Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 44


__ADS_3

Paginya Rayan mengajak Alana untuk bertemu dengan ibunya Sari sebelum mereka berangkat kepulau untuk honeymoon. Sebenarnya Alana sudah pamitan lewat telpon semalam tapi karna Alana merasa kurang srek Alana meminta pada Rayan untuk menemui ibunya lebih dulu.


“Ibu kenapa sih senyum senyum gitu liatin aku?”


Alana dengan wajah bersemu merahnya memalingkan wajah menghindari tatapan menggoda ibunya. Alana sendiri tidak tau kenapa melihat senyuman ibunya dirinya merasa seperti sedang digoda.


“Enggak papa nak. Ibu hanya senang saja melihat kamu bahagia sama tuan Rayan.”


“Rayan saja bu.. Diakan menantu ibu sekarang, bukan majikan ibu lagi.” Kata Alana cepat.


Sari terkekeh mendengarnya. Memanggil langsung dengan menyebut nama didepan orangnya rasanya masih sangat canggung. Apa lagi Rayan adalah mantan majikan-nya.


“Alana benar.. Panggil saja nama saya.” Rayan merasa setuju dengan apa yang Alana katakan.


“Baik tuan, maksud saya Rayan.”


Rayan mengangguk dengan senyuman tipis dibibirnya. Rayan juga sebenarnya tidak menyangka jika pelayan bodoh yang sering membuat kesalahan itu kini menjadi ibu mertuanya. Helaan napas pelan keluar dari bibir Rayan. Obrolan Alana bersama bibi saat itu kembali terngiang ditelinganya. Rayan tidak tau apa yang akan Alana lakukan jika sampai ibunya Sari menceritakan tentang Rayan yang memang sering marah padanya karna kecerobohanya. Alana pasti tidak akan mau mengerti. Alana akan merasa Rayan mendzolimi ibunya.


“Ya sudah bu kami berdua nggak bisa lama lama. Aku cuma mau pamit aja. Soalnya sebentar lagi kita berangkat.”


Alana bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada ibunya. Alana meraih tangan Sari dan menyaliminya dengan sangat tulus.


“Do'akan aku ya bu..” Pinta Alana penuh harap.


Sari tersenyum disertai anggukan kepalanya.


“Itu pasti nak. Ibu akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu juga suami kamu. Senang senang disana ya..”


Alana mengangguk kemudian memeluk erat tubuh Sari. Baginya, Sari adalah segalanya. Sari bukan ibu kandungnya tapi Sari merawat dan membesarkanya dengan penuh cinta. Padahal Alana adalah anak dari madunya, anak dari wanita yang membuat suaminya membagi cinta.


Setelah Alana melepaskan pelukanya, Rayan pun bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada Sari. Rayan merasa ragu sebenarnya ingin menyalimi Sari. Tapi Rayan tau jika dirinya tidak melakukanya Alana pasti akan protes. Lagi pula sekarang Sari adalah ibu mertuanya yang juga harus Rayan hormati.


Tidak jauh berbeda dengan Rayan, Sari pun sangat ragu dan tidak enak hati. Sari bahkan hanya mematung saat Rayan mengulurkan tanganya berniat menyaliminya.

__ADS_1


“Kami berangkat dulu, bu..” Ujar Rayan membuat Sari tersadar dan langsung menerima uluran tangan Rayan.


“Ah iya tuan.. Maksud saya Rayan. Saya titip putri saya.”


Rayan hanya menganggukan kepala dengan senyuman dibibirnya. Pria itu kemudian meraih tangan Alana menuntunya keluar dari kediaman Sari berlalu dari ruang tamu.


“Kita mau kepulau mana sih sebenarnya?”


Rayan menoleh pada Alana yang sedang menatapnya penuh dengan rasa ingin tau. Rayan memang tidak mengatakan akan pergi kemana. Rayan hanya mengatakan akan mengajaknya berlibur kesuatu pulau indah didalam negeri.


“Karna kamu nggak mau naik pesawat, perjalanan kita mungkin akan sangat memakan waktu Alana.”


Alana mengangguk mengerti. Baginya yang terpenting tidak menaiki kendaraan bersayap itu sudah sangat bagus.


“Tidak masalah. Asalkan sama kamu.” Alana menaik turunkan alisnya menggoda Rayan yang malah mengangkat sebelah alis menatapnya.


“Jangan coba coba mengundangku Alana.”


Alana meringis. Rayan gampang sekali terpancing. Tidak hanya emosinya saja tapi juga nafsunya.


Rayan tersenyum miring kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya dan melaju perlahan keluar dari pekarangan rumah Sari.


Saat dalam perjalanan pulang, hp Rayan terus saja berdering. Hal itu mengundang rasa penasaran Alana. Apa lagi Rayan yang tampak cuek dan tidak perduli bahkan seperti tidak berniat mengangkat telpon tersebut.


“Rayan, kamu nggak denger ya?”


Rayan hanya berdecak saja. Rayan tau siapa yang menelponya. Tentu saja, karna nada deringnya memang sengaja Rayan buat berbeda sendiri dari panggilan yang lain.


“Aku lagi tidak mau di ganggu.” Rayan menjawab sekenanya.


Meskipun sempat bingung namun akhirnya Alana mengangguk pelan. Alana berpikir mungkin itu adalah panggilan yang menyangkut tentang perusahaan yang pasti bisa di handle oleh Luky.


Sesampainya dirumah semua persiapan sudah selesai. Tidak banyak yang dipersiapkan oleh para pelayan untuk Alana dan Rayan mengingat mereka tau siapa Rayan. Rayan bukan pria yang mau ribet dengan ini itu. Rayan sangat menyukai sesuatu yang simpel tapi berguna.

__ADS_1


Alana yang melihatnya dibuat kebingungan. Alana merasa ada yang kurang.


“Kenapa?” Tanya Rayan.


“Rayan. Kita mau honeymoon bukan?” Bukanya menjawab Alana malah balik bertanya.


“Memangnya kenapa?”


Keduanya saling melempar pertanyaan didepan bibi dan pelayan lainya.


“Kita nggak bawa apa apa begitu? Memangnya kita mau nginep berapa hari sih dipulau itu? Kenapa nggak ada koper atau barang lainya didalam mobil?”


Rayan menghela napas. Membawa barang terlalu banyak untuk apa jika dipulau kecil yang sudah dia sewa itu telah disiapkan semua keperluan untuk mereka nanti tinggal. Rayan bahkan juga sudah membeli villa untuknya dan Alana tinggal disana.


”Alana.. Jangan banyak protes. Untuk kali ini bisa tolong turuti saja apa mauku?”


Alana diam. Alana menatap wajah tampan Rayan. Ada guratan berbeda yang bisa dengan jelas Alana lihat. Alana menghela napas kemudian menatap satu persatu para pelayan yang berdiri disekitarnya dan Rayan.


“Oke...” Angguknya kemudian melangkah berlalu.


Rayan memejamkan kedua matanya. Hp-nya kembali berdering dan masih dengan nada yang sama. Itu artinya yang menelpon-pun masih orang yang sama.


Merasa terganggu dengan telpon tersebut, Rayan pun merogoh saku dalam jas hitamnya kemudian langsung menonaktifkan hp-nya. Rayan benar benar sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun sekarang, termasuk Mommy-nya.


Rayan melangkahkan kakinya menyusul Alana yang sudah lebih dulu naik kelantai 3 rumahnya dimana kamar mereka berada. Melihat dari ekspresi dan cara mengalah Alana tadi Rayan merasa sedikit bersalah.


Rayan membuka pelan pintu kamar mereka, helaan napas pelan keluar dari bibir tipisnya. Alana, wanita itu berdiri memunggunginya menghadap dinding kaca tebal yang menyuguhkan pemandangan ramai sekitaran kompleks asri yang menjadi tempat mereka bermukim.


Pelan pelan Rayan melangkahkan kedua kakinya mendekat pada Alana. Ketika sampai tepat dibelakang Alana, Rayan langsung memeluk lembut Alana dari belakang. Alana terkejut karna hal itu namun tetap diam.


“Aku minta maaf...” Lirih Rayan.


Alana menelan ludahnya. Rayan memang sedikit keterlaluan karna bersikap memaksa didepan para pelayan pada Alana. Dan Alana merasa tersinggung karna hal itu.

__ADS_1


“1 Jam lagi kita berangkat. Jangan marah yah.. Kamu harus bahagia dengan honeymoon kita.” Lanjutnya berusaha membujuk.


Alana diam diam tersenyum. Bujukan Rayan sangat manis menurutnya. Terlebih Rayan yang sudah mau merendahkan diri meminta maaf padanya. Benar benar membuat kekesalan Alana sirna seketika.


__ADS_2