
Ketika memasuki rumahnya Rayan terkejut begitu mendengar suara Alana yang begitu lantang tidak seperti biasanya. Alana juga tidak menyambut kepulangan-nya seperti biasanya.
“Saya paling tidak suka dengan orang yang tidak disiplin !!”
Penasaran dengan apa yang sedang terjadi, Rayan pun segera melangkah cepat menuju sumber suara. Rayan benar benar tidak mengerti kenapa tiba tiba istrinya berteriak begitu membahana disetiap sudut rumah dengan kata yang menurut Rayan tidak pantas untuk diucapkan.
“Maaf nyonya, saya tau saya salah. Saya benar benar minta maaf.” Ujar Fina yang terlihat ketakutan karna amarah membludak Alana.
“Tidak ada maaf untuk orang yang tidak tau aturan seperti kamu Fina. Kamu saya hukum !!”
Rayan mengeryit mendengar ucapan Alana yang menurutnya tidak asing itu. Pelan pelan Rayan melangkah mendekat pada Alana juga Fina. Pria berkemeja putih tulang itu benar benar merasa tidak asing dengan ucapan Alana.
“Kamu bisa jelaskan sesuatu padaku sekarang Alana?” Tanya Rayan membuat Alana menoleh padanya.
Sekarang Rayan sudah mengingatnya. Alana memarahi Fina seperti dulu Rayan memarahi Sari yang terlambat kembali setelah diam diam pulang menemui Alana.
“Fina terlambat kembali setelah diam diam pulang tanpa izin. Dia pantas dihukum.” Ujar Alana tegas.
Rayan mengeryit. Itu jawaban-nya saat Sakura bertanya kenapa dirinya marah pada Sari dulu.
Rayan menatap pada Fina yang menunduk tidak berani mengangkat kepalanya. Benar benar seperti bukan Fina yang biasanya. Rayan merasa ada yang tidak beres sekarang.
“Fina, kamu boleh kembali bekerja.” Katanya pelan.
“Baik tuan, saya permisi.” Angguk Fina kemudian segera berlalu meninggalkan Rayan dan Alana hanya berdua saja.
Rayan menghela napas pelan. Rayan menatap Alana yang diam dengan tatapan lurus kedepan. Tidak ada sedikitpun gurat kemarahan diwajah cantik Alana sekarang. Hal itu membuat Rayan langsung memahami maksud dari ucapan Alana yang menirukan ucapan-nya dulu saat marah pada Sari.
“Apa maumu sebenarnya?” Tanya Rayan pelan.
Alana menatap Rayan sebentar kemudian kembali meluruskan pandangan-nya kedepan.
“Aku tidak lupa dengan apa yang aku ucapkan Alana. Aku juga menyadari sekarang itu salah. Jadi... Apa kamu ingin aku meminta maaf pada bu Sari sekarang?”
Alana diam diam tersenyum. Suaminya benar benar sangat peka.
“Perlu kamu tau Alana, sedikitpun aku tidak pernah menyangka pelayan yang sering aku hukum akan menjadi mertuaku. Dan aku hanya manusia biasa yang tidak mungkin bisa memutar waktu atau menarik ucapanku yang dulu kembali. Aku akui aku memang keterlaluan dulu.”
Alana menoleh lagi. Kali ini Alana benar benar memusatkan perhatian-nya pada wajah tampan suaminya.
“Aku senang kamu peka. Maaf, aku tidak bermaksud mengerjaimu. Hanya saja aku ingin kamu meminta maaf pada orang yang sangat aku cintai..” Ujar Alana.
Rayan tertawa pelan. Dulu semua aturan yang Rayan buat tidak boleh ada satupun orang yang melanggar. Egois, mungkin itu sebutan yang pantas untuk Rayan yang dulu.
“Apa aku harus membeli bunga dulu untuk meminta maaf pada bu Sari?” Tanya Rayan merasa lucu dengan cara Alana memintanya agar meminta maaf pada Sari secara tidak langsung.
“Terserah kamu saja..” Jawab Alana mengedikkan kedua bahunya.
“Oke.. Tapi setelah ini kamu juga harus meminta maaf pada Fina karna telah membentaknya dengan kasar.”
“Hey, kami sudah sepakat dan itu hanya akting saja.” Protes Alana.
__ADS_1
“Ini real life sayang, bukan panggung sandiwara.” Senyum Rayan membuat Alana berdecak.
Meskipun sedikit kesal, tapi Alana merasa senang karna caranya berhasil.
“Kamu mau apa?” Tanya Alana ketika Rayan sedang menghubungi Luky.
“Meminta Luky untuk membelikan seratus tangkai bunga mawar untuk ibu..” Jawab Rayan dengan tenang.
Ketika Alana hendak membuka mulutnya untuk berkata, Rayan mengangkat tangan-nya ke udara memberi isyarat agar Alana jangan dulu berbicara karna Luky sudah mengangkat telepon darinya.
“Eemm.. Luky saya mau minta tolong, tolong belikan saya seratus tangkai bunga mawar putih. Kirim segera kerumah ya..” Ujar Rayan pada Luky lewat sambungan telepon-nya.
Alana menghela napas. Rayan benar benar kembali seperti dulu. Berbuat seenak hatinya dan tidak mau dibantah.
“Kenapa tidak mau mendengarku sih?” Tanya Alana kesal.
Rayan tersenyum. Dengan lembut Rayan mencubit gemas ujung hidung mancung Alana.
“Aku akan mendengarkan-mu sayang. Tapi nanti. Untuk sekarang biarkan aku melakukan apa yang memang harus aku lakukan dulu.”
Alana mengerucutkan bibirnya. Meski sedikit kesal tapi Alana tidak protes. Alana mencoba untuk mengerti karna apa yang Rayan lakukan juga untuk meminta maaf pada Sari.
“Kita keatas sekarang?” Tanya Rayan pelan.
Alana menganggukan kepalanya dan menurut saja saat Rayan menggandeng mesra tangan-nya berjalan menuju lift.
--------
“Bibi?”
Sari tersenyum meski sedikit kebingungan melihat bibi yang berdiri didepan-nya dengan membawa sebuket bunga mawar putih yang cukup besar ditangan-nya.
“Maaf mengganggu bu Sari. Tapi ini ada kiriman bunga untuk ibu..” Kata bibi sambil menyodorkan sebuket besar mawar putih itu pada Sari.
“Apa? kiriman bunga untuk saya?”
Sari semakin bingung. Aneh sekali rasanya jika tiba tiba ada seseorang mengirimkan bunga untuknya tanpa sebab.
“Tapi dari siapa?” Tanya Sari kemudian.
“Saya juga tidak tau bu.. Maaf, bunganya bu..” Jawab bibi. Bibi mengingatkan pada Sari untuk segera menerima bunga tersebut.
“Eh iya.. Makasih ya bi..”
Sari mengambil buket besar mawar putih itu dari tangan bibi meski belum tau darimana asal bunga itu.
“Kalau begitu saya permisi bu..”
“Iya bi..” Angguk Sari.
Setelah bibi berlalu dari hadapan-nya, Sari pun segera menutup pintu kamarnya. Sari mengabaikan membersihkan tempat tidurnya yang belum selesai itu karna penasaran dengan asal muasal bunga yang saat ini berada dalam genggaman kedua tangan-nya.
__ADS_1
Sari memasuki lift bermaksud kelantai satu untuk menanyakan pada siapa saja yang menerima bunga yang diperuntukan untuknya.
Ketika sampai dilantai satu dan otomatis pintu lift terbuka Sari kembali dibuat bingung karna Fina juga membawa sebuket mawar putih dengan buketan yang tidak terlalu besar didepan-nya.
“Nyonya... Ini ada kiriman bunga untuk nyonya..” Katanya menyerahkan bunga tersebut pada Sari.
Saat Sari hendak bertanya Fina langsung berlalu begitu saja yang kemudian disusul oleh 3 pelayan lain yang menyerahkan sebuket mawar putih dengan ukuran yang sama seperti yang Fina berikan padanya.
“Ada apa ini sebenarnya?” Sari benar benar sangat bingung sekarang. Merasa kesusahan membawa begitu banyak bunga ditangan-nya, Sari pun melangkah menuju meja makan dan meletakan semua bunga itu diatas meja.
“Ibu...”
Suara berat Rayan berhasil mengalihkan perhatian Rayan. Sari membalikan tubuhnya dan kembali mengeryit saat mendapati Rayan juga membawa setangkai mawar putih ditangan-nya.
“Rayan ini..”
Ucapan Sari terhenti saat Rayan tiba tiba berlutut didepan-nya. Rayan juga menyodorkan bunga yang dibawanya pada Sari.
“Saya tidak tau harus bagaimana memulainya bu.. Tapi dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya benar benar minta maaf atas kesalahan saya yang berbuat semena mena pada ibu dulu..”
Sari menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan apa yang Rayan katakan. Sekarang Sari tau siapa yang menyuruh bibi, Fina juga pelayan lain-nya memberikan begitu banyak bunga padanya.
“Ibu mau kan memaafkan saya?” Tanya Rayan menatap Sari penuh harap.
Sari menghela napas. Sari tidak tau bagian mana yang harus dimaafkan. Karna Sari sendiri sadar dulu dirinya memang ceroboh dan selalu membuat masalah.
“Nak ini.. Ya tuhan.. Kamu tidak perlu seperti ini.. Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Ujar Sari kebingungan.
“Bu.. Tolong maafkan saya..” Pinta Rayan pelan.
Sari terdiam sesaat. Rayan pasti akan terus berlutut didepan-nya jika Sari tidak menjawab. Sari menghela napas pelan kemudian mengambil setangkai mawar yang Rayan sodorkan padanya.
“Baiklah, ibu maafkan. Sekarang tolong bangun.” Kata Sari pelan.
Rayan tersenyum dan bangkit dari berlututnya.
“Terimakasih bu.. Saya harap ibu suka dengan bunganya.”
Sari tertawa mendengarnya. Sari benar benar tidak menyangka dengan apa yang Rayan lakukan hanya untuk mendapat maaf darinya. Sangat berlebihan dan Sari merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu.
Alana dan para pelayan yang diam diam mengintip dari balik tembok segera keluar dari persembunyian-nya. Alana mendekat pada Sari dan Rayan dan berdiri ditengah tengah keduanya. Alana berjinjit mengecup singkat pipi Rayan kemudian menoleh pada Sari dan mengecup pipi Sari juga.
“Aku bahagia punya kalian berdua dihidupku.” Ungkap Alana tersenyum manis.
Sari dan Rayan tersenyum mendengarnya. Sari kemudian memeluk lembut Alana yang membuat kehidupan-nya benar benar terasa bermakna.
“Ini sangat berlebihan sayang. Tapi terimakasih karna kalian berdua sudah membuat ibu merasa sangat bahagia.”
Alana tersenyum dibalik punggung Sari. Apa yang Rayan lakukan untuk mendapat maaf dari Sari memang sangat manis.
Rayan yang melihat itu ikut tersenyum. Rayan kemudian mendekatkan wajahnya pada Alana dan mengecup lembut kening wanita yang berhasil menguasai hatinya itu dibalik punggung Sari.
__ADS_1