
“Sekarang kamu bisa jelaskan semuanya sama aku Ramon..” Tuntut Claudia begitu mereka sampai ditaman yang cukup sepi yang memang tidak jauh dari rumah kontrakan Ramon dan Sechil.
Claudia sudah turun dari motor metik Ramon dan berdiri tepat disamping Ramon yang masih duduk diatas motornya.
Ramon menghela napas kemudian tertawa pelan.
“Jujur Claudia, aku merasa sebenarnya tidak ada yang perlu dijelaskan sama kamu. Tapi baiklah kalau kamu ingin tau yang sebenarnya tentang aku dan Sechil.”
Jeda sejenak. Ramon menatap Claudia yang berdiri disampingnya dengan kedua mata berkaca kaca.
“Aku dan Sechil adalah suami istri. Kami sudah menikah.” Lanjut Ramon.
Kedua mata Claudia membulat sempurna. Claudia tidak menyangka dengan pengakuan enteng Ramon padanya.
“Ramon kamu..”
“Claudia tolong jangan membuat asumsi seolah kita mempunyai hubungan lebih dari teman. Aku nggak mau istriku sampai salah paham. Kamu tau sendirikan dia sedang hamil?” Sela Ramon dengan pelan.
Claudia menggelengkan kepalanya. Seluruh mahasiswa maupun mahasiswi dikampus tau siapa Sechil. Bahkan berita tentang kehamilan Sechil juga sudah menyebar kesemua telinga teman teman mereka dikampus. Dari senior sampai junior. Semua sudah tah.
“Dia hamil bukan sama kamu Ramon. Harusnya kamu tidak menikah dengan-nya. Sechil bukan wanita baik baik.” Claudia berkata dengan suara bergetar karna menangis. Sakit itu yang saat ini dia rasakan.
“Aku tidak perduli. Yang penting aku mencintainya.” Balas Ramon tegas.
Claudia merasa hatinya benar benar patah sekarang. Perasaan-nya hancur dan itu karna Ramon. Pria yang diam diam dicintainya dari dulu.
“Ramon kamu..”
“Kenapa kamu menangis Claudia?” Tanya Ramon menyela.
Claudia langsung menundukan kepalanya. Kebaikan dan perhatian-nya pada Ramon bukan tanpa alasan. Claudia menganggap kedekatan mereka selama ini bukan hanya kedekatan seorang teman. Dan karna kedekatan itu Claudia menaruh harapan cukup besar pada Ramon.
Claudia menangis terisak membuat Ramon semakin merasa tidak tega. Tapi Ramon sadar dengan posisinya sekarang. Tidak mungkin Ramon menenangkan Claudia dan memeluknya, itu akan membuat Claudia bahkan Sechil salah paham padanya.
“Kenapa kamu nggak bisa ngertiin perasaan aku Ramon? Kenapa?”
__ADS_1
Ramon hanya diam saja. Ramon tidak mengerti dengan apa yang Claudia pertanyakan padanya.
“Kita selalu dekat dikampus. Kamu tidak pernah menolak keberadaanku disamping kamu bahkan hampir setiap hari. Orang lain bahkan mengira kita pacaran. Tapi kenapa kamu seperti orang bodoh yang tidak tau apa apa?”
Ramon memejamkan kedua matanya. Ramon tidak pernah sekalipun merasa kedekatan-nya dengan Claudia spesial. Ramon hanya menganggap Claudia teman biasa.
“Apa aku masih kurang cantik? atau apa karna aku tidak seliar Sechil?”
Ramon menyipitkan kedua matanya menatap tidak suka pada Claudia yang membanding bandingkan dirinya dengan Sechil.
“Jaga mulut kamu Claudia. Sechil istriku sekarang. Dia sudah berubah dan dia adalah istri yang baik untuk aku.” Ramon kembali berkata tegas pada Claudia.
Claudia semakin terisak. Tubuhnya perlahan meluruh hingga akhirnya Claudia terduduk ditanah. Claudia menangis tanpa sedikitpun merasa malu pada Ramon yang berada disampingnya.
“Aku mencintai kamu Ramon. Kenapa kamu nggak pernah mau mengerti.” Ungkapnya sambil terisak pilu.
Ramon menelan ludahnya. Jika kedekatan-nya membuat Claudia salah mengartikan maksudnya, dari awal Ramon tidak akan mau banyak mengobrol bahkan ditugaskan satu tim oleh dosen dengan Claudia.
“Terimakasih Claudia untuk cinta kamu. Terimakasih juga karna kamu tidak pernah memandangku sebelah mata. Tapi maaf, cintaku hanya untuk istriku.” Balas Ramon pelan.
“Mulai sekarang aku minta sama kamu Claudia, tolong hapus rasa cinta kamu untuk aku. Dan akan lebih baik lagi kalau kita tidak lagi saling bicara sampai kamu bisa melupakan aku sepenuhnya.”
Setelah berkata seperti itu, Ramon kembali menghidupkan mesin motor metiknya kemudian berlalu meninggalkan Claudia sendiri ditaman tersebut. Meski sebenarnya tidak tega, tapi Ramon harus tetap melakukan-nya demi keutuhan rumah tangganya dan Sechil.
Ketika Ramon sampai dikontrakan-nya, hujan deras tiba tiba turun. Ramon yang tidak mau kebasahan segera berlari masuk kedalam rumah.
Sechil yang memang saat itu masih menunggu langsung mendekat pada Ramon.
“Bagaimana Claudia?” Tanya Sechil pada Ramon yang langsung terdiam.
Rasanya tidak mungkin jika Ramon menceritakan semuanya. Tentang Claudia yang menangis bersimpuh ditanah.
“Enggak apa apa kok. Aku udah jelasin semuanya dan Claudia ngerti.” Jawab Ramon yang kali ini terpaksa berbohong pada Sechil.
Sechil tidak bisa percaya begitu saja. Claudia memang sudah lama memendam rasa pada Ramon. Dan mungkin kesempatan ketiadaan Sechil dikampus membuat Claudia merasa memiliki celah lagi untuk mendekati Ramon.
__ADS_1
“Jangan bohong Ramon. Aku tau siapa dan bagaimana Claudia.”
Ramon menghela napas.
“Maaf, aku hanya tidak ingin kamu memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kamu pikirkan.”
“Tapi tidak berarti kamu harus bohong Ramon.” Balas Sechil cepat.
Ramon menganggukan kepalanya mengerti.
“Claudia, dia menangis saat aku jujur tentang hubungan kita. Dia juga bilang mencintaiku.” Kata Ramon pelan.
Sechil memejamkan kedua matanya sesaat.
“Lalu kenapa kamu tidak antar dia pulang?” Tanyanya.
Ramon menatap tidak mengerti pada Sechil. Mengantar Claudia pulang tentu saja akan membuat Claudia semakin salah mengartikan perasaan Ramon padanya.
“Aku tidak semunafik itu Sechil. Aku tidak akan memikirkan yang lain sekarang kecuali kamu. Kamu orang pertama yang harus aku pastikan selalu baik baik saja sekarang.” Ramon berkata dengan nada tegas membuat Sechil menatap tidak percaya padanya.
“Dengar Sechil..” Ramon meraih kedua pundak Sechil dan mencengkeramnya lembut.
“Apapun yang Claudia lakukan disana itu bukan urusan aku lagi. Kamu yang terpenting dalam hidup aku sekarang. Kamu dan anak kita.”
Sechil tidak bisa berkata apa apa sekarang. Tapi Sechil tidak bisa begitu saja melupakan bagaimana Claudia sekarang. Sechil takut Claudia nekat melakukan sesuatu apa lagi sekarang hujan lebat.
“Tolong mengerti aku Sechil. Tolong banget..” Lirih Ramon kemudian.
Sechil menatap Ramon yang juga menatapnya. Tatapan Ramon begitu sangat dalam padanya. Dan dari tatapan itu Sechil bisa dengan jelas melihat permohonan Ramon agar Sechil bisa memahami perasaan-nya sekarang.
“Aku mencintai kamu Sechil. Hanya kamu.”
Perlahan Sechil tersenyum. Dibanding dengan Claudia, Sechil bukanlah apa apa. Claudia adalah mahasiswi teladan sejak dulu. Claudia pintar, cantik, lemah lembut, juga Rajin. Claudia bahkan selalu berada satu peringkat dibelakang Ramon. Namun pada kenyataan-nya semua kelebihan yang Claudia miliki tidak bisa membuat Ramon mencintainya. Sebaliknya, Ramon malah memilih Sechil dengan segala kekurangan yang Sechil miliki.
“Terimakasih Ramon. Aku juga mencintai kamu.” Balas Sechil.
__ADS_1
Ramon tersenyum mendengarnya kemudian menarik lembut tubuh Sechil kedalam pelukan hangatnya. Ramon berharap setelah ini Claudia bisa memahami semuanya.