
Setelah Rayan mengungkit semua kesalahan-nya dimasa lalu Caterine terus saja diam saat berada didepan Rayan juga Alana. Caterine bahkan hanya diam saat Alana dan Sechil berdebat dimeja makan saat sarapan. Namun, Caterine melakukan itu bukan tanpa Alasan. Caterine hanya tidak mau Rayan membencinya kemudian mengusirnya dan Sechil.
Alana yang merasa aneh dengan kediaman mommy Rayan mengeryit bingung. Tidak biasa menurut Alana Caterine diam dan tidak mencari alasan untuk membuatnya marah.
“Rayan...” Panggil Alana saat mereka sampai didepan mobil Rayan dimana pak Lim sudah menunggu disamping mobil untuk membukakan pintu.
“Hemm..” Saut Rayan pelan.
“Aku merasa ada yang aneh..”
Rayan mengeryit kemudian menolehkan kepalanya menatap Alana.
“Apanya yang aneh?” Tanya Rayan penasaran.
“Mommy tadi diam saja dimeja makan. Mommy juga tidak membela Sechil saat berdebat denganku tadi.”
Rayan tersenyum mendengarnya. Rayan berpikir mungkin ucapan-nya semalam membuat Caterine merasa sedikit tersinggung hingga terus saja diam. Mungkin juga Caterine marah padanya karna sudah mengungkit tentang masa lalu.
“Bukankah itu bagus? Kamu tidak dikeroyok jadinya.”
Alana mengangguk pelan. Namun tetap saja Alana merasa ada yang aneh.
“Aku berangkat yah.. Kamu hati hati dirumah.” Kata Rayan kemudian.
Alana mengangguk lagi namun kali ini dengan senyuman yang terukir dibibirnya.
“Kamu juga hati hati..”
Rayan mengangguk pelan kemudian mengecup singkat kening Alana. Rayan kemudian masuk kedalam mobil karna pak Lim sudah membukakan pintu.
Lambaian tangan Alana mengiringi kepergian mobil Rayan yang dikemudikan oleh pak Lim. Alana menghela napas pelan. Hari harinya tidak akan lagi sesantai biasanya. Alana harus benar benar menyetok kesabaran untuk menghadapi Caterine dan Sechil.
Setelah mobil Rayan tidak lagi terlihat oleh kedua matanya Alana pun masuk kembali kedalam rumah. Namun, saat baru sampai didepan pintu utama rumahnya Alana berpapasan dengan Sechil yang sudah rapi dan menenteng tasnya seperti hendak pergi.
“Sechil, kamu mau kemana?” Tanya Alana penasaran.
Sechil menatap Alana dari atas sampai bawah. Tatapan-nya begitu meremehkan pada Alana yang memang hanya mengenakan dress rumahan yang simpel.
__ADS_1
“Memangnya aku harus lapor sama kamu kalau mau pergi kemana mana? Kamu merasa sebagai penguasa dirumah kakak ku?”
Alana menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya.
“Ya sudahlah.” Malas meladeni Sechil Alana pun memilih untuk berlalu. Wanita itu melangkah melewati Sechil yang malah memasang kaki membuat Alana tersandung hingga terjatuh dilantai.
“Awwh...” Ringis Alana merasakan sakit.
“Ups maaf Alana, aku sengaja.” Ejek Sechil tertawa kecil. Sechil melipat kedua tanganya didepan dada menatap Alana yang terjerembab dilantai dengan seringaian dibibirnya. Sechil merasa sangat puas karna bisa membalas apa yang Alana lakukan padanya semalam.
“Jangan kamu pikir kamu bisa meremehkan aku Alana.” Katanya kemudian berlalu keluar dari rumah dengan memainkan kunci mobil milik Rayan.
Alana berdecak kesal. Sechil berhasil menjatuhkan-nya membuat siku dan lututnya terasa nyeri bahkan sampai memerah.
“Awas saja, akan aku balas nanti.” Gumam Alana kesal disertai ringisan penuh kesakitan.
Alana bangkit perlahan dari lantai. Dengan langkah sedikit pincang serta tangan terus memegangi sikunya yang memar Alana melangkah masuk kedalam. Wanita itu merasa sangat kesal dan bertekad akan membalas apa yang sudah Sechil lakukan padanya.
Tidak jauh dari tempat Alana dijatuhkan oleh Sechil, Caterine tertawa melihatnya. Caterine senang karna Sechil bisa membalas apa yang sudah Alana lakukan padanya.
“Bagus Sechil, lakukan semuanya dengan benar. Buat dia tidak betah dan akhirnya pergi dari rumah ini. Semua ini harus menjadi milik kita.” Gumam Caterine.
Sedangkan Alana, dia melangkah menuju lift. Saat akan memencet tombol untuk membuka lift bibi memanggilnya. Wanita tua itu buru buru melangkah menghampiri Alana yang sesekali meringis sambil mengusap sikunya yang memerah.
Melihat itu bibi terbelalak.
“Ya tuhan.. Nyonya, kenapa dengan siku nyonya?” Tanya bibi khawatir.
Alana tersenyum tipis. Meski Sechil yang melakukan itu padanya tapi Alana tidak akan mengatakan-nya pada siapapun. Alana akan membalasnya sendiri nanti.
“Saya jatuh tadi bi didepan pintu.” Jawab Alana tersenyum tipis.
“Ya ampun.. Nyonya mari saya bantu obati. Sampe memerah begitu, ya tuhan..” Bibi langsung menuntun Alana membawanya melangkah menuju sofa.
“Pelan pelan nyonya.” Kata bibi sambil mendudukkan Alana disofa tidak jauh dari lift.
“Tunggu sebentar nyonya saya ambil kotak P3K dulu.”
__ADS_1
Alana menganggukan kepala dengan senyuman yang terukir dibibirnya. Alana merasa beruntung karna masih ada bibi yang perduli padanya selain Rayan. Mungkin juga Rayan melihatnya secara langsung apa yang Sechil lakukan tadi padanya.
Tidak lama bibi kembali melangkah dengan cepat menghampiri Alana. Bibi mendudukan dirinya diatas karpet berbulu didepan sofa itu.
“Bibi, jangan duduk dibawah. Disini saja bi..” Kata Alana merasa tidak enak hati pada bibi yang jelas sangat jauh lebih tua darinya.
“Tidak papa nyonya, Saya dibawah saja.” Tolak bibi tersenyum.
Alana menggelengkan kepalanya. Tidak sopan rasanya membiarkan orang tua duduk dibawah sedang dirinya diatas. Alana meraih kedua pundak bibi menariknya lembut menyuruh bibi untuk bangkit.
“Bibi kan sudah lama mengenal saya. Jangan anggap saya orang lain yah..” Kata Alana menuntun bibi untuk duduk disofa disampingnya.
“Tapi nyonya.. Nanti nyonya besar.”
“Saya kan juga nyonya dirumah ini bi..” Sela Alana lembut.
Bibi tersenyum dan menganggukan kepalanya. Wanita itu kemudian segera membuka kotak P3K yang dipegangnya dan mengoleskan salep pereda rasa nyeri di lutut dan siku Alana yang memerah.
“Kenapa nyonya sampai jatuh? Apa lantainya masih basah nyonya? Padahal pagi pagi sekali sudah di pel nyonya.”
Alana tertawa pelan. Entah kenapa pertanyaan bibi membuat Alana merasa bibi juga mengenal bagaimana tidak baiknya sikap Caterine dan Sechil.
“Nggak kok bi.. Mungkin saya saja yang kurang hati hati.” Balas Alana.
Selesai mengoles salep pada siku dan lutut Alana, bibi menatap Alana. Wanita itu mengeryit seperti tidak percaya dengan apa yang Alana katakan. Bibi merasa memar disiku dan lutut Alana terlalu parah jika untuk jatuh karna ketidak hati hatian.
“Nyonya, apa ini karna nona Sechil?” Tanya bibi pelan.
Alana hanya tertawa saja. Tebakan-nya benar. Bibi tau bagaimana sikap keduanya.
“Sudah bi.. Saya tidak apa apa. Ini hanya memar biasa saja. Nanti juga sembuh. Saya keatas dulu ya bi..”
Alana mengusap pelan bahu wanita tua berseragam pelayan itu kemudian bangkit dari duduknya. Pelan pelan Alana melangkah menuju lift. Meski sesekali meringis karna merasakan nyeri dilututnya tapi Alana tidak meminta bantuan pada bibi. Alana tetap melangkah sendiri.
Bibi menghela napas menatap punggung Alana.
“Semoga saja nyonya Alana tidak bernasib sama seperti nyonya Sakura. Ya tuhan... Lindungi nyonya Alana..” Gumam bibi.
__ADS_1
Saat hendak bangkit dari sofa bibi seperti teringat akan sesuatu. Bibi menepuk jidatnya sendiri begitu mengingat tujuan utamanya menghampiri Alana tadi.
“Ya tuhan.. Mau minta uang belanja saja sampai lupa..”