
Pagi ini Rayan mengajak Alana untuk mengecek kehamilan-nya kedokter. Rayan terlihat sangat ceria dan antusias saat sarapan bersama. Hal itu disadari langsung oleh Sari dan Alana. Mereka tau mungkin Rayan merasa sangat lega karna Caterine sudah berada ditempat yang tepat. Selain itu adiknya Sechil juga sudah benar benar menemukan kebahagiaan-nya.
“Ibu ikut merasa senang melihat suami kamu seperti itu nak. Tidak seperti hari hari sebelumnya, Rayan terlihat sangat ceria. Rayan seperti tidak lagi mempunyai beban berat.”
Alana tersenyum menyetujui apa yang dikatakan ibunya.
“Yah.. Tuhan memang selalu adil dan akan memperlihatkan keadilan-nya diwaktu yang memang sangat tepat bu..”
“Ya sayang.. Ibu tidak akan berhenti berdo'a dan meminta pada untuk kebahagiaan kamu dan suami kamu.”
“Terimakasih untuk semuanya bu.. Aku sangat mencintai ibu..” Senyum Alana meraih tangan Sari dan menggenggamnya erat.
Sari balas menggenggam tangan Alana sama eratnya. Bagi wanita itu Alana adalah sumber dari kebahagiaan-nya. Senyum Alana bagai matahari yang terbit dipagi hari membuat Sari merasakan kebahagiaan dalam keterangan langit.
“Kamu segalanya bagi ibu sayang. Berjanjilah untuk selalu bahagia.”
Alana mengangguk kemudian berhambur memeluk Sari yang langsung membalasnya
“Alana..”
Suara Rayan yang memanggil namanya membuat Alana melepaskan pelukan-nya pada Sari.
“Aku pergi sekarang bu..” Pamit Alana.
“Ya nak, hati hati..”
Alana mengangguk kemudian melangkah menjauh dari Sari yang terus mengukir senyuman dibibirnya menatap punggung Alana yang terus menjauh darinya.
Sejak awal Sari memutuskan untuk mengasuh Alana, Sari sudah melabuhkan seluruh kasih sayang dan cintanya pada Alana. Sari masih sangat mengingat dengan jelas bagaimana bergetarnya tangan Sari saat meraih tubuh mungil Alana yang masih bayi. Alana yang harus menjadi yatim piatu diusianya yang masih seumur jagung.
“Lihat putri kamu dan istri keduamu mas.. Dia tumbuh menjadi wanita cantik yang baik hati. Dia juga putriku, putri kesayanganku. Dia juga yang mengobati lukaku atas pengkhianatan mu mas. Dia mengubah rasa sakit hati dan benciku menjadi cinta. Cinta yang seiring berjalan-nya waktu terus membesar sampai tak terhingga seperti sekarang. Aku harap kamu tenang disana dengan istri keduamu. Disini aku akan terus berusaha melindungi dan memastikan Alana baik baik saja dan bahagia.”
Sari menghela napas. Tidak ada lagi rasa sesak didadanya seperti dulu. Rasa sesak akibat pengkhianatan dari suaminya yang menikah diam diam dengan ibu kandung Alana dibelakangnya.
“Nyonya permisi.”
Sari menoleh ketika mendengar suara Fina. Wanita itu tersenyum menatap gadis berkuncir tinggi dengan seragam pelayan yang dikenakan-nya.
“Ya Fina, kenapa?” Saut Sari bertanya dengan sangat pelan.
__ADS_1
“Saya izin mau mengunjungi orang tua saya hari ini nyonya. Saya sudah bilang pada nyonya Alana dan nyonya Alana mengizinkan.” Katanya.
Sari tertawa kemudian mengangguk anggukan kepalanya. Ucapan Fina seperti orang yang sedang ketakutan tidak mendapatkan izin dari Sari.
“Pergilah nak.. Salam untuk kedua orang tuamu yah.. Dan bawakan apapun yang ada untuk asik kamu..” Ujar Sari membuat senyuman lebar Fina langsung menghiasi bibirnya.
“Baik nyonya. Terimakasih banyak. Saya permisi.”
Sari menggelengkan kepalanya pelan menatap Fina yang melangkah cepat dengan sangat antusias. Sari pernah merasakan berada diposisi Fina dimana dirinya harus sering pulang untuk memastikan Alana baik baik saja. Meski dulu Sari sering mendapat kemarahan dari Rayan karna pulang terlambat dan tidak bisa memberikan alasan yang tepat.
-----
“Kamu nggak kuliah?” Tanya Sechil sambil mengusap pelan lengan Ramon yang tertutup selimut.
Padahal biasanya Ramon yang selalu bangun lebih dulu. Tapi sekarang, dipagi menjelang siang Ramon masih betah bersembunyi dibalik selimut tebalnya.
“Ramon..” Panggil Sechil pelan.
Karna tidak kunjung mendapat jawaban dari Ramon, Sechil pun pelan pelan menarik selimut yang menutupi tubuh Ramon. Penasaran, Sechil pun menyentuh pipi Ramon. Kedua mata Sechil membulat ketika merasakan panas dipipi Ramon. Sechil kemudian menempelkan punggung tangan-nya dikening Ramon. Rasa panas langsung Sechil rasakan dipunggung tangan-nya, bahkan lebih panas dari pipi Ramon.
“Ya tuhan.. Ramon demam..” Gumam Sechil lirih.
Sechil kebingungan sendiri. Sechil tidak pernah mengurus orang sakit. Tapi sekarang suaminya demam dan tidak ada seorang pun yang bisa membantunya. Sechil tidak tau harus bagaimana sekarang.
Sechil menatap wajah tampan Ramon yang memerah dan sedikit berkeringat. Tubuh Ramon juga mulai menggigil membuat Sechil semakin kalang kabut.
“Dia kedinginan..”
Sechil bangkit dari duduknya ditepi ranjang kemudian meraih satu selimut yang terlipat diatas meja kecil disamping ranjang mereka. Sechil menyelimuti Ramon dengan selimut yang diraihnya namun tubuh Ramon tetap saja menggigil.
“Ya tuhan...”
Tidak tau harus bagaimana, Sechil pun memilih untuk ikut berbaring dan memeluk tubuh menggigil Ramon.
Pelukan Sechil membuat Ramon merasa sedikit terusik. Pelan pelan Ramon membuka kedua matanya. Bibir pucatnya melengkung membentuk senyuman ketika mendapati Sechil menangis terisak sambil memeluknya.
“Ssstt.. Jangan nangis sayang..” Lirih Ramon tetap berusaha menenangkan Sechil meski dirinya sendiri sedang tidak baik baik saja.
“Kamu demam Ramon..” Jawab Sechil disela sela isak tangisnya.
__ADS_1
Ramon tertawa pelan. Tubuhnya memang terasa sangat dingin sekarang. Kepalanya pusing dengan perut yang seperti hendak mengeluarkan semua isinya.
“Aku nggak papa..” Senyum Ramon.
Sechil menggelengkan kepalanya. Sechil benar benar tidak tau apa yang harus dia lakukan selain memeluk Ramon.
“Sayang, tolong kamu ambilin minyak angin yah.. Ada dilaci meja itu.”
Sechil menoleh pada meja dimana dirinya mengambil selimut yang digunakan untuk menyelimuti Rayan tadi. Sechil kemudian melepaskan pelukan-nya pada tubuh menggigil Ramon. Sechil mengambil minyak angin yang dimaksud Ramon dan mendekat kembali pada Ramon yang berbaring dengan dua selimut yang menutupi tubuh menggigilnya.
“Ini.. Apa lagi yang harus aku lakukan?” Tanya Sechil pada Ramon dengan suara bergetar.
Ramon tertawa. Sechil terlihat sangat polos jika sedang seperti sekarang. Ramon paham jika memang Sechil tidak bisa mengurusnya yang sedang sakit. Lagi pun Ramon juga tidak ingin membebani Sechil hanya karna dirinya sakit.
Ramon berusaha bangkit dari berbaringnya meskipun tubuhnya terasa sangat lemas. Pria itu menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya kemudian membuka kaos putih polos yang dia kenakan.
“Ramon kamu kenapa..”
“Sayang tolong balurkan minyak itu ke badanku yah..” Senyum Ramon berkata dengan suara seraknya.
Sechil menelan ludahnya. Sechil benar benar merasa dirinya sangat bodoh dan tidak berguna sekarang sebagai seorang istri.
Sechil mengangguk kemudian menuang minyak angin itu ke telapak tangan-nya dan membalurkan-nya pada dada, perut, juga punggung Ramon bahkan sampai kelengan-nya.
Setelah dibaluri minyak angin oleh Sechil, Ramon kembali membaringkan tubuhnya dengan bertelanjang dada.
“Makasih ya sayang..” Senyum Ramon pada Sechil yang hanya diam dalam tangisnya.
Sechil mengusap air matanya yang terus menetes. Sechil merasa dirinya tidak bisa diandalkan. Sechil bahkan tidak bisa mengurus Ramon yang sedang sakit.
“Aku.. Aku beli bubur dulu..” Lirih Sechil sesekali masih terisak.
Ketika Sechil hendak turun dari ranjang Ramon mencegahnya dengan mencekal lengan-nya. Ketika Sechil kembali menatapnya Ramon merentangkan satu tanganya memberi kode pada Sechil agar memeluknya.
“Beli buburnya nanti saja. Aku akan telpon tukang buburnya untuk mengantar kesini. Sekarang temani aku dulu sayang..” Pinta Ramon.
Sechil tertawa dan kembali menangis. Sechil kemudian ikut berbaring dan memeluk perut rata Ramon erat. Sekarang Sechil tidak merasa bodoh sendiri. Sechil juga merasa Ramon bodoh karna memilihnya sebagai istri.
“Kamu bodoh Ramon.” Umpat Sechil didada Ramon.
__ADS_1
Ramon tertawa kemudian melingkarkan kedua tangan-nya di tubuh Sechil.
“Aku tidak perduli. Aku lebih baik dikatakan bodoh asal kamu selalu disampingku sayang.” Bisik Ramon mesra.