Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 66


__ADS_3

Walaupun sempat marah marah pada Caterine, tapi akhirnya Dion mau menerima ajakan Caterine untuk mampir disalah satu restoran terdekat. Mobil mereka melaju beriringan kemudian terparkir sejajar.


“Apa yang anda mau sebenarnya nyonya?”


Caterine tersenyum mendengar pertanyaan tidak sabaran Dion. Dari situ Caterine tau bahwa Dion adalah sosok yang gigih yang tidak mudah menyerah.


“Sepertinya lebih enak kalau kita bicarakan didalam saja. Mari..”


Caterine melangkah lebih dulu masuk kedalam restoran tersebut. Wanita itu melangkah dengan sangat elegan yang diikuti Dion dibelakangnya.


Mereka berdua duduk dimeja paling tengah. Kebetulan restoran itu masih belum ramai pengunjung mungkin karna masih terhitung pagi.


“Jadi?” Dion kembali bertanya. Rasa penasaran-nya benar benar tidak bisa dibendung.


Caterine tersenyum tipis menatap Dion yang duduk berhadapan dengan-nya. Wanita itu yakin Dion pasti mengenal Rayan, putranya.


“Kemarin malam saya melihat kamu seperti sedang mengintai kediaman anak saya Rayan. Apa kamu punya masalah dengan anak saya?”


Dion berdecak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Caterine. Dion tidak punya masalah sebenarnya dengan Rayan.


“Apa urusan anda nyonya?” Dion balik bertanya dengan sangat angkuh.


“Tentu saja itu akan menjadi urusan saya. Rayan itu putra saya.” Jawab Caterine.


Dion tertawa mengejek pada Caterine yang bahkan sama sekali tidak marah padanya. Dion bukan pria yang bodoh. Karna jika memang Caterine mengkhawatirkan putranya, Caterine pasti akan marah bahkan bisa langsung melaporkan pada Rayan tentang Dion yang mengintai rumah Rayan. Bukan mengajak bertemu diam diam seperti sekarang.


“Apa mau anda sebenarnya nyonya? Jangan terlalu banyak basa basi.”


Caterine tertawa. Dion langsung bisa mengerti maksudnya.


“Kamu mengenal Alana?” Tanya Caterine.


Dion mengeryit.


“Jangan berani berani anda menyentuh Alana nyonya, atau anda akan langsung berurusan dengan saya.” Dion langsung naik pitam dan berkata dengan nada menekan pada Caterine.


“Wow.. Hebat sekali.” Caterine menggeleng menatap takjub pada Dion yang terlihat sangat tidak rela jika Alana terluka.

__ADS_1


“Aku tebak kamu pasti sahabat baiknya Alana.” Lanjut Caterine mulai memancing.


Dion menatap kesal pada Caterine yang justru seperti meledeknya. Pria itu kemudian bangkit karna merasa waktunya terbuang sia sia mengikuti kemauan Caterine.


“Tunggu..”


Dion yang hendak melangkah kembali menoleh menatap Caterine yang duduk dengan tenang dikursinya.


“Aku akan menyingkirkan Alana dari rumah.”


Dion mendelik dan terdiam sesaat namun kemudian tersenyum setelah tau kemana arah pembicaraan Caterine.


“Aku tau kamu pasti punya maksud tidak baik pada putra saya karna Alana. Maka dari itu saya berniat mengajak kamu kerja sama. Kamu bisa dapatkan Alana dan saya mendapatkan putra saya kembali. Bagaimana?”


Dion kembali mendudukan dirinya dikursi. Dion merasa punya teman sekarang. Teman untuk bekerja sama agar Dion bisa mendapatkan Alana kembali.


“Asal anda tidak melukai Alana, saya bersedia bekerja sama.” Jawab Dion yakin.


Caterine tersenyum mendengarnya. Dugaan-nya benar. Dion adalah orang yang juga keberatan dengan hubungan Rayan dan Alana.


“Oke kalau begitu. Ini kartu nama saya. Kamu bisa hubungi saya kalau sudah punya rencana yang bagus.” Caterine mengeluarkan kartu nama dari tasnya kemudian menyodorkan pada Dion yang langsung menerimanya dengan senang hati.


Caterine mengangguk anggukan kepalanya merasa sangat senang karna sekarang memiliki Dion dikubunya. Caterine bahkan sangat tidak sabar ingin cepat memisahkan Alana dan Rayan.


Setelah sepakat, Caterine pun melangkah keluar dari dalam restoran tersebut. Caterine terus tersenyum sepanjang perjalanan-nya menuju pulang. Caterine yakin usahanya bekerja sama dengan Dion pasti akan membuahkan hasil.


-------


Diperusahaan-nya Rayan terus saja diam. Tidak seperti biasanya Rayan bahkan mengabaikan berkas berkas yang ada didepan-nya, berkas yang seharusnya dia baca kemudian dia tanda tangani.


Rayan menghela napas. Hari ini dirinya mengambil kembali semua fasilitas Sechil bahkan sampai mobil yang sebelumnya sudah Rayan sediakan untuk Sechil pergi kemana mana. Namun Rayan melakukan itu bukan tanpa alasan. Selain karna Sechil yang selalu melawan dan tidak mau menghormati Alana, Luky juga beberapa kali memperlihatkan video Sechil yang sedang pesta di klub malam.


“Tuan..”


Rayan menoleh ketika mendengar suara Luky. Pria itu tampak bingung karna mendapati Luky yang sudah disamping meja kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


Luky yang mengerti dengan kebingungan Rayan tersenyum tipis.

__ADS_1


“Saya sudah berkali kali mengetuk pintu tapi anda tidak menyaut tuan. Saya bahkan berdiri disini sudah lebih dari 5 menit tapi lagi lagi anda tidak menyaut saat saya memanggil.” Jelas Luky.


Rayan memejamkan kedua matanya merasa frustasi. Sechil masih sangat belia. Usianya belum genap 20 tahun. Tapi pergaulan-nya sudah sangat bebas. Rayan sebagai kakak merasa khawatir.


“Saya menarik semua fasilitas yang saya berikan pada Sechil hari ini. Bagaimana menurut kamu Luky?” Tanya Rayan lirih. Rayan mencoba meminta pendapat Luky tentang apa yang dilakukan-nya. Karna menurutnya akan membuat kesalah pahaman jika meminta pendapat Alana.


Luky menghela napas pelan. Luky tau Rayan sangat menyayangi Sechil adiknya.


“Semuanya kembali lagi pada keniatan anda tuan. Kalau dengan cara seperti itu bisa membuat nona Sechil sedikit terkontrol itu bagus menurut saya.” Jawab Luky.


Rayan mengangguk pelan. Harapan-nya memang dengan menarik semua fasilitas yang dia berikan, Sechil akan sedikit bisa membatasi diri dalam pergaulan-nya diluar sana.


“Apa ini tidak terlalu berlebihan?” Tanya Rayan dengan tatapan lurus kedepan.


Luky diam. Luky tidak bisa menilai apa yang Rayan lakukan pada Sechil tepat atau tidak. Tapi menurut penilaian Luky sendiri, Sechil memang harus sedikit diberi pelajaran agar tidak terlalu sembrono. Karna Sechil sudah sangat kelewatan bersikap kasar dan tidak menghormati Alana sebagai istri Rayan.


Rayan melirik Luky yang hanya diam saja. Pria itu tau Luky tidak bisa menjawab pertanyaan-nya.


“Kamu ada apa keruangan saya?” Tanya Rayan kemudian.


“Ah ya tuan. Berkas yang tadi pagi saya taruh dimeja tuan apa sudah ditanda tangani?”


Rayan memejamkan kedua matanya lagi. Rayan belum mengecek satupun berkas yang ada dimejanya semenjak datang sampai hampir masuk waktu makan siang.


“Saya belum sempat mengeceknya.” Rayan berkata sembari menilik berkas berkas didepanya. Setelah menemukan-nya, Rayan segera membaca dan menanda tanganinya kemudian menyerahkan-nya pada Luky.


“Maaf sudah membuat kamu menunggu.” Katanya merasa tidak enak juga malu pada Luky.


“Tidak apa tuan. Kalau begitu saya permisi tuan.”


“Ya..” Angguk Rayan.


Luky melangkah keluar dengan membawa berkas tersebut. Pria itu merasa sedikit kasihan pada Rayan yang sedang kebingungan dengan keputusan yang diambilnya sendiri.


Deringan hp membuat Rayan tersentak. Pria itu meraih benda pipih itu kemudian tersenyum begitu mendapati nama Alana tertera dilayar menyalanya.


“Halo..”

__ADS_1


“Rayan, aku sudah dalam perjalanan menuju perusahaan. Kita makan siang diluar saja ya..”


__ADS_2