
“Sechil..” Panggil Rayan membuat lamunan Sechil buyar. Sechil menoleh menatap Rayan yang sedang mengemudikan mobil. Sejak pindah, Rayan memang lebih suka mengemudikan mobil sendiri kemanapun termasuk saat akan pergi bekerja. Sedang pak Lim, Rayan menyuruhnya untuk selalu siap dirumah agar jika Alana, Sari, bibi, maupun Fina hendak keluar selalu ada yang mengantar.
“Kenapa kak?” Tanya Sechil karna Rayan yang tidak langsung mengatakan sesuatu begitu dirinya menoleh.
Rayan menghela napas.
“Alana bilang lebih baik kamu mengatakan apa yang sedang kita rencanakan ini pada Ramon lebih dulu.”
Sechil memejamkan kedua matanya. Mengatakan pada Ramon pasti akan menimbulkan kesalah pahaman.
“Ramon akan melarang pasti kak. Ramon juga akan salah mengartikan maksud kita.” Ujar Sechil pelan.
“Kamu bisa mengatakan alasan yang pasti bisa diterima oleh Ramon Sechil. Jangan membuatnya merasa dihianati.”
Sechil tersenyum miris.
“Aku tidak akan mencegah jika memang dia akan pergi kak. Ramon pantas mendapatkan istri yang baik.”
Rayan hanya bisa menghela napas. Ramon memang sangat baik bahkan sampai bisa mengarahkan sifat keras kepala Sechil.
“Kalau kamu tidak mau terus terang sama Ramon, biar kakak yang akan membicarakan-nya nanti.”
“Terserah kakak saja.” Jawab Sechil pasrah.
Tidak lama kemudian mobil Rayan sampai tepat dirumah teman yang dulu pernah sangat dekat dengan Sechil. Namun setibanya disana ternyata teman Sechil sedang tidak ada dirumah karna sedang kuliah. Sechil yang sudah merasa tanggung langsung saja menyusul kekampus tanpa memikirkan risikonya.
“Sechil?”
Luna menatap tidak percaya pada Sechil yang tiba tiba berada didepan-nya. Gadis tinggi semampai itu menatap dari atas sampai bawah penampilan Sechil yang menurutnya sudah jauh sangat berbeda dengan Sechil yang dulu sangat dekat dengan-nya.
“Ada yang mau aku tanyain sama kamu Lun, ini sangat penting.” Ujar Sechil menatap Luna.
“Apa?” Tanya Luna yang takut terseret masalah lagi jika kembali dekat dengan Sechil.
“Kamu ikut aku..” Sechil meraih tangan Luna menuntun agar Luna mengikutinya. Namun begitu melewati kelas Ramon Sechil berhenti sebentar. Sechil menoleh kedalam dan tidak sengaja mendapati Ramon yang sedang mengobrol dan tertawa bersama seorang teman wanita.
Luna yang mengerti dengan tatapan cemburu Sechil pada Ramon tersenyum.
“Ramon memang sedang dekat dengan junior, namanya Gabriella. Tapi kamu nggak perlu cemburu Sechil. Ramon hanya mantan bukan?”
__ADS_1
Sechil melengos. Tidak ada yang tau memang perihal pernikahan-nya dengan Ramon beberapa bulan lalu.
Sechil kembali menarik tangan Luna agar mengikutinya. Sechil membawa Luna keparkiran dan menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil Rayan.
Didalam mobil Luna terkejut mendapati Rayan yang sedang duduk anteng sambil memainkan hp nya. Tidak ada seorangpun yang tidak tau siapa Rayanza Gilbert.
“Sechil kamu..”
“Tentang malam itu, malam terakhir kita ke klub aku yakin kamu masih mengingatnya Luna.” Sela Sechil menatap Luna penuh harapan.
Luna diam. Sechil memang bersamanya saat seorang hampir melecehkan-nya.
“Apa kamu ingat siapa yang menolongku?” Tanya Sechil kemudian.
Luna diam berusaha mengingat kembali kejadian malam itu. Malam dimana akhirnya mereka tidak lagi pergi bersama. Malam yang 3 bulan kemudian akhirnya Sechil divonis hamil.
“Aku hanya mengingat wajahnya saja. Aku tidak tau siapa namanya. Saat itu kalian mabuk berat, kamu bahkan sudah diberi obat perangsang hingga kamu dengan tidak sadar menarik orang itu. Setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Aku pulang karna aku tidak bisa menemukan kamu dimanapun Sechil. Maaf.. Aku tidak bermaksud tidak setia menjadi teman kamu.. Tapi..”
“Sudahlah lupakan saja tentang itu. Sekarang aku akan tunjukan sesuatu.” Sela Sechil kemudian meminta hp Rayan yang langsung diberikan oleh Rayan tanpa pikir panjang.
“Luna apa orang itu dia?” Tanya Sechil sambil menunjukkan photo Bastian pada Luna.
Luna membulatkan kedua matanya. Photo Bastian terlihat sangat cool dimatanya.
Rayan melongo mendengarnya. Teman adiknya masih sempat mengagumi Bastian saat ditanya dengan serius.
“Ya tuhan.. Luna tolong serius. Apa benar dia orang yang menyelamatkan aku dari penjahat kelamin itu?” Tanya Sechil gemas.
Luna menatap Sechil dengan ekspresi merengut.
“Kita dulu juga berburu pria tampan bersama untuk berkencan. Apakah itu artinya kita juga penjahat kelamin?” Tanya Luna membuat Sechil mendelik.
Rayan ikut mendelik mendengar pengakuan secara tidak sengaja Luna. Rayan benar benar tidak menyangka jika kehidupan adiknya begitu sangat bebas dan liar dimasa lalu.
“Luna...” Gemas Sechil menatap Luna.
Luna melirik pada Rayan. Luna benar benar melupakan kehadiran Rayan begitu melihat sosok tampan Bastian.
“Oke baiklah. Sepertinya memang dia orangnya. Kamu tau sendirikan aku juga sedikit mabuk saat itu. Dan juga cahaya di klub itu menghalangi pandanganku untuk melihat jelas laki laki itu. Tapi sepertinya memang dia. Tatapan matanya juga postur tubuh ah ya, model rambutnya pun sama. Dia orang nya.” Terang Luna.
__ADS_1
Rayan berdecak. Meski pengakuan Luna membuatnya semakin yakin bahwa pria itu memang Bastian namun cara bicara Luna membuatnya sedikit kesal. Terlihat sekali bahwa Luna adalah orang yang plin plan.
“Kamu yakin dia orangnya?” Tanya Sechil merasa ragu.
“Aku yakin dia orangnya Sechil. Tatapan matanya sama. Kamu bisa tes DNA jika merasa ragu.”
Rayan mengeryit. Tes DNA adalah satu satunya cara yang paling efektif. Tapi masalahnya anak Sechil belum lahir.
“Atau kamu bisa menanyakan sama dia langsung. Mungkin dia masih ingat sama kamu atau rambut pirang kamu.”
Sechil menghela napas. Yang memiliki rambut pirang bukan hanya dirinya saja. Bastian bisa saja sudah mengenal banyak wanita berambut pirang diluar sana.
“Ah Sechil aku harus segera pergi sekarang. Sebentar lagi kelas pak Sam dimulai. Kak saya permisi.”
“Oh oke..” Angguk Rayan.
Luna kemudian keluar dari mobil Rayan. Namun saat hendak berlalu Luna kembali mengetuk kaca mobil Rayan membuat Sechil langsung menurunkan-nya.
“Kenapa?” Tanya Sechil dengan wajah sendu.
“Kabari aku jika anakmu lahir ya.. Aku tidak sabar menunggu calon keponakanku.” Senyum Luna.
Sechil hanya tersenyum tipis. Luna memang teman yang baik meski tingkahnya liar sepertinya dulu. Sechil menganggukan kepalanya membalas.
“Oke.. See you next time.” Kata Luna kemudian berlari menjauh dari mobil Rayan.
Sechil menghela napas menatap punggung Luna. Andai saja dirinya tidak hamil mungkin dirinya masih bisa kuliah. Sechil masih bisa tertawa bahagia menikmati harinya.
Sechil tersenyum. Jika dirinya masih bergaul dengan Luna dan yang lain-nya mungkin dirinya masih jahat. Dirinya tidak menikah dengan Ramon dan Rayan tidak akan berada disampingnya seperti sekarang.
“Bagaimana?” Tanya Rayan pelan.
“Kita pulang saja dulu kak. Besok baru kita temui Bastian.” Jawab Sechil.
“Oke..” Angguk Rayan kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dari parkiran.
Caterine yang memang sejak tadi membuntuti keduanya dibuat semakin penasaran.
“Ngapain mereka berdua kesini?” Gumamnya penuh tanda tanya.
__ADS_1
Caterine terdiam dengan segala pemikiran-nya tentang Sechil. Perlahan seulas senyum terukir dibibirnya.
“Luna, aku bisa tanyakan pada Luna nanti..”