
Dion benar benar sangat setres tidak tau harus bagaimana sekarang. Perusahaan-nya kembali mengalami krisis keuangan bahkan kali ini hampir bangkrut. Dion tidak tau apa yang terjadi. Semua itu terjadi begitu saja.
Dion menghela napas. Kedua matanya terpejam. Tangan-nya memijat pelan keningnya yang terasa sedikit berdenyut karna memikirkan masalah perusahaan-nya yang berada diambang kehancuran.
Michelle yang melihat itu tersenyum sinis. Dion duduk disudut kamar diatas sofa tunggal dan terlihat sangat frustasi. Michelle tau apa yang terjadi karna Dion sering kali berteriak marah lewat sambungan telpon pada Hana, sekretarisnya. Michelle kasihan sebenarnya pada Hana. Tapi Michelle juga tidak bisa membantu apa apa karna Michelle sendiri bingung harus bagaimana lepas dari ikatan pernikahan-nya dengan Dion tanpa harus membuat kedua orang tuanya terluka karna Dion.
Michelle hendak turun dari ranjang saat tiba tiba Dion memanggilnya. Michelle mengeryit menatap bingung pada Dion yang terus menatap lurus kedepan. Michelle bisa menebak, Dion pasti sedang menginginkan sesuatu darinya.
“Kamu harus membantuku Michelle..” Katanya dengan nada pelan namun sedikit menekan disetiap katanya seperti sedang menuntut.
Michelle menggeleng. Michelle tidak tau menau tentang apa yang sedang terjadi, tapi tiba tiba Dion menuntut bantuan darinya.
“Jangan harap aku mau Dion.” Jawab Michelle tegas. Michelle tidak mau Dion terus menindasnya.
“Tentu saja kamu harus mau.” Dion bangkit dari duduknya kemudian menatap Michelle dengan seringaian dibibirnya. Pelan pelan Dion melangkah menghampiri Michelle yang duduk diatas ranjang. Pria itu mendudukan dirinya ditepi ranjang. Tanganya terulur menyentuh lembut pipi chuby Michelle.
Michelle menelan ludahnya. Dion berada sangat dekat dengan-nya. Sentuhan tangan pria itu dipipinya membuat Michelle merasakan getaran aneh.
“Kamu... Sangat cantik malam ini Michelle..” Puji Dion menatap penampilan Michelle.
Michelle mundur untuk menghindar. Dion pasti hanya sedang merayunya agar Michelle mau berbicara dengan kedua orang tuanya untuk membantu perusahaan Dion yang sedang dalam keadaan kekurangan uang.
Dion tersenyum miring. Pria itu kemudian naik keatas ranjang dan terus mendekat pada Michelle yang mencoba menghindarinya. Saat Michelle hendak turun dari ranjang, Dion meraih pinggang Michelle dan mendorong tubuh Michelle sampai Michelle terbaring terlentang diatas ranjang. Dion langsung mengunci tubuh Michelle agar wanita itu tidak lagi menghindar darinya.
“Lepaskan aku Dion !” Michelle tidak bisa menahan emosinya. Namun Michelle juga merasa sedikit takut pada Dion sekarang. Seringaian Dion seolah membunyikan alarm waspada pada diri Michelle.
“Ssstt.. Jangan galak galak Michelle..” Dion berkata sangat pelan. Tubuhnya berada diatas tubuh Michelle dengan satu tangan menahan kedua tangan Michelle diatas kepala membuat Michelle tidak bisa bergerak.
Napas Michelle mulai memburu. Entah apa yang di inginkan Dion sekarang.
“Tidak tau kenapa tiba tiba aku merindukan desahanmu saat aku menguasai tubuhmu Michelle..” Dion berkata tepat didepan wajah Michelle sehingga napas hangatnya menyapu wajah cantik Michelle.
Mendengar itu emosi Michelle semakin naik ke ubun ubun. Dion hanya memanfaatkan-nya sebagai pemuas nafsu selama ini. Dan mengingat itu Michelle merasakan denyutan ngilu dihatinya.
“Lepaskan aku brengsek !!” Meski mati matian menahan air matanya namun Michelle tetaplah seorang wanita yang akan menangis jika hatinya terasa sakit.
__ADS_1
“Ayolah Michelle.. Aku hanya sedang membutuhkan ketenangan sekarang. Aku tidak ingin melukaimu secara fisik.. Jadi lebih baik kamu nurut saja.. Oke..”
Dion mulai mendekatkan wajahnya membuat Michelle melengos menghindari ciuman dari Dion. Namun bukan Dion namanya jika tidak memaksa. Dion melakukanya dengan kasar pada Michelle tanpa perduli Michelle sedang mengandung anaknya. Dion bahkan tidak perduli dengan jerit tangis Michelle yang tidak bisa melawan dibawah kungkungan-nya.
Selesai melakukan-nya Dion turun dari ranjang. Pria itu mengelap keringat yang membasahi tubuh kekarnya. Apa yang dilakukan-nya pada Michelle berhasil sedikit merilekskan pikiran-nya.
“Ternyata kamu masih sangat menggairahkan Michelle..” Katanya tertawa pelan.
Michelle yang menangis dibalik selimut hanya diam saja. Seluruh badan-nya terasa remuk akibat sentuhan kasar Dion.
“Ah ya Michelle, kamu tolong telpon mamah Cindy. Aku sedang butuh bantuan-nya sekarang.”
Dion berlalu menuju kamar mandi setelah berkata. Pria itu yakin Cindy bisa membantunya mengatasi masalah keuangan perusahaan-nya. Dan satu satunya yang bisa meluluhkan Cindy adalah Michelle.
“Oke.. Demi perusahaan aku akan berpura pura baik pada Michelle setelah ini..” Gumamnya kemudian menghidupkan shower.
-------
Caterine semakin dibuat meradang dengan apa yang dilihatnya. Sechil terlihat sangat kompak dengan Alana. Sechil bahkan sering terlihat mengobrol berdua dengan Alana dan tidak mau lagi mendengar ucapan-nya.
“Ini benar benar tidak bisa dibiarkan. Sechil.. Kamu harus selalu berada dipihak mommy..” Gumam Caterine mengepalkan kedua tangan-nya.
Caterine masuk kedalam kamar Rayan dan Alana tanpa lebih dulu mengetuk pintu. Caterine mengeryit ketika tidak menemukan Alana disana.
“Aku tidak apa apa Rayan. Aku bukan wanita lemah, ingat itu.”
Caterine mengeryit ketika mendengar suara Alana. Merasa penasaran, Caterine mencoba mendekat kearah suara Alana yang bersumber dari kamar mandi. Caterine berdiri didepan pintu kamar mandi yang sedikit terbuka dimana Alana berada sekarang.
“Ayolah Rayan.. Jangan berlebihan.. Mual dipagi hari itu sudah biasa dan sangat wajar bagi ibu hamil. Aku tidak apa apa..”
Caterine menyipitkan kedua matanya.
“Alana sedang hamil?” Batin Caterine bertanya tanya.
“Mommy?!”
__ADS_1
Caterine terkejut saat tiba tiba Alana membuka lebar pintu kamar mandi. Namun tidak hanya Caterine saja yang terkejut. Alana lebih terkejut melihat Caterine yang tiba tiba berada didalam kamarnya.
“Mommy kenapa bisa berada dikamar saya? Kenapa masuk tanpa izin?” Alana bertanya dengan jantung berdebar. Alana yakin Caterine pasti mendengar percakapan-nya lewat telpon tadi bersama Rayan.
Caterine tersenyum miring. Wanita itu menatap Alana dari atas sampai bawah kemudian berhenti diarea dada. Caterine sudah bisa menebak dengan tepat bahwa Alana memang sedang hamil karna bagian dadanya yang terlihat lebih besar dari biasanya sama seperti Sechil.
“Jadi kamu sedang hamil juga Alana?” Tanya Caterine dengan seringaian dibibirnya.
Alana menelan ludah. Rahasia tentang kehamilan-nya terkuak sudah. Caterine mengetahui tentang kehamilan-nya karna kebodohan Alana yang tidak mengunci pintu kamarnya sehingga Caterine bisa dengan leluasa masuk tanpa izin.
Alana menghela napas. Menurutnya sudah tidak ada lagi yang perlu di tutup tutupi.
“Wajar bukan kalau saya hamil? Saya punya suami.” Jawab Alana melipat kedua tangan-nya menatap Caterine dengan santai.
Caterine menyipitkan kedua matanya. Kehadiran janin dalam kandungan Alana akan semakin mempersulit niatnya.
“Kamu..”
“Permisi nyonya..” Ucapan Caterine tersela oleh suara pelayan yang tiba tiba masuk kedalam kamar Alana dan Rayan.
Caterine langsung menoleh menatap jengkel pada pelayan yang masih sangat muda itu. Mungkin usianya sebaya dengan Sechil.
“Kenapa tidak sopan sekali kamu, masuk tanpa izin?” Tanya Caterine membuat pelayan itu tersenyum.
Sedang Alana, dia hanya diam saja.
“Maaf nyonya, saya tidak tau kalau nyonya juga ada disini. Saya kesini mau mengajak nyonya Alana jalan jalan pagi.” Jawab pelayan muda bernama Fina itu.
“Apa?” Caterine semakin merasa tidak suka. Caterine tau semua itu pasti karna Rayan yang memerintah.
“Kenapa Sechil tidak diajak jalan jalan pagi juga? Dia juga sedang hamil.”
“Maaf nyonya, tugas saya hanya mengajak dan menemani nyonya Alana saja, bukan nona Sechil.” Jawab Fina enteng.
“Mari nyonya..” Fina menatap Alana dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
“Oh.. Oke.. Ayo..” Alana melangkah melewati Caterine yang berada didepanya menghampiri Fina. Keduanya berlalu dengan Fina yang berada dibelakang menjaga Alana dari Caterine.
“Akan aku pastikan janin dalam kandungan kamu tidak akan lahir kedunia ini, Alana..” Gumam Caterine licik.