sangat mencintaiku?”
Rayan diam lagi. Rayan memang sudah bertekad akan sangat mencintai Alana. Bukan sebagai pengganti Sakura, tapi sebagai jodoh yang memang tuhan berikan padanya.
“Kalau aku hamil kamu pasti akan menuruti semua kemauanku kan? kamu akan sangat menjagaku. Kamu juga tidak akan marah marah.”
“Dan kamu akan menjadikanku budakmu.” Sambung Rayan membatin.
“Rayan.” Panggil Alana terus menatap Rayan.
“Michelle dan Dion, mereka akan menertawakanku nanti. Mereka pasti akan menganggap aku menikah denganmu hanya menjual diri untuk merubah nasib. Bukan begitu?”
Rayan mengepalkan kedua tanganya mendengar itu. Entah kenapa tiba tiba Alana menjadi bersikap seperti wanita yang putus asa.
“Rayan..”
“Sudah kubilang jangan menjadi wanita lemah Alana.” Potong Rayan penuh penekanan.
Alan terdiam. Rayan tampak sangat begitu marah sekarang.
“Kamu istriku. Kamu disisiku untuk menjadi pendamping hidupku selamanya. Bukan sekedar pemuas nafsuku. Ingat itu baik baik Alana.”
“Rayan aku..”
Cup
Ucapan Alana terpotong karna bibir panas Rayan yang meraup bibirnya. Rayan menciumnya dengan sangat lembut membuat Alana terbuai.
“Aku akan membuatmu melahirkan selusin anak Alana.” Bisik Rayan menjeda sejenak ciumanya.
-------
“Kamu harus banyak istirahat Michelle. Kamu ini sedang hamil. Sekarang lihatkan, kamu sampai anemia begini.”
__ADS_1
Michelle hanya bisa tersenyum mendengar omelan mamah mertuanya, Agatha namanya. Bukan tanpa sebab Michelle sampai mengalami anemia. Semua itu tentu saja karna Dion.
“Ayo duduk dulu..”
Michelle menurut saat Agatha menuntunya untuk duduk diluar ruangan dokter kandungan yang baru saja memeriksa kondisinya.
“Mamah sudah menelpon Dion berkali kali tapi tetap tidak diangkat Chelle. Kemana dia sebenarnya?”
Michelle bingung harus menjawab apa. Jika menjawab jujur dengan mengatakan Dion sedang pergi sejak kemarin pasti Agatha akan sangat marah. Dan Dion, tentu saja dia juga akan sangat marah pada Michelle.
“Padahal sebelum menikah kalian selalu bersama kemana mana. Kalian begitu kompak. Dion juga, dia sepertinya tidak rela meninggalkan kamu sendiri barang sedetik saja.”
Michelle tersenyum kecut. Terang saja Dion tidak mau membiarkanya sendiri. Dion adalah pria maniak yang hampir setiap waktu menggarap tubuh Michelle. Dion selalu berkata manis dengan mengatakan akan selalu ada untuknya, bukan akan selalu mencintainya. Dan bodohnya Michelle mau saja menuruti kemauan Dion. Michelle juga selalu menikmati sentuhan pria brengsek itu.
“Nak...”
Sentuhan lembut Agatha ditanganya membuat Michelle tersadar dari lamunanya.
“Ah ya mah..” Michelle tersenyum dengan bibir pucatnya yang juga terlihat kering.
Agatha menggeleng pelan.
“Apa karna Alana?”
Senyuman dibibir Michelle langsung memudar. Alana tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan berantakan-nya bersama Dion. Alana bahkan adalah korban dari keegoisan Michelle dan Dion.
“Enggak mah..” Geleng Michelle.
“Jangan bohong Michelle. Mamah tau Alana itu sangat mencintai Dion. Alana pasti tidak rela kalian menikah makanya dia gangguin Dion terus. Dia juga pasti yang pengaruhi Dion biar tidak jagain kamu dengan baik.”
Michelle menggeleng menolak apa yang Agatha katakan. Alana tidak salah apa apa. Alana tidak ada sangkut pautnya dengan masalahnya dan Dion.
“Mah..”
“Kamu nggak usah belain Alana Michelle. Jangan terlalu baik. Nanti kamu disepelekan.” Lagi lagi Agatha memotong dan berasumsi sendiri tentang Alana.
“Bukan begitu mah.. Tapi Alana, dia sudah menikah. Alana tidak mengganggu Aku ataupun Dion. Jangan salahkan Alana.”
“Lalu siapa yang salah disini? Dion? atau kamu?” Tanya Agatha membuat Michelle diam kembali.
“Sudahlah. Mamah akan bicarakan ini dengan Dion nanti. Dan tentang Alana, mamah akan tetap datangi dia nanti.” Agatha terus bersikukuh menyalahkan Alana.
“Mah..”
__ADS_1
“Michelle tolong nurut sama mamah. Ini juga untuk kamu dan Dion...”