
Rayan sudah berada dijalan pulang saat hari mulai petang. Pria tampan dengan kemeja putih tulang itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Bukan memikirkan Sechil apa lagi Caterine, tapi memikirkan kejutan apa yang pantas untuk diberikan pada Alana malam ini. Sempat terbesit dipikiran Rayan untuk membelikan bunga namun Rayan kemudian berpikir ulang. Apa lagi Alana bukanlah tipe wanita penyuka bunga seperti Sechil dan Sakura.
Rayan mencoba memutar otak. Tiba tiba bayangan senyuman Sari langsung berada didepan kedua matanya. Rayan tersenyum. Alana sudah lama tidak bertemu dengan Sari. Alana pasti akan sangat bahagia jika Rayan pulang dengan membawa serta Sari untuk ikut.
“Ya.. Ibu bisa jadi kejutan yang sangat luar biasa buat Alana..” Gumam Rayan tersenyum penuh arti.
Rayan kemudian memutar arah menuju kediaman Sari. Pria itu berniat menjemput ibu mertuanya untuk kemudian diajak menemui istrinya yang mungkin juga sudah sangat merindukan ibunya itu.
Tidak memerlukan waktu lama, Rayan sudah sampai didepan gerbang rumah Sari. Rayan segera membunyikan klakson membuat pak satpam dengan sigap membukakan gerbang. Setelah mengucapkan terimakasih, Rayan kembali melajukan mobilnya masuk kedalam pekarangan rumah Sari yang memang adalah pemberian-nya.
Rayan mengutarakan maksud kedatangan-nya pada Sari membuat wanita tua itu terkejut. Padahal Sari berpikir mungkin Alana yang meminta Rayan untuk menjemputnya. Namun ternyata tidak, Rayan berinisiatif sendiri menjemputnya untuk memberi kejutan pada Alana.
Enggan membuang buang waktu Sari segera bersiap untuk kemudian mengikuti Rayan. Sari juga tidak lupa membeli buah buahan sebagai bahan bahan untuk membuat rujak seperti janjinya pada Alana pagi tadi.
“Apa nyonya Caterine juga ada disitu Rayan?” Tanya Sari membuat Rayan tersenyum miris. Rayan pindah juga karna Caterine yang membuat Alana selalu merasa tidak nyaman.
“Tidak bu.. Mommy tetap tinggal dirumah lama.” Jawab Rayan.
Sari menganggukan kepalanya. Sari tau bagaimana Caterine. Meski memang akhir akhir ini Caterine terlihat baik namun Sari tidak bisa memastikan bahwa Caterine memang sudah benar benar berubah menjadi baik.
“Bagaimana dengan kabar nona Sechil. Terakhir ibu bertemu dirumah sakit dia sangat manis. Dan suaminya juga sangat sopan dan baik.”
Rayan tersenyum mendengarnya. Sechil memang sudah benar benar menjadi orang yang baik. Apa lagi setelah menikah dengan Ramon. Emosinya jadi terkontrol. Sechil juga bisa sangat sabar dan tidak pendendam.
“Ya bu.. Tuhan sangat baik mempertemukan Sechil dengan laki laki yang baik.” Balas Rayan setuju dengan apa yang Sari katakan.
Sekitar setengah jam perjalanan dari rumah Sari akhirnya mobil Rayan sampai tepat didepan rumahnya. Pak Lim yang memang Rayan suruh untuk tetap dirumah langsung dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Rayan juga Sari.
“Selamat malam tuan, bu Sari..” Sapa pak Lim ramah.
__ADS_1
Rayan menganggukan kepala dengan senyuman membalas sapaan ramah pak Lim.
“Malam juga pak Lim.” Saut Sari tersenyum ramah.
Rayan menatap keduanya secara bergantian. Dulu Sari adalah pelayan yang cukup bodoh dirumahnya. Sari juga sering membuatnya marah bahkan tidak jarang Rayan memberikan hukuman pada Sari.
“Ayo bu...” Ajak Rayan pada Sari untuk masuk kedalam rumahnya dan Alana.
Sari menganggukan kepalanya kemudian melangkah lebih dulu karna Rayan yang mempersilahkan.
Sedang didalam rumah Alana baru saja selesai menyiapkan makan malam bersama Fina juga bibi. Wanita itu tersenyum menatap hidangan lezat yang tersaji diatas meja makan. Hidangan yang memang Alana masak sendiri meski dengan bantuan Fina dan bibi.
“Nyonya..” Panggil Fina membuat Alana menoleh.
“Ya.. Kenapa Fina?” Saut Alana kemudian bertanya.
“Boleh dong. Kalian berdua hati hati ya..” Senyum Alana.
“Ya nyonya. Kalau begitu saya permisi kebelakang lagi.”
Alana menganggukan kepalanya dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya. Fina dan bibi sudah seperti keluarga baginya. Mereka berdua begitu baik juga terbuka padanya.
“Alana..”
Senyuman Alana perlahan memudar ketika mendengar suara Sari yang memanggilnya. Perlahan Alana menoleh dan terkejut begitu mendapati Sari yang berdiri tidak jauh darinya dengan Rayan yang ada di belakangnya. Alana memang berniat meminta Rayan agar menjemput Sari setelah makan malam. Dan sekarang, belum sempat Alana mengatakan kemauan-nya pada Rayan tapi Sari sudah ada didepan matanya bersama Rayan. Alana tau itu pasti karna Rayan yang menjemput Sari dan dengan sengaja mengajaknya untuk berkunjung kerumah baru mereka.
“Ibu..” Lirih Alana merasa sangat terharu melihat sosok tangguh ibu tercintanya.
Sari tersenyum. Wanita itu melangkah pelan mendekat pada Alana yang masih berdiri ditempatnya disamping meja makan. Sari langsung memeluk sayang pada Alana yang juga langsung membalasnya dengan sangat erat.
__ADS_1
“Aku kangen banget sama ibu..” Lirih Alana dibalik punggung Sari. Alana semakin mengeratkan pelukan-nya saat merasakan belaian lembut tangan Sari di punggungnya.
“Ibu juga.. Kangen banget sama kamu nak..” Balas Sari tersenyum.
Rayan yang melihatnya ikut tersenyum. Kejutan-nya tidak salah. Sari lebih berharga dari apapun bagi Alana.
Sari dan Alana kemudian melepaskan pelukan-nya. Alana beralih menatap Rayan yang hanya diam dalam senyuman disamping Sari. Tanpa berkata apapun Alana langsung berhambur memeluk Rayan didepan Sari.
“Terimakasih.. Terimakasih karna kamu selalu mengerti apa yang aku mau..” Lirih Alana berbisik pada Rayan.
Rayan tersenyum. Pria itu mengecup bahu Alana yang memeluknya dengan sangat erat.
“Aku bersih bersih dulu..” Bisik Rayan membuat Alana langsung melepaskan pelukan-nya. Lagi lagi Alana tau dan langsung bisa menebak maksud suaminya. Rayan memberinya waktu untuk lebih dulu mengobrol berdua dengan Sari.
Alana melepaskan pelukan-nya. Senyuman manis terus terukir dibibirnya karna rasa bahagia yang sedang dirasakan-nya berkat kehadiran Sari sekarang.
“Eemm.. Bu, saya keatas sebentar.” Pamit Rayan pada Sari.
“Oh iya..” Angguk Sari tersenyum sambil meletakan seplastik buah buahan yang dibelinya dijalan diatas meja makan.
Setelah Rayan berlalu, Alana kembali memeluk Sari. Tangisnya pecah secara tiba tiba membuat Sari kebingungan.
“Kenapa nak? Apa ada yang sakit?” Tanya Sari khawatir.
Alana menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Sari. Alana merasa tidak bisa menahan sendiri rasa sedih dan kesalnya dengan sikap Caterine padanya. Meski Rayan memang selalu ada untuknya namun Alana juga merasa harus mencurahkan segala isi hatinya pada Sari.
Alana mengatakan niat buruk Caterine pada hubungan-nya dan Rayan bahkan sampai hubungan Ramon dan Sechil. Sari yang mendengar itu hanya bisa tersenyum saja. Sari tau bagaimana Caterine dari dulu.
“Nak.. Kamu tidak perlu terlalu khawatir. Selama Rayan selalu ada untuk kamu dan percaya sama kamu itu sudah cukup. Yang harus kalian lakukan adalah saling terbuka dan percaya satu sama lain. Dengan begitu nyonya Caterine tidak akan mudah menggoyahkan hubungan kalian berdua.” Kata Sari lembut.
__ADS_1