Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 28


__ADS_3

Suara detak jarum jam membuat Alana semakin merasa kesepian. Waktu sudah hampir menunjukan pukul 8 tapi Rayan belum juga pulang. Rayan juga sama sekali tidak menghubunginya hari ini. Rayan seperti menghilang di telan bumi tanpa kabar sejak pagi sampai malam.


“Apa dia sangat marah padaku?” Alana bergumam bertanya pada dirinya sendiri.


Alana sadar jawabanya atas pertanyaan yang di lontarkan Rayan sangatlah salah. Alana bahagia dengan ketidak datangan tamu bulananya berharap mendapat garis 2 di tes pack namun menjawab tidak tau saat Rayan bertanya cinta atau tidak dirinya pada Rayan.


Alana berdecak pelan. Untuk pertama kalinya Alana mengakui kebodohanya sendiri. Dan karna kebodohanya itu Rayan menjadi mendiamkanya.


Tok tok tok


Decakan kecil keluar dari bibir merah alami Alana saat mendengar suara ketukan dari balik pintu kamarnya. Alana sangat yakin itu bukanlah Rayan.


“Masuk !” Seru Alana malas untuk turun dari atas ranjangnya.


Alana terus menatap lurus kedepan enggan menatap seorang yang membuka pintu kamarnya yang tidak lain adalah Rayan, suaminya sendiri.


Rayan berdiri diambang pintu dengan senyuman yang terukir dibibirnya. Sebuket bunga mawar merah berada di genggamanya. Sehari tidak berkomunikasi dengan Alana membuat Rayan merasa rindu.


“Mungkin memang aku sudah benar benar jatuh hati padanya. Aku sudah mencintainya. Sakura, maafkan aku. Perasaan ini tidak bisa terus bertahan untukmu yang memang tidak akan pernah lagi bisa kembali untukku.” Batin Rayan menatap Alana yang terus memunggunginya.


Rayan beralih menatap sebuket mawar merah yang dibawanya. Biasanya Rayan hanya mebawakan satu tangkai itupun pak Lim yang membelikanya. Tapi sekarang Rayan membawa satu buket dan itu Luky yang membelikan bukan pak Lim.


Rayan menghela napas pelan. Tiba tiba pertanyaan pak Lim tentang setangkai mawar merah yang selalu dia belikan untuk Alana terngiang di telinga Rayan.


“Apa mungkin membelikanya langsung adalah suatu keistimewaan?” Rayan bertanya tanya dalam hati. Alana sangat keras kepala. Bisa jadi apa yang dipertanyakan pak Lim menjadi kenyataan. Alana akan marah jika tau bunga yang selalu Rayan belikan bukan bunga yang Rayan beli sendiri.


“Kamu..”


Lamunan Rayan buyar. Alana sudah berdiri dari ranjang dengan posisi menghadapnya. Dan Rayan tidak menyadari kapan Alana bergerak turun dari ranjang.


Alana diam menatap Rayan yang masih berdiri di ambang pintu kamar mereka. Perlahan seulas senyum terukir di bibirnya saat Alana melihat sebuket bunga yang dibawa oleh suaminya itu.


“Apa itu untukku?” Tanyanya.


Rayan tertawa pelan. Pertanyaan bodoh itu keluar begitu lirih dari bibir merah alami istrinya.


“Apa pantas jika aku memberikanya pada bibi atau pak Lim mungkin?”


Alana terkekeh geli. Alana kemudian melangkah mendekat pada Rayan. Ketika sampai tepat di depan Rayan, Rayan segera menyodorkan sebuket bunga yang dibawanya.


“Kenapa malam ini satu buket?” Tanya Alana mendongak menatap Rayan.

__ADS_1


Rayan tersenyum. Pria itu menundukan kepalanya mendekatkan wajah tampanya pada wajah cantik Alana. Dengan sangat hati hati Rayan menyentuhkan ujung hidung mancungnya pada ujung hidung mancung Alana.


“Mood-ku sedang bagus malam ini, jadi aku membelikanya berlipat lipat.” Katanya.


Alana tersenyum. Berada dengan posisi dekat dan intim dengan Rayan sudah hal biasa untuknya. Tidak ada lagi debaran takut dari jantung maupun hatinya. Alana justru merasa nyaman. Rayan memperlakukanya dengan manis juga romantis.


“Terimakasih.” Ujar Alana.


“Hemm..” Saut Rayan kemudian kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Alana.


“Dandan yang cantik, kita makan diluar malam ini.”


“Tapi aku sudah makan.” Tepat saat itu perut Alana berbunyi membuat Rayan mengeryit kemudian menatap perut rata istrinya itu.


“Perutmu tidak pandai berbohong seperti bibirmu Alana.” Kekeh Rayan.


Alana meringis. Alana malas sebenarnya berdandan apa lagi sudah malam. Rasanya sangat malas jika harus keluar dan berganti baju lagi.


“Aku mandi dulu.” Kata Rayan kemudian melangkah berlalu dari hadapan Alana menuju pintu kamar mandi.


Alana menghela napas. Rayan memaksanya lagi.


“Baiklah, Anggap saja sebagai permintaan maaf.” Gumam Alana.


Setelah selesai mandi, Rayan segera mengenakan baju yang disiapkan oleh Alana. Pria itu terdiam sesaat menatap Alana yang tampak sangat imut dengan dress coklat gelap selutut tanpa lenganya. Rayan benar benar kagum. Semua baju dan dress yang dibelinya semuanya cocok dikenakan oleh Alana.


“Kita mau makan dimana?” Tanya Alana pelan.


“Yang dekat dekat saja. Sepertinya cacing dalam perutmu sudah begitu kompak berdemo meminta jatah makanan darimu istriku.”


Alana merona. Panggilan “Istriku” dari Rayan membuat Alana merasa senang namun juga gugup.


“Ayo..” Ajak Rayan meraih tangan lembut Alana.


Alana mengangguk menurut. Wanita itu berjalan dengan digandeng mesra oleh Rayan yang begitu gagah disampingnya.


Rayan membawa Alana kerestoran yang memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Restoran itu cukup mewah namun sedikit sepi. Mungkin memang karna hari sudah malam sehingga restoran itu mulai sepi.


“Kamu mau makan apa?” Tanya Rayan meraih buku menu.


Alana tidak langsung menjawab. Wanita itu meraih satu lagi buku menu yang tersisa diatas meja kemudian membukanya. Alana menatap satu persatu nama dan gambar menu direstoran mewah itu dari yang biasa sampai menu yang spesial.

__ADS_1


“Samakan saja.” Katanya.


Rayan mengangguk kemudian menutup buku menu itu. Rayan segera memanggil pelayan dan menyebutkan menu yang dia pesan untuknya juga Alana.


“Rayan.”


Rayan menatap Alana yang memanggilnya. Pria itu benar benar memusatkan perhatianya menunggu apa yang akan Alana katakan Alana padanya.


“Untuk yang semalam aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuat kamu marah apa lagi sampai kecewa. Tapi tentang cinta, aku pernah sangat kecewa karna itu.”


“Karna Dion?” Sela Rayan bertanya.


Alana langsung bungkam namun dengan pelan menganggukan kepalanya.


“Jangan lupakan Michelle.” Katanya mengingatkan Rayan.


Rayan berdecak pelan.


“Dion sudah bersama Michelle itu artinya dia bukan jodoh kamu. Kenapa masih di pikirkan?”


Alana menggeleng cepat. Alana tidak pernah memikirkan Dion. Alana hanya merasa ragu dengan cinta yang bagi sebagian orang dikatakan sangat indah.


“Aku seharian ini memikirkan tokoh Beast.”


Rayan mengeryit.


“Apa maksudmu?” Tanya Rayan bingung.


Alana tersenyum tipis.


“Dari kecil aku suka menonton Beauty and the Beast. Dan menurut aku tokoh Beast itu sangat mengagumkan.”


Rayan menatap aneh pada Alana. Entah apa yang dimaksud Alana tiba tiba menyinggung soal Beauty and the beast. Namun tiba tiba Rayan menyadari sesuatu.


“Hey apa kamu sedang menyamakanku dengan si Beast itu?” Tanya Rayan menatap penuh selidik.


Alana tertawa pelan. Rayan bisa menangkap maksudnya meskipun sempat tidak perduli.


“Aku tidak berbulu dan bertaring asal kamu tau.”


“Ya. Tapi kalian berdua sama sama pemaksa.” Tawa Alana.

__ADS_1


Rayan berdecak namun diam diam tersenyum. Alana mengatakan kagum pada tokoh Beast. Itu artinya Alana juga kagum padanya.


__ADS_2