Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 122


__ADS_3

Paginya, Ramon dan Sechil bangun dengan bahagia. Sechil bahkan tanpa malu malu meminta untuk mandi bersama. Hal itu membuat Ramon salah tingkah namun tetap mau mengikuti kemauan istrinya.


Selesai mandi bersama, Ramon juga membantu mengeringkan rambut Sechil. Tidak ada apapun yang terjadi saat mereka mandi meski sebenarnya Ramon mati matian menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.


Begitu penampilan-nya rapi, Sechil dan Ramon pun keluar dari kamar yang mereka tempati. Menginap semalam dikediaman baru kakaknya benar benar terasa seperti sebulan karna peristiwa pertemuan tidak sengaja Sechil dan Bastian yang berhasil mengaduk perasaan semua orang yang melihatnya.


“Selamat pagi kak...”


Sapaan ramah Ramon membuat Alana yang sedang menata hidangan diatas meja menoleh. Wanita dengan dress motif kupu kupu lucu itu tersenyum manis menatap Sechil dan Ramon.


“Hey.. pagi juga.. Ayo duduk, kita sarapan sama sama..” Katanya mempersilahkan Ramon dan Sechil untuk duduk.


“Ini kakak yang masak semua?” Tanya Sechil menatap berbagai hidangan lezat di atas meja makan.


Alana tersenyum dan menggelengkan pelan kepalanya.


“Yang masak bibi sama Fina. Aku hanya membantu sedikit sedikit.” Jawab Alana.


Sechil mengangguk mengerti. Alana memang tidak pernah ingin orang lain tau jasanya. Sechil sendiri sudah tau Alana memang pintar memasak.


“Kapan kapan ajarin aku masak ya kak..”


“Kita bisa belajar sama sama lain waktu. Ya sudah kalian berdua sarapan yah.. Aku mau keatas dulu buat manggil Rayan.”


“Oke..” Angguk Sechil kemudian menarik kursi dan duduk ditempatnya.


Sedang Ramon, pria itu tersenyum menatap hidangan yang tersaji diatas meja makan. Hidangan didepan-nya bukanlah hidangan sederhana tapi hidangan lezat ala restoran yang dimasak sendiri oleh Alana dan 2 pekerjanya. Ramon benar benar merasa sangat takjub pada saudara iparnya itu. Ramon berharap istrinya juga bisa seperti Alana, selain baik juga pandai memasak.


“Kita langsung pulang kan abis ini? Mommy nelponin aku terus dari semalam soalnya.”


Ramon menoleh dan tersenyum pada Sechil. Wajar jika Caterine menelpon Sechil terus menerus. Mungkin wanita itu merasa kesepian karna sejak kemarin ditinggal sendirian dirumah.

__ADS_1


“Aku akan antar kamu pulang dulu setelah itu baru berangkat kekampus.” Jawab Ramon.


Tidak lama Alana kembali turun dengan Rayan disampingnya. Mereka berempat sarapan bersama dengan diselingi candaan dan obrolan hangat. Meski memang sikap Rayan sedikit berbeda pada Sechil pagi ini.


Setelah sarapan Ramon dan Sechil pamit pada Rayan dan Alana. Sedang Rayan, pria itu memilih untuk bekerja dari rumah karna masih tidak tega jika harus meninggalkan Alana hanya bertiga dengan bibi dan Fina dirumah.


“Aku berencana menyuruh Roky dan Robin untuk berjaga disini.”


Alana menoleh cepat pada Rayan yang sedang fokus dengan laptopnya. Alana pikir dengan mereka pindah mereka tidak perlu lagi jasa Robin dan Roky.


“Memangnya harus mereka disini? Bukanya lebih baik mereka dirumah yang lama supaya bisa mengawasi mommy?”


Rayan menghela napas kemudian menoleh membalas tatapan Alana.


“Itu tidak menjamin Alana. Tolong menurut saja. Ini demi kebaikan kita juga.”


“Lalu bagaimana dengan Ramon dan Sechil?”


Rayan mengeryit. Tentang Ramon dan Sechil Rayan tidak terlalu memusingkan. Ramon bisa membawa Sechil pergi jauh dari Caterine bahkan kekampung halaman-nya bila perlu. Disamping itu juga Sechil merasa sangat berhutang jasa pada Ramon sehingga Sechil pasti akan menuruti apa yang Ramon katakan.


Rayan meraih laptop yang sedang dipangkunya kemudian meletakkan diatas meja didepanya. Rayan kemudian mengukir senyuman dibibir tipisnya.


“Dengar Alana, Sechil dan Ramon pasti bisa menjaga hubungan mereka. Yang terpenting adalah kita harus selalu bersama. Aku yakin dengan kita kompak dan tetap selangkah semuanya akan mudah. Bahkan untuk membantu mereka berdua kita juga harus selangkah bersama.”


Alana terdiam. Apa yang Rayan katakan memang benar. Mereka berdua harus lebih fokus dengan hubungan mereka sendiri.


“Baiklah kalau begitu.” Alana akhirnya menyetujui.


Rayan merentangkan kedua tanganya memberi kode agar Alana berhambur kedalam pelukan-nya.


Tanpa pikir panjang Alana langsung mendekat dan berhambur memeluk tubuh kekar Rayan. Alana yakin cintanya dan Rayan adalah cinta sejati. Tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan mereka berdua sekalipun Caterine, ibu kandung Rayan sendiri.

__ADS_1


 --------


Ditempat lain, Michelle sedang melipat baju baju bayi yang baru saja dibelinya bersama mamahnya, Cindy. Michelle tersenyum menatap satu persatu baju baju imut itu.


“Mamah sudah nggak sabar ingin bertemu dengan kamu sayang... Setelah kamu lahir nanti kita pergi yah.. Kita pindah.” Bisik Michelle sambil mengusap lembut perut besarnya.


Michelle merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dalam kehidupan rumah tangganya bersama Dion. Pria itu hanya memanfaatkan-nya. Adapun kedua orang tuanya, Michelle akan menjelaskan-nya nanti saat waktu itu tiba.


Michelle memejamkan kedua matanya. Saat itu juga bayangan masa lalu indahnya bersama Dion kembali menghantuinya. Michelle bahkan mengingat kembali saat Dion merayu dan menyentuhnya dengan penuh kelembutan. Dulu Dion selalu melindunginya. Michelle pikir karna Dion dulu mencintainya. Tapi sekarang Michelle sadar, Dion dulu melindunginya bukan karna Dion mencintainya. Tapi karna Dion menganggap Michelle adalah budak nafsu yang harus selalu baik baik saja dan siap untuk disentuh kapanpun dan dimanapun Dion inginkan.


Michelle menghela napas. Menyesal sudah tidak lagi ada gunanya sekarang. Yang terpenting sekarang bagi Michelle adalah dirinya juga janin dalam kandungan-nya sehat. Michelle akan pergi jauh mencari kehidupan baru dengan anaknya nanti tanpa Dion yang tidak pernah menganggapnya ada.


Suara pintu yang dibuka dengan pelan membuat Michelle membuka kedua matanya. Michelle mengeryit ketika mendapati Dion berdiri didepan pintu kamarnya. Rasanya sangat aneh, biasanya Dion selalu datang dengan membuka kasar pintu itu. Tapi sekarang tidak.


Michelle terus menatap Dion yang perlahan mulai melangkah mendekatinya. Pria itu menatap Michelle dengan tatapan yang Michelle bahkan tidak bisa mengartikan-nya.


“Kamu sudah makan?”


Michelle terkejut. Tatapan-nya berubah waspada begitu mendengar pertanyaan tidak biasa Dion. Michelle yakin Dion pasti sedang menginginkan sesuatu darinya sekarang.


“Sejak kapan kamu perduli padaku Dion? Bukan-nya kamu lebih suka jika aku tidak makan, lalu sakit, dan akhirnya aku mati?” Tanya balik Michelle dengan nada sinis.


Dion tertawa mendengarnya. Pria dengan kemeja hitam lengan panjang itu kemudian mendudukkan dirinya ditepi ranjang tepat disamping kotak baju baju bayi yang sedang dibereskan oleh Michelle. Kini posisi mereka hanya terhalang oleh baju baju imut itu.


“Hanya orang bodoh yang mengharapkan kematian dalam sehatnya Michelle..” Katanya dengan tenang. Dion meraih baju baju kecil itu kemudian memperhatikanya dengan senyuman.


“Baju bajunya lucu. Kamu beli sama mamah ya?” Tanya Dion pelan.


“Tolong berhenti bersandiwara Dion. Aku sudah tau apa yang kamu mau.” Sela Michelle kesal.


“Bagus kalau begitu. Jadi seperti biasa Michelle, tolong bicarakan pelan pelan tentang perusahaanku sama mamah kamu.” Senyum Dion menatap Michelle.

__ADS_1


“Dasar laki laki tidak tau malu.” Umpat Michelle yang hanya mendapat tertawaan dari Dion.


“Lakukan jika kamu mau semua orang yang kamu sayangi baik baik saja Michelle.” Ancam Dion kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Michelle yang tidak berdaya jika sudah menyangkut orang orang yang disayanginya.


__ADS_2