
Malam itu Rayan berkali kali memarahi pak Lim yang dianggapnya tidak becus mengemudikan mobil dalam keadaan darurat. Rayan benar benar kalap sekarang. Mendengar dan melihat langsung bahkan memangku istrinya yang terus merintih kesakitan membuat perasaan campur aduk itu menguasai hatinya.
“Pak Lim bisa tidak cepat sedikit?!”
Sari hanya bisa menatap kasihan pada pak Lim yang menjadi sasaran kemarahan Rayan. Sari sendiri melihat bagaimana padatnya jalanan yang membuat pak Lim tidak bisa mengemudikan mobil semaunya sendiri. Itu jelas akan sangat berbahaya bagi mereka sendiri.
“Sakit Rayan..” Alana kembali merintih dengan tangan mencengkeram erat bahu Rayan. Alana tidak pernah merasakan sakit seperti itu selama hamil. Tapi sekarang rasa itu tiba tiba dia rasakan yang membuat tubuhnya terasa lemas tidak berdaya.
“Ya sayang.. Sabar ya.. Sebentar lagi kita sampai.” Saut Rayan dengan sangat lembut.
Sementara pak Lim, supir pribadi yang sudah bekerja sangat lama dikeluarga Rayan itu terlihat gelagapan, gugup bercampur takut. Pak Lim juga tidak tega melihat dan mendengar Alana kesakitan. Tapi nekat mererobos kerumunan mobil mobil didepan-nya juga akan sangat berbahaya.
“Pak tolong dong.. Istri saya sudah sangat kesakitan..”
“I i iya tuan..”
Sari menghela napas. Usia kandungan Alana baru memasuki 8 bulan lebih satu hari. Dan tiba tiba Alana merasakan sakit yang sekalipun tidak pernah dia keluhkan.
“Jika memang sekarang adalah waktu yang tepat, aku mohon Tuhan.. Permudah semuanya..” Batin Sari dengan kedua mata terpejam.
Karna tidak mau terus mendapat amukan dari Rayan, pak Lim pun memutuskan untuk melalui jalan tikus menuju rumah sakit. Pak Lim juga tidak mau jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Alana. Bukan hanya karna takut pada Rayan saja, tapi karna pak Lim tau Alana adalah orang baik yang pantas untuk selalu hidup sejahtera juga bahagia bersama Rayan.
Begitu sampai tepat didepan rumah sakit, pak Lim segera turun begitu juga dengan Sari. Keduanya membantu Rayan yang memangku Alana keluar dari mobil.
Alana langsung mendapatkan penanganan khusus. Dan kebetulan dokter yang biasa menangani Alana belum pulang sehingga Alana bisa langsung dibawa keruang bersalin.
“Suster, tolong siapkan semua yang akan saya perlukan nanti ya..” Ujar dokter cantik itu pada perawat.
“Baik dokter..” Angguk si suster kemudian segera berlalu keluar untuk menyiapkan semua yang akan diperlukan oleh dokter dalam menangani Alana nantinya.
“Dokter.. Ini sakit..” Keluh Alana lirih.
__ADS_1
“Ya nyonya.. Anda mengalami kontraksi otot rahim. Sabar ya nyonya.. Kita harus menunggu sampai pembukaan itu sempurna dan anda bisa melahirkan anak anda dengan normal..”
Mendengar itu Alana tersenyum. Meski kandungan-nya baru genap 8 bulan tapi ternyata anak dalam kandungan-nya sudah tidak sabar ingin keluar dari kandungan-nya.
“Sebentar nyonya..”
Alana mengangguk lemah. Tubuhnya terasa sangat lemas karna rasa sakit itu yang memang kadang hilang namun tidak lama akan kembali menghampirinya.
“Bagaimana dokter?” Tanya Rayan begitu dokter tersebut keluar dari ruangan tempat Alana akan ditangani.
“Nyonya Alana sudah memasuki pembukaan dua tuan.”
“Pembukaan?” Rayan mengeryit tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dokter didepan-nya.
“Pembukaan itu proses melebarnya serviks yang akan dilalui si bayi tuan. Harap anda sabar dan jangan panik. Anda bisa menemani nyonya Alana selama proses itu berlangsung. Saya permisi.”
“Ya dok..” Angguk Rayan masih terlihat kebingungan.
Sementara itu Sari yang berada dibelakang Rayan tersenyum. Dugaan-nya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit benar. Alana akan segera melahirkan.
Rayan terdiam sesaat. Ini kali pertama dalam hidupnya menemani wanita yang akan melahirkan dan itu adalah istrinya sendiri, Alana.
“Bu.. Saya..”
“Kamu harus sabar dan tenang. Semuanya akan baik baik saja.” Sela Sari.
Rayan menghela napas. Alana melahirkan adalah saat yang selama ini Rayan tunggu tunggu.
“Kalau begitu saya masuk bu..”
“Ya..”Angguk Sari tersenyum tenang.
__ADS_1
Rayan masuk kedalam ruangan dimana Alana berada. Dan begitu masuk, Rayan mendapati Alana yang sedang berbaring miring kesamping kiri. Rayan menahan sejenak napasnya dan menghembuskan-nya kasar. Rayan mewanti wanti dirinya sendiri agar tetap tenang dan tidak panik. Rayan yakin istrinya bisa melalui proses itu.
Pelan pelan Rayan melangkah mendekat pada Alana. Rayan menarik kursi dan duduk tepat disamping kiri dimana Alana menghadap.
Alana tertawa pelan meski meringis diakhir karna rasa sakit itu kembali dirasakan-nya.
“Kita akan segera bertemu dengan anak kita Rayan.” Lirih Alana memberitahu Rayan.
Rayan tersenyum dengan kedua mata berkaca. Sebisa mungkin Rayan mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh dan menetes. Rayan harus tetap tenang untuk menjaga dan menguatkan Alana yang akan melalui proses yang Rayan tau tidak akan mudah. Proses dimana Alana akan mempertaruhkan nyawanya demi bisa melahirkan anak mereka kedunia.
“Ya sayang.. Aku tidak sabar ingin menggendong dan menciumnya..” Saut Rayan berbisik.
Rayan meraih tangan Alana dan menggenggamnya erat. Rayan juga mencium punggung tangan wanita yang sedang berjuang antara hidup dan mati untuknya juga anaknya.
Alana tertawa lagi. Waktu 8 bulan terasa sangat singkat baginya. Rasanya baru kemarin dirinya diputuskan hamil oleh dokter, dan sekarang sudah akan melahirkan.
“Rayan..” Panggil Alana lirih.
“Ya sayang..” Rayan menyauti dengan sangat lembut dan penuh perhatian menatap Alana.
“Pinggangku terasa panas. Boleh tidak aku minta tolong..” Alana menatap Rayan penuh harap.
“Tentu saja. Apa yang harus aku lakukan sayang?”
“Tolong usap usap pelan pinggangku.” Pinta Alana dengan sedikit ringisan.
Rayan mengangguk tidak bisa berkata kata. Lidahnya terasa kelu dengan dada yang begitu sasak. Pandangan Rayan bahkan mengabur karna air mata yang memenuhi kelopak kedua matanya.
Rayan berpindah duduk disamping kanan Alana. Dengan lembut Rayan mulai mengusap usap pinggang Alana. Rayan berharap apa yang dilakukan-nya sekarang bisa meredakan rasa panas yang sedang dialami oleh istri tercintanya.
Selama proses itu berlangsung Rayan terus berada disamping Alana. Rayan dengan sabar mengurus istrinya sendiri. Bahkan Rayan melarang perawat yang saat itu hendak mengantar Alana pipis kekamar mandi dan turun tangan sendiri menuntun Alana yang masih kuat berjalan menuju kamar mandi. Rayan si-tuan muda yang arogan dan galak yang dulu Alana samakan dengan sosok Beast itu tidak sedikitpun merasa jijik saat membersihkan Alana yang selesai pipis. Dan apa yang Rayan lakukan itu berhasil membuat Alana meneteskan air matanya. Alana tidak pernah membayangkan sedikitpun prosesnya akan seperti itu.
__ADS_1
“Hey.. Kenapa nangis sayangku...” Rayan mengusap lembut air mata yang menetes di pipi Alana. Rayan juga mengecup singkat bibir Alana kemudian tersenyum dan menatap tenang pada Alana.
“Kamu kuat sayang. Aku percaya kamu bisa.” Katanya meyakinkan juga menyemangati Alana.