
“Untuk berat badanya, bagus. Tensinya juga bagus. Apa tuan dan nyonya juga mau melakukan USG?” Tanya dokter kandungan berparas cantik itu pada Rayan dan Alana.
Alana dan Rayan saling menatap sebentar kemudian kembali menatap pada dokter cantik itu.
“Ya dokter. Saya ingin tau jenis kelamin anak saya.” Jawab Rayan.
Alana menunduk menatap perutnya yang besar itu. Apapun jenis kelamin-nya, Alana akan menerimanya dengan suka hati. Laki laki atau perempuan bukan pilihan menurut Alana. Yang terpenting adalah anaknya sehat sampai waktu persalinan tiba nanti.
“Baiklah kalau begitu, mari nyonya Alana..”
Alana menganggukan kepalanya kemudian bangkit dari duduknya. Alana mengikuti dokter yang akan menanganinya saat persalinan nanti dan berbaring diatas brankar. Ketika dokter itu membuka perut besarnya Alana tertawa pelan. Alana selalu merasa lucu jika melihat perutnya telanjang yang begitu besar dan bulat seperti balon.
“Kenapa nyonya?” Tanya dokter itu mengeryit bingung.
“Ah tidak dok, tidak apa apa.” Jawab Alana tersenyum.
Dokter itu mengangguk kemudian segera meraih alat untuk USG nya. Dan ketika dokter cantik itu mengoleskan gel pada permukaan kulit Alana sebuah gerakan cukup kuat mengejutkan dokter itu.
Sesaat dokter tersebut tampak diam namun akhirnya tertawa. Rayan dan Alana yang memang menyaksikan sendiri gerakan kencang pada kulit putih perut Alana hanya tersenyum saja. Janin dalam kandungan Alana memang cukup lincah.
“Tuan, nyonya, anak kalian benar benar sangat lincah. Saya tidak sabar ingin melihatnya.” Tawa dokter itu.
Selesai mengoleskan gel pada perut Alana, dokter itu mengambil alat yang kemudian ditempelkan pada perut Alana. Dan lagi lagi gerakan kencang dari perut Alana membuat dokter spesialis kandungan itu tertawa dan hanya bisa menggeleng saja.
“Anda bisa melihat sendiri sekarang tuan, nyonya. Posisinya sudah sangat bagus. Dan seperti tebakan saya dia sangat aktif didalam sana.” Ujar dokter itu.
Rayan tersenyum pada Alana kemudian memusatkan perhatian-nya pada layar dimana terlihat dengan jelas janin dalam kandungan Alana sedang bergerak gerak.
“Hidungnya terlihat sangat mancung..” Senyum Alana berkata dengan lirih serta kedua mata berkaca kaca.
Rayan tertawa pelan. USG 4 dimensi memang membuatnya bisa melihat jelas bahkan sampai rupa janin dalam kandungan istrinya.
“Ya tuhan.. Tuan, sepertinya bayi anda tidak ingin menunjukkan jenis kelamin-nya.” Kata dokter itu yang membuat Alana tertawa.
Sedangkan Rayan. Pria itu hanya bisa diam dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya. Menyaksikan sendiri bagaimana pergerakan lincah janin dalam kandungan istrinya membuat Rayan merasa terharu. Rayan bahkan tidak terlalu mendengarkan penjelasan dokter kandungan yang sedang menunjukan rupa janin yang dikandung Alana dengan alat canggihnya.
__ADS_1
Selesai melakukan USG, Rayan mengajak Alana untuk jalan jalan keliling mall. Rayan juga mengajak istri tercintanya itu untuk melihat lihat perlengkapan bayi.
“Apa kita perlu membeli semua yang ada ditoko ini?”
Alana yang saat itu sedang memegang sehelai baju bayi langsung menoleh mendengar apa yang Rayan katakan.
“Aku yakin anak kita akan membutuhkan semua barang barang yang ada disini sayang..” Kata Rayan beralasan.
Alana menghela napas kemudian meletakan pakaian mungil yang sedang dipegangnya ketempatnya semula.
“Ya, anak kita memang akan membutuhkan-nya. Tapi tidak semuanya Rayan. Kita mungkin memang akan membelinya. Tapi harus bertahap, tidak sekaligus.” Ujar Alana menjelaskan.
Rayan mengedikkan kedua bahunya tidak perduli. Baginya semua kebutuhan anaknya nanti harus benar benar terpenuhi. Rayan tidak mau jika sampai anak pertamanya kekurangan satu apapun.
“Jadi apa yang kamu mau beli sekarang?” Tanya Rayan kemudian.
“Aku pikir belum saatnya. Tunggu setengah bulan lagi baru aku akan mengajak kamu memborong perlengkapan untuk anak kita.” Jawab Alana.
“Kenapa tidak sekarang saja? Kenapa harus menunggu setengah bulan lagi?” Tanya Rayan menatap Alana bingung.
Ketika Alana hendak membuka mulutnya untuk menjawab, datanglah seorang petugas toko itu yang menyapa dengan ramah padanya dan Rayan.
“Ah ya, tolong kamu bungkusin semua perlengkapan yang diperlukan oleh bayi yang baru lahir ya.” Ujar Rayan membuat kedua mata Alana membulat menatapnya.
“Pilihkan yang kualitasnya bagus.” Tambah Rayan.
“Baik tuan, akan segera saya bungkuskan. Saya permisi.” Jawab petugas toko tersebut kemudian berlalu dari hadapan Rayan dan Alana.
“Rayan kamu..”
Cup
Rayan mengecup singkat bibir Alana ketika Alana hendak protes karna apa yang dikatakan-nya pada petugas toko tersebut.
“Jangan protes. Aku membelinya untuk anakku. Oke?” Ujar Rayan yang tidak mau Alana protes dengan apa yang dilakukan-nya.
__ADS_1
Alana berdecak. Jika Rayan sudah seperti itu protes hanya akan membuang buang tenaganya saja.
Alana hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat semua barang barang yang sudah dibungkuskan oleh petugas toko. Alana bahkan sampai berpikir sipetugas tersebut mengambil kesempatan dalam kesempitan karna membungkuskan hampir seperempat isi dari toko tempatnya bekerja.
“Ya tuhan Rayan, kandunganku bahkan belum genap 8 bulan. Kenapa sampai membeli barang sebanyak ini?”
Rayan tersenyum.
“Biar saat anak kita lahir nanti semuanya sudah lengkap. Aku yakin ini semua juga belum cukup.”
Alana mendesis merasa sangat kesal. Rayan kembali berbuat semaunya.
“Sudah siang. Bagaimana kalau sebelum pulang kita makan dulu?”
Alana menatap Rayan dan tersenyum sinis.
“Aku yakin ini bukan pertanyaan.” Jawabnya.
Rayan tertawa pelan. Istrinya kembali sensitif sekarang. Dan Rayan merasa sangat gemas ditengah keramaian itu dengan sikap sensitif istrinya.
“Ayo sayangku..”
Rayan tersenyum manis pada Alana yang memperlihatkan ekspresi kesalnya. Pria tampan itu menggandeng tangan Alana dan mengajaknya berlalu setelah sebelumnya memberikan membayar total belanjaan-nya dan memberikan alamat agar semua yang Rayan beli segera dikirim kerumah saja.
Sepanjang makan siang berduanya dengan Rayan berlangsung Alana terus saja memperlihatkan ekspresi kesalnya pada Rayan. Alana bahkan menolak saat Rayan menyuapkan makanan padanya. Dan lagi lagi karna paksaan dari Rayan, Alana tidak bisa menolak. Selain karna tidak mau membuat suaminya malu, Alana juga tidak mau Rayan menyuapinya dengan cara yang tidak wajar didepan banyak orang.
Selesai makan siang, Rayan mengajak Alana untuk pulang karna Rayan tau Alana harus cukup istirahat siang dan tidak boleh terlalu kelelahan.
“Sampai kapan kamu akan marah padaku hem?” Tanya Rayan ketika hendak melajukan mobilnya.
Alana melipat kedua tanganya dibawah dada. Alana melirik kesal pada Rayan yang mulai melajukan mobilnya berlalu dari parkiran pusat berpelanjaan besar tersebut.
“Sampai kamu sadar kalau apa yang kamu lakukan tadi itu sangat berlebihan.” Jawab Alana.
Rayan menganggukan kepalanya pelan. Rayan sama sekali tidak merasa apa yang dilakukan-nya berlebihan. Rayan hanya membeli apa yang memang akan mereka butuhkan nanti.
__ADS_1
“Aku bahkan juga bisa memperlakukan kamu lebih dari kata berlebihan sayang.” Balas Rayan mengedipkan sebelah matanya genit pada Alana.
Alana mendelik. Saking kesalnya Alana melengos tidak mau menatap Rayan yang bukan-nya meminta maaf malah semakin meledeknya.