Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 212


__ADS_3

Caterine menatap semua bingkai photo yang tertempel didinding kamarnya. Photo photo itu adalah photo Alana dan Ramon. Caterine merasa sedikit bingung karna hampir setiap hari dokter Safana memberitahunya tentang Alana dan Ramon. Dokter Safana bahkan sudah seperti mata mata yang bisa mengerti apa saja kegiatan Ramon dan Alana setiap hari. Sedangkan menurut Caterine, kedua menantunya itu adalah orang jahat yang berniat memisahkan-nya dengan Rayan dan Sechil. Mereka berdua juga membuat Caterine tidak bisa menguasai harta Rayan.


“Selamat siang nyonya.. Sekarang waktunya anda untuk makan siang..”


Seorang perawat masuk dan dengan sangat ramah menyapa Caterine yang sedang duduk ditepi ranjang.


Caterine tersenyum menatapnya. Hampir dua bulan Caterine berada dirumah itu dengan pengawasan langsung dari dokter Safana. Dokter yang hampir setiap hari selalu mendongeng tentang kebaikan orang orang yang Caterine kenal. Mulai dari Rayan dan Sechil bahkan sampai Ramon juga Alana.


“Suster..” Panggil Caterine pada perawat yang sedang menata makan siangnya diatas meja didepan sofa yang berada tidak jauh dari ranjang tempat Caterine duduk.


“Ya nyonya..” Saut siperawat.


“Dokter Safana mana?” Tanya Caterine pelan.


“Dokter Safana sedang keluar nyonya. Tapi beliau bilang tidak akan lama. Sebentar lagi juga pulang.”


“Memangnya sejak kapan dokter Safana keluar?” Tanya Caterine lagi.


“Sejak pagi tadi nyonya..”


“Dia nggak bilang sama kamu mau kemana?”


“Tidak nyonya, dokter Safana hanya bilang mau keluar sebentar dan tidak bilang mau kemana.”


Caterine berdecak pelan. Caterine sebenarnya ingin menanyakan sesuatu pada dokter Safana.


“Apa ada yang bisa saya bantu lagi nyonya?” Tanya si perawat yang sudah selesai menata makan siang untuk Caterine.


“Oh tidak, terimakasih. Kamu boleh keluar sekarang.” Senyum Caterine.


“Baik nyonya, saya permisi.”


Setelah perawat itu berlalu keluar dari kamarnya, Caterine bangkit dari duduknya dan melangkah pelan menuju balkon kamarnya. Robin, body guard itu sepertinya memang disuruh secara khusus oleh Rayan untuk menjaganya. Yang membuat Caterine lebih heran adalah rumah itu sangat dijaga dengan ketat. Bahkan dibagian belakang rumah juga dijaga oleh dua body guard yang Caterine sendiri tidak mengenal mereka siapa.


“Anda mencari saya nyonya?”


Caterine langsung membalikan tubuhnya ketika mendengar suara dokter Safana.


“Suster mengatakan pada saya tadi.” Ujar dokter cantik itu memberitahu.


Caterine menghela napas.

__ADS_1


“Ini tentang anak saya Rayan. Kenapa akhir akhir ini sangat jarang mengunjungi saya kesini. Apa dokter tau?”


Dokter Safana tersenyum. Dokter Safana tau kenapa Rayan tidak pernah datang. Tentu saja karna sibuk bekerja dan membantu mengurus putri pertamanya secara langsung. Ditambah lagi dengan Sechil yang baru saja melakukan operasi semalam.


“Saya akan memberitahu sesuatu pada nyonya. Tapi sebelum itu sebaiknya nyonya makan siang dulu.” Senyum dokter Safana.


Caterine terdiam menatap dokter Safana. Dokter Safana adalah orang yang selalu berada didekatnya selama hampir dua bulan ini. Dokter Safana juga begitu perhatian dan mempunyai hubungan yang cukup baik dengan Rayan. Caterine yakin dokter Safana memang orang yang benar benar baik.


“Baiklah dokter.” Angguk Caterine akhirnya.


Dokter Safana menuntun Caterine masuk kembali kedalam kamarnya. Dokter cantik itu juga terus menemani Caterine menyantap makan siangnya sampai habis tak tersisa.


“Saya sudah selesai makan siang dokter. Sekarang dokter bisa katakan apa yang ingin dokter beritahu pada saya.” Ujar Caterine.


Dokter Safana tertawa pelan. Sikap Caterine memang seperti anak kecil. Caterine selalu semangat makan jika dokter Safana mengatakan akan memberitahu sesuatu padanya.


“Baiklah baiklah. Sebentar nyonya, saya ambil handphone saya dulu.”


Dokter Safana bangkit dari duduknya disamping Caterine kemudian keluar meninggalkan Caterine dikamarnya.


Sedang Caterine, wanita itu merasa sangat penasaran dengan apa yang ingin diberitahukan dokter Safana padanya.


Sekitar lima menit menunggu, Dokter Safana kembali masuk kedalam kamar Caterine dengan membawa hp miliknya. Wanita itu tersenyum dan kembali mendekat pada Caterine dengan duduk disamping Caterine.


Dokter Safana menganggukan kepalanya.


“Ini tentang tuan Rayan, Nona Sechil juga cucu cucu nyonya.”


Caterine mengeryit bingung.


“Cucu saya?” Tanya Caterine bingung.


“Ya nyonya. Biar saya tunjukan. Sebentar nyonya.”


Dokter Safana mulai membuka hpnya dan menunjukkan photo Zoya putri pertama Rayan dan Alana juga putra Sechil dan Bastian.


“Bayi siapa ini dokter?” Tanya Caterine kebingungan melihat dua bayi yang tidak Caterine tau anak siapa.


Dokter Safana tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Caterine tentang kedua bayi mungil itu. Dokter Safana merasa bersyukur karena keadaan Caterine mulai membaik berangsur angsur. Caterine bahkan sudah tidak lagi histeris dan penuh emosi meskipun melihat photo Alana dan Ramon. Hal itu juga yang membuat dokter Safana berani memajang banyak photo didinding kamar Caterine.


“Dua bayi mungil ini adalah cucu cucu nyonya.”

__ADS_1


“Apa?” Caterine menatap dokter Safana dengan tatapan tidak percaya.


“Ini adalah anak tuan Rayan dengan nyonya Alana, namanya Zoya. Dia sangat cantik dan menurut saya sedikit mirip dengan anda nyonya.” Jelas dokter Safana membuat Caterine merasa sangat tidak mungkin.


“Dan yang ini, saya belum tau namanya siapa nyonya. Nona Sechil dan tuan Ramon belum memberitahu siapa nama putra mereka.” Lanjut dokter Safana.


“Jadi kedua bayi lucu ini cucu saya dokter? Tapi kenapa mereka tidak membawanya kesini? Kenapa Rayan juga tidak memberitahu saya kalau anaknya sudah lahir begitu juga dengan Sechil dan Ramon?”


Dokter Safana menghela napas pelan. Rayan sudah menjelaskan kenapa dirinya belum bisa datang mengunjungi Caterine.


“Nyonya, tuan Rayan belum bisa membawa nyonya Alana kesini. Sedangkan nona Sechil, dia masih dirumah sakit karena baru semalam selesai operasi sesar nyonya. Tapi tidak perlu khawatir, mereka pasti akan kesini untuk mengunjungi nyonya. Karena mereka sangat menyayangi nyonya.”


“Benarkah? Mereka menyayangi saya?”


Dokter Safana menganggukkan kepalanya.


“Ya nyonya. Mereka sangat menyayangi nyonya. Itu sebabnya mereka membayar saya dan suster untuk merawat dan memastikan nyonya selalu baik baik saja.”


Caterine menatap lagi pada layar hp milik dokter Safana. Dengan lembut Caterine menyentuh layar hp dokter Safana seperti sedang membelai dengan nyata pipi gembul Zoya.


“Tapi saya sudah sangat jahat dokter. Saya pernah berencana membunuh Alana dan bayi yang dikandungnya. Saya bahkan berniat memisahkan Rayan dan Alana juga Sechil dan Ramon. Apakah saya masih pantas mendapat kasih sayang dari anak anak saya setelah apa yang saya lakukan?”


Suara Caterine bergetar dengan kedua mata berkaca kaca. Caterine sadar sekarang, apa yang sudah dilakukan-nya sangat keterlaluan.


“Saya dulu bahkan dulu mengkhianati suami saya, Richard. Daddy nya Rayan.”


Dokter Safana meraih tangan Caterine dan menggenggamnya lembut.


“Nyonya, Tuan Rayan dan semuanya sangat menyayangi nyonya. Percaya sama saya nyonya. Mungkin mereka belum bisa datang kesini untuk mengunjungi nyonya. Tapi nanti mereka pasti akan datang dan mempertemukan nyonya dengan kedua cucu nyonya.”


“Benarkah? Mereka akan datang kesini untuk saya?” Tanya Caterine dengan berderai air mata.


“Ya nyonya.” Angguk dokter Safana tersenyum menjawabnya.


“Kalau begitu bisa tolong dokter telepon kan Rayan sekarang?”


“Tentu saja nyonya. Sebentar.”


Dokter Safana mengambil hp nya yang berada ditangan Caterine kemudian mulai menghubungi Rayan menuruti keinginan Caterine.


Setelah telepon tersambung dokter Safana langsung memberikan hp miliknya pada Caterine yang dengan antusias menerimanya.

__ADS_1


“Rayan, mommy kangen sama kamu dan Sechil..” Ungkap Caterine pada Rayan lewat sambungan Video call sambil menangis.


Dokter Safana yang berada disamping Caterine hanya bisa tersenyum. Dokter Safana berharap Caterine memang benar benar sudah berubah baik sekarang.


__ADS_2