
BUGH !! (Suara pukulan keras)
Robin meringis dengan kedua mata terpejam saat sebuah pukulan keras mendarat ditengkuknya. Pria berbadan tinggi kekar itu akhirnya jatuh tidak berdaya kemudian tidak sadarkan diri ditaman kompleks perumahan mewah tempat Rayan dan Alana tinggal.
“Mom bagaimana mungkin dia bisa ada disini?” Tanya Sechil menatap tidak percaya pada Robin yang sudah terkapar dibawah pohon bunga kertas.
“Dia mengikuti kita dari tadi Sechil. Mommy curiga dia juga mendengar percakapan kita lewat telpon tadi.” Jawab Caterine.
“Lalu bagaimana? Kalau Robin tau kakak pasti juga akan tau.”
Caterine hanya diam saja. Wanita itu kemudian berjongkok dan mencoba mencari sesuatu disaku celana dan jaket Robin.
Caterine menemukan hp milik Robin kemudian bangkit dari berjongkoknya. Caterine langsung mengecek hp itu dan menemukan suara rekaman suaranya dan Sechil saat dikamar bahkan saat sedang menerima telpon dari Dion tadi.
“Dia benar benar sangat cerdik mom..” Geleng Sechil tidak menyangka sembari menatap Robin yang tidak sadarkan diri.
“Ya.. Itu artinya kita harus sangat berhati hati.”
--------
“Roky, mana Robin?” Tanya Rayan karna tidak melihat Robin pagi ini. Padahal Robin adalah body guard yang sangat sigap dalam segala hal.
“Saya tidak tau tuan. Tapi pak satpam bilang Robin keluar semalam dan mengatakan sedang bertugas.” Jawab Roky.
Rayan mengeryit.
“Panggil pak satpam.” Perintah Rayan tegas.
“Baik tuan.” Angguk Roky kemudian berlalu keluar dari rumah untuk memanggil satpam yang bertugas menjaga gerbang.
Alana yang berada disamping Rayan hanya diam saja. Sebenarnya Alana merasa risih jika harus kembali ada Robin juga Roky. Namun demi keselamatan janin dalam kandungan-nya Alana mencoba untuk terbiasa. Alana tau Rayan melakukan-nya demi kebaikan-nya juga janin yang sedang dikandungnya.
Tidak lama Roky kembali dengan pak satpam yang mengikutinya dari belakang. Mereka berdua menghadap pada Rayan yang berada diruang tamu dengan kepala menunduk.
“Saya tuan..” Kata satpam penuh rasa hormat.
“Ini tentang Robin. Apa yang dia katakan sebelum pergi semalam?”
Satpam itu terdiam sesaat. Robin keluar tidak lama setelah Caterine dan Sechil keluar gerbang. Dan otak cerdas satpam berkulit coklat itu langsung bekerja. Satpam itu tau Robin mengikuti Caterine dan Sechil semalam.
“Mas Robin hanya menitipkan pesan pada Saya untuk mengatakan bahwa dia sedang bertugas jika tuan bertanya.”
“Hanya itu saja?” Tanya Rayan lagi.
“Ya tuan..” Angguk satpam itu.
Rayan menghela napas pelan. Ada sesuatu yang janggal menurutnya.
__ADS_1
“Ya sudah pak satpam boleh kembali bekerja.”
“Baik tuan. Saya permisi.” Kata pak satpam kemudian berlalu kembali keluar dari dalam rumah untuk menuju pos jaga-nya.
“Kamu Roky, terus coba hubungi Robin.” Rayan memerintah tanpa menatap pada Roky yang berada disamping kanan didepan-nya.
“Baik tuan.” Angguknya.
Alana yang berada disamping Rayan tersenyum. Rayan terlihat sangat frustasi hanya karna Robin tidak ada pagi ini.
“Rayan..” Panggil Alana bergelayut manja dilengan terbuka Rayan. Pagi ini memang Rayan libur karna hari minggu.
Rayan menoleh menatap Alana yang bergelayut padanya.
“Aku rasa mungkin Robin sedang ada keperluan lain diluar sana.”
Rayan tersenyum kemudian mengangguk pelan. Berbicara tentang siapa dan bagaimana body guard kepercayaan-nya itu hanya akan membuat Alana kepikiran. Dan Rayan tidak mau membebani pikiran istrinya.
“Tuan, nyonya, sarapan-nya sudah siap.”
Alana menoleh dan tersenyum manis pada bibi yang datang dari arah meja makan.
“Ya bi, terimakasih..” Balasnya.
“Sama sama nyonya. Saya permisi.”
Bibi berlalu setelah itu untuk kembali kedapur. Sedang Rayan, pria itu terus saja diam dengan segala pemikiran-nya tentang Robin.
“Kita sarapan yuk?” Ajak Alana.
Rayan menganggukan kepalanya. Rayan menurut saat Alana menariknya menuju meja makan untuk sarapan.
Dimeja makan Rayan tidak mendapati mommy dan adiknya. Saat menyuruh pelayan untuk memanggilpun pelayan itu mengatakan bahwa Caterine dan Sechil sudah pergi sejak pagi pagi sekali dan sama sekali tidak meninggalkan pesan apa apa.
Merasa semakin janggal, Rayan pun segera merogoh saku celana pendek selututnya. Rayan mencoba mengecek CCTV lewat hp miliknya tentang rekaman semalam. Benar dugaan-nya, Robin mengikuti Caterine dan Sechil yang keluar rumah jalan kaki semalam.
“Ada apa?” Tanya Alana penasaran.
Rayan menghela napas. Pria itu kemudian meletakan hp miliknya dan meraih tangan Alana.
“Sepertinya kamu harus lebih waspada sekarang Alana..” Katanya pelan.
Alana mengeryit bingung.
“Memangnya kenapa?”
“Mommy dan Sechil, mereka mulai berulah lagi sepertinya.”
__ADS_1
Jawaban Rayan membuat Alana terdiam. Entah harus bagaimana cara dirinya menghadapi keduanya nanti. Apa lagi sekarang Alana tidak sendiri. Alana sedang hamil yang pasti akan sedikit membatasi pergerakan-nya nanti.
“Apa untuk sementara kita pindah saja?” Tanya Rayan kemudian.
Alana menyipitkan kedua matanya tampak berpikir. Alana tidak mau dikira kalah sebelum berperang. Alana merasa yakin bisa menghadapi keduanya.
“Itu terlalu berlebihan Rayan. Biarkan dan lihat saja apa yang akan mereka lakukan. Aku yakin aku bisa menghadapinya.”
“Tapi kan...”
“Bukankah sudah ada Roky dan Robin disini? Mereka pasti bisa menjagaku selama kamu tidak sedang berada dirumah.” Sela Alana dengan senyuman yang terukir dibibirnya.
Rayan berdecak pelan. Rayan sendiri tidak bisa menebak apa yang sebenarnya mereka rencanakan. Ditambah dikamar Sechil dan Caterine tidak ada CCTV membuat Rayan tidak bisa mengawasi keduanya lebih leluasa.
“Apa kamu yakin?” Tanya Rayan merasa ragu.
“Tentu saja. Aku sangat yakin.” Jawab Alana mantap.
“Sudah jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kita sarapan dulu. Aku sudah sangat lapar.”
Rayan mengangguk pelan. Pria itu melepaskan genggaman-nya pada tangan Alana kemudian menyantap sarapan-nya sendiri.
Selesai sarapan, Rayan menemani Alana berjemur ditaman belakang rumah. Dan untuk mengurangi rasa jenuh karna hanya duduk saja, Rayan memainkan gitar miliknya sambil terus menatap Alana yang begitu aktif mondar mandir diarea yang terpapar sinar mentari pagi. Sedang Rayan, pria itu duduk dibawah pohon yang cukup besar dan dapat untuk berteduh.
Suara deringan hp membuat Rayan menyudahi permainan gitarnya. Pria itu meletakan gitar miliknya dan meraih hp miliknya yang berada dimeja didepan-nya. Rayan mengeryit saat Luky menelpon-nya. Karna penasaran, Rayan segera mengangkat telpon tersebut.
“Ya Luky..”
“Selamat pagi tuan. Maaf saya mengganggu hari libur anda.”
“Hemm.. Ada apa?” Tanya Rayan yang sudah sangat penasaran.
“Sekarang saya sedang berada direstoran didekat apartemen saya tuan. Dan disini saya tidak sengaja melihat nyonya Caterine juga nona Sechil. Mereka bertemu bahkan mengobrol dengan tuan Dion.”
Kedua mata Rayan melebar. Dion masih sangat berusaha menarik perhatian Alana saat ini.
“Apa yang mereka bicarakan?” Tanya Rayan dengan rahang mengetat marah.
“Yang saya dengar tadi mereka sedang merencanakan sesuatu untuk memisahkan tuan dan nyonya Alana.”
Jawaban Luky membuat tangan Rayan mengepal kuat. Pria itu benar benar marah sekarang.
“Awasi terus mommy dan Sechil, Luky. Laporkan semua rencana mereka yang kamu tau.” Ujar Rayan dengan penuh penekanan.
“Baik tuan.”
Rayan memutuskan sambungan telpon-nya setelah itu. Pandangan-nya kembali terarah pada Alana yang masih berada ditempatnya.
__ADS_1
“Alana.. Kamu dan anak kita harus baik baik saja apapun dan bagaimanapun caranya.” Gumam Rayan pelan.