Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 157


__ADS_3

Setelah mengetahui siapa Mamang penjual mie ayam sebenarnya, Rayan langsung menyuruh Luky untuk mendatangi Mamang tersebut. Rayan juga menyuruh agar Luky mengajak Mamang mie ayam itu datang kerumah Rayan dan membuatkan langsung mie ayam yang di inginkan oleh Alana.


Sari yang memang memberitahu Rayan tentang penjual mie ayam itu hanya bisa tersenyum melihatnya. Rayan benar benar melakukan segalanya demi bisa menuruti keinginan Alana.


“Makasih ya mang sudah mau mampir kesini..” Ujar Sari pada penjual mie ayam langganan-nya dulu. Mang slamet namanya.


“Bu Sari ini.. Saya justru yang sangat berterimakasih dan merasa sangat terhormat bisa diundang kesini oleh Tuan Rayanza. Jujur saya sangat terkejut loh bu.. Ternyata nyonya mudanya itu neng Alana..” Saut Mang Slamet.


Sari tertawa mendengarnya.


“Ya mang.” Katanya.


Sementara diteras Alana tampak sangat menikmati mie ayamnya dengan Rayan dan Luky yang menemani. Alana bahkan sudah nambah satu porsi. Namun tidak hanya Alana saja yang menikmatinya, semua pekerja dirumah itu juga Rayan perbolehkan untuk mencicipi mie ayam langganan istri dan ibu mertuanya.


“Pantesan saja nyonya sangat ingin memakan mie ayam ini bahkan sampai rela keliling pasar. Ternyata memang mie nya seenak ini.” Ujar Fina yang duduk dipantri didapur dengan bibi dan pak Lim.


“Ya, selera nyonya memang tidak main main Fina. Kali ini saya setuju sama kamu.” Roky yang sedang kepedesan muncul dari arah pintu dapur dan menuang segelas air putih dingin dari teko besar yang terbuat dari kaca didepan Fina.


“Apaan sih monster satu ini. Ikut ikutan aja.” Dumel Fina dengan bibir mengerucut sebal.


Roky mendelik mendengarnya. Niatnya menimpali ucapan Fina adalah benar karna apa yang dikatakan Fina tentang mie ayam mang Slamet yang sangat enak itu memang benar. Ditambah dengan ucapan pak Lim yang mengatakan bahwa selera Alana yang tidak main main.


“Kamu itu kenapa sih kayaknya nggak suka banget sama aku? Kita sama sama kerja disini.” Roky yang merasa geram akhirnya menegur Fina yang duduk didepan-nya.


Merasa tidak terima dengan teguran Roky, Fina pun bangkit. Gadis itu berdiri tanpa merasa gentar sedikitpun didepan Roky yang berbadan kekar itu. Sementara Fina, badan-nya begitu ramping yang terkadang membuat bibi dan pak Lim ngeri.


“Sudah sudah.. Kalian ini apa apaan sih, setiap ketemu pasti berantem.” Ujar bibi.


“Fina duluan yang nyolot sama saya bi.. Saya kan cuma membenarkan apa yang Fina dan pak Lim katakan. Dimana salahnya coba.” Roky membela diri tidak mau disalahkan.

__ADS_1


“Eh monster, asal kamu tau ya kamu disini saja itu sudah sangat salah.” Ketus Fina yang terus saja bersikukuh merasa benar.


“Kamu itu..”


“Sudah saya bilang. Roky, lebih baik kamu keluar !!” Sela bibi sedikit meninggikan suaranya.


Roky menghela napas. Tangan-nya mengepal merasa sangat gemas pada Fina yang begitu berani dan selalu menentangnya.


“Untung kamu anak kecil.” Tekan-nya kemudian berlalu.


Fina semakin memajukan tubuhnya menentang Roky. Gadis itu merasa dirinya bisa menghadapi Roky yang sangat menyebalkan menurutnya.


Pak Lim yang berada didepan pintu keluar dapur hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Fina dan Roky juga Robin memang selalu berseteru dimanapun mereka bertemu. Beruntung Roky dan Robin selalu bisa menahan diri dan tidak berbuat kasar pada Fina.


“Lain kali kamu jangan begitu Fina. Mas Roky dan mas Robin itu sangat besar. Kalau mereka sampai emosi dan kamu diremukkan bagaimana?” Dumel bibi.


“Bibi tenang saja, meskipun saya langsing tapi saya bisa menghandle mereka berdua bi.. Saya kan hebat, makan-nya tuan mempercayakan nyonya pada saya.” Senyum Fina penuh percaya diri.


“Fina, berhenti bersikap seperti ini atau kamu tidak akan laku nanti.” Tegur bibi tegas membuat Fina langsung menye menye sedih.


“Sudah puas makan mie ayam mamangnya?” Tanya Rayan pada Alana yang sedang duduk berdua dengan Sari diruang keluarga. Rayan mendudukan dirinya disofa tunggal yang berada tepat disamping sofa panjang yang Alana dan Sari duduki.


Alana tersenyum lebar dengan anggukan kepala.


“Makasih banget ya suaminya aku yang paling tampan.” Balasnya senang.


Rayan mengeryit kemudian tertawa. Panggilan Alana terdengar sangat berlebihan.


Sari yang juga merasa lucu dengan panggilan Alana pada Rayan ikut tertawa. Tidak mau mengganggu waktu berdua Rayan dan putrinya Sari pun bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Ibu sudah ngantuk, ibu tidur dulu ya..” Pamitnya beralasan.


“Ya bu.. Selamat malam.” Angguk Rayan.


“Ya, selamat malam juga.” Balas Sari tersenyum pada Rayan kemudian berlalu dari ruang keluarga.


Setelah Sari keluar dari ruang keluarga, Alana menoleh lagi memastikan ibunya benar benar sudah tidak ada disana. Alana melirik Rayan yang mulai anteng dengan laptopnya.


“Suaminya aku..” Panggil Alana dengan manjanya.


Rayan yang merasa aneh dengan rengekan manja serta panggilan tidak biasa Alana langsung menoleh. Pria itu menatap bingung pada Alana yang mengerlingkan beberapa kali kedua mata padanya.


“Mata kamu kelilipan?” Tanya Rayan yang memang tidak mengerti dengan kode yang Alana berikan.


Senyuman lebar dibibir Alana langsung memudar berganti dengan kerucutan dibibir yang justru membuat Rayan langsung merasa sangat gemas. Rayan tersenyum kemudian menaruh laptop yang dipangkunya diatas meja.


Rayan bangkit dari duduknya mendekat pada Alana berpindah duduk disamping wanitanya.


“Kamu menginginkan sesuatu lagi hem?” Tanya Rayan meraih tangan Alana menggenggam dan mengusap lembut cincin pernikahan yang melingkar dengan pas dijari manis Alana.


Alana ingin sekali marah karna pertanyaan Rayan tadi pada matanya. Namun insting ingin di manjanya begitu sangat kuat sehingga Alana hanya bisa menghela napas saja. Alana menyenderkan kepalanya didada bidang Rayan. Entah kenapa seharian ini Alana ingin sekali mendapat perlakuan manja dan istimewa dari Rayan. Dan Alana yakin jika dirinya jujur dan mengatakan apa yang sedang di inginkan-nya pasti Rayan akan merasa aneh atau bahkan menertawakan-nya.


“Ayolah Alana.. Jangan seperti ini. Katakan saja apa yang kamu inginkan. Aku akan memenuhi semuanya.” Desak Rayan lembut.


Alana menegakkan kembali kepalanya kemudian mendongak pada Rayan yang sedang menatapnya. Alana bisa melihat dengan jelas gurat kekhawatiran dari wajah tampan suaminya.


Alana merasa dirinya yang sekarang seperti bukan lagi dirinya yang biasanya. Alana merasa lemah dan tidak berdaya jika sudah berada didepan Rayan. Alana ingin selalu diperlakukan lembut oleh Rayan.


“Ada apa?” Tanya Rayan lirih. Tangan besarnya dengan lembut membelai pipi Alana yang semakin terlihat bulat itu.

__ADS_1


Alana masih merasa malu untuk mengakui apa yang sedang dirasakan-nya. Alana menggelengkan kepalanya kemudian menyusup masuk kedalam dekapan hangat Rayan.


Rayan yang merasa bingung dan tidak bisa membaca pikiran istrinya hanya bisa menghela napas pelan. Rayan mendekap Alana dengan penuh kasih sayang dan beberapa kali mengecup puncak kepala wanita yang sangat dicintainya itu.


__ADS_2