
Tidak sampai 20 menit Ramon, Sechil, Bastian, juga Cleo sampai didepan rumah sakit. Cleo turun lebih dulu dari Bastian kemudian mendekat pada Sechil yang baru saja turun dari motor metik yang dikendarai Ramon.
“Apa kamu yakin rumah sakit ini bagus? Jangan hanya karna biayanya murah kamu tergiur Sechil.”
Sechil menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Cleo katakan padanya. Sechil merasa Cleo tidak bisa menjaga mulutnya dengan berbicara begitu gamblang tidak sopan.
“Kamu tidak perlu khawatir tentang Biaya. Bastian yang akan menanggung semuanya.” Lanjut Cleo menatap Sechil dengan tatapan kesalnya.
Ramon yang juga merasa tidak enak dengan apa yang Cleo katakan segera turun dari motornya. Tanganya menyentuh dan menggenggam lembut tangan Sechil yang mengepal karna mulai emosi akibat ucapan Cleo.
“Sebelumnya maaf nona Cleo. Saya dan istri saya tidak pernah meminta tanggung jawab dari Bastian.” Tegas Ramon pada Cleo.
Cleo tersenyum mendengarnya. Cleo melipat kedua tangan-nya dibawah dada menatap Ramon dengan tatapan sombongnya.
“Kamu yakin? Bukan-nya nyonya Caterine sendiri yang datang kerumah Bastian? Dia merusak acara makan malam bersama kami. Dia bahkan merusak mobil om Gery, ayah Bastian. Dan dia juga ngotot ingin Bastian menikahi Sechil.” Katanya dengan santai.
Ramon diam begitu pula dengan Sechil. Cleo mengatakan yang sebenarnya. Tapi baik Ramon maupun Sechil keduanya tidak pernah menuntut apapun pada Bastian selain pengakuan untuk anak yang sedang dikandung Sechil nanti setelah lahir. Bastian sendiri yang datang dan mengatakan akan menanggung semuanya. Sedang Ramon, pria itu merasa tidak berhak melarang karna bagaimanapun juga anak yang Sechil kandung adalah anak Bastian.
“Apa apaan kamu Cleo?” Bastian mendekat dan langsung menegur Cleo yang mengatakan semua yang dia tahu tanpa memikirkan perasaan Sechil dan Ramon.
“Bastian, apa yang aku katakan itu benar kan? Kamu tidak perlu merasa tidak enak pada mereka berdua. Biar mereka itu tau dan tidak seenaknya.” Cleo tetap ngotot dan merasa benar.
__ADS_1
“Cleo cukup !!” Tegas Bastian menatap Cleo serius.
Cleo menggelengkan kepalanya menatap Bastian dengan tatapan tidak percaya. Maksud Cleo benar dengan menanyakan tentang rumah sakit itu apakah bagus untuk Sechil dan bayinya atau tidak. Cleo juga bermaksud menyadarkan keduanya agar tidak perlu takut soal biaya karna memang semua Bastian yang akan menanggung.
“Kalau kamu tidak bisa tenang juga, kita pulang saja.” Lanjut Bastian kemudian.
Cleo berdecak kesal. Bastian tidak mengerti maksudnya kali ini.
Sementara Sechil dan Ramon, keduanya hanya diam saja melihat Bastian dan Cleo berdebat. Mereka tidak mau ikut campur meskipun memang menurut keduanya Cleo memang salah.
“Nona Sechil, Ramon, saya minta maaf atas Cleo. Mari kita masuk.”
“Ya..” Angguk Ramon kemudian menggandeng tangan Sechil dan mengajaknya masuk kedalam rumah sakit tersebut.
“Ayo Cleo..” Ajak Bastian.
“Aku pulang saja.” Ketus Cleo kemudian berlalu dan menyetop taxi kemudian masuk kedalamnya.
Bastian yang melihat itu hanya bisa menghela napas kemudian masuk kedalam menyusul Sechil dan Ramon yang sudah lebih dulu masuk tanpa memperdulikan Cleo yang sedang merajuk padanya. Bastian menganggap mungkin Cleo sedang membutuhkan waktu untuk sendiri sekarang. Setelah Cleo tenang dan bisa berpikir dengan jernih, Bastian akan menjelaskan semuanya.
------
__ADS_1
Dilain tempat Michelle sedang menikmati cemilan dalam toples kecil yang dipegangnya. Kembali tinggal bersama kedua orang tuanya merupakan sebuah kebahagiaan yang sangat Michelle nantikan selama ini. Sementara berpisah dengan Dion seperti sekarang adalah hal yang tidak pernah Michelle sangka. Michelle sadar bagaimanapun buruknya Dion dia tetaplah ayah dari anak yang sedang dikandungnya. Tapi jika untuk bertahan dan terus memaklumi apa yang Dion lakukan Michelle merasa itu tidak mungkin. Michelle tidak mau kedua orang tuanya terus dimanfaatkan oleh Dion.
Michelle menghela napas. Mengingat Dion membuat dadanya terasa sesak. Dion menyakiti bukan hanya perasaan-nya saja tapi juga fisik dan batin-nya.
Ingatan Michelle berputar pada saat mereka masih kuliah dulu. Michelle ingat bagaimana Dion selalu menjaganya. Michelle juga ingat bagaimana Dion yang tidak pernah mau meninggalkan-nya bahkan saat sedang bersama Alana. Mungkin dulu Michelle merasa terbang dan istimewa untuk Dion. Tapi sekarang Michelle tau kenapa Dion melakukan semua itu. Tentu saja untuk dirinya sendiri agar saat birahinya naik ke ubun ubun Dion bisa melampiaskan padanya dimanapun dan kapanpun dirinya dan Michelle berada.
“Dasar bodoh..” Gumam Michelle tertawa miris. Michelle menertawakan kebodohan-nya sendiri yang mau saja menjadi budak nafsu Dion dimasa lalu.
“Kenapa aku begitu bodoh dan mau saja diperbudak oleh Dion..”
Michelle menangis dalam diam. Air matanya jatuh menetes membasahi kedua pipi chuby nya. Michelle menyesal, sangat menyesal walaupun memang penyesalan itu tidak akan merubah keadaan. Tapi setidaknya rasa penyesalan itu mampu merubah cara berpikirnya sekarang.
Michelle menunduk menatap perutnya yang membesar. Toples kecil berisi cemilan yang sedang dipegangnya dia taruh diatas meja yang ada didepan-nya. Michelle kemudian menyentuh lembut perutnya sendiri.
“Kamu akan aman sama mamah sayang.. Mamah akan menjaga kamu dengan segenap hati, jiwa, bahkan raga mamah.. Tidak boleh ada satupun orang yang menyakiti kamu meskipun itu papah kamu sendiri..” Gumamnya tulus.
Michelle memejamkan kedua matanya merasakan gerakan kuat dari perutnya. Michelle tertawa, anak dalam kandungan-nya bisa merespon sentuhan lembut juga ucapan-nya.
Dari ambang pintu kaca yang terbuka lebar Cindy mendengar semuanya. Tangan-nya mengepal dengan emosi yang mulai kembali menguasai hati dan juga pikiran-nya. Apa yang Michelle katakan membuat dendam yang menguasai hati Cindy semakin membara. Michelle adalah permata hatinya dan Dion dengan sangat kejam telah menyiksa batin juga fisiknya. Dion juga memanfaatkan kebaikan-nya dan suaminya.
“Akan ku buat kalian menyesal seumur hidup kalian Dion, Agatha. Akan aku pastikan setiap detiknya hanya air mata yang menghiasi kehidupan kalian..”
__ADS_1
Dion memang sudah menjadi gila. Sedangkan Agatha, dia jatuh miskin dan sudah tidak punya apa apa lagi. Tapi bagi Cindy itu semua belum cukup untuk membalas apa yang sudah Dion perbuat pada putri semata wayangnya Michelle. Cindy ingin melihat Dion dan Agatha lebih susah dari sekarang. Bila perlu sampai malaikat mencabut nyawa keduanya.
“Kamu segalanya buat mamah sama papah sayangku Michelle.. Mamah tidak akan membiarkan orang orang yang telah menorehkan luka dihati kamu hidup dengan tenang dan bahagia. Mereka harus merasakan apa yang kamu rasakan. Mereka harus lebih menderita dari kamu.” Lirih Cindy dengan dendam yang menguasai.