Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 164


__ADS_3

Tidak mau masalah putrinya dan Rayan semakin berlarut larut, Sari segera menghampiri Alana yang memang langsung mengurung dirinya dikamar. Satu kebiasaan yang gampang sekali terbaca saat Alana sedang merajuk.


“Boleh ibu masuk?” Tanya Sari melongokan kepalanya di celah pintu kamar Alana dan Rayan yang terbuka.


Alana menghela napas pelan dan memutar jengah kedua bola matanya. Alana tau Rayan pasti meminta bantuan pada Sari agar membujuknya.


Enggan menjawab, Alana tetap pada posisinya duduk ditepi ranjang dengan memunggungi pintu.


Sari tersenyum melihatnya. Sari memang tidak pernah hamil. Sari juga tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ngidam. Dan juga Sari tidak pernah merasakan bagaimana sensitifnya perasaan wanita yang sedang mengandung.


Pelan pelan Sari melangkah mendekat pada Alana. Sari menghela napas ketika sampai tepat didepan Alana yang masih diam dan enggan untuk menatapnya.


“Ibu pasti dimintai tolong sama Rayan buat bicara dan bujuk aku kan?” Tanya Alana yang sudah tau maksud Sari mendekatinya.


Sari tertawa pelan.


“Memangnya kentara sekali ya?” Tanyanya balik.


Alana berdecak. Entah kenapa akhir akhir ini Alana mudah sekali emosi apa lagi jika pada Rayan. Terlebih semalam Alana melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat. Rayan digandeng oleh Juita, walaupun memang Rayan terlihat menolak dan tidak suka dengan apa yang Juita lakukan.


“Ibu tidak pernah hamil. Jadi ibu tidak tau bagaimana rasanya.” Ujar Sari membuat Alana langsung menoleh padanya.


Alana menggeleng pelan. Alana tidak bermaksud membuat Sari tersinggung.


Sari menghela napas sekali lagi kemudian duduk disamping Alana.


“Ibu tau bagaimana rasanya nak. Mungkin kamu gampang sekali kesal dan marah. Tapi ibu juga tau bagaimana suami kamu, Rayan. Ibu mengenalnya sejak kecil. Dan ibu merasa sekarang dia sangat berbeda dari yang dulu. Sepertinya itu karna kamu.” Lanjut Sari.


“Nak...” Sari meraih tangan Alana mengusap punggung tangan-nya dengan lembut.


“Rayan sangat mencintai kamu. Ibu tau itu. Rayan bukan tipe laki laki yang gampang jatuh cinta pada wanita. Jadi kamu tidak perlu khawatir Rayan akan jatuh cinta pada nona Juita.”


Alana mengeryit.

__ADS_1


“Ibu mengenal Juita?” Tanya Alana penasaran.


“Ya, dulu Caterine pernah sekali datang saat Rayan masih duduk dibangku kuliah. Caterine mengenalkan nona Juita pada Rayan namun Rayan menolak karna saat itu Rayan memiliki nona Sakura.” Jawab Sari pelan.


“Tapi saat itu Rayan mudah sekali menyekapku, apa karna aku mirip dengan Sakura bu? Bagaimana jika sekarang wajahku berubah? Apa Rayan tetap akan mencintaiku?”


Sari menoleh menatap tidak mengerti dengan jalan pikiran putri kesayangan-nya itu.


“Kenapa kamu sampai berpikir sejauh itu Alana?” Tanya Sari tidak menyangka.


Alana diam. Alana sendiri tidak tah ada apa dengan perasaan-nya. Alana gampang sekali marah bahkan cemburu meski sudah tau bagaimana kenyataan yang sebenarnya.


“Aku nggak tau bu..” Gelengnya menjawab dengan suara lirih.


Sari kemudian menarik Alana dan memeluknya dengan lembut. Sari juga mengusap usap punggung Alana mencoba untuk menenangkan perasaan Alana yang mungkin sedang sangat bergejolak karna kehamilan-nya.


“Kamu harus tenang sayang.. Tetap berpikir positif. Rayan hanya mencintai kamu. Kamu harus percaya itu.” Bisik Sari yang membuat Alana mengangguk serta mengeratkan pelukan-nya.


-------


Rayan membuka pelan pintu kamarnya dan mendapati Alana sedang mematut dirinya didepan cermin besar yang bisa memperlihatkan bayangan-nya dari atas sampai bawah. Alana mengenakan dress yang sedikit terbuka kali ini.


Rayan menghela napas. Entah kenapa Rayan merasa Alana seperti sedang menirukan gaya pakaian Sakura dulu.


Rayan melangkah pelan mendekat pada Alana. Pria itu berdiri tepat didepan Alana membuat tatapan mereka bertemu saat itu juga. Benar saja, Alana menirukan gaya berpakaian bahkan make up Sakura, mendiang kekasih Rayan yang sudah lama tiada.


“Bagaimana?” Tanya Alana dengan senyuman yang mulai terukir dibibirnya.


Rayan ikut tersenyum. Tanganya menyentuh tali dress warna toska yang menyeberangi bahu putih bersih Alana memainkan-nya sebentar.


“Kamu cantik Alana. Tapi kamu akan lebih cantik jika menjadi diri kamu sendiri.” Jawab Rayan pelan.


Alana tetap mempertahankan senyuman dibibirnya. Mendengar pujian Rayan yang mengatakan Alana cantik jika menjadi dirinya sendiri Alana merasa terbang.

__ADS_1


“Oh ya?” Tanya Alana pelan.


Rayan menganggukan kepalanya. Rayan kemudian menurunkan tali dress itu dari bahu Alana. Satu kecupan singkat namun mesra Rayan daratkan dibahu terbuka Alana.


“Aku menyukai kamu yang apa adanya Alana. Bukan sebagai sosok Sakura atau yang lain-nya..” Bisik Rayan sambil meniup pelan bahu Alana membuat sensasi hangat dikulit terbuka Alana.


“Tentu saja harus begitu. Aku bukan pengganti siapapun. Aku Alana, bukan Sakura.” Balas Alana mantap.


“Bagus kalau kamu tau dan menyadari itu sayangku. Sekarang lebih baik ganti penampilanmu seperti Alanaku yang biasanya.” Perintah Rayan lembut.


Alana menurut saja. Moodnya langsung naik saat Rayan mengecup bahunya. Rasanya sangat aneh tapi nyaman.


Rayan duduk ditepi ranjang menatap Alana yang mengganti dressnya juga menghapus dan merias kembali wajahnya dengan make up natural ala dirinya sendiri. Rayan tertawa ketika melihat Alana yang terlihat beberapa kali bingung memilih warna lipstik yang dirasa pas untuknya.


Setelah rapi dengan penampilan ala dirinya sendiri, Alana pun segera mengajak Rayan untuk pergi. Dress warna coklat susu berlengan pendek dengan bentuk mayung dibawahnya membuat Alana terlihat manis dengan penampilan simpelnya.


“Kapan kita akan kembali kerumah lama?” Tanya Alana saat Rayan sedang membantunya mengenakan sabuk pengaman.


Rayan tersenyum dengan wajah yang semakin dia dekatkan pada Alana. Ketika ujung hidungnya sudah menempel dengan ujung mancung Alana, Rayan langsung menjauhkan kembali wajahnya membuat Alana merengut kecewa. Padahal Alana pikir Rayan akan menciumnya.


“Setelah urusan pembatalan perjodohan aku dan Juita selesai sayang kita langsung pulang kerumah lama.” Jawab Rayan tersenyum.


Alana tetap merengut membuat Rayan merasa semakin gemas.


“Tolong jangan ber ekspresi seperti itu Alana. Ini dimobil dan aku tidak akan bisa menahan-nya jika wajahmu terus seperti itu.” Katanya membuat kedua pipi Alana langsung merona. Alana mendadak mengingat romantisnya mereka dipulau saat bulan madu.


“Oke, kita berangkat sekarang.”


Rayan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Juita dan Luky sudah menunggunya didepan kantor polisi tempat Caterine ditahan. Dan Rayan ingin semua permasalahanya cepat selesai meskipun memang mungkin akan muncul masalah baru akibat ketidak sepahaman Caterine dengan-nya.


Benar saja, sesampainya disana dan Juita menjelaskan tentang maksud kedatangan-nya Caterine tidak terima. Caterine bahkan kembali menuduh Alana yang menjadi penyebab kedua orang tua Juita membatalkan rencana perjodohan Rayan dan Juita.


“Dasar benalu !!” Umpat Caterine pada Alana yang tetap santai duduk disamping Rayan.

__ADS_1


Juita yang mendengarnya secara langsung kata kata tidak pantas yang Caterine ucapkan pada Alana menyipitkan kedua matanya tidak percaya. Juita tidak bisa membayangkan jika sampai perjodohan-nya tetap dilanjutkan. Caterine wanita egois dan tidak mau mengakui kesalahan-nya. Dan Juita merasa tidak bisa berhubungan baik dengan orang seperti Caterine.


__ADS_2