
Caterine tidak bisa lagi berpikir sekarang. Sechil sudah tidak lagi berada dipihaknya. Sechil juga sudah menikah dengan Ramon meski Caterine dengan terang terangan melarangnya.
Caterine berdecak. Rencananya benar benar hancur sekarang. Kesempatan untuk bisa menguasai seluruh harta yang Rayan miliki semakin terasa mustahil.
“Rayan dan Sechil benar benar sudah tidak lagi perduli padaku sekarang..” Gumam Caterine frustasi.
Suara ketukan pintu kamarnya membuat Caterine menoleh. Caterine bisa langsung menebak itu pasti adalah pelayan yang mengantarkan makanan untuknya. Ya, Caterine memang sudah tidak mau lagi keluar dari kamarnya. Setiap pagi, siang, bahkan malam makanan-nya selalu diantarkan oleh pelayan. Caterine tidak pernah meminta tapi para pelayan itu selalu saja mengantarkan makanan bahkan cemilan untuknya. Benar benar seperti orang sakit keras yang sudah tidak berdaya.
Caterine menatap pintu kamar yang selalu dia kunci. Kedua matanya menyipit dengan otaknya yang mulai berpikir. Tiba tiba seulas senyum terukir dibibirnya.
“Baiklah, rencana baru dengan cara dan pemikiran yang baru.” Gumam Caterine tersenyum licik.
----------
“Tuan !! nyonya !!, Tuan !! nyonya !!”
Seruan bibi membuat Rayan dan Ramon yang sedang mengobrol santai didepan tv terkesiap. Keduanya langsung berdiri kemudian segera berlari menuju suara bibi.
“Ada apa?” Tanya Rayan mencegat langkah bibi yang sedang berlari menuruni anak tangga dengan Ramon yang mengikutinya dari belakang.
“Nyonya Caterine tuan, Nyonya Caterine.” Dengan napas tersengal bibi mencoba berbicara.
Rayan menelan ludahnya. Rasa khawatir mulai merayapi hatinya. Sudah hampir seminggu Caterine tidak pernah mau keluar dari kamarnya. Caterine juga selalu menolak dan tidak mau membuka pintu kamarnya jika tau Rayan yang berada didepan pintu kamarnya.
“Kenapa dengan mommy?” Tanya Rayan menatap bibi serius.
“Nyonya Caterine tuan. Dia..” Bibi menggantungkan ucapanya lagi karna napasnya yang tersengal. Hal itu membuat Rayan sedikit emosi hingga hilang rasa sabarnya.
__ADS_1
Rayan berlari melewati bibi dengan sangat terburu buru. Rayan tidak ingin mendengar apapun dari bibi. Rayan ingin memastikan sendiri ada apa dengan Caterine.
Ketika sampai didepan pintu kamar Caterine yang terbuka Rayan berhenti melangkah. Pria itu mematung melihat Caterine yang tergeletak dilantai dengan pergelangan tangan bersimbah darah. Ya, Caterine menyayat sendiri pergelangan tangan-nya.
“Mommy...” Lirih Rayan kemudian segera berlari menghampiri tubuh tidak berdaya Caterine.
Semua orang dikediaman Rayan dibuat panik dan kalang kabut saat melihat Rayan yang membopong Caterine yang tidak sadarkan diri. Hal itu juga membuat Sechil menangis karna khawatir dengan keadaan Caterine. Sedang Alana, wanita itu tidak habis pikir dengan apa yang Caterine lakukan. Tapi Alana menebak Caterine pasti punya tujuan melakukan hal tersebut. Apa lagi jika tidak untuk memancing simpati Rayan dan Sechil.
Caterine langsung dilarikan kerumah sakit dengan penanganan dokter terpercaya. Dan selama Caterine ditangani Rayan terus memeluk Sechil yang menangis.
“Menurut kamu apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya Alana pada Ramon yang duduk disampingnya.
Ramon yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya. Ramon mengeryit menatap tidak mengerti pada Alana yang tiba tiba bertanya seperti itu.
“Apa maksud kak Alana?” Tanya Ramon bingung.
“Mommy itu orang yang banyak akal. Mommy bisa memikirkan apa yang tidak kita pikirkan Ramon.” Jawab Alana.
Ramon masih tidak mengerti. Ramon belum benar benar memahami bagaimana seorang Caterine.
“Saran aku, kamu harus waspada dan lebih hati hati. Kamu juga harus menjaga Sechil.”
Ramon semakin merasa bingung. Dalam benaknya rasanya sangat mustahil Caterine mencelakai Sechil, putri kandungnya sendiri.
“Bagaimana keadaan mommy saya dokter?”
Pertanyaan Rayan membuat Alana dan Ramon langsung menatap padanya. Keduanya dengan kompak bangkit kemudian mendekat pada Rayan dan Sechil.
__ADS_1
“Mommy saya baik baik saja kan dok? Dia tidak apa apa kan dok?” Sechil ikut bertanya dengan nada tidak sabaran. Suaranya bergetar dengan isak tangis yang menyertai.
Alana dan Ramon hanya diam saja. Mereka menunggu jawaban dari dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD menangani Caterine.
“Kondisi nyonya Caterine cukup mengkhawatirkan. Dia kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor secepatnya.” Jawab dokter pria baya tersebut.
“Ambil darah saya dok.” Rayan berkata dengan sangat cepat. Rayan tidak bisa mengelak, dirinya merasa takut sekarang. Caterine ibunya. Dan Caterine sedang tidak baik baik saja. Rayan takut sesuatu yang buruk terjadi pada Caterine. Bagaimanapun juga Caterine adalah ibu kandungnya. Caterine wanita yang melahirkan-nya dan telah berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan-nya.
Alana yang mendengar itu tersenyum. Alana merasa lega karna Rayan tidak benar benar tidak perduli pada Caterine lagi. Namun di satu sisi Alana juga merasa khawatir Rayan akan terlalu simpati pada Caterine. Alana takut Rayan berubah dan terlalu memihak pada Caterine nantinya.
Alana tidak berkata apa apa saat Rayan, Ramon dan Sechil mengikuti dokter itu. Alana menghela napas kemudian memilih untuk berlalu pergi. Alana tidak ingin mendengar apapun sekarang. Alana merasa memerlukan tempat untuk bersandar sekarang. Alana tidak bisa menangkis rasa khawatirnya sekarang.
Tanpa sepengetahuan Rayan, Alana pergi diam diam menuju rumah ibunya Sari. Alana juga mematikan hp-nya tidak ingin diganggu oleh siapapun meski itu Rayan.
“Sudah sampai nyonya.”
Ucapan supir taxi yang ditumpangi Alana berhasil membuyarkan lamunan Alana. Alana segera merogoh tas kecilnya dan membayar ongkos taxi kemudian keluar dari taxi tersebut.
Alana menatap nanar kediaman ibunya. Alana merasa kacau sekarang. Rayan, pria itu pasti tidak menyadari kepergian-nya dari rumah sakit sekarang. Rayan terlalu mengkhawatirkan Caterine yang entah kenapa tiba tiba berusaha mengakhiri hidupnya sendiri.
Alana memanggil pak satpam yang sedang berjaga di posnya dan meminta untuk dibukakan pintu gerbang. Setelah pak satpam membuka pintu gerbang Alana tidak lupa berterimakasih pada pak satpam. Alana melangkah pelan melewati halaman rumah ibunya yang memang tidak seluas halaman kediaman mewah Rayan. Alana berpikir mungkin dengan berada disamping ibunya pikiran-nya bisa sedikit tenang.
“Alana?!” Sari yang saat itu sedang membuat adonan kue diruang tamu terkejut begitu mendapati Alana muncul didepan pintu utama rumahnya. Sari langsung menyudahi aktivitasnya kemudian mendekat pada Alana yang terus berdiri diam diambang pintu rumahnya.
“Nak, mana Rayan? Kenapa kamu sendirian?” Sari yang tidak melihat keberadaan Rayan langsung merasa khawatir. Ditambah Alana yang langsung berhambur memeluknya dengan sangat erat serta tubuhnya yang bergetar.
Mengerti dengan keadaan putrinya, Sari pun segera menuntun Alana untuk masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1