
Berbeda dengan Rayan yang hampir mengalami trauma permanen, Sechil justru terlihat tegar dengan semua yang terjadi. Sechil merasa apa yang Caterine terima memang pantas mengingat apa yang sudah Caterine lakukan.
“Apa kamu baik baik saja?” Tanya Ramon pelan.
Sechil menghela napas kemudian menoleh dan tersenyum pada Ramon yang duduk ditepi ranjang.
“Ya, aku baik baik saja. Tidak perlu khawatir. Ayo kita istirahat.”
Ramon menelan ludahnya. Rasanya tidak mungkin jika Sechil baik baik saja. Ramon tau mungkin Sechil hanya sedang pura pura tegar saja didepan-nya.
“Tentang Bastian..”
“Em, Ramon. Tidak perlu membahas apapun. Kita semua tau apa maksud Bastian. Dia tidak mungkin menikahiku karna dia sendiri sudah memiliki kekasih. Bukankah kita juga diundang untuk menghadiri acaranya besok?”
Ramon tertawa pelan. Pria itu menganggukan kepalanya mengerti. Pemikiran Bastian benar benar sangat dewasa.
“Ya, kamu benar. Aku beruntung karna menemukan orang orang baik seperti kalian.”
Sechil melangkah mendekat pada Ramon kemudian berdiri tepat didepan-nya. Sechil menatap lekat lekat kedua mata Ramon yang terus membalas tatapan-nya. Selama menikah tidak pernah sekalipun Ramon menyentuhnya. Mereka tidak pernah berhubungan suami istri seperti pasangan suami istri pada umumnya.
“Ramon, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?” Tanya Sechil pelan.
Ramon mengeryit namun tetap menganggukkan kepalanya. Tatapan Sechil terlihat sangat serius padanya.
“Tanyakan apapun yang ingin kamu tau Sechil, aku akan menjawabnya.”
Sechil tersenyum. Dengan lembut Sechil membelai pipi tirus Ramon. Hal itu membuat Ramon merasa nyaman dan memejamkan kedua matanya.
“Apa aku tidak cukup membuatmu tergoda selama ini Ramon?”
Ramon membuka kembali kedua matanya. Pertanyaan Sechil membuatnya bingung.
__ADS_1
“Apa maksud kamu?”
Sechil menyusuri wajah tampan Ramon dengan kedua tangan-nya. Jari jari lentiknya mengusap lembut setiap inci kulit wajah Ramon.
“Kamu tidak pernah menyentuhku selama kita menikah Ramon. Bahkan dulu saat kita masih pacaran kamu juga menolak saat aku mengajakmu untuk melakukan itu.”
Ramon meraih kedua tangan Sechil kemudian menurunkan dari wajahnya.
“Dulu kita belum boleh melakukan-nya Sechil.” Ujar Rayan pelan.
“Lalu bagaimana dengan sekarang? Sekarang aku istrimu. Kita bisa melakukan-nya dengan bebas kapanpun kita mau. Tapi kenapa sepertinya kamu enggan?”
Ramon menghela napas. Sechil sedang hamil anak Bastian. Ramon takut Sechil akan merasa tidak nyaman jika mereka melakukan-nya.
“Tunggu setelah anak kita lahir Sechil aku pasti akan menghabisimu.”
Sechil tertawa pelan. Wanita itu melepaskan tangan Rayan yang mencekal pergelangan tangan-nya kemudian melangkah sedikit menjauh dari Ramon.
“Aku tidak yakin aku ini seleramu Ramon.” Kata Sechil merasa tidak percaya diri karna sikap Ramon padanya sejak mereka menikah. Sechil bahkan pernah berpikir mungkin dirinya memang tidak pantas sehingga Ramon tidak sudi menyentuhnya.
Ramon bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekat pada Sechil yang berdiri memunggunginya. Ramon memeluk mesra Sechil dari belakang. Ramon juga mencium lembut bahu terbuka Sechil dengan kedua mata terpejam.
“Jangan membuat kesabaranku habis sayang..” Bisik Ramon tepat ditelinga Sechil.
Sechil mendesis merasakan sensasi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya hanya karna bibir panas Ramon yang menyentuh daun telinganya. Sechil memejamkan kedua matanya menikmati sensasi luar biasa itu.
Ramon perlahan membalikan tubuh Sechil agar menghadapnya. Ramon tersenyum menatap Sechil yang memejamkan kedua matanya. Sejujurnya Ramon juga hampir selalu tidak bisa menahan diri jika melihat Sechil yang memejamkan kedua matanya diatas tempat tidur.
“Sechil buka matamu dan tatap aku..” Titah Ramon yang langsung dituruti oleh Sechil.
“Aku juga laki laki normal Sechil. Aku punya hasrat yang menggebu gebu setiap melihat kamu tertidur diatas tempat tidur tanpa selimut. Rasa itu benar benar seperti membakar seluruh tubuhku sayang.. Tapi aku selalu mencoba sekuat tenaga untuk menahan-nya. Karna kamu sedang hamil anak kita. Tapi nanti setelah anak ini lahir kamu mungkin tidak akan bisa tidur dengan tenang..”
__ADS_1
Sechil merona mendengarnya. Membayangkan Ramon yang menyentuhnya setiap malam sampai dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak membuat pipi Sechil terasa memanas.
“Sabar ya... Aku akan menunjukan kekuatanku nanti padamu jika sudah saatnya.” Senyum Ramon kemudian meraih bibir Sechil menciumnya dengan penuh cinta dan gairah yang selama ini dipendamnya pada Sechil.
Sechil menikmati ciuman mesra Ramon dengan hati berbunga bunga. Meski itu bukan ciuman pertama bagi Sechil namun karna Ramon yang menciumnya Sechil merasakan manis yang luar biasa bahkan mengalahkan manisnya ciuman pertama Sechil yang diambil oleh pasangan kencan pertamanya dulu saat masih tinggal di amerika.
Dan malam itu Sechil merasakan keindahan yang luar biasa meskipun Ramon memang tidak menyentuhnya sampai inti. Namun sentuhan lembut, mesra, juga penuh cinta dari Ramon berhasil membuat Sechil terpesona dan merasa terbang di angkasa.
------
Paginya Ramon dan Sechil langsung pamit tepatnya setelah mereka sarapan bersama. Tidak ada lagi kesedihan yang mereka perlihatkan begitu juga dengan Rayan. Pria itu tampak sangat ceria dan seolah tidak terjadi apa apa semalam.
Setelah Ramon dan Sechil pulang, Rayan mengajak Alana untuk pergi mencari gaun yang akan dipakainya nanti malam saat menghadiri pesta pertunangan Bastian dan Cleo, kekasihnya.
“Memangnya pesta pertunangan-nya masih akan tetap diselenggarakan?”
Rayan mengeryit mendengar pertanyaan Alana.
“Memangnya kenapa?” Tanya balik Rayan yang membuat Alana terdiam. Alana berpikir mungkin saja Bastian bertengkar dengan kekasihnya setelah apa yang Caterine lakukan.
“Aku yakin saat ini pemikiran kita sama Rayan.” Katanya menoleh menatap Rayan yang mengangguk mengerti dengan apa yang Alana katakan.
Rayan menghela napas dan sedikit mengurangi kecepatan laju mobilnya karna saat itu mereka berada ditikungan di jalanan yang cukup ramai.
“Tadi subuh Bastian meneleponku dan mengatakan semuanya sudah selesai. Keluarganya juga keluarga calon tunangan-nya bisa mengerti. Jujur aku juga sedikit bingung dengan pemikiran mereka. Tapi aku juga bersyukur karna permasalahan yang disebabkan oleh mommy bisa dengan cepat selesai. Dan pesta pertunangan itu akan tetap diselenggarakan malam ini.” Jelas Rayan dengan tatapan lurus kedepan ke jalanan yang memang cukup ramai siang itu.
Alana tertawa. Setiap manusia memang memiliki gaya hidup yang berbeda yang pasti tidak semua orang juga bisa mengerti apa lagi memahami. Tapi Alana merasa lega karna masalah yang ditimbulkan oleh Caterine tidak sampai membuat hubungan Bastian dan kekasihnya dalam masalah yang serius. Mereka bisa menyelesaikan-nya dengan kepala dingin.
“Sampai...”
Alana mengeryit ketika Rayan menghentikan mobilnya didepan sebuah butik yang cukup terlihat mewah dibagian depan-nya.
__ADS_1
“Kita ngapain kesini?” Tanya Alana menatap Rayan bingung.
“Kita cari gaun untuk kamu sayang.”