Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 207


__ADS_3

Khanza zoya Gilbert, itulah nama yang Rayan dan Alana berikan pada putri pertamanya. Dengan panggilan Zoya bayi cantik itu disebut.


Sore hari sebelum pulang, Rayan memerintahkan Luky agar mengamankan rumah sakit karna berita tentang kelahiran anak pertamanya sudah tersebar bahkan sampai ke telinga para pemburu berita.


“Rayan.. Kapan kita bisa pulang? Ini sudah hampir malam loh..”


Alana sudah merasa tidak betah karna harus terus duduk diatas brankar. Apa lagi dokter sudah memperbolehkan-nya untuk pulang.


Sari dan Rayan saling menatap kemudian menghela napas.


“Sebentar ya sayang... Dibawah banyak wartawan yang sedang menunggu kalian.” Sari mencoba memberi pengertian pada putrinya.


Sementara Rayan. Pria itu mulai fokus dengan Zoya yang berada di gendongan-nya. Hari ini Rayan memang tidak pergi kemana mana dan memilih terus menemani Alana dirumah sakit. Rayan menyerahkan semua urusan perusahaan pada Luky.


Getaran dari hp yang memang sengaja Rayan silent membuat Alana menoleh. Alana meraih hp tersebut yang berada diatas meja disamping brankarnya.


“Luky menelepon.” Katanya membuat Rayan dan Sari menoleh.


Sari yang paham segera mendekat pada Rayan dan mengambil alih Zoya dari gendongan Rayan.


“Biar Zoya sama ibu dulu.” Senyumnya.


Rayan mengangguk dan membiarkan Zoya bersama Sari. Pria itu kemudian mendekat pada Alana yang masih memegang hp miliknya.


Rayan mengambil hp miliknya dari tangan Alana kemudian mengangkat telepon dari Luky.


“Bagaimana Luky?” Tanya Rayan langsung.


“Ya tuan, saya sudah mengatakan pada mereka untuk menunda wawancara dengan tuan dan nyonya. Dan sekarang mereka sudah mulai membubarkan diri.”


Rayan tersenyum. Luky selalu bisa dia andalkan dalam keadaan apapun.


“Saya akan menghubungi tuan lagi nanti setelah semua wartawan itu pergi dari depan rumah sakit.” Lanjut Luky.

__ADS_1


“Oke kalau begitu. Terimakasih Luky.”


“Sama sama tuan.”


Rayan menyudahi telepon tersebut setelah Luky menjawab. Rayan tersenyum pada Alana yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tau. Rayan juga melirik sekilas pada Ramon yang bahkan sampai rela libur kuliah dan kerja agar bisa menemani Alana dirumah sakit bersama Sechil.


“Bagaimana? Apa kita bisa turun sekarang?” Tanya Alana tidak sabaran.


“Tunggu beberapa menit lagi sayang.” Jawab Rayan membuat Alana berdecak. Alana merasa sudah tidak betah berada lama lama dirumah sakit.


Sementara Sechil dan Ramon, mereka hanya diam duduk disofa. Mereka bingung harus bagaimana karna menggendong Zoya pun tidak di izinkan oleh Rayan yang memang seharian ini tidak membiarkan Zoya tidur box bayinya.


“Seumur hidup baru kali ini kakak begitu pelit padaku.” Dumel Sechil mencebikkan bibirnya.


Ramon tertawa pelan mendengarnya. Rayan memang sedikit keterlaluan menurutnya. Tapi Ramon mencoba untuk mengerti, mungkin Rayan tidak ingin melewatkan sedikitpun moment kebersamaan-nya dengan putri pertamanya, Khanza Zoya Gilbert.


“Mungkin aku juga akan seperti itu nanti kalau anak kita lahir sayang.” Senyum Ramon mengusap lembut kedua pundak istrinya.


Ekspresi Sechil langsung berubah. Anak yang sedang dikandungnya bukan anak Ramon. Dan Sechil yakin jika anaknya lahir nanti pasti akan menimbulkan masalah.


”Kak, aku dan Ramon langsung pulang yah..”


Rayan yang sedang mendorong kursi roda yang diduduki Alana menoleh.


“Loh kenapa nggak kerumah saja sekalian?” Tanya Rayan bingung.


Sechil hanya menghela napas. Mendadak moodnya turun karna apa yang Ramon katakan padanya tentang kelahiran anak yang sedang dikandungnya tadi.


“Enggak deh. Besok lagi aja aku datang ya kak.. Kalian hati hati..” Geleng Sechil menjawab.


“Ya sudah kalau begitu.”


Ramon yang memang merasa aneh dengan ekspresi istrinya sejak mereka membicarakan tentang kelahiran anaknya hanya diam saja. Ramon akan menanyakan-nya nanti saat dirumah. Karna tidak mungkin jika Ramon menanyakan-nya didepan Rayan, Alana bahkan Sari. Sechil pasti akan merasa dipermalukan.

__ADS_1


-------


Selama seminggu Rayan dan Alana dibanjiri ucapan selamat atas kelahiran putri pertama mereka. Ruang utama kediaman mewahnya bahkan penuh dengan kado kado yang dikirim bahkan diantar langsung oleh rekan bisnis, karyawan, bahkan sampai Client Rayan. Hal itu membuat Fina, bibi, dan yang lain-nya harus memikirkan bagaimana cara menata dan merapikan semua kado dan bunga yang memenuhi ruangan utama kediaman mewah berlantai 3 itu.


“Bi dimana lagi kita harus meletakan semua barang barang ini?” Tanya Fina dengan wajah sendu.


Bibi menghela napas. Bibi sendiri tidak tau harus menaruh dimana barang barang tersebut. Semua kamar sudah penuh dengan barang lain-nya yang memang sejak seminggu lalu terus berdatangan.


“Entahlah Fina, saya juga belum tau. Lebih baik kita kerjakan yang lain-nya dulu. Untuk memindahkan barang barang ini kita tunggu perintah dari tuan.”


Fina menganggukan kepalanya setuju kemudian mengikuti bibi yang berlalu dari ruang utama menuju dapur.


Sementara itu diruangan kerja Rayan.


“Hoaammm...”


Rayan menguap saat sedang membaca berkas yang dipegangnya. Rasa kantuk benar benar membuat konsentrasinya buyar. Selama seminggu ini memang Rayan kurang tidur karna Zoya yang menangis jika malam hari. Namun bukan hanya Rayan saja, Alana juga selalu bangun tengah malam untuk menyusui Zoya.


“Kenapa aku ngantuk sekali?” Gumam Rayan menyenderkan punggungnya dikursi kerjanya. Berkas yang dipegangnya dia letakan diatas meja.


Rayan ingin sekali tidur barang sebentar saja. Tapi itu tidak mungkin karna pekerjaan-nya menumpuk dan harus segera Rayan selesaikan. Ditambah lagi dengan tumpukan berkas yang harus dia baca dan dia tanda tangani.


Suara tangis membahana Zoya membuat rasa kantuk Rayan sirna detik itu juga. Rayan tertawa pelan kemudian bangkit dari duduknya. Rayan berlalu keluar dari ruang kerjanya. Rayan tau Alana pasti sedang kewalahan mengurusi putri mereka.


Rayan hendak melangkah menuju lift saat pandangan-nya tidak sengaja mengarah pada tumpukan kado yang memang masih berada diruang tengah dilantai satu rumahnya. Rayan tersenyum. Banyak orang orang yang memberikan buah tangan saat datang untuk memberikan selamat padanya dan Alana. Rayan merasa semua itu terlalu banyak dan memenuhi setiap ruangan dirumahnya dari lantai satu sampai lantai tiga rumahnya.


“Semua ini terlalu banyak. Kamar Zoya tidak akan muat untuk menampungnya.” Gumam Rayan.


Saat itu juga Rayan melihat bibi dan Fina yang melintas. Rayan langsung menghentikan-nya dan menyuruh agar mereka mengambil saja barang yang mereka perlukan dari semua barang pemberian yang ada diantara tumpukan barang barang tersebut.


“Untuk sisanya kalian berdua bisa bagikan pada orang orang yang mungkin membutuhkan.” Senyum Rayan berkata pada Fina dan bibi.


“Baik tuan.” Angguk bibi dan Fina kompak.

__ADS_1


Setelah itu Rayan melanjutkan langkahnya menuju lift karna tangisan putrinya masih membahana disetiap sudut ruangan rumahnya. Rayan bermaksud membantu Alana untuk menenangkan putrinya yang sedang menangis.


__ADS_2