Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 113


__ADS_3

Diruangan-nya Rayan baru saja menyelesaikan pekerjaan-nya. Pria itu menghela napas kemudian merenggangkan otot otot tubuhnya.


Rayan menilik waktu lewat jam tangan mewah yang dikenakan-nya. Hari sudah mulai sore namun Rayan merasa malas bangkit untuk kemudian pulang. Padahal Rayan sudah sangat merindukan Alana yang memang hampir setiap hari dia tinggalkan dirumah.


Rayan meraih laptopnya, membukanya dan mulai menyalakan-nya. Seperti biasa, pria itu selalu mengawasi kegiatan istri tercintanya dirumah lewat rekaman CCTV. Perlahan seulas senyum mulai terukir dibibirnya. Rayan menatap penuh perhatian pada Alana yang sedang beraktivitas didapur bersama bibi. Hari ini Rayan tidak sempat menelpon karna ingin cepat cepat menyelesaikan pekerjaan-nya agar bisa segera pulang kerumah.


Penasaran dengan respon Alana jika Rayan mengatakan mengetahui Alana sedang apa, Rayan pun segera menelpon bibi. Rayan tau jika dirinya menelpon Alana pasti tidak akan diangkat. Alana pasti meninggalkan hp miliknya disembarang tempat. Entah dikamar atau diruangan lain dirumahnya.


Saat telpon mulai tersambung dan bibi sedang menatap layar hp nya tiba tiba datang Caterine yang menghampiri. Rayan mengeryit melihatnya. Caterine menghampiri Alana dengan senyuman dibibirnya.


“Halo tuan...” Suara bibi langsung terdengar tidak lama setelahnya.


“Ya, tolong laudspekcer hp nya bi. Jangan bilang pada Alana maupun mommy bahwa sata sedang menelpon.” Saut Rayan kemudian segera memerintah bibi untuk melaudspecker hp nya. Rayan ingin mendengar percakapan Alana dan Caterine secara langsung jika sedang berada dibelakangnya. Rayan ingin memastikan sendiri dengan mendengar dan melihat sendiri gerak gerik mommy nya.


“Baik tuan..” Saut bibi dengan suara berbisik.


Bibi meletakan hp miliknya diatas meja pantri. Wanita itu melirik sekilas pada Caterine kemudian kembali dengan pekerjaan-nya sendiri.


“Kamu sedang membuat apa Alana?” Tanya Caterine pelan.


“Sedang membuat udang asam manis kesukaan Rayan mom. Aku sudah lama tidak membuatkan untuknya.” Jawab Alana.


Caterine mengangguk mengerti.


“Mommy memang bukan mommy yang berguna. Bahkan mommy saja tidak bisa membuatkan udang asam manis untuk Rayan.”


Alana tersenyum mendengarnya. Tanpa Caterine mengatakan-nya pun semua orang dirumah itu tau bahwa Caterine memang ibu yang baik untuk Rayan dan Sechil.


“Kamu tau darimana Rayan suka dengan udang asam manis nak?”


“Bibi yang memberitahu saya dulu mom. Dan saya belajar membuatnya dengan bibi.” Jawab Alana.

__ADS_1


“Oh ya? Bibi, kenapa kamu tidak mengajarkan saya juga cara membuat makanan kesukaan Rayan?”


Bibi yang saat itu sedang memotong sayuran langsung menoleh dan tersenyum.


“Maaf nyonya, tapi selama ini nyonya tidak pernah bertanya apa makanan kesukaan tuan. Nyonya juga tidak pernah meminta diajarkan cara membuatnya.” Jawab bibi dengan berani.


Caterine meringis. Wanita itu merasa malu sendiri mendengar jawaban bibi. Caterine memang tidak pernah ingin tau apapun tentang Rayan kecuali harta yang Rayan miliki.


“Ya sudah kalau begitu, kalian lanjutkan saja. Mommy mau keluar sebentar.”


Alana dan bibi tidak menjawab. Keduanya hanya menatap kepergian Caterine.


“Bi, berikan hp nya pada Alana.”


Alana mengeryit mendengar suara Rayan lewat sambungan telpon yang begitu keras dan jelas. Alana langsung menatap bibi dengan tatapan tidak percaya.


“Baik tuan, sebentar.” Bibi meraih hp nya kemudian memberikan-nya pada Alana.


Alana menerima hp yang disodorkan bibi kemudian memelankan suaranya. Alana juga tidak lupa mematikan kompor karna udang asam manis buatanya juga sudah matang.


“Sejak kapan kamu menjadi tukang mendengarkan pembicaraan orang lain?” Alana langsung melontarkan pertanyaan yang membuat Rayan tertawa. Wanita itu merasa sedikit kesal karna merasa Rayan tidak percaya padanya yang bisa bersikap baik dan sopan pada Caterine.


“Kamu takut aku menjahati mommy?” Tanyanya lagi.


“Hey bukan begitu Alana. Aku juga menakutkan yang sebaliknya. Aku takut mommy bersikap tidak baik padamu jika dibelakangku.” Jawab Rayan yang tidak ingin istri tercintanya salah mengartikan maksudnya meminta bibi untuk melaudspecker hp nya tadi.


“Ayolah Alana, jangan salah paham. Aku percaya padamu.” Sambung Rayan lagi.


Alana melirik kearah CCTV. Alana yakin Rayan pasti sedang mengawasinya lewat CCTV tersebut. Alana memeletkan lidahnya kemudian mematikan sambungan telpon tersebut dan kembali memberikan-nya pada bibi.


“Kalau Rayan telpon lagi bilang saja saya sedang tidak mau diganggu ya bi..” Katanya dengan mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Bibi hanya menganggukan kepala dengan senyuman dibibirnya. Wanita itu merasa sangat gemas melihat ekspresi tidak biasa Alana.


Alana kemudian meraih piring saji dan memindahkan masakan-nya. Setelah itu Alana membawanya menuju meja makan. Alana berniat menunggu Rayan pulang dimeja makan.


Sementara Rayan, pria itu menghela napas gusar. Alana memang sering sekali sensitif sejak hamil.


Tidak mau kesalah pahaman Alana semakin berlarut larut, Rayan pun segera menutup laptopnya dan bangkit dari duduknya. Rayan melangkah lebar keluar dari ruangan-nya. Rayan berniat pulang dan menjelaskan langsung maksudnya tadi pada Alana.


Dalam perjalanan menuju pulang Rayan menelpon Robin. Rayan memang memberikan tugas baru pada Robin untuk mengawal Caterine yang saat ini memang sedang berada diluar.


“Dimana kamu dan mommy sekarang?” Tanya Rayan enggan berbasa basi.


“Kami sedang berada direstoran tuan. Nyonya Caterine sedang bertemu dengan teman teman-nya.” Jawab Robin.


Rayan menganggukkan kepalanya. Rayan tidak mau kecolongan lagi. Dirinya harus selalu tau dengan siapa dan dimana Caterine berada. Karna sebenarnya Rayan tidak bisa percaya sepenuhnya dengan perubahan sikap Caterine.


“Awasi mommy terus. Kalau sampai ada Dion disekitar mommy segera kasih tau saya.” Perintah Rayan.


“Baik tuan.” Jawab Robin lagi dengan tegas.


Rayan memutuskan sambungan telpon-nya setelah mendapat jawaban dari Robin. Untuk sekarang mungkin dirinya bisa lega karna Caterine selalu berada dalam pengawasan orang kepercayaan-nya pun dengan Dion.


Rayan menambah kecepatan laju mobilnya. Karna ingin segera sampai kerumah dan menemui Alana, Rayan tidak memakai jasa pak Lim sebagai supir pribadinya. Pria itu memilih mengemudikan mobilnya sendiri agar bisa lebih leluasa diperjalanan menuju pulang.


Dalam waktu singkat Rayan sampai. Dan begitu sampai dirumah Rayan langsung menuju meja makan. Rayan tau istrinya disana sedang menunggunya dengan sepiring udang asam manis buatan-nya. Jangan tanyakan Rayan tau darimana karna memang hampir setiap menit bahkan detik Rayan tidak pernah telat mengecek CCTV dirumahnya demi bisa melihat istri tercintanya yang sedang beraktivitas dirumah.


Rayan langsung menjelaskan maksudnya menguping pembicaraan Alana tadi dengan Caterine. Beruntung Alana langsung luluh meski sebelumnya mengajukan syarat lebih dulu.


“Gendong aku keliling kompleks besok pagi.” Begitu Alana mengajukan syarat yang tentu saja langsung diterima dengan senang hati oleh Rayan.


“Itu hal yang mudah Alana. Sekarang biarkan aku menghabiskan udang asam manis ini dulu..” Balas Rayan sambil menarik sepiring udang asam manis buatan Alana.

__ADS_1


“Biar aku suapi tuan.” Senyum Alana yang sekali lagi mendapat anggukan senang hati dari Rayan.


__ADS_2