Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 177


__ADS_3

Selesai sarapan Rayan langsung bergegas berangkat. Rayan bahkan menolak saat Alana hendak mengantarnya sampai depan rumah karna melihat makanan dipiring Alana yang masih utuh.


“Nggak usah repot repot Alana. Kamu duduk dan habiskan saja sarapan kamu. Aku berangkat yah..” Begitu katanya sembari mencium kening Alana sebelum melangkah berlalu dari meja makan.


Alana tersenyum menatap punggung Rayan yang menjauh darinya. Pagi ini Rayan sangat romantis meski sesudahnya terlihat sedikit dingin. Tapi itu tidak masalah untuk Alana karna pada dasarnya sikap Rayan memang sedikit dingin.


“Emm.. sayang, ibu dan bibi mau belanja kepasar setelah ini. Apa kamu mau dibelikan sesuatu?” Tanya Sari mengalihkan perhatian Alana.


Alana menatap Sari kemudian menggelengkan kepala dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.


“Kayanya nggak usah deh bu..” Jawabnya.


“Ya sudah kalau begitu. Kamu hati hati dirumah ya.. Kalau mau keluar ajak Fina atau Roky saja..” Ujar Sari kemudian.


“Ya bu..” Angguk Alana.


“Ya sudah, habiskan sarapan-nya sayang. Ibu mau cek semua yang perlu dibeli dulu sama bibi..”


Alana menganggukan lagi kepalanya. Setelah Sari bangkit dari kursinya dan berlalu dari meja makan, Alana pun melanjutkan menghabiskan sarapan-nya. Hari ini Alana sedang tidak berencana ingin kemanapun. Alana hanya ingin dirumah saja.


Tidak lama Sari dan bibi pamit pergi kepasar pada Alana yang memang sudah menghabiskan sarapan-nya. Keduanya pergi dengan pak Lim yang mengantar.


Sedangkan Alana, wanita hamil itu memilih kembali kekamarnya dengan menaiki lift setelah itu. Alana benar benar tidak ingin keluar kamanapun sekarang. Rasanya malas dan sedikit lemas. Alana hanya ingin bersantai sendiri tanpa siapapun.


Alana mendudukan dirinya dikursi dibalkon luas kamarnya. Saat hendak menyalakan hp nya tiba tiba benda pipih itu berdering. Alana mengeryit begitu mendapati nomor baru tanpa nama yang terpapar dilayar menyala hp miliknya.


Alana terdiam sesaat. Tidak banyak yang tau nomornya setelah Rayan membelikan hp baru untuknya dulu. Hanya keluarganya saja dan Rayan yang tau karna memang Alana malas jika harus meladeni orang yang tidak penting.

__ADS_1


Walaupun malas namun Alana tetap memutuskan untuk mengangkatnya. Alana berpikir bisa saja itu penting. Toh kalau memang si penelepon orang yang tidak jelas Alana bisa langsung memblokir nya.


“Halo Alana... ini aku, Michelle..” Suara pelan dan lembut itu langsung terdengar begitu Alana mengangkat telepon tersebut.


Alana terdiam masih enggan menyaut. Tapi Alana tetap menempelkan benda pipih itu ditelinga kanan-nya. Alana tidak memutuskan sambungan telepon-nya.


“Aku dapat nomor kamu dari salah satu body guard yang berjaga dirumah kamu dan tuan Rayan. Namanya Roky.. Aku memaksanya dan mengatakan aku teman kamu.. Mohon jangan marahi dia ya karna aku yang memaksa..” Ujar Michelle lagi.


Alana menghela napas. Michelle, sebelumnya mereka memang sudah beberapa kali bertemu dan Michelle tetap terlihat baik juga lembut. Michelle tidak sinis padanya seperti Dion saat Alana dan Rayan menghadiri pesta pernikahan mereka.


“Eemm.. Alana, kalau kamu tidak keberatan boleh tidak aku main kerumahmu. Dengan mamahku.”


Alana mengeryit. Alana juga mengenal siapa mamah Michelle. Cindy, dia wanita cantik dengan tinggi semampai yang sangat baik dan perhatian.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Alana. Aku janji setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi kalau kamu tidak suka.” Michelle terus berbicara meski Alana hanya diam mendengarkan saja. Michelle juga tidak berpikiran buruk dan menganggap Alana sedang mendengarkan-nya meski tidak menyaut.


“Mamah aku juga mengatakan ingin bertemu dengan kamu. Dia bilang kangen karna sudah lama tidak bertemu..” Tambah Michelle lagi.


Pelan pelan Alana membuka kembali kedua matanya. Dengan apa yang Dion dan Michelle lakukan dibelakangnya itu sudah menjadi petunjuk dari tuhan bahwa Dion memang bukan pria yang layak untuk Alana pertahankan. Dan tuhan mempertemukan-nya dengan pria seperti Rayan. Pria yang meskipun begitu kejam diawal namun pada akhirnya begitu sangat baik dan mampu membuat Alana bahagia.


“Alana..”


“Oke, aku tunggu kamu dan tante siang ini dirumah.” Sela Alana memutuskan untuk mengiyakan keinginan Michelle.


“Iya Alana... Baik, aku dan mamah akan datang. Bagaimana kalau kita makan siang saja diluar bersama?”


Michelle terdengar sangat antusias bahkan menawarkan untuk keluar dan makan siang bersama.

__ADS_1


“Makan siang dirumahku saja.” Balas Alana singkat.


“Tapi kami akan sangat merepotkan kamu Alana kalau seperti itu. Ah begini saja, aku dan mamah akan bawakan makan siang untuk kita. Kita makan bersama dirumahmu ya..”


Alana berdecak. Dari dulu Michelle memang cukup bawel dan banyak bicara. Tapi Alana tidak menyangka Michelle begitu bodoh dan mau saja menjadi boneka Dion.


“Terserah kalian saja.” Kesal Alana kemudian segera memutuskan sambungan telepon-nya.


Setelah Alana memutuskan sambungan telepon-nya sebuah notifikasi pesan masuk ke hp nya. Pesan itu dari Michelle yang meminta izin untuk menyimpan nomornya. Malas menanggapi, Alana hanya membacanya saja kemudian meletakan hp nya diatas meja didepan-nya.


Alana diam dengan tatapan lurus kedepan. Otak cerdasnya mulai memikirkan apa yang yang dilakukan-nya dengan menyetujui permintaan Michelle untuk bertemu.


Alana menghela napas. Jika dipikir lagi, Michelle tidak terlalu bersalah dimasa lalu karna pelaku utamanya adalah Dion. Dion yang tidak setia dan diam diam mempermainkan Alana dulu. Tapi saat itu Alana dan Rayan menikah lebih dulu dari Dion dan Michelle.


Alana berdecak. Enggan melanjutkan memikirkan sesuatu yang sudah tidak penting lagi baginya. Yang terpenting sekarang mereka semua termasuk dirinya sudah mendapat apa yang memang seharusnya didapatkan. Alana dengan kebahagiaan-nya bersama Rayan dan Dion dengan karma atas semua perbuatan-nya.


“Yah.. Tuhan memang sangat adil.” Gumam Alana tersenyum merasa sangat bersyukur dengan apa yang dirasakan-nya sekarang.


------


BRUKKK !!!


Sari sangat terkejut saat tiba tiba ada seseorang yang menabraknya dari belakang sampai buah buahan yang sedang dipilihnya jatuh dan berserakan dilantai.


“Ya tuhan.. Ibu tidak apa apa?” Tanya bibi yang terlihat sangat khawatir. Bibi langsung membantu memunguti buah yang jatuh kelantai. Bibi tidak mau jika Sari sampai mendapat kemarahan dari sipenjual buah yang dimana Sari baru berencana membelinya dan sedang menawar serta memilih kualitas yang bagus.


Sari membalikan tubuhnya untuk melihat siapa yang menabraknya dari belakang. Dan alangkah terkejutnya Sari begitu mendapati Agatha yang berada didepan-nya sedang kesusahan membawa belanjaan-nya.

__ADS_1


“Nyonya Agatha..” Lirih Sari menatap Agatha yang juga tampak terkejut melihatnya.


__ADS_2