Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 26


__ADS_3

Semakin hari hubungan Rayan dan Alana semakin membaik. Alana sudah tidak ragu lagi bermanja pada Rayan yang memang terus bersikap cuek tapi romantis. Alana bahkan meminta pada Rayan agar selalu memberinya setangkai mawar merah setiap pulang kerja dan Rayan dengan patuh menuruti kemauan istrinya itu.


Rayan menatap setangkai mawar merah yang baru saja di berikan oleh pak Lim padanya. Rayan memang tidak secara langsung membelinya. Rayan meminta tolong pada pak Lim untuk membelikanya di toko bunga yang memang selalu mereka lewati saat dalam perjalanan pulang setiap hari.


“Tuan..”


“Ya. Kenapa pak Lim?” Saut Rayan bertanya.


“Bunga itu apa nyonya tidak pernah protes?”


“Protes?”


“Maaf sebelumnya tuan, apa nyonya tidak tau saya yang membelikanya?”


Rayan menghela napas. Alana tidak pernah tau karna tidak pernah bertanya. Mungkin Alana menyangka Rayan membelinya sendiri bukan menyuruh pak Lim. Tapi Rayan selalu berpikir, Alana pasti akan maklum.


“Dia pasti akan mengerti pak.”


Pak Lim mengangguk. Melihat dari sikap Alana rasanya sangat tidak mungkin jika Alana bisa mengerti dengan alasan Rayan nanti.


Ketika sampai di rumah Rayan langsung memberikan setangkai mawar merah yang dibawanya pada Alana. Dan seperti biasa, Alana sangat antusias menerimanya. Alana bahkan memberikan kecupan lembut di pipi Rayan sebagai ucapan terimakasihnya.


“Kamu mau makan apa?”


Rayan menatap hidangan diatas meja didepanya. Tidak ada udang asam manis kesukaanya disana.


“Siapa yang memasak?”


Alana tersenyum.


“Aku dibantu bibi dan pelayan lainya.” Jawab Alana.


Rayan mengangguk. Soal rasa masakan Alana memang tidak bisa diragukan lagi. Seperti kelihaianya dalam memasak adalah warisan berharga dari ibunya, Sari.


“Rayan, kenapa malah bengong?” Tanya Alana menatap Rayan jengah.


“Ah ya, maaf. Ambilkan saja ayam goreng dan supnya.” Jawab Rayan.


Alana mengangguk kemudian segera mengambilkan apa yang Rayan mau dan meletakan sepiring nasi dan ayam goreng juga semangkuk kecil sup didepan Rayan.


“Rayan.” Panggil Alana pelan.

__ADS_1


“Hem..” Saut Rayan mulai menyantap makan malamnya.


Alana diam sesaat. Wanita itu menghela napas pelan kemudian kembali menatap Rayan yang sedang menyantap makananya.


“Aku telat 2 hari.”


Rayan mengeryit kemudian menatap Alana.


“Telat apa?” Tanya Rayan bingung.


Alana tersenyum kemudian menundukan kepalanya. Jadwal tamu bulananya datang sudah telat 2 hari. Dan Alana berharap itu adalah tanda baik.


“Nanti saja kita bicarakan dikamar. Silahkan lanjutkan lagi makanya.” Katanya.


Rayan semakin bingung. Alana membuatnya sangat penasaran. Alana berbicara sepotong tanpa penjelasan apapun. Rayan sangat ingin tau, tapi Rayan tidak ingin memaksa. Rayan yakin Alana akan menjelaskanya nanti.


“Kamu juga, makan yang banyak ya.” Senyum Rayan yang di angguki kepala oleh Alana sebagai jawabanya.


Selesai makan malam, Rayan langsung mengajak Alana kekamar. Rayan bahkan sampai mengabaikan pekerjaanya yang sebenarnya belum selesai demi mendengarkan dengan seksama apa yang ingin dikatakan oleh istrinya.


“Kamu boleh mengatakanya sekarang.” Ujar Rayan.


Rayan menghela napas merasa sedikit kesal karna hal tersebut.


“Telat 2 hari. Itu artinya apa?” Tanya langsung Rayan.


Alana terkekeh geli. Wanita yang kini sedang berkaca didepan cermin itu menatap bayangan Rayan lewat cermin didepanya. Suaminya itu terlihat sama sekali tidak berekspresi di tepi ranjang.


“Aku belum datang bulan Rayan. Dan itu sudah lewat dari 2 hari.” Jawab Alana.


Rayan hanya diam dengan tatapan yang sama pada Alana. Rayan bukan pria bodoh yang tidak tau dengan apa yang dimaksud istrinya. Rayan hanya merasa sedikit terlalu cepat saja.


“Aku harap ini pertanda baik.” Senyum Alana menundukan kepala menatap perut ratanya.


Rayan menghela napas. Jika mengatakan apa yang sedang berada di pikiran dan hatinya sekarang Alana pasti akan salah paham. Alana juga pasti akan sangat marah dan menganggap Rayan pria brengsek.


“Jika aku benar benar hamil, apa kamu bahagia Rayan?”


“Sebelum aku jawab pertanyaan kamu bisa tolong kamu jawab dulu pertanyaanku?”


Alana mengeryit.

__ADS_1


“Apa?” Tanyanya penasaran.


“Apa kamu mencintaiku?”


Alana mendadak diam. Senyuman yang terukir di bibir Alana perlahan memudar. Alana selalu merasa tenang, nyaman, juga bahagia bersama Rayan. Tapi cinta, Alana belum menilik hatinya sendiri tentang rasa cinta itu untuk Rayan.


“Jangan diam Alana, jawab pertanyaanku.”


Alana menelan ludahnya. Dulu Alana pernah membalas cinta yang Dion ungkapkan padanya. Tapi Alana sama sekali tidak pernah merasakan apa yang Alana rasakan saat bersama Rayan jika sedang bersama Dion dulu. Alana bingung sekarang. Perasaan cinta itu tidak pernah sedikitpun terpikirkan dibenak Alana.


“Aku..” Alana menghela napas. Entah apa yang akan Alana katakan sekarang.


“Aku....” Lagi Alana diam. Alana menatap Rayan yang terus menunggu jawaban darinya.


“Maaf Rayan.. Aku tidak tau.”


Rayan memejamkan kedua matanya. Sudah banyak hal yang mereka lalui bersama. Rayan bahkan sudah benar benar bisa melupakan Sakura sekarang. Rayan bisa menghilangkan kebiasaanya menganggap Alana sebagai Sakura. Dimatanya sekarang Alana dan Sakura sangatlah berbeda, mereka tidak sama dan mereka adalah orang yang berbeda meski memang rupanya sama.


Rayan bangkit dari duduknya. Rayan merasa sangat kecewa. Alana belum bisa mencintainya seperti Rayan yang mulai mencintai Alana. Dengan langkah pelan Rayan melangkah menuju pintu namun berhenti saat Alana memanggilnya.


“Aku minta maaf Rayan..” Lirih Alana.


Rayan mengepalkan kedua tanganya. Rayan berusaha menahan amarahnya karna pada dasarnya Rayan memang tidak berhak untuk marah. Alana berada disisinya karna Rayan yang memaksanya. Rasanya akan sangat egois jika Rayan juga memaksa Alana untuk mencintainya. Perasaan tidak bisa dipaksakan dan Rayan tau itu.


“Nggak papa Alana. Aku mengerti.” Balas Rayan kemudian berlalu dari kamarnya meninggalkan Alana yang hanya bisa diam mematung di tempatnya berdiri.


Alana tau Rayan pasti marah tapi Rayan mencoba menahanya. Entah apa yang membuat pria itu bisa menahan amarahnya Alana sendiri tidak tau. Padahal biasanya Rayan selalu memaksanya.


Alana menundukan kepalanya. Tanganya mengusap lembut perut ratanya. Semuanya belum pasti. Alana baru telat 2 hari. Alana belum mengetesnya. Alana juga belum ke dokter kandungan untuk memeriksanya. Tapi Alana sangat berharap telat kedatangan tamu bulananya adalah pertanda bahwa dirinya hamil, hamil anak Rayan.


Tes


Tanpa sadar Alana meneteskan air matanya. Alana merasa sangat sesak didadanya.


“Cinta? Apa benar aku mencintainya? atau ini hanya sekedar rasa nyaman saja?”


Alana bertanya tanya pada dirinya sendiri. Alana pernah sakit dan kecewa karna cinta. Dan sekarang Alana kembali merasakan sakit begitu Rayan bertanya apakah dirinya mencintai Rayan atau tidak.


Alana mengusap air mata yang menetes membasahi pipinya. Perasaanya pada Rayan sekarang sangat berbeda dengan perasaanya dulu pada Dion.


“Tuhan.. Tolong bantu hamba..”

__ADS_1


__ADS_2