
Setelah membicarakan semuanya dengan Ramon, Rayan segera mempersiapkan segala yang diperlukan untuk pernikahan Sechil dan Ramon. Meskipun Caterine terus saja menentang namun Rayan terus berusaha untuk mengabaikan dan tidak terlalu serius menanggapinya.
Malam ini Rayan harus keluar dari rumah bersama Luky karna ada urusan dengan rekan bisnisnya. Meski merasa berat namun Rayan tetap pergi meninggalkan Alana dirumah. Tidak lupa Rayan menyuruh untuk Fina selalu siap berada disamping Alana untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan mengingat Caterine yang sedang sangat meradang karna hari pernikahan Sechil dan Ramon hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi saja.
“Apa nyonya lapar?” Tanya Fina pada Alana yang duduk diatas tempat tidur dengan memainkan hp-nya.
Alana menoleh menatap pada Fina yang duduk disofa diseberang ranjangnya. Saat hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Fina tiba tiba pintu kamarnya dibuka dengan sangat keras yang berhasil membuat Alana dan Fina tersentak kaget.
Caterine, wanita itu berdiri diambang pintu kamar Rayan dan Alana dengan tatapan penuh kebencian. Berbagai upaya sudah Caterine lakukan untuk membuat Rayan memihak padanya. Tapi pada akhirnya justru Sechil yang awalnya berada dipihaknya malah berpindah kepihak Alana.
Fina langsung berdiri dari duduknya. Fina tau betul bagaimana buasnya Caterine karna Fina sering memata matai Caterine diam diam.
“Apa yang anda lakukan nyonya?” Tegur Fina menatap kesal pada Caterine.
Caterine mendelik kesal menatap Fina. Semua orang dirumah itu sepertinya memang sudah tidak lagi menghargainya termasuk Rayan.
Caterine melangkah masuk kedalam kamar Alana. Saat hendak mendekat kearah ranjang, Fina langsung mencegah dengan berdiri tepat didepan Caterine.
“Minggir kamu Fina. Atau kamu mau aku adukan pada Rayan?”
Fina tersenyum kemudian menghela napas.
“Justru karna tuan yang menyuruh saya berani berdiri dihadapan anda nyonya.” Jawabnya santai.
Kedua tangan Caterine mengepal. Tangan-nya terasa sangat gatal tidak sabar ingin memberi pelajaran pada Alana yang menurutnya sudah sangat keterlaluan karna mempengaruhi Rayan agar membenci dan tidak memperdulikan-nya lagi.
“Aku bilang minggir Fina, atau kamu akan tau akibat dari menentang saya.” Tekan Catrine mendelik tajam.
Fina tetap memasang badan dan sedikitpun tidak bergerak dari hadapan Caterine. Menjaga Alana adalah tugas utama Fina berada dirumah mewah itu. Fina tidak akan sedikitpun lengah sehingga Caterine bisa membahayakan Alana.
“Saya tidak takut nyonya.” Balas Fina enteng.
Sementara Alana yang masih berada diatas ranjang hanya diam menatap keduanya yang masih saling berhadapan. Caterine yang entah ingin melakukan apa padanya, dan Fina yang terus mencoba memposisikan diri sebagai pelindung untuk Alana.
Merasa sangat geram, Caterine pun mendorong kasar bahu Fina. Namun karna memang Fina yang sudah sigap dan terlatih bisa menghindar membuat Caterine tidak bisa merobohkan gadis cantik berseragam pelayan itu.
__ADS_1
“Kamu berani sama saya Fina?!”
“Maaf nyonya, tapi saya tidak bisa membiarkan anda berbuat seenaknya pada nyonya Alana..” Jawab Fina.
“Mommy cukup !!”
Teriakan Sechil membuat Caterine menoleh kearah pintu. Wanita itu menatap Sechil yang melangkah mendekat kearahnya. Caterine menatap Sechil dengan tatapan tajam.
“Kakak akan sangat marah kalau tau mommy melakukan hal seperti ini pada kak Alana..” Sechil mencoba untuk mengingatkan Caterine tentang kemarahan Rayan.
“Biarkan saja. Mommy tidak perduli. Mommy bahkan rela di usir dari rumah ini asalkan bisa memberi pelajaran pada wanita murahan itu.” Caterine menunjuk dengan sangat kasar pada Alana yang masih saja diam diatas tempat tidur.
“Mom..”
“Diam kamu Sechil !!” Bentak Caterine membuat Sechil langsung bungkam.
“Kamu juga sama saja seperti Rayan. Kamu tidak perduli sama mommy.. Kamu terus ngebela wanita murahan itu.” Lagi, Caterine menunjuk Alana dengan jari telunjuknya.
Sechil menggelengkan kepalanya. Dulu mungkin pandangan-nya tentang Alana sama seperti Caterine. Tapi sekarang Sechil sudah tau bagaimana dan seperti apa Alana yang sebenarnya.
“Bukan begitu mom.. Aku...”
Sechil memejamkan kedua matanya. Suara Caterine begitu lantang dan memenuhi seluruh sudut ruangan dikamar Alana dan Rayan.
Fina yang berada diantara Sechil dan Caterine langsung melangkah menjauh. Fina mendekat pada Alana dan menyuruh untuk Alana turun dari ranjang. Fina menuntun Alana yang memang sedang sedikit merasa lemas malam ini.
“Kita keluar saja nyonya.” Katanya.
Alana mengangguk. Mungkin untuk sekarang memang akan lebih baik jika menghindar dari
Caterine. Bukan karna tidak berani, Alana hanya sedang mencoba menjaga kondisi tubuhnya sendiri yang sedang terasa sedikit tidak enak.
“Kita biarkan saja mereka berdebat disini. Nanti juga tuan akan tau sendiri.” Kata Fina lagi.
Alana hanya diam saja. Wanita itu menurut saat Fina memapahnya keluar dari kamar. Namun saat sudah akan sampai di depan pintu tiba tiba langkah Alana berhenti karna Caterine mencekal lengan-nya.
__ADS_1
“Jangan coba coba kabur dari saya kamu Alana..”
Fina langsung membalikan tubuhnya dan menepis kasar tangan Caterine. Apa yang Fina lakukan membuat Caterine meringis. Namun Caterine tidak menyerah, Caterine terus berusaha meraih Alana sehingga dengan sangat terpaksa Fina berbuat sedikit kasar dengan mendorong Caterine sehingga Caterine jatuh tersungkur ke lantai.
“Fina...”
“Saya yang akan mempertanggung jawabkan semuanya nanti didepan tuan nyonya. Tidak perlu khawatir. Kita tidak bersalah.” Ujar Fina menyela.
Alana menganggukan kepalanya. Tidak baik memang berbuat kasar pada Caterine. Tapi Alana pikir tidak ada salahnya sekali kali memberi pelajaran pada Caterine. Toh, jika Caterine mengadukan-nya dan Fina pada Rayan, Alana bisa menjelaskan dengan menunjukkan rekaman CCTV dikamarnya.
Fina langsung mengajak Alana menuju lift. Mereka langsung menuju kamar Fina yang berada dilantai dasar rumah mewah itu agar Caterine tidak bisa menjangkau Alana.
“Anda tidak apa apa nyonya? atau mungkin ada yang terluka? Bagaimana lengan anda?”
Alana tersenyum mendengar pertanyaan penuh kekhawatiran Fina. Fina benar benar sosok yang sangat penuh tanggung jawab. Tidak salah Rayan memilihnya sebagai pengawal pribadi Alana saat didalam rumah.
“Saya tidak apa apa Fina.” Jawab Alana.
Fina menghela napas lega. Caterine benar benar sangat diluar batas kali ini. Dia mulai berusaha bermain fisik pada Alana tanpa merasa ragu sedikitpun padahal didalam kamar Alana dan Rayan ada CCTV yang membuat Rayan bisa kapan saja memantau keamanan Alana disana.
“Syukurlah. Nyonya Caterine memang keterlaluan. Dia seperti bukan seorang ibu..”
Alana mengangguk setuju. Caterine memang sangat egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
“Fina, bisa tolong kamu cek bagaimana Sechil dan mommy sekarang? Saya takut Sechil kenapa napa.”
Fina mengeryit menatap heran pada Alana yang bahkan masih sempat memikirkan Sechil.
“Nyonya Caterine tidak akan berbuat macam macam pada Nona Sechil nyonya. Saya yakin itu. Nyonya tidak perlu khawatir.”
“Tolong Fina.. Mommy tidak memikirkan apapun dan siapapun jika sudah marah.”
Fina menatap Alana yang duduk ditepi ranjang miliknya kemudian mengangguk pelan.
“Baik kalau begitu. Nyonya disini saja jangan kemana mana. Para pelayan sedang keluar berbelanja kebutuhan bulanan mereka. Termasuk Roky dan Robin.”
__ADS_1
Alana mengangguk dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.
“Oke..” Jawabnya.