Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 190


__ADS_3

Setelah mengantarkan Ramon dan Sechil pulang, Rayan langsung berangkat menuju perusahaan-nya. Rayan sudah merasa lega sekarang. Masalah Sechil dan Ramon sudah selesai. Dan sekarang waktunya Rayan memikirkan bagaimana baiknya untuk Caterine, mommy nya.


“Terimakasih atas waktunya tuan. Dan semoga kerja sama kita bisa semakin lancar kedepan-nya. Saya permisi dan selamat siang tuan.” Ujar seorang pria berambut cepak menjabat tangan Rayan. Mereka baru saja selesai membahas tentang kerja sama antar perusahaan yang memang selama ini terjalin cukup baik.


“Ya, selamat siang.” Jawab Rayan tersenyum tipis.


Pria bersetelan jas abu abu itu kemudian berlalu dari ruangan Rayan hingga akhirnya hanya tersisa Rayan seorang diri.


Rayan menghela napas kemudian berjalan menuju meja kerjanya. Rayan mendudukkan dirinya dikursi kerjanya dengan punggung bersandar sepenuhnya. Rayan mencoba memikirkan apa yang terbaik untuk Caterine dan semuanya. Karna Caterine tidak mungkin dibiarkan tetap dipenjara sedang kondisinya sangat tidak memungkinkan. Dibawa pulang juga lebih tidak mungkin karna itu pasti akan membahayakan Alana. Ditempatkan dirumah sakit jiwa rasanya itu terlalu kejam untuk Caterine mengingat Caterine adalah ibu kandung Rayan sendiri.


Rayan memejamkan kedua matanya mengerang frustasi. Rayan tahu dibalik semua masalah yang dihadapinya pasti terdapat hikmah dan pembelajaran yang bisa dia ambil. Tapi Rayan juga tidak bisa memungkiri jika masalah Caterine selalu menguras tenaga juga pikiran-nya.


Tok tok tok


Suara tiga kali ketukan pintu membuat Rayan membuka kembali kedua matanya. Rayan membenarkan posisi duduknya kemudian berseru menyuruh siapapun yang mengetuk pintu ruangan-nya untuk masuk.


Perlahan pintu ruangan Rayan terbuka memunculkan Luky yang membawakan makan siang untuknya.


Luky segera menyiapkan makanan itu untuk Rayan. Sebenarnya itu bukanlah tugas Luky. Itu adalah tugas sekertaris Rayan. Namun Rayan tidak pernah mau jika seorang wanita terlalu mengurusinya jika tidak ada hubungan saudara. Oleh karna itu Rayan menyuruh Luky sebagai orang kepercayaan-nya untuk selalu menyiapkan apa saja yang Rayan mau.


“Makan siang anda sudah siap tuan..” Ujar Luky menghadap pada Rayan yang hanya diam saja dimeja kerjanya.


“Terimakasih Luky.”


“Sama sama tuan. Apa ada yang anda perlukan lagi tuan?”

__ADS_1


“Tidak, sudah cukup. Kamu boleh istirahat.” Jawab Rayan dengan senyuman tipisnya.


“Baik tuan. Kalau begitu saya permisi.”


Rayan menganggukan kepalanya. Setelah Luky berlalu dari ruangan-nya, Rayan bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju sofa dimana makan siang untuknya sudah tersaji diatas meja kaca didepan sofa itu.


Rayan mendudukan dirinya disofa. Suasana diruangan-nya sangat hening. Dan keheningan itu membuat pikiran Rayan tidak bisa teralihkan dari Caterine yang memang sedang tidak baik baik saja sekarang.


Satu notifikasi masuk di hp miliknya membuat Rayan tersentak. Notifikasi itu terdengar sangat nyaring bunyinya mungkin karna pengaruh keheningan ruangan Rayan ditambah pikiran Rayan yang sedang sedikit tidak fokus saat itu.


Rayan bangkit kembali dari duduknya disofa dan melangkah menuju meja kerjanya. Rayan meraih hp miliknya dan tersenyum ketika mendapati pesan singkat yang dikirim oleh Alana.


Saat itu juga pikiran Rayan langsung teralihkan. Rayan langsung menghubungi Alana untuk menjernihkan pikiran-nya.


Selama 20 menit Rayan ditemani oleh Alana lewat video call. Meskipun Alana tidak bisa secara langsung hadir, tapi itu sudah cukup membuat Rayan kembali semangat bahkan tanpa sadar Rayan menghabiskan makan siangnya.


Begitu waktu makan siang selesai, Rayan kembali melanjutkan pekerjaan-nya.


Tidak terasa waktu pulang begitu cepat tiba. Sebelum pulang kerumah Rayan memilih untuk berziarah dimakam Richard.


Rayan berjongkok disamping pusara Richard. Pria itu melepas kaca mata hitam yang dikenakan-nya. Rayan tersenyum. Kepergian Richard sudah sangat lama. Tapi rasa kehilangan itu tetap terasa begitu Rayan mengingat masa lalu indahnya bersama sang Daddy.


“Jika saja aku bisa memutar waktu dad, Aku akan mencegah daddy pergi malam itu. Dan mungkin sekarang daddy masih ada bersamaku..” Gumam Rayan sambil menaruh setangkai bunga mawar putih yang dibawanya didepan nisan Richard.


Rayan menghela napas. Semilir angin sore itu membuat Rayan merasakan sejuk dikulit wajah bahkan tubuhnya.

__ADS_1


“Tapi aku tau dad semua yang terjadi adalah takdir tuhan. Meskipun malam itu daddy tidak pergi dan bisa menghindari kecelakaan itu tapi daddy pasti akan tetap pergi dengan cara lain.”


“Daddy pasti tau apa yang sedang aku alami. Tentang kebahagiaan aku, sampai kebingunganku daddy pasti bisa melihatnya. Terutama tentang mommy.”


Rayan menghela napas lagi, menjeda sejenak ucapan-nya.


“Dad.. mungkin aku tidak bisa memenuhi permintaan daddy tentang mommy. Karna bagaimanapun juga aku tidak bisa mengabaikan mommy. Mommy sudah berjasa besar padaku. Melahirkan dan menyusuiku, itu adalah jasa mommy yang tidak akan bisa aku tebus bahkan dengan semua harta yang aku miliki sekarang sekalipun dad..”


Rayan mengusap nisan Richard. Kebersamaan-nya bersama Richard yang terasa begitu singkat tidak akan terlupakan seumur hidupnya. Richard yang selalu meluangkan waktu ditengah kesibukan-nya yang padat untuk sekedar menemani Rayan bermain bola.


“Dad.. Aku mohon sama daddy.. Tolong restui setiap apa yang aku lakukan..” Lirih Rayan dengan kedua matanya yang mulai berkaca kaca.


Rayan diam, menatap lekat nama Richard yang tertulis dinisan yang terbuat dari batu marmer berharga itu. Kepergian Richard meninggalkan luka yang begitu dalam dihati Rayan. Tapi dibalik luka yang Rayan rasakan ada pelajaran yang sangat berharga yang bisa Rayan petik hikmahnya.


“Sudah sore dad.. Aku harus pulang.. Istri tercintaku pasti sudah menunggu kepulanganku..”


Rayan menghapus air mata yang hampir menetes membasahi pipi tirusnya. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya. Senyumnya mengembang menatap makam sang daddy yang memang begitu rapi dan terawat.


“Aku pulang dulu dad.. Daddy tenang disana ya..”


Rayan menghela napas kemudian melangkah pelan menjauh dari makam Richard. Rayan yakin Richard pasti setuju dengan apa yang dilakukan-nya sekarang. Karna semuanya Rayan lakukan demi kebaikan mereka bersama.


Rayan masuk kedalam mobilnya. Dengan kecepatan sedang Rayan melajukan mobilnya. Saat ditengah jalan Rayan menghentikan mobilnya tepatnya didepan sebuah toko bunga. Rayan tersenyum menatap toko bunga itu. Senyuman Alana tiba tiba membayanginya membuat Rayan berinisiatif untuk memberikan kejutan kecil pada istri tercintanya itu.


Rayan turun dari mobilnya dan melangkah kearah toko bunga tersebut. Jika dulu pak Lim yang membelikan bahkan memilihkan bunga yang akan Rayan berikan pada Alana, tapi tidak untuk kali ini. Rayan memilih sendiri bunga yang menurutnya bagus untuk diberikan pada Alana. Meski sempat kebingungan namun Rayan akhirnya menemukan bunga pilihan-nya untuk Alana.

__ADS_1


Rayan tersenyum menatap sebuket bunga yang dipegangnya. Rayan berharap pilihan-nya bisa membuat Alana tersenyum saat menerima kejutan kecil darinya malam ini.


__ADS_2