
Baru saja Dion hendak membaringkan tubuhnya saat hp nya berdering. Dion sudah merasa sedikit lega karna merasa akan mendapat bantuan lagi dari Cindy, mamah mertuanya.
Dion berdecak ketika mendapat telpon dari asisten pribadinya. Dengan rasa kesal karna merasa terganggu, Dion mengangkat telpon tersebut.
“Ada apa? Kamu tau tidak ini waktunya orang istirahat !!” Dion langsung mengomel begitu mengangkat telpon tersebut.
“Maaf tuan.. Tapi..”
“Tapi apa? Kamu mau minta gaji? Bukan-nya sudah saya kasih semua gaji pada para karyawan termasuk kamu? Atau kamu mau saya pecat hah?!” Dion benar benar tidak bisa menahan emosinya. Asisten-nya meskipun cantik dan menggoda namun juga terkadang bisa sangat bodoh dan menyebalkan.
“Bukan begitu tuan, tapi gedung perusahaan kebakaran.” Balas cepat asisten Dion.
Kedua mata Dion melebar. Rasa kantuknya sirna seketika karna keterkejutan yang amat sangat. Perusahaan-nya sedang berada diambang kehancuran dan beberapa jam ini Dion baru merasa lega setelah mengancam Michelle yang pasti akan langsung membicarakan tentang perusahaan Dion pada Cindy mamahnya. Tapi sekarang asisten-nya menelpon dan mengatakan perusahaan-nya kebakaran.
“Jangan bercanda kamu.. Kamu mau saya pecat?” Dion menggeleng tidak percaya. Satpam penjaga malam diperusahaan-nya sangat disiplin. Tidak mungkin jika satpam tersebut lengah sampai terjadi kebakaran.
“Saya tidak bercanda tuan. Kalau anda tidak percaya, anda bisa datang sekarang juga.”
Dion langsung memutuskan sambungan telpon-nya. Masih tidak percaya, Dion pun langsung meraih jaket kulitnya tidak lupa Dion juga menyambar kunci mobilnya kemudian berlari keluar dari kamarnya.
Michelle yang saat itu sedang makan dengan ditemani oleh asisten rumah tangganya mengeryit melihat Dion yang tampak sangat terburu buru sekali.
“Jam berapa sekarang?” Tanya Michelle pada asisten rumah tangganya.
“Sudah hampir pagi nyonya..” Jawabnya.
“Oh ya?”
“Ya nyonya..”
Michelle tampak berpikir. Dion tidak mungkin keluar dimalam larut bahkan hampir menuju pagi itu tanpa sebab. Apa lagi wajah Dion juga terlihat sangat tidak biasa menurut Michelle.
“Apa ada sesuatu yang terjadi pada mamah?” Michelle mendadak teringat pada mamah mertuanya, Agatha. Michelle sangat tau Dion adalah pria yang mendewikan mamahnya. Dion sangat takut sesuatu yang buruk menimpa wanita yang melahirkan-nya itu. Tapi sayangnya Dion sama sekali tidak bisa menghargai wanita lain selain mamahnya. Dan itu adalah kekurangan fatal seorang Dion yang tidak bisa dimaklumi.
“Eemmm.. mbak bisa tolong ambilkan hp saya dikamar?” Michelle tersenyum menatap asisten rumah tangganya meminta tolong untuk diambilkan hp miliknya dikamar.
__ADS_1
“Baik nyonya..” Angguk asisten rumah tangganya kemudian bangkit dari duduknya disamping Michelle.
“Aku harus telpon mamah Agatha.” Gumam Michelle pelan.
Kabar tentang perusahaan Dion yang kebakaran langsung berhembus keseluruh media. Kabar itu bahkan langsung sampai ketelinga dan mata Caterine.
Tidak percaya dengan media online, Caterine pun langsung menghidupkan TV dan terkejut karna ternyata berita itu benar. Ditambah sosok Dion yang terlihat sangat frustasi tersorot oleh kamera. Disana juga sudah ada Agatha yang terus memeluk Dion yang menangis meraung merasa tidak bisa menerima kenyataan bahwa semua yang dia miliki perlahan mulai musnah.
“Ck, dasar laki laki lemah. Tidak berguna.” Maki Caterine.
Tidak mau menjadi salah satu orang yang terseret kemedia, Caterine pun langsung meraih hp nya dan memblokir nomor Dion.
“Sepertinya aku memang tidak bisa mengandalkan orang lain dalam hal ini.” Gumam Caterine dengan helaan napas.
“Mom...”
Panggilan Sechil membuat Caterine tersentak. Caterine buru buru mengganti chanel TV karna tidak mau Sechil curiga dengan apa yang sedang di tonton-nya. Caterine yakin Sechil pasti akan langsung bisa mengerti jika sampai tau Caterine menonton berita tentang Dion.
”Mommy kenapa belum tidur?” Tanya Sechil dengan mengucek kedua matanya.
“Mommy nggak bisa tidur sayang. Wajah Rayan seperti ada didepan mommy terus. Mommy kangen sama kakak kamu..”
Sechil tersenyum mendengarnya.
“Mommy jangan khawatir, kakak bahagia dirumah barunya. Besok paling kakak kesini.”
Caterine mengangguk. Caterine juga yakin Rayan tidak mungkin begitu tega padanya. Rayan pasti sangat menyayanginya.
“Kamu sendiri kenapa jam segini keluar kamar? Ramon mana?” Caterine celingukan mencari keberadaan Ramon yang memang tidak ada bersama Sechil.
“Ramon tidur mom.. Aku nggak tega bangunin dia. Kasihan kan seharian ngampus sambil kerja. Tenaga dan pikiran-nya sudah terkuras seharian ini.. Biarkan saja dia istirahat.” Senyum Sechil menatap Caterine.
“Anak mommy memang baik. Ramon beruntung mendapatkan kamu sayang..” Puji Caterine.
Sechil menggeleng pelan.
__ADS_1
“Mommy salah, Sechil yang beruntung karna memiliki Ramon. Dia suami yang sangat baik untuk Sechil.”
Caterine menghela napas merasa tidak setuju dengan apa yang Sechil katakan. Menurutnya Ramon hanya pria yang tidak punya apa apa dan tidak bisa menjamin kehidupan Sechil akan mewah dan bahagia.
“Oke oke.. Ya sudah mending kamu tidur lagi nak, nggak baik loh ibu hamil kalau sampai kurang tidur.” Caterine membelai lembut pipi chuby Sechil dengan tatapan penuh perhatian.
“Enggak mom.. Aku bangun karna aku merasa lapar. Lebih baik mommy saja yang tidur. Aku mau cari makanan didapur.”
“Ya sudah kalau begitu mommy temenin kamu. Ayo..”
Caterine menggandeng tangan Sechil mengajaknya berlalu dari ruang keluarga untuk menemaninya kedapur. Wanita itu sebisa mungkin harus tetap terlihat baik didepan Sechil juga Ramon bahkan juga didepan Rayan dan Alana. Apa lagi sekarang Dion sudah tidak bisa diharapkan lagi. Dion sudah bangkrut bahkan mungkin akan menjadi gila.
-----
Disisi lain tepatnya dikediaman mewahnya, Rayan tersenyum puas saat menonton berita live di malam menjelang pagi itu. Bastian benar benar tidak main main dalam mengerjakan tugasnya.
Deringan hp yang berada diatas meja didepan-nya membuat Rayan langsung tau siapa yang menelpon-nya. Siapa lagi kalau bukan Bastian.
Rayan meraih hp nya dan langsung mengangkat telpon yang memang dari Bastian.
“Halo...”
“Ya tuan. Tuan, saya menemukan beberapa berkas rahasia diruangan tuan Dion. Saya rasa anda perlu tau ini..” Kata Bastian langsung begitu Rayan mengangkat telpon darinya.
“Baik kita bicarakan ini besok saja.” Jawab Rayan dengan tatapan terus ter arah pada layar TV yang menyala.
“Baik tuan. Tapi anda juga perlu tau sesuatu tuan. Bukan saya yang membakar perusahaan tuan Dion. Anda tidak akan menjadi tersangka jika sampai pihak kepolisian tau. Ada pihak lain yang ternyata juga menginginkan kehancuran tuan Dion selain anda.”
“Bagus kalau begitu. Yasudah besok kita bertemu diperusahaan saya.”
“Baik tuan.”
Setelah Bastian menjawab Rayan pun memutuskan sambungan telpon-nya. Pria itu tidak perduli apapun selain Dion hancur. Karna hanya dengan begitu Dion tidak akan mengganggu hubungan-nya dengan Alana.
Rayan tersenyum ketika wajah frustasi Dion tersorot kamera. Pria itu benar benar sudah seperti orang gila karna menangis meraung raung didepan media tanpa perduli dengan penilaian orang lain.
__ADS_1