Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 31


__ADS_3

Dalam perjalanan Alana terus diam dan memalingkan wajahnya. Alana sedikit menyesal sebenarnya ikut dengan Rayan. Tapi Alana juga tidak rela jika sampai Rayan berduaan dengan wanita lain selain dirinya.


Saat mobil mewah Rayan berhenti tepat disebuah restoran yang cukup ramai pengunjung malam itu Alana langsung turun dari mobil dengan sigap. Rayan yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Alana sangat konyol dengan segala pemikiranya saat ini.


“Disini?” Tanya Alana saat Rayan turun dari mobilnya.


Rayan mengangguk dengan senyuman tipisnya.


Alana menatap restoran tempat mereka akan bertemu dengan seseorang yang benar benar belum Alana ketahui siapa. Tapi melihat dari dandanan suaminya Alana tidak bisa percaya begitu saja pada Rayan.


“Alana.” Panggil Rayan membuat Alana menoleh padanya.


“Apa?”


“Apakah Beast itu seorang pembohong atau penghianat mungkin menurut kamu?”


Alana mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu.


“Apa maksudnya?”


Rayan tertawa pelan kemudian meraih pergelangan tangan Alana.


“Lupakan, ayo kita masuk.” Ajak Rayan.


Alana berdecak namun tetap menurut saat Rayan menggandengnya masuk kedalam restoran tersebut. Dan lagi lagi kehadiran mereka menjadi pusat perhatian para pasang mata didalam restoran tersebut.


“Bukankah Sakura sudah mati?”


“Ya tuhan.. Jadi kabar itu benar? Kematianya adalah rencana kebohongan yang sudah diatur?”


Otak cerdas Alana langsung bekerja mendengar beberapa lontaran kata dari pengunjung yang tidak dia kenal. Alana yakin Rayan juga mendengar itu namun mencoba bersikap cuek atau mungkin pura pura tuli.


Rayan berhenti melangkah ketika sampai beberapa langkah dari meja tempat Sandi sedang menunggunya. Rayan menghela napas kemudian menoleh pada Alana yang sepertinya belum menyadari sosok Sandi yang berada tidak jauh darinya.


“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Alana bingung.


“Kita sudah sampai.” Jawab Rayan memberitahu.


Mendengar itu Alana langsung mengedarkan pandanganya mencari sosok wanita yang sudah berani mengajak suaminya bertemu malam malam begini.

__ADS_1


“Lalu mana dia?” Tanya Alana.


Rayan tersenyum simpul. Pria itu kemudian melangkah kembali mendekat pada Sandi dengan tangan yang terus menggandeng pergelangan tangan Alana.


“Malam om, maaf sudah membuat om menunggu lama.”


Alana diam. Di depanya sekarang berdiri ada Sandi yang sudah Alana tau siapa. Pria itu tampak begitu tenang duduk bersender dikursi dengan orange jus yang menjadi teman duduknya.


“Duduk.” Kata Sandi dengan santai.


Rayan mengangguk. Rayan menarik satu kursi untuk Alana duduk sebelum menarik kursi untuk dirinya sendiri.


Sandi melirik Alana sekilas. Sandi tidak bisa mengelak, Alana memang sama persis seperti putri kesayanganya yang sudah lama meninggal. Sandi juga tidak bisa munafik, Sandi ingin memeluk Alana yang sempat Sandi kira juga adalah putrinya Sakura.


“Kamu sengaja mengajak saya bertemu untuk membuat saya semakin membenci kamu Rayan?”


Alana mengeryit. Sekarang Alana tau kenapa Rayan mengatakan dirinya yang paling cantik dan paling sexy. Tentu saja, karna yang akan ditemuinya adalah Sandi, bukan wanita lain manapun.


Alana meringis merasa malu sendiri dengan apa yang sudah dilakukanya. Alana cemburu tidak jelas bahkan sampai berani memamerkan kemulusan pahanya pada Rayan tadi didalam mobil.


“Om terlalu menilai saya pintar kalau berpikir seperti itu.” Rayan tersenyum mencoba untuk bersikap santai menghadapi Sandi.


“Apa maumu sebenarnya Rayan?”


“Saya ingin mengenalkan istri saya pada om. Saya juga ingin menjelaskan semuanya supaya om tidak salah paham pada saya.” Jawab Rayan.


Sandi tersenyum kecut.


“Itu sudah tidak perlu Rayan. Anggap saja kita sudah tidak lagi saling kenal.”


Alana menatap Sandi. Entah dimana salahnya Rayan pada pria itu sehingga Sandi begitu sangat membencinya.


“Wanita ini kamu buat begitu mirip dengan Sakura itu sudah sangat menyakiti hati saya Rayan. Sakura, sampai kapanpun dia tidak akan tergantikan bahkan sampai saya mati sekalipun.”


Alana mengangkat sebelah alisnya merasa keberatan dengan apa yang Sandi katakan. Wajahnya bukan wajah tiruan. Kalaupun memang mereka sangat mirip mungkin itu adalah kehendak tuhan.


“Tuan..”


Rayan langsung meraih tangan Alana yang sudah hampir melontarkan ucapan pedas pada Sandi. Rayan tidak ingin membuat Alana terimbas kebencian atas kesalah pahaman Sandi.

__ADS_1


“Om salah. Saya tidak membuat Alana mirip dengan Sakura. Tapi tuhan.. Tuhan yang sudah berkehendak.”


Sandi menelan ludahnya menatap penuh rasa benci pada Rayan.


“Kamu bukan pria yang baik untuk putri saya ternyata Rayan. Dan untuk pertama kalinya saya merasa sangat bersyukur tuhan mengambil putri saya. Mungkin itu cara tuhan menjauhkan putri saya dari kamu.” Tekan Sandi.


Rayan menghela napas. Sandi memang cukup keras kepala.


“Sudahlah, tidak ada gunanya kita berbicara lagi. Mulai sekarang, kita adalah orang lain.”


Sandi bangkit dari duduknya setelah berkata. Pria itu berlalu tanpa memperdulikan tatapan dari orang orang disekitarnya.


“Ohh.. Jadi wajah palsu..”


Alana memejamkan kedua matanya. Lagi lagi dia mendengar komentar orang lain tentang dirinya yang memang sangat mirip dengan Sakura. Alana menjadi penasaran. Seterkenal apa Rayan dan Sakura dulu.


Alana menoleh pada Rayan yang masih diam disampingnya. Rayan ber ekspresi datar yang tentu membuat Alana tidak tau apa yang sedang bersarang di pikiran pria tampan itu sekarang.


“Rayan..”


“Kita pulang sekarang.” Sela Rayan cepat.


Alana menghela napas. Alana mengedarkan pandanganya ke seluruh sudut ruangan ramai itu dan hampir semua pengunjung restoran itu menatapnya dengan tatapan aneh, benci, bahkan ada yang sepertinya sangat jijik sampai bergidik menatapnya.


Alana mengangguk pelan kemudian bangkit dari duduknya mengikuti Rayan.


“Ayo..” Ajak Rayan menggandeng tangan Alana berlalu melewati para pengunjung lain yang sebagian besar adalah wanita yang juga hampir semua berbisik bisik menyebut nama Sakura.


Hening


Baik Alana maupun Rayan mereka berdua sama sama diam saat dalam perjalanan menuju pulang. Alana sibuk memikirkan bagaimana Rayan dan Sakura dulu. Sedang Rayan, ekspresi pria itu terus saja datar membuat Alana tidak bisa menebak apa yang sedang Rayan pikirkan.


“Tuan Sandi itu sepertinya sangat menyayangi Sakura.” Alana memecah keheningan dan mulai mengajak Rayan mengobrol.


Rayan menghela napas. Sandi memang sangat menyayangi putri tunggalnya itu. Sakura, setiap gerak geriknya bahkan selalu bisa Sandi awasi dengan detail. Sandi sangat takut sesuatu yang buruk sampai menimpa Sakura dulu.


“Kamu.. dulu apa juga sangat menjaga Sakura?” Tanya Alana menoleh menatap Rayan yang terus fokus dengan kemudinya.


Rayan tersenyum miring.

__ADS_1


“Jangan bertanya seperti orang bodoh Alana. Semua laki laki pasti akan menjaga wanita yang dicintainya dengan baik, begitu juga dengan aku.” Jawab Rayan.


Alana tersenyum. Entah seperti apa rasanya dilindungi oleh seorang pria Alana tidak tau. Alana besar tanpa sosok ayah sejak kecil. Sedang Dion yang pernah menjadi kekasihnya juga sepertinya tidak pernah bisa selalu ada dan melindunginya. Mereka jarang bersama karna Alana sibuk kerja kesana kemari demi bisa membantu meringankan beban ibunya.


__ADS_2