
Sechil masuk kedalam ruang kerja Rayan dengan langkah pelan. Sechil tidak tau kenapa tiba tiba Rayan menyuruh bibi agar memanggilnya dan segera menghadap Rayan yang ada diruang kerjanya.
“Kak..”
Panggilan pelan Sechil berhasil menarik perhatian Rayan dari laptopnya. Rayan mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap Sechil yang sudah berdiri didepan meja kerjanya.
“Bibi bilang kakak suruh aku buat kesini. Ada apa?” Saking penasaran-nya Sechil langsung bertanya maksud Rayan menyuruhnya untuk menemuinya.
Rayan tertawa pelan. Sechil benar benar terlihat sangat polos sekarang. Tidak angkuh dan arogan seperti dulu.
“Duduk dulu.. Kita bicara santai saja.” Kata Rayan.
Sechil mengangguk pelan kemudian segera mendudukan dirinya dikursi yang ada didepan meja kerja Rayan.
Rayan tidak langsung membicarakan apa yang ada dipikiran-nya. Pria itu diam beberapa menit mencoba memikirkan kata apa yang pantas agar Sechil mudah memahami maksudnya.
“Oke, ini tentang Ramon Sechil.”
Sechil hanya diam saja. Jika menyangkut tentang Ramon Sechil sudah tau apa yang akan Rayan bicarakan padanya. Hanya saja Sechil merasa sedikit heran. Ramon mengatakan ingin bertanggung jawab dengan menikahinya, tapi pria itu sama sekali tidak menghubunginya untuk membicarakan langsung tentang keniatan-nya pada Sechil. Disitu Sechil semakin merasa bimbang. Selain merasa tidak pantas, Sechil juga takut Ramon hanya ingin balas dendam padanya. Meski sepertinya itu mustahil mengingat bagaimana dan siapa seorang Ramon.
“Mommy sudah memberitahuku kak.” Ujar Sechil pelan. Rasanya tidak mungkin jika Sechil mengatakan dirinya juga sudah mendengar sendiri secara langsung karna diam diam Sechil menguping dan mengintip malam itu.
Rayan masih diam. Caterine sangat menentang dan memandang rendah Ramon.
“Kakak tidak akan tanya tentang bagaimana reaksi mommy. Ini tentang kamu juga masa depan kamu bersama bayi yang berada dalam kandungan kamu sekarang.” Rayan kembali diam. Rayan menatap Sechil yang sama sekali tidak membalas menatapnya.
“Sechil, liat kakak..” Pinta Rayan.
Sechil perlahan mengangkat kepalanya menatap Rayan yang berada didepan-nya.
“Sekarang jujur sama kakak.. Apa kamu masih mengharapkan Ramon kembali?”
Pertanyaan Rayan membuat Sechil menelan ludah. Sechil ingin menjawab Ya, tapi Sechil merasa ragu. Ramon pasti masih sakit hati dengan apa yang sudah Sechil lakukan.
“Aku tidak pantas bicara tentang itu kak. Aku bukan wanita yang baik.” Lirih Sechil dengan kedua mata berkaca kaca.
Rayan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja Sechil ucapkan.
“Jangan konyol Sechil. Kamu mungkin pernah melakukan kesalahan dan itu wajar. Asal kamu mau berubah dan menjadi wanita serta ibu yang baik untuk anak kamu nanti. Tidak ada yang tidak mungkin Sechil. Buktinya Ramon masih mencintai kamu.”
__ADS_1
Sechil meneteskan air matanya namun dengan cepat dia usap. Kesalahanya begitu besar pada Rayan, Alana, juga Ramon. Sechil bahkan merasa tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari orang orang baik seperti mereka.
“Kak aku...”
“Kakak sudah mencari tau semua tentang Ramon Sechil. Kakak sudah tau bagaimana Ramon yang sesungguhnya. Dan jika memang kamu masih mencintai dia, terima dan cobalah berubah menjadi lebih baik. Kakak yakin kamu akan bahagia bersama Ramon.” Sela Rayan menatap penuh perhatian pada Sechil.
Sechil menggeleng. Sechil merasa sudah sangat menyakiti Ramon.
Melihat Sechil yang menangis, Rayan merasa tidak tega. Rayan bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada Sechil. Rayan memeluk tubuh ringkih Sechil. Adiknya sangat menyedihkan sekarang.
“Bagaimana dengan mommy kak.. Mommy tidak akan setuju kalau aku menikah dengan Ramon..” Lirih Sechil dalam pelukan Rayan.
Rayan mengusap lembut rambut pirang tergerai Sechil. Mommy-nya memang selalu memandang semua orang dari segi harta dan materi. Tidak heran jika Caterine menentang Ramon dan Sechil untuk bersama.
“Jangan khawatirkan yang lain. Mommy biar menjadi urusan kakak. Kakak juga akan menyuruh Luky untuk mencari Daddy kamu di amerika secepatnya.”
Sechil tidak tau harus bagaimana berterimakasih pada Rayan. Mereka berdua beda ayah yang artinya Sechil sama sekali tidak ada hak apapun pada semua yang Rayan miliki. Tapi Rayan, dia sudah begitu sangat baik dengan membiarkan Sechil menikmati semuanya. Rayan bahkan sangat menyayangi Sechil sebagai adik satu satunya.
“Terimakasih kak.. Kakak sangat baik..” Lirih Sechil memejamkan kedua matanya.
Rayan tersenyum dibalik punggung Sechil.
“Hem..” Angguk Sechil tersenyum menyetujui apa yang Rayan katakan.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Alana melihat dan mendengar semuanya. Alana tersenyum, Rayan mengikuti saran-nya untuk berbicara secara langsung pada Sechil. Alana juga merasa senang karna Sechil mau menikah dengan Ramon setelah apa yang Rayan katakan. Mungkin Sechil memang sudah benar benar berubah, tapi Alana merasa tetap tidak bisa percaya seutuhnya pada orang lain selain pada Rayan suaminya dan Sari, ibunya.
“Ngapain kamu disini Alana?”
Alana tersentak kaget saat tiba tiba mendengar suara Caterine. Dengan cepat Alana berbalik dan mendapati Caterine yang sedang berdiri dibelakangnya dengan tatapan penuh kecurigaan.
“Kamu menguping..” Tuduh Caterine langsung.
Alana tetap diam dan tenang. Tuduhan Caterine memang benar, Alana menguping pembicaraan Rayan dan Sechil. Tapi Alana yakin Rayan tidak akan marah. Toh Rayan juga sedang membicarakan apa yang Alana sendiri sudah tau karna memang Alana yang memberi saran agar Rayan langsung membicarakan-nya pada Sechil.
Caterine menatap Alana dari atas sampai bawah. Wanita itu tersenyum sinis membayangkan Rayan yang akan sangat marah jika tau Alana menguping pembicaraan-nya didalam sana.
“Bagaimana jika Rayan tau kamu menguping pembicaraan-nya didalam sana Alana?”
Alana tertawa pelan. Caterine sedang mencoba mencari celah dari kesalahan-nya.
__ADS_1
“Mommy lucu sekali.. Tapi silahkan panggil saja Rayan. Kita lihat apakah dia marah atau tidak.” Kata Alana menantang.
Caterine tersenyum sinis. Caterine merasa sangat yakin bahwa Rayan akan marah pada Alana karna sudah lancang mendengarkan apa yang sedang Rayan bicarakan didalam ruangan-nya.
“Baik, minggir kamu !” Ketus Caterine.
Alana menyingkir dari depan pintu dengan santai. Jika saja Caterine berani mendorongnya meski dengan pelan, Alana akan membalasnya. Tidak perduli Caterine siapa. Alana hanya berusaha melindungi diri juga janin yang sedang dikandungnya dari Caterine.
“Masuk kamu.” Perintah Caterine mendelik pada Alana.
“Iya mommy..” Angguk Alana tersenyum manis.
Rayan dan Sechil yang melihat Alana dan Caterine masuk terlihat bingung. Sechil yang duduk langsung bangkit berdiri.
“Alana.. Mommy.. Ada apa?” Tanya Rayan bingung.
Caterine berhenti melangkah ketika sampai didepan Sechil dan Rayan. Dengan angkuh wanita itu melipat kedua tanganya didepan dada.
“Rayan, menurut kamu hukuman apa yang pantas untuk orang yang menguping pembicaraan orang lain?”
Alana ingin sekali tertawa mendengarnya. Caterine benar benar sangat lucu dan selalu saja mencoba mencari cari kesalahan-nya.
“Apa maksud mommy? Siapa yang menguping?” Tanya Rayan mengeryit bingung.
Caterine melirik Alana yang sedang berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.
“Tentu saja dia, istri kamu.” Jawab Caterine dengan angkuhnya.
Rayan menatap Alana yang hanya diam saja. Rayan tau mommy-nya memang tidak pernah suka pada Alana.
“Apa itu benar Alana?” Tanya Rayan menatap Alana serius.
Alana menganggukan kepala tanpa sedikitpun merasa ragu. Alana yakin Rayan tidak akan salah mengartikan kata “Menguping” yang dilontarkan oleh Caterine.
“Baiklah. Sechil dan mommy tolong kalian keluar dulu. Biarkan aku bicara berdua dengan Alana.” Ujar Rayan dengan kalimat penuh penekanan.
Caterine tersenyum penuh kemenangan. Caterine kemudian meraih lengan Sechil dan mengajaknya keluar dari ruangan Rayan.
“Ayo sayang, biarkan Alana mendapat ganjaran atas kesalahan-nya.” Katanya.
__ADS_1